
“Ardaaaan! Banguuun!”
Lagi enak-enaknya mimpi dikelilingi bidadari, eh malah ada gedoran pintu kamar yang membuat gaduh. Siapa sih itu yang berani-beraninya gedor pintu kamar aku!
Kurang asyem banget deh tuh orang, sampai membuat para bidadari dalam mimpiku kocar-kacir. Mana nanggung banget deh mimpinya. Aku baru ngegombalin bidadari doang, belum colek-colek, pegang-pegang, apalagi sampai ke adegan 4646 ninaninu oh yes oh no. Ini mah namanya mimpi setengah basah. Padahal kapan lagi tuh mimpi basah-basahan sama bidadari.
“Bangun Ardan! Atau mama kutuk kamu jadi ....”
“Siap, Mah!” Auto langsung terjingkat bangun deh aku, begitu sadar kalau ternyata yang gedor pintu adalah mamaku tercintah.
Jangan sampai deh aku yang gantengnya enggak ketulungan ini dikutuk jadi jelek. Sumpah ya, jadi jelek itu sesuatu yang amat mengerikan. Karena kegantengan diriku yang begitu paripurna dengan kesempurnaan yang hakiki, benar-benar jadi modal aku menjalani hidup bahagia di dunia yang fana dan penuh tipu-tipu ini. Jika banyak pemuda lain di luar sana mengeluhkan status jomblo yang sangat menyedihkan itu, aku justru terlalu pusing dengan deretan cewex cantix yang antri pengen jadi pacar aku. Ardan gitu loh.
“ARDAN PRATAMA PUTRA!”
Mendengar Mama menyebut nama aku dengan lengkap begitu dan dalam intonasi galak, aku langsung loncat turun dari kasur. Ini mah tanda-tandanya siaga satu, kondisi tengah genting. Se genting perekonomian global dunia yang katanya hanya sejengkal lagi menuju jurang krisis akibat stagflasi. Idih idih seremnya. Alah apaan tuh stagflasi kayak ngerti aja Teh Othor nih, palingan juga tahunya imunisasi dan terasi doang.
Dari cara Mama bangunin aku, ini pasti penting banget. Ada apakah? Apakah Papa? Oh, tidak! Aku belum siap jadi anak yatim, ya Allah.
“Mah, Papa kenapa? Papa kenapa, Mah?” Kalimat pertama yang ku ucapkan begitu pintu terbuka dan mendapati sosok perempuan cantik yang telah melahirkan ku, dua puluh tiga tahun yang lalu.
“Mah, Papa kenapa? Aku belum siap mah. Hiks, hiks, hiks.” Meskipun aku adalah salah satu pemuda tangguh yang dimiliki negara Indonesia tercinta ini, tetap saja jika membayangkan ditinggal Papa untuk selama-lamanya membuat hatiku rapuh dan rontok seperti rambut Anggun C Sasmi saat ditawari jadi duta sampo lain.
“Siap enggak siap, kamu harus siap!” sahut Mama. Intonasinya terdengar tegas banget. Memangnya Mama udah siap jadi janda apa?? Ih, awas aja ya kalau nanti udah jadi janda kepikiran untuk menikah lagi. Aku enggak bakalan merestui pokoknya. Kecuali kalau calon papa sambung aku itu seganteng Nabi Yusuf, sekaya Nabi Sulaeman dan semulia akhlak Nabi Muhammad. Masya Allah sungguh anak soleh diriku ini, bisa-bisanya ngasih syarat papa sambung sebegitu nya. Spek surga.
“Papa Huuu huuu.” Aku menangis sejadi-jadinya. Siapa coba yang enggak sedih bila harus kehilangan Papa tercinta.
Bagiku Papa bukan sekedar pria penebar benih di dalam rahim mamaku yang kemudian terbentuklah janin yang menjadi cikal bakal diriku yang tampannya masya Allah tabarakallah.
Bagiku Papa adalah sosok yang penuh tanggung jawab dan penyayang keluarga, rajin beribadah, suka menolong, gotong royong, tenggang rasa, tepo seliro, dan penyayang terhadap sesama. Pokoknya cerminan Pancasila banget deh papaku itu. Mungkin itu juga yang membuat mamaku klepek-klepek kepada Papa.
“Ardan, kamu kesambet apa? Kenapa nangis kejer begitu?” tanya Mama yang malah kelihatan bingung gitu melihat aku nangis.
“Papa, huuu, huuu. Aku belum siap. Hiks, hiks, hiks.” Aku malah makin terisak-isak mendengar ucapan Mama. Saking tangis aku itu haru banget, sampai keluar ingus dari hidung. Ya iyalah dari hidung, kalau dari telinga namanya congek, kalau dari anu ku yang di bawah namanya ...
“Kamu nangis pengen apa, Ardan? Pengen kawin?!” Lagi haru-harunya nangis, malah Mama bahas kawin. Kawin mah ya pengen lah. Siapa coba yang enggak pengen kawin. Apalagi aku yang statusnya perjaka tingting. Yang udah pernah kawin aja banyak tuh yang pengen kawin lagi. Kenapa bisa gitu ya? Mungkin karena kawin itu enak kali ya.
__ADS_1
Ya Allah, semoga aku juga bisa merasakan enaknya kawin dalam waktu dekat ini.
“Dan, ayo buruan mandi! Kita solat subuh berjamaah di masjid.” Tiba-tiba aja sosok Papa muncul di dekat kami.
Aku tergugu seketika memandangi Papa. Aku memindai tubuh tegap yang berdiri di samping Mama, dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas lagi. Setelah melihat kaki Papa masih napak ke lantai, aku baru yakin kalau sosok tersebut memang Papa dan bukanlah arwahnya Papa, apalagi hantunya Papa.
“Loh, Papa enggak kenapa-kenapa?” Aku bertanya setelah mematung sekian detik.
“Lah memangnya Papa kenapa?” sahut Papa. Keningnya yang sudah sedikit ada kerutan itu makin berkerut saat melontarkan pertanyaan seraya menatap putra semata wayangnya yang tampannya masyaallah, subhanallah hingga astaghfirullah.
“Aku pikir Papa ....” Aku enggak lanjut deh ngomongnya, ngeri juga mau bilang kalau tadi aku mikir yang enggak-enggak.
“Kayaknya ini anak ngelindur. Kamu habis mimpi ya, Dan?” tukas Mama.
“Iya, Mah.”
“Mimpi apa?”
“Mimpi Papa nikah lagi." Dahlah jawab asal aja.
“Ih. Papa!”
“Aduh, aduh.” Papaku yang ganteng meskipun gantengnya enggak lebih dari aku meringis karena Mama mencubit perutnya.
“Memamgnya Papa mau nikah lagi?” sewot Mama dengan tangan yang belum lepas dari perut Papa yang tertutup baju koko. Masih mencubit gemas perut Papa yang enggak ada kotak-kotaknya.
“Enggak lah, Mah. Mana mungkin Papa mau nikah lagi. Satu aja gak abis-abis, masa mau nambah.”
“Papa boleh kok kalau mau menikah lagi.”
“Hah, serius, Mah?”
“Hem.”
“Jangan dong, Mah?” Justru aku yang enggak terima kalau Papa nikah lagi. Lihat aja, kalau sampai Papa mau nikah lagi. Sebelum Papa menikahi perempuan calon istri barunya itu, aku akan lebih gercep nikahin calon istri Papa itu.
__ADS_1
“Tapi nanti, kalau Mama sudah mati. Dan karena Mama ini sayang banget sama Papa, nanti pas Papa mau malam pertama sama istri baru, Mama akan datang nengok Papa," sambung Mama.
“Hahahaha.” Aku sontak ngakak lihat ekspresi Papa yang meringis membayangkannya.
“Tenang lah, Mama sayang. Papa enggak akan mungkin menikah lagi. Karena papa ingin kita bukan hanya saling mencinta di dunia saja, tapi juga bisa saling mencintai sampai akhirat. Love you until Jannah pokoknya.”
“Uluh uluh so sweetnya si Papa.” Mama langsung memeluk Papa dan mengecup pipinya.
“Lah kok cium, Mah, orang papa udah punya wudu.”
“Biarin sih, kan bisa wudu lagi.” Mamaku yang cantik semakin merapatkan pelukan pada pria tercintanya itu. Yang pasti akan membuat para kaum jomblo ileran, jika sampai melihat keuwuan mereka.
“Jadi, Mama mau ngapain bangunin aku pagi-pagi sih?” tanyaku dengan raut kesal karena merasa waktu tidurku telah dipangkas. Rugi tahu, kan waktu adalah uang. Sementara tidurku itu biasanya berdurasi lama, kalau diuangkan udah enggak terhitung deh sama kurs rupiah.
“Solat subuh lah. Udah sana cepetan mandi, wudu, terus ikut Papa ke masjid,” sahut Mama yang membuatku semakin kesal. Secara solat subuh itu adalah ibadah yang sangat jarang banget aku kerjakan. Enggak Subuh doang sih, solat yang lain juga.
Sebenarnya diriku yang masih memiliki keimanan meskipun setipis kulit ari ini ingin banget melaksanakan solat Subuh, tapi sayang bangunnya selalu kesiangan. Subuh kesiangan, Zuhur kerepotan, Ashar di perjalanan, Magrib kecapekan, Isya ketiduran. Jadilah bablas terus setiap harinya. Mungkin inilah kekurangan aku sebagai manusia yang diciptakan dengan begitu gantengnya.
“Solat di rumah aja lah,” kataku mencoba bernegosiasi.
“Ke masjid. Cepetan Papa tunggu!”
“Iya, iya. Nanti habis solat Subuh mau tidur lagi ya.”
“Engggak. Pagi ini Papa dan Mama mau ngajak kamu. Kamu harus ikut Mama sama Papa.”
“Ke mana, Mah? Aku enggak ikut lah, udah gede gini masa masih mau ikut orang tua.”
“Mama sama Papa mau ngajak kamu ketemu sama calon jodoh kamu. Mama dan Papa mau jodohin kamu sama anaknya teman Papa.”
“Apa?” Aku kaget bercampur rasa enggak terima dong ya. Apa kata dunia, kalau aku yang begitu tampan rupawan menawan ini mau dijodohkan. Padahal, kalau aku mau, aku tinggal tunjuk tuh cewek mana yang aku mau. Siapa sih cewek yang bakal menolak pesonaku yang meluber-luber sampai tumpah-tumpah ini.
.
.
__ADS_1
Dibuang sayang. Ceritanya setelah nulis Aa Dewa itu aku mau nulis cerita ini. Tapi, baru dapat 3 bab, aku udah malas untuk lanjutinnya. Daripada dibuang, aku up di sini aja ya. Semoga menghibur