Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Ciuman Pertama


__ADS_3

Dewa dan Mimin berjalan menuju area parkir motor khusus karyawan Baretos Cafe yang terletak di belakang bangunan Baretos Cafe.


"Mina, ini malam minggu kan?" tanya Dewa yang berjalan beriringan di samping Mimin.


"Emmm... Memangnya kalau malam minggu kenapa?" Mimin balik bertanya.


"Enggak kenapa-kenapa sih." Dewa menggaruk-garuk kepalanya.


"Apa kamu termasuk orang yang menunggu-nunggu malam minggu?" tanya Mimin kembali.


"Eh, enggak lah. Ngapain nungguin malam minggu. Yang benar, aku tuh nungguin malam...." Dewa menggantung ucapannya.


"Nungguin malam apa?" tanya Mimin karena Dewa tak kunjung melanjutkan ucapannya.


Dewa merapatkan tubuhnya ke sisi Mimin, lalu berbisik di telinga Mimin yang tertutup jilbab. "Nungguin malam pertama, Hihihihihi."


"Awwwww..." pekik Dewa karena Mimin mencubit lengannya. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya menuju area parkir.


Mereka telah sampai di area parkir. Dewa mengambil helm di tempat penyimpanan helm khusus karyawan, untung saja tadi ia membawa dua helm. Sebab sebelum berangkat ke kafe, Sol yang motornya sedang mogok minta diantar pulang ke rumahnya.


Dewa hendak memakaikan helm di kepala Mimin. Sebelum memakaikan helm, ia melengkungkan bibirnya membentuk sebuah senyuman. Dan menatap lekat wajah Mimin. Tangannya mengusap lembut pipi sehalus kulit bayi itu hingga membuat wanita cantik itu tertunduk tersipu dengan semburat rona merah menghias pipinya.


"Kamu itu kayak delman di kota pada hari minggu," ucap Dewa masih dengan menatap Mimin.


Mimin yang semula tertunduk tersipu seketika mengangkat wajahnya. "Loh, kok aku kayak delman?!" tanyanya heran.


"Iya, kamu itu bagai delman di kota pada hari minggu, kududuk di muka... Istimewa. Hehehehe..."


Mimin tak kuasa menahan senyumnya mendengar gombalan lucu dari Dewa.


"Lihat kamu senyum begitu, aku tuh rasanya ingin berpetualang menembus waktu ke tanggal 28 Oktober 1928," ujar Dewa ketika melihat Mimin tersenyum.


"Eh, kenapa?"


"Aku mau ubah naskah Sumpah Pemuda jadi... sumpah aku cinta kamu."


Sebuah senyuman kembali terbit dari bibir Mimin.  Bahkan kini senyumnya lebih lebar dari sebelumnya.


Dewa kembali mengusap pipi Mimin kembali. "Kamu sangat cantik. Apalagi kalau tersenyum seperti itu" ucapnya.


Kemudian Dewa memakaikan helm di kepala Mimin dan juga di kepalanya. Setelah mereka duduk sempurna di atas motor, Dewa melajukan motornya memecah keramaian malam minggu nan indah di kota Serang tercinta, bersama Mimin dalam boncengannya. 


Dewa menghentikan motornya di Stadion kota. Jika malam minggu, akses jalan menuju Stadion kota berubah fungsi menjadi semacam pasar malam. Tempat ini menjadi alternatif bagi warga kota yang mencari hiburan murah meriah tanpa menguras kantong.


Pengunjung yang datang kebanyakan adalah keluarga terutama yang mempunyai anak kecil. Karena banyak sekali arena permainan untuk anak-anak kecil di tempat ini. Mulai dari arena bermain balon anak, penyewaan mobil-mobilan, arena melukis dan mewarnai, arena memancing ikan-ikanan dan banyak lagi.


Di sini pun banyak pedagang kaki lima yang berjualan mulai dari pakaian, perabot rumah tangga, dan juga aneka jajanan yang dijual di gerobak yang menjadi tujuan Dewa berhenti di tempat ini.


"Mina, kita ke sini dulu gak apa-apa kan?" tanya Dewa ketika sudah turun dari motornya.


Mimin mengangguk. "Iya gak apa-apa. Emmm... Memangnya mau apa kita ke sini?" tanya Mimin.


"Aku tuh sering lewat sini, ingin jajan sesuatu tapi malu mau belinya," ujar Dewa sambil mengusap tengkuknya. "Jajanan favorit waktu masih SD," jelasnya.


"Oh, memang kamu mau jajan apa, biar aku yang belikan," tawar Mimin.


Dewa menunjuk sebuah gerobak yang berada  tak jauh dari mereka berdiri. "Yang itu tuh," tunjuknya.


Mimin melemparkan pandangannya ke gerobak yang ditunjuk oleh Dewa yang ternyata adalah penjual lidi-lidian. Seketika ia mengulum senyumnya. "Aku juga suka itu," ucapnya.


Kemudian Mimin mengayun langkahnya menuju  gerobak penjual lidi-lidian dan membeli beberapa bungkus lidi-lidian untuknya dan Dewa.



"Kamu kan udah belikan aku lidi-lidian, sekarang gantian kamu mau beli apa... biar aku belikan," kata Dewa.


Kini gantian Mimin menunjuk ke sebuah gerobak penjual makanan. "Aku mau itu!"


"Cireng??" tanya Dewa sembari matanya mengamati gerobak yang ditunjuk oleh Mimin.

__ADS_1


"Iya."Mimin mengangguk yakin.


"Baiklah."


Dewa menghampiri gerobak penjual cireng. Sebelum membeli, ia menyempatkan diri untuk membaca tulisan di gerobak itu. Ia  menggeleng-gelengkan kepalanya ketika membaca tulisan itu. "Ikatan Cireng. Cireng rasa baper sebaper kisah cinta Andin dan Mas Al."


*****


Hari minggu yang cerah telah tiba. Mimin, Hana, dan Rahma bersepakat pergi ke Pasar Rau untuk shopping. Pasar Rau adalah pasar tradisional di kota ini.


"Dipilih dipilih dipilih jilbab dan kerudungnya. Neng geulis, Teteh cantik, Buibu mampir yuk ke toko jilbab dan kerudung Insyaallah Berkah!" Sol berteriak khas pedagang yang mempromosikan dagangannya.


"Luna Maya udah beli Lulu Tobing udah beli. Tinggal Lu Lu pada yang belum beli!"


"Jilbab model baru yuk dibeli. Jilbab Andin, jilbab Andin, jilbab Andin!"


"Woy Kang, Andin kan ga pake jilbab!" kata seorang ibu yang kebetulan melewati toko jilbab Insyaallah Berkah milik Sol. "Si Akang nih sudah melakukan pembohongan publik demi meraup keuntungan," sewot si Ibu itu lagi.


"Ya elah Bu... berat amat ngomongnya. Emang beneran si Andin keponakan saya pake jilbab kok," balas Sol.


"Oh, Andin keponakan sampean toh. Tak kirain Andin yang ada di TV," sahut si Ibu lalu kembali melanjutkan perjalanannya.


"Bu, ga mampir dulu?"


"Enggak lah Kang, orang saya ga pengen beli kerudung."


"Mampir lah Bu, ga beli juga ga papa yang penting toko saya kelihatan rame biar tetangga sirik!" seru Sol yang tak digubris oleh si Ibu.


"Assalamualaikum, Kang Sol." Terdengar suara wanita menyapanya. Sol berbalik badan untuk melihat orang yang menyapanya.


"Waalaikum salam, masyaallah ada tiga bidadari surga," jawab Sol kepada Mimin, Rahma, dan Hana.


"Kang Sol jualan jilbab di sini?" tanya Mimin yang baru mengetahui kalau Sol berjualan jilbab di pasar ini.


"Iya, Min. Ayo masuk yuk, mampir ke toko jilbab Insyaallah Berkah," sahut Sol.


"Boleh lihat-lihat dulu Kang Sol?" kata Rahma.


"Neng Rahma."


"Iya Kang Sol."


"Neng Rahma bawa pulpen ga?" tanya Sol.


"Pulpen??"


"Iya Neng."


"Untuk apa Kang?"


"Untuk nulis namamu di setiap doaku," ucap Sol sambil melempar senyumnya.


*****


Detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Hari berganti minggu. Tidak terasa sudah lebih dari seminggu Dewa terpaksa kehilangan rutinitas indahnya di pagi dan sore hari. Sebelum kedatangan Hana, setiap pagi ia akan berangkat bekerja bareng dengan Mimin berboncengan motor. Begitu pun saat sore, ia akan menjemput Mimin lalu pulang bersama. Namun setelah kedatangan Hana, ia tak dapat lagi merasakan momen indah seperti itu. Apalagi kini jam istirahat di bengkel pun dipersingkat waktunya. Praktis membuatnya tak bisa bertemu untuk sekedar makan siang bersama dengan Mimin.


Kini, rutinitas hari-hari Dewa terasa hambar. Setiap hari, Mimin akan berangkat dan pulang bekerja bareng Hana. Karena kebetulan kampus tempat Hana mengajar cukup dekat jaraknya dengan kantor Mimin. Dan yang membuat hatinya semakin hambar adalah Mimin memilih untuk tak lagi memberikan sarapan untuknya, lagi-lagi alasannya karena Hana.


"Makanlah makanan yang Hana bawakan untukmu. Jangan kecewakan dia!" Begitu pesan Mimin setiap kali Hana membawakan makan untuknya. Dan mau tak mau, suka tak suka ia menuruti permintaan Mimin. Beruntung, Mimin masih memberikan perhatian dengan mencucikan pakaiannya.


Meski mereka tinggal bersebelahan, namun seakan terpisahkan jarak yang terbentang jauh. Begitu yang dirasakannya kini. Tak ada waktu untuk sekedar berbincang dari hati ke hati bersama pujaan hatinya. Hanya obrolan sepintas lalu ketika berpapasan dengan Mimin yang tengah menyapu halaman sepulang ia menunaikan salat Subuh.


Dan sore ini ketika ia bisa pulang lebih cepat dari biasanya. Ia bertekad untuk membicarakan hal ini bersama Mimin. Tak mau berlama-lama bertahan dalam suasana hati hambar. Sangat menyiksa.


Mimin baru saja selesai mandi dan berpakaian ketika terdengar ketukan bunyi pintu kamarnya. Ia segera membuka pintu kamarnya.


“Teh, dicari Ka Dewa tuh!” seru Opi ketika ia membuka pintu.


“Ka Dewa nungguin Teteh di ruang tamu,” lanjut Opi lagi memberikan informasi.

__ADS_1


“Opi, ambilkan kerudung Teteh dong di depan,” titah Mimin.


“Ngapain pakai kerudung sih Teh, mau ketemu suami ini. Udah halal,” sahut Opi lalu melenggang meninggalkan Mimin.


Benar juga sih kata Opi. Gumam Mimin dalam hati.


Kemudian Mimin mengayun langkah menuju ruang tamu tanpa memakai kerudung, menemui Dewa.


“Ehem... “ Mimin berdehem sebab melihat Dewa yang duduk di sofa ruang tamu sedang asyik bermain ponsel.


Dewa mengangkat wajahnya. Seketika ia terpana sampai-sampai tak mengedipkan mata, melihat Mimin tampil tanpa kerudung yang menutupi kepalanya, untuk pertama kali.


Rambut hitam Mimin digelung ke atas bak penampilan artis Korea. Membuat leher jenjang, putih dan mulusnya terekspos sempurna. Saking mulus dan beningnya, mungkin seandainya Mimin meneguk kopi, cairan kopi yang mengalir di tenggorokan itu akan terlihat jelas di leher mulusnya.


Mimin mengambil posisi duduk segaris lurus di hadapan Dewa, disekat dengan sebuah meja.


“Ada apa?” tanya Mimin.


“Aku mau jujur kepada Hana tentang ststus kita,” jawab Dewa.


“Jangan...!” Mimin berseru tak setuju.


“Aku gak mau berlama-lama bersandiwara seperti ini, Mina. Ini sangat menyusahkan aku.”


“Aku mengkhawatirkan Hana. Aku takut Hana....”


“Mina, please. Semakin lama kita menyembunyikan hal ini, justru akan membuat Hana semakin terluka,” ujar Dewa.


Mimin menundukkan kepala. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sesungguhnya ia pun merasa sangat terbebani dengan ini semua.


Dewa bangun dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Mimin. Kemudian ia mengambil posisi duduk di sebelah Mimin. Ia mengusap lembut kepala Mimin.


“Cepat atau lambat Hana pasti akan tahu. Jangan sampai Hana mengetahui hal ini dari orang lain. Dan dia merasa dibohongi oleh kita. Dan malah akan membuatnya semakin marah.” Dewa masih mengusap lembut kepala Mimin. Berusaha meringankan beban yang menggelayuti.


“Semakin lama kita bersandiwara, semakin besar kita menumpuk lukanya.”


Mimin mengangkat wajahnya lalu menoleh kepada Dewa yang duduk di sampingnya dan menatapnya. “Tapi a-aku... “


Dewa balas menatap Mimin, menatap lekat tepat di manik warna coklat itu. “Jangan takut... ada aku. Kita hadapi ini sama-sama,” ujarnya.


Sorot mata keduanya saling bertautan hingga akhirnya Dewa mengalihkan pandangannya pada kening sehalus pualam yang terdapat bekas luka di sana. Bekas luka jahitan akibat timpukan kaleng bekas minuman bersoda, karena ulahnya.


Dewa mengusap lembut kening Mimin yang terdapat bekas luka. Lalu ia mendekatkan bibirnya di kening sehalus pualam itu.


Cup... Ia mengecup lembut kening itu. Sangat lembut dan lama. Membuat Mimin memejamkan mata agar lebih merasakan bibir lembut Dewa yang menyentuh keningnya.


Dewa telah melepaskan kecupannya. Dan mereka masih bertahan dalam tatapan yang sangat dalam. Dewa tak mau sedetik pun melepaskan pandangannya pada pemilik paras cantik itu.


Hingga ia memberanikan diri mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang sangat dicintainya. Lalu mencium lembut bibir ranum semanis madu itu. Mimin memejamkan mata, meresapi hal yang baru pertama kali dirasakannya, yang menciptakan sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Ciuman pertama baginya. Dan entah mengapa ia tak ingin menolaknya.


Lalu....


Praaangg....


Tanpa Mimin dan Dewa menyadari, entah sejak kapan, Hana sudah berdiri di dekat pintu. Hana membeliakkan mata menyaksikan hal yang dilakukan Mimin dan Dewa. Seketika tubuhnya merasa lemas, hingga menjatuhkan rantang yang ditentengnya.


 .


.


.


Cung yang waktu SD suka jajan lidi-lidian. Aku sih... Iyes.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2