Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Tuduhan Keji


__ADS_3

Deka menghisap rokoknya dalam-dalam lalu mengepulkan asap rokoknya ke udara. Sudah lima batang rokok yang telah habis dihisapnya namun hatinya masih dilanda kegalauan. Ia menggerus batang rokok keenam yang baru disulutnya ke dalam asbak.


Saat melihat Dewa di Baretos Cafe tadi, ia memilih untuk langsung pergi daripada menemui adiknya itu. Bayang-bayang kejadian dua minggu lalu memenuhi isi kepalanya.


"Apa ini?" tanya Deka saat Clara tiba-tiba datang ke kantornya dan menunjukkan sebuah benda pipih kecil dengan dua garis merah di tengahnya. Test pack.


"Aku hamil," ucap Clara.


"Lalu...?!"


"Kamu harus tanggung jawab!"


"Kenapa harus aku??"


"Karena memang kamu yang harus tanggung jawab!!"


"Asal kamu tahu Clara! Aku gak yakin kalau itu adalah anakku! Kita baru melakukannya sekali... dan aku tahu aku bukan yang pertama."


Deka yang meyakini jika benih yang dikandung Clara adalah bukan darah dagingnya memilih untuk pergi dari rumah. Dengan alasan ingin mengembangkan potensi yang ia miliki tanpa embel-embel sang ayah, ia memohon bantuan Pak Bambang untuk bekerja di perusahaannya. Pak Bambang yang adalah rekanan perusahaan ayahnya menerima Deka karena meyakini potensi yang besar dalam diri Deka dalam mengelola perusahaan. Deka mengajukan permohonan agar Pak Bambang merahasiakan hal tersebut kepada ayahnya.


"Aaaaargh..." Kedua tangan Deka mengacak rambut belakang kepalanya kasar.


"Dewa ada di sini. Di kota ini. Apa aku harus menghubungi Clara dan memberi tahu keberadaan Dewa di sini. Bukankah Dewa yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan Clara," gumam Deka.


 


******


Minggu Pagi


Haji Zaenudin, Mami dan Opi tengah bersiap untuk menghadiri undangan pernikahan kerabat di Malingping, Banten.


"Loh, Teteh mau ke mana?" tanya Mami ketika melihat Mimin sudah rapi mengenakan gamis syar’i warna coklat dipadukan dengan bergo warna krem.  


"Teteh mau ke pengajian, Mih. Sekarang ada jadwal pengajian bulanan," jawab Mimin.


"Loh, katanya Teteh sakit? Kalau sakit ga usah ikut pengajian dulu, istirahat saja di rumah," saran Mami. Sejak bangun tidur pagi ini, Mimin merasa badannya kurang sehat dan suhu tubuhnya agak demam. Namun ia tidak ingin melewatkan kegiatan pengajian bulanan.


"Ga papa Mih, cuma duduk sambil dengerin tausiah doang."


"Ih, Teteh mukanya pucat gitu. Udah Teh ga usah ikut pengajian dulu. Kalau kangen sama Ustaz Fahri kan bisa datang ke rumahnya langsung. Aseeek...," goda Opi.


"Husssh... Apaan sih Opi."


"Teteh beneran nih ga papa ditinggal sendiri?" tanya Mami.


"Gak papa Mih," jawab Mimin.


"Kalau kita pulangnya malam... gimana Teh?" tanya Haji Zaenudin yang tiba-tiba turut nimbrung.


"Gak papa Bah. Insyaallah Teteh ga papa."


"Kalau ada apa-apa nanti Teteh telepon Abah aja ya," ujar Haji Zaenudin.


"Iya, Bah." Mimin mengangguk.


"Teteh pamit dulu ya," ucapnya seraya mencium punggung tangan Abah lalu beralih mencium punggung tangan Mami.


"Teteh jangan lupa bawa kunci rumah. Nanti kalau Teteh pulang pengajian mungkin kita udah berangkat," pesan Mami.


"Iya Mih. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Saat ia keluar rumah bertepatan dengan kedatangan Rahma yang sengaja menjemputnya untuk berangkat bersama ke majelis ta'lim.


Mereka sampai di majelis ta'lim. Sudah banyak para anak muda dan remaja wanita yang sudah datang dan duduk di dalam majelis. Pengajian kali ini memang pengajian khusus akhwat.


"Min, muka kamu pucat banget loh," ujar Rahma yang duduk di sebelah Mimin. "Kalau sakit mestinya ga usah ikut pengajian dulu," sambungnya.

__ADS_1


Mimin tersenyum. "Aku gak papa ko," ucapnya.


"Benaran kamu gak papa?"


Mimin mengangguk dan tersenyum. "Iya, Rahma geulis."


"Aku takutnya kamu pingsan. Dan kalau pingsan jangan salahkan aku ya kalau aku minta tolong bantuan Fahri buat menggotong kamu," goda Rahma.


Mimin sudah membuka mulutnya untuk menjawab pernyataan Rahma, namun urung terucap karena pandangan matanya menangkap seorang pria berwajah manis mengenakan sarung, baju koko, lengkap dengan peci berjalan masuk ke dalam majelis seraya menggenggam sebuah kitab di tangannya. Pria itu adalah Fahri yang merupakan ustaz yang akan memberikan tausiah.


"Sssst... Ustaznya sudah datang tuh," ujar Mimin.


"Wah, Ustaz Fahri hari ini kelihatan keren banget ya," bisik Rahma di telinga Mimin khawatir terdengar orang lain.


Iya, dia memang keren. Gumam Mimin dalam hati.


Sebulan sekali di kampung Cibening diadakan pengajian bulanan untuk bapak-bapak, ibu-ibu dan juga remaja serta anak muda. Untuk pengajian anak muda dan remaja, Fahri yang ditunjuk untuk memberikan materi dan tausyiah. Pada kesempatan pengajian kali ini mengusung tema Pacaran Setelah Menikah Itu Keren.


Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta semu.


Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani).


Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”


Maka dalam Islam kita mengenal taaruf atau saling mengenal. Kemudian berlanjut khitbah atau meminang. Setelah ada kesepakatan antara dua belah pihak untuk melaksanakan akad, barulah terjadi pernikahan. Setelah menikah masing-masing pasangan bisa mengutarakan perasaan cintanya dengan bebas namun halal. Sungguh indah bukan pacaran setelah menikah. (dikutip dari KEMENAG.go.id)


"Kok aku merasa sepanjang menyampaikan tausiah... Fahri menatap kamu terus, Min."


Pernyataan Rahma sukses membuat Mimin tertunduk tersipu.


"Ciye... Ciye..." Rahma makin menggoda Mimin. Hingga memancarkan semburat rona merah yang menghias pipinya.


******


Minggu malam.


Pukul 22.00 Dewa sampai di teras kontrakan. Ia baru saja pulang "mengamen" di Baretos Cafe. Ia yang melihat tempat tinggalnya gelap gulita segera menghubungi Sol, sahabatnya. Sol memang sempat memberitahunya bahwa akan mengantar ayahnya berbelanja jilbab dan kerudung ke pasar tanah abang.


"Iya Wa."


"Lo di mana Sol?"


"Gue masih di jalan Wa."


"Gue ga bawa kunci rumah Sol."


"Eiya gue lupa, padahal tadi niatnya sebelum berangkat belanja mau mampir ke bengkel ngasih kunci rumah eh malah lupa. Kunci rumah satu lagi ada di atas kulkas Wa."


"Lo nyampe mana Sol?"


"Nyampe... Cikupa kayaknya. Lo minjem kunci serep aja ke Pak Haji."


"Ya udah deh. Gue ke rumah Abah Haji dulu."


Setelah menutup teleponnya, Dewa pergi menuju rumah Haji Zaenudin.


Tok... Tok.. Tok...


"Assalamualaikum... Abah Haji."


Beberapa kali Dewa mengetuk pintu dan mengucap salam namun tiada sahutan dari dalam rumah Haji Zaenudin. "Jangan-jangan Abah Haji sekeluarga sedang tidak ada di rumah," gumamnya.


Kemudian Dewa memilih duduk di kursi teras Haji Zaenudin. Baru saja ia duduk dan akan memejamkan mata, terdengar decit pintu terbuka. Ia menoleh ke arah pintu, dilihatnya Mimin yang membukakan pintu. Ia segera berdiri menghampiri Mimin yang berdiri di belakang pintu.


"Min... wajah kamu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya Dewa ketika menyadari wajah Mimin yang tidak se segar biasanya dan juga terlihat lemas.


Mimin hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Seketika tubuhnya melungsur jatuh. Dewa refleks berlari meraih tubuh Mimin.


Hoeek...

__ADS_1


Rasa mual yang menekan membuat Mimin memuntahkan isi perutnya mengenai baju dan celana Dewa.


Hoeek... Hoeek...


"Ma-maaf," ucap Mimin setelah memuntahkan seluruh isi perutnya seraya mengusap sudut bibirnya dari bekas muntahan.


"Badan kamu panas sekali, Min. Sudah minum obat?" tanya Dewa.


Mimin menggelengkan kepala. "Baju kamu kotor. Maaf," ucapnya sekali lagi masih dengan intonasi yang lemah.


“Ga usah pikirkan tentang baju aku. Ayo kamu istirahat aja,”ujar Dewa seraya membimbing Mimin berdiri lalu mendudukkannya di sofa. “Aku ke warung dulu ya, mau beli paracetamol,” sambungnya.


“Enggak usah beli. Ada di kotak obat di laci bufet TV,” ujar Mimin.


Dengan sigap Dewa mengambilkan obat sesuai arahan Mimin dan tak lupa membawa segelas air minum.


“Diminum dulu obatnya,” titah Dewa. Tangannya terulur menyerahkan sebuah tablet paracetamol dan segelas air putih.


“Terima kasih,” ucap Mimin. Lalu meminum obat yang diberikan Dewa.


“Kamu sendirian Min?” tanya Dewa ketika menyadari tak ada seorang pun di dalam rumah Haji Zaenudin kecuali mereka berdua.


Mimin mengangguk lemah. “Iya.”


“Sebaiknya kamu istirahat di kamar saja,” saran Dewa.


Mimin mengangguk. Lalu berdiri. Dewa hendak membantu membimbing Mimin berjalan menuju kamar, namun Mimin menolaknya. “Tidak usah... aku bisa sendiri. Terima kasih,” ucapnya.


“Hati-hati Min. Kalau kamu perlu sesuatu, panggil aku aja. Aku di sini sambil menunggu Sol atau Abah Haji pulang,” tutur Dewa.


Mimin mengangguk. Lalu berjalan lemah menuju kamar dan tidak lupa menutup pintu kamarnya. Ia merebahkan diri di atas kasur dan memejamkan mata. Berusaha untuk tidur.


Dewa memperhatikan baju dan celananya yang terkena muntahan Mimin. Lalu ia pergi ke kamar mandi dan membasahi baju serta celana yang terkena muntahan dengan maksud untuk menghilangkan noda muntah. Namun yang terjadi malah bajunya kebasahan hingga mau tidak mau ia membuka baju dan celananya. Daripada masuk angin. Begitu pikirnya.


Kemudian ia berusaha mengeringkan pakaiannya dengan mengangin-anginkan di bawah kipas angin dengan pilihan kecepatan paling maksimal.


Sudah sekitar tiga puluh menit Dewa merebahkan dirinya di atas sofa ruang tamu Haji Zaenudin. Dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor pendek warna hitam. Kemudian ia bangun dan berjalan menuju ruang tv tempat ia mengeringkan pakaiannya. Ia menyentuh pakaiannya, dan masih terasa basah. Semoga Sol cepetan pulang. Batinnya.


Dewa hendak kembali merebahkan dirinya di atas sofa namun tiba-tiba terdengar suara keributan dari luar. Dan suara pintu yang digedor kasar dari luar.


Dug... Dug... Dug...


Dewa membuka pintu rumah. Nampak puluhan warga berkerumun di depan rumah Haji Zaenudin dengan memberikan tatapan tajam kepadanya. Seolah ingin menelan dirinya bulat-bulat.


“Ini dia orangnya...!”


“Hey... Kamu habis berbuat mesum ya!!”


.


.


.


.


.


Ya ampun author remahan remukan astor ini lagi seneng banget karena ka Sephinasera komen loh di karyaku ini. Wah sesuatu banget.


Marvelous... Marvelous ( kata Jarjit)


Saya suka.... Saya suka (kata Mei mei)


Betul betul betul (kata Ipin)


Dua singgit... Dua singgit ( kata Mail)


 

__ADS_1


 


__ADS_2