
Bug...
Tanpa aba-aba, pria itu memberikan sebuah pukulan di perut Dewa. Membuat ia jatuh tersungkur ke tanah, sebab tak menyangka pria itu akan memberikan pukulan telak kepadanya.
"Kamu yang sudah merusak nama baik adik saya!!" tukas pria itu dengan penuh amarah.
Apa maksudnya? Aku sudah merusak nama baik adiknya? Memang siapa adiknya? Tunggu, kenapa wajahnya mirip dengan seseorang. Batin Dewa penuh dengan pertanyaan.
Dewa yang tadi jatuh tersungkur kini bangun dan berdiri. Tangannya sudah terkepal ingin membalas perlakuan pria itu.
"Apa yang kamu lakukan kepada adik saya sampai-sampai harus dinikahi oleh pria brengsek seperti kamu!" hardik pria itu.
Kalimat yang keluar dari mulut pria itu sontak membuat Dewa mengendurkan kepalan tangannya. Belakangan ia baru menyadari jika garis wajah pria yang menyerangnya mengingatkannya kepada wajah seseorang. Kenapa pria itu wajahnya mirip Abah, apakah pria itu kakaknya Mina. Ya, dia pasti kakaknya Mina. Batinnya bergumam.
Bug...
Pria Itu kembali memukul Dewa, kini wajahnya yang menjadi sasaran pukulan pria itu. Dan Dewa sama sekali tak berniat membalasnya.
Bug....
Pria Itu menendang tepat di paha Dewa hingga membuat Dewa kembali jatuh tersungkur ke atas tanah.
Bug...
Sebuah tendangan kembali dilayangkan, kali ini menghujam lengan sebelah kiri Dewa.
"Awww..." Dewa memekik kesakitan.
Kemudian pria itu mengunci tubuh Dewa yang terkapar di atas tanah. Dan memukulinya tanpa ampun. Dan Dewa hanya meringis, berpasrah diri dan menerima setiap pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan yang dilayangkan pada sekujur tubuhnya. Membiarkan begitu saja pria yang diduga adalah kakak iparnya itu untuk menuntaskan kekesalannya. Mungkin ia memang pantas mendapatkannya.
Dewa yang tergolek lemah tak mampu dan tak berniat untuk balas menyerang, hingga kemudian nasib baik menghampirinya, seseorang datang menyelamatkannya.
*****
Setelah acara syukuran rencana pernikahan Rahma, Rizal bersama sang istri pergi ke Optik Kasih guna memberikan nasi box untuk para karyawan Aya. Berbagi kebahagiaan kepada semua orang terdekat. Dan para karyawan Optik Kasih juga termasuk orang terdekat, bukan. (Kisah Rizal, Aya, dan Optik Kasih ini ada di cerita novel Suami Bayaran, yang belum baca, boleh baca dulu 😁).
Sepulang dari Optik, Rizal tengah fokus menyetir sambil berbincang bersama istri tercinta membahas tentang rencana resepsi pernikahan Rahma. Kemudian dalam perjalanan, ketika mobil yang dikendarai Rizal sudah masuk ke wilayah kampung Cibening dan hampir sampai ke rumahnya. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan adegan penganiayaan seorang pria dengan pelaku yang juga seorang pria. Disebut penganiayaan karena korban memang tak melawan sama sekali.
"Abi, itu di depan ada apa? Seperti ada yang berkelahi? Aduh itu siapa yang dipukulin?" Aya merasa ngeri melihat adegan penganiayaan itu.
"Gak tahu, Mi." kemudian Rizal mengehentikan mobilnya. "Abi, turun ya Mi," ujarnya.
"Iya, Bi tolongin kasihan. Apa mungkin warga kampung kita ya," sahut Aya yang memilih untuk diam di dalam mobil, tak ikut turun.
Rizal turun dari mobil, dengan langkah cepat, berlari menghampiri kedua pria itu.
"Hey, hentikan!!" seru Rizal. Ia menarik bahu si pria yang menganiaya Dewa agar menghentikan aksinya. Membuat pria Itu terhempas ke belakang.
"Haris?!"
__ADS_1
"Dewa?!"
Rizal terkesiap ketika mendapati kedua pria itu adalah orang yang dikenalnya.
"Zal, kamu ga usah ikut campur!" salak pria bernama Haris itu.
"Istigfar Ris... Kenapa kamu menganiaya adik iparmu sendiri, dia suaminya Mimin!" tegur Rizal. Ya, pria yang menganiaya Dewa adalah Haris, kakak kandung Mimin.
"Laki-laki ini yang sudah mencoreng nama Mimin kan?! Dan saya ga rela adik saya menikah dengan laki-laki begajulan dan brengsek seperti dia!" tukas Haris murka.
"Astagfirullah... Ris, jangan kamu asal menuduh seperti itu! Jangan biarkan dugaanmu menggiring emosi. Jangan suudzon!" sahut Rizal.
Rizal lalu mendekati Dewa. "Kamu gak apa-apa Wa?. Lalu membantu membangunkannya." Ayo bangun,Wa."
"Zal, jangan ikut campur! Saya belum puas menghajar pria brengsek itu!"
"Kalau kamu mau hajar dia. Kamu lawan saya dulu Ris!" tantang Rizal.
Tentu saja ancaman Rizal membuat nyali Haris ciut. Dan seketika membungkam amarahnya. Mana mungkin ia berani melawan Rizal. Ia kenal betul siapa Rizal, cucu sang Jawara Banten yang jago beladiri.
"Ayo, Wa. Saya antar kamu pulang." Rizal memapah Dewa menuju mobilnya.
"Makasih Kang," ucap Dewa sambil meringis menahan sakit. Ia ingin menolak tawaran Rizal, namun karena merasa sakit di sekujur tubuhnya, dan langkah yang terseok-seok tak memungkinkannya untuk pulang sendiri, maka ia menerima tawaran Rizal, untuk diantar pulang.
Dewa masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang. Setelahnya Rizal melajukan mobilnya. Meninggalkan Haris.
Sebelum mengantarkan Dewa ke kediamannya, Rizal terlebih dulu menurunkan istri tercintanya di depan rumah. Setelah sampai di halaman rumah Haji Zaenudin, Rizal menghentikan mobilnya. Lalu kembali membantu Dewa dan memapahnya berjalan. Rizal justru mengantarkannya menuju rumah Haji Zaenudin.
"Tapi, kamu lagi babak belur begini, Wa. Biar Mimin merawat kamu," saran Rizal.
"Ga usah Kang, saya gak apa-apa kok," elak Dewa.
Lalu ia menyerukan nama kedua sahabatnya. "Soool... Jeeeed... Tolong gue...!"
Pintu kontrakan yang tidak tertutup rapat, membuat teriakan Dewa terdengar jelas oleh kedua sahabatnya itu. Sol dan Jejed yang tengah duduk santai di dalam kontrakan terjingkat bangun lalu berhamburan berlari keluar kontrakan.
"Astagfirullah Wa. Lo kenapa?"
"Wa, lo kok babak belur begitu?"
Sol dan Jejed berseru histeris ketika melihat wajah tampan sahabatnya itu babak belur. Dan kehisterisan Sol dan Jejed sontak membuat keluarga Haji Zaenudin yang masih terjaga berhambur keluar untuk mengetahui apa yang terjadi.
"Loh, Nak Dewa kenapa?!" reaksi Mami.
"Astagfirullah, Ding gagah, apa yang terjadi?" reaksi Haji Zaenudin.
"Ih, Ka Dewa ko bonyok begitu?" reaksi Opi.
Sementara Mimin tak mampu berucap sepatah kata pun. Ia terkesiap menatap suami tampannya yang babak belur seraya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Shock.
__ADS_1
Dewa hanya mampu meringis menahan sakit. Tubuhnya serasa remuk redam. Tulangnya serasa hancur berpatah-patah.
"Maaf Pak Haji. Tadi saya menemukan Dewa sedang dipukuli... Emm...." Rizal merasa ragu untuk mengungkapkannya.
"Dipukuli siapa??" tanya Haji Zaenudin.
"Emm... Haris," jawab Rizal ragu.
"Apa? Haris? Kenapa Haris memukuli Dewa seperti itu," sahut Mami.
"Sudah, sudah. Bawa masuk saja dulu si Ding nya. Ayo masuk ke sini," sahut Abah.
Sol dan Jejed mengambil alih memapah Dewa masuk ke dalam rumah. Lalu mendudukannya di sofa.
"Nak Rizal, terima kasih karena sudah mengantarkan Dewa pulang," ujar Abah.
"Iya sama-sama, Pak Haji. Kalau begitu saya permisi pulang Pak Haji... sudah ditunggu sama anak-anak. Assalamualaikum," pamit Rizal.
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
"Coba Teh, diobati dulu luka-luka Nak Dewa nya," titah Mami kepada Mimin.
"Iya, Mih."
Mimin bergegas mengambil kotak P3K dan keperluan lainnya untuk memberikan pertolongan pertama kepada Dewa.
Sementara Abah segera meraih ponsel, lalu melakukan panggilan telepon kepada putranya yang bernama Haris.
"Haris, Abah tunggu sekarang di rumah!!" tegas Abah yang tampak sedang menahan emosinya. Bahkan tanpa mengucapkan salam pembuka, seperti kebiasaannya ketika menelepon.
"......"
"Ok. Kalau tidak bisa malam ini, besok Abah tunggu di rumah! Kalau tidak bisa juga, Abah yang akan datang ke rumahmu!" pungkas Abah lalu segera menutup panggilan teleponnya.
Setelah menelepon Haris, Abah menghampiri Mimin yang sedang mengobati luka lebam di wajah Dewa.
"Teh, malam ini biar Ding gagah tidur di sini saja," usul Abah.
"Iya Teh, kasihan Nak Dewa. Biar malam ini tidur di sini saja," ujar Mami mendukung usulan Abah.
"Iya kasihan ka Dewa." Opi turut menyahut.
Mimin mengangguk setuju. "Iya Bah, nanti Teteh bereskan dulu kamar tamunya.”
“Loh kok kamar tamu. Maksud Abah, Ding gagah biar tidur di kamar Teteh. Biar sekalian Teteh jagain,” kata Abah.
“Iya Teh, Nak Dewa itu suami Teteh. Jadi, ga masalah kan kalau tidur sekamar juga, udah halal,” sahut Mami.
Usulan Abah dan Mami sontak membuat Mimin salah tingkah dan hatinya ketar-ketir tak karuan. Kemudian ia melirik Dewa, dilihatnya pria tampan itu sedang mengulum senyumnya. Seakan berkata “Yes, akhirnya.”
__ADS_1
Sengsara membawa keberuntungan. Gumam Dewa dalam hati.