Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
118. GBM S3


__ADS_3

Praaang ...


Gelas bekas minum susu ibu hamil yang akan dicuci, meluncur jatuh dari tangan Mimin. Ia segera berjongkok untuk memungut serpihan gelas itu.


"Awwww ...." Ia terpekik kesakitan karena serpihan gelas itu mengenai tangannya hingga berdarah.


"Neng Mina ...! Duh, kata Bibi juga biar Bibi aja yang mencuci gelasnya." Bi Siti turut berjongkok di hadapan Mimin.


"Berdarah, Neng,” ujar Bi Siti panik seraya meraih tangan Mimin.


"Gak papa, Bi. Berdarah sedikit doang," kilah Mimin.


"Sini, Neng ... Bibi obatin." Bi Siti menuntun Mimin untuk duduk di kursi tengah.


"Sebentar ya, Neng ... Bibi ambil kotak obatnya dulu.” Bi Siti beranjak mengambil kotak obat.


"Kenapa, Sayang?" Suara pecahan gelas di dapur mengusik Mama yang sedang berada di kamar untuk mencari tahu.


"Loh, tangan kamu berdarah, Sayang!" Mama terpekik kaget.


"Gak papa, Mah. Tadi kena serpihan gelas sedikit," kilah Mimin.


"Iya, Bu. Tadi saya udah bilang sama Neng Mina, biar saya aja yang nyuci gelas. Eh, Neng Mina malah mau cuci gelas sendiri," terang Bi Siti yang datang dengan membawa kotak P3K.


"Kita ke rumah sakit aja, Yuk! Tanganmu berdarah, Sayang," usul Mama.


"Enggak usah, Mah. Ini gak papa kok, cuma berdarah dikit. Diobati pake betadine juga sembuh," sahut Mimin.


"Beneran gak papa?"


"Iya, Mah. Gak papa."


"Ya udah, Bi ... cepetan obatin tangannya Mina!" titah Mama.


Bi Siti pun segera mengobati tangan Mimin dengan cairan antiseptik yang biasa digunakan untuk membersihkan luka serta mencegah terjadinya infeksi pada luka. Setelahnya ia membalut luka di tangan Mimin menggunakan plester untuk luka.


"Padahal Mama mau ajak kamu shopping loh, Sayang. Tapi kalau tangan kamu luka begini Mama jadi ragu ngajak kamu shopping," keluh Mama.


"Gak papa atuh, Mah. Ini luka dikit doang."


"Ya udah, kalau begitu nanti satu jam lagi kita berangkat ya. Sekalian kita makan siang di luar.”


"Siap, Mah," sahut Mimin riang.


Jalan-jalan pasti lebih baik untuk mengusir rasa jenuh selama Dewa pergi. Begitu pikirnya.


 


*****


Dewa menghentikan mobilnya di depan sebuah minimarket, masih di kawasan Jakarta. Perjalanan menuju Ciamis mungkin membutuhkan waktu beberapa jam. Khawatir malas turun dari mobil saat perutnya nanti terasa lapar, maka ia memutuskan untuk membeli beberapa makanan sebagai pengganjal perut.


Satu bungkus roti sobek, satu bungkus roti sandwich, biskuit gandum coklat kesukaannya, sebotol air mineral, sebotol jus jeruk dan sebotol minuman kopi telah masuk ke dalam tentengan keranjang. Ia segera menuju kasir untuk membayar belanjaannya.


"Bang Dewa ...!"seruan seseorang menghentikan langkahnya.


"Bang Dewa 'kan?" tanya seorang pria muda.


"Iya, gue Dewa. Kamu ...." Dewa mengerutkan keningnya, berusaha mengingat pria muda tersebut.


"Saya Dodi, Bang. Ingat?" lontar pria itu kembali.


Dewa kembali mengerutkan keningnya. Berusaha mengingat sosok pria yang baru menyebutkan namanya itu.


"Saya dulu anak Rumah Singgah Cikini, Bang," terang pria bernama Dodi itu.


"Ya Allah, Dodi!" Dewa meraih tangan Dodi dan mereka bersalaman.


"Gimana kabar lo?" Tangan kanan Dewa masih bersalaman, sementara tangan kirinya menepuk-nepuk lengan Dodi.


"Begini-begini aja, Bang."


"Anak-anak yang lain gimana kabarnya?" tanya Dewa.


"Ya sama, masih begini-begini aja," sahut Dodi.


Saat masih kuliah dulu, Dewa pernah menjadi aktivis sebuah rumah singgah. Ia mengajari anak-anak jalanan yang biasa mengemis itu belajar gitar dan bernyanyi. Daripada mengemis lebih baik mengamen. Jadilah pengamen yang santun dan beretika. Begitu pesan Dewa kepada anak-anak jalanan itu.


Akibat adanya sengketa hak milik, rumah singgah itu kemudian digusur. Saat itu Dewa ingin sekali meminta bantuan papahnya agar bisa mempertahankan rumah singgah. Namun, pada akhirnya ia tak dapat berbuat apa-apa karena hubungan Dewa dengan papahnya yang tak berjalan baik kala itu.


"Dulu lo segini." Dewa menyejajarkan tangan di depan dada. "Sekarang badan lo udah sama kayak Abang," ujarnya.


"Hehehehe ... Namanya juga dikasih makan, Bang. Padahal cuma makanan ala kadarnya, tapi bisa gede juga," seloroh Dodi.


"Oya, ngomong-ngomong Bang Dewa mau ke mana?" tanya Dodi.


"Mau ke Ciamis."


"Wih, lewat Cikampek-Subang ga, Bang?"


"Memangnya kenapa?"


"Kalau lewat Subang, saya mau nebeng. Udah lama pengen pulang kampung, tapi belum kesampaian. Boleh, Bang?"


"Boleh, boleh. Yuk lah, naik. Kita berangkat sekarang," ajak Dewa.


Keduanya pun masuk ke dalam mobil. Dewa duduk di kursi pengemudi. Sedangkan Dodi duduk di kursi penumpang di samping Dewa. Tak perlu berlama-lama, Dewa segera melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan mereka berbincang-bincang, saling bercerita tentang kehidupan mereka.


"Sebenarnya saya pengen kerja, Bang," ujar Dodi.

__ADS_1


"Udah cape ngamen," lanjutnya.


"Udah nyoba melamar kerja?" lontar Dewa.


"Melamar kerja di mana, Bang. Saya ga punya ijazah," sahut Dodi.


"Sebenarnya kalau kita mau berusaha, insya Allah ada aja jalannya." Dewa teringat saat ia pergi dari rumah tanpa membawa ijazah, namun bisa mendapat pekerjaan.


"Abang sih hidupnya enak, udah ganteng, orang kaya lagi," ujar Dodi.


"Kaya dan ganteng itu bukan ukuran hidup enak, Bro," sela Dewa.


"Karena ukuran bahagia itu bukan dari tampang dan kekayaan," lanjut Dewa.


"Kalau orang kaya, orang beduit bisa aja bilang begitu ... bahagia itu bukan soal materi. Tapi bagi orang kecil seperti kami, dimana untuk mendapatkan sesuap nasi aja begitu susah, bahagia sudah pasti soal uang. Dengan uang kita bisa kenyang, dengan uang kita bisa senang, dengan uang hati rasanya lapang," tutur Dodi.


Dewa tersenyum menanggapi pernyataan Dodi. "Udah dewasa sekarang kamu, Dod."


"Orang-orang seperti kami, biasanya akan dewasa sebelum waktunya. Hehehehe...."


"Jadi, lo pengen kerja?"


"Iya, Bang. Pengen banget."


"Lo punya keahlian apa?"


"Emmm ... Saya bisa nyetir, Bang."


"Oh, ya?! Kalau begitu, coba siapkan aja lamarannya. Insya Allah nanti Abang bantu, siapa tahu ada lowongan untuk sopir."


"Tapi saya ga punya ijazah, Bang."


"Kalau untuk sopir, gak perlu ijazah. Yang dinilai adalah skill atau kemampuannya. Lo punya SIM 'kan?"


"Enggak, Bang."


"Ya udah ga papa, nanti begitu ada lowongan lo langsung bikin SIM. Kalau ga ada uang untuk bikin SIM, nanti gue bantuin deh."


"Makasih, Bang."


"Kalau KTP punya dong?"


"Enggak, Bang."


"Astagfirullah, kenapa KTP aja sampai ga punya sih! KTP itu penting loh sebagai kartu identitas kita. Wah, lo warga negara ilegal nih."


"Biarin lah, Bang. Lagian negara juga ga sudi kayaknya ngakuin saya sebagai warganya. Hehehehe...."


"Eh, enggak boleh gitu. Setiap warga negara itu memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum tanpa ada pengecualian. Itu, udah diatur undang-undang loh, pasal 27 ayat 1 UUD 1945," papar Dewa.


"Gitu ya, Bang??"


"Bisa, bisa, Bang," sahut Dodi semangat.


Dewa menghentikan dan menepikan sejenak mobilnya. Lalu, Ia turun dari mobil dan bertukar tempat duduk dengan Dodi. Mempercayakan Dodi untuk membawa mobil yang ditumpanginya.


Dewa sudah duduk di jok penumpang depan. Dodi pun telah duduk di tempat Dewa duduk tadi dan mulai melajukan mobil.


"Dod, hati-hati ya bawanya. Ga usah buru-buru ... yang penting selamat," pesan Dewa sebelum Dodi melajukan mobilnya.


"Siap, Bang!"


Dewa merogoh saku belakang celana untuk mengambil dompet kulit warna hitam miliknya.


"Tuh, Dod ... lihat dompet Abang," Dewa menunjukkan isi dompetnya. "Ada KTP, SIM, ATM, kartu nama, sedikit uang tunai dan jangan lupa ... foto ayang beb juga ga kalah penting harus ada di dompet," paparnya.


"Saya ga punya semua itu, Bang. KTP, SIM, ATM, kartu nama juga gak punya. Foto ayang beb juga ga punya, hehehehehe...."


"Makanya itu, nanti habis mudik, lo buat KTP ya, penting itu!" Dewa meletakkan dompetnya di dashboard mobil.


"Hahahahaha ... Siap, Bang!" seru Dodi. "Ngomong-ngomong itu ayang beb Abang cantik banget. Pacar, Bang?"


"Istri, dong,”  sahut Dewa bangga.”Makanya lo nyetirnya hati-hati, ya! Istri gue lagi hamil besar, sedang nunggu di rumah."


"Siap, Bang!"


Membahas soal istri, Dewa jadi teringat dengan Mimin. Rindunya pada Mimin sungguh kelewatan, baru juga sebentar pergi, rindu sudah menguasai. Dewa meraih ponselnya lalu mengetikkan pesan kepada sang pemilik rindu.


Neng Sayang, lagi ngapain?


Usai mengetik pesan, ia menyentuh simbol panah untuk mengirim pesan tersebut. Beberapa saat ia menunggu balasan pesan dari Mimin. Karena tak kunjung mendapat balasan, ia meletakkan ponselnya di dashboard mobil.


Mobil terus melaju, Dewa dan Dodi terus berbincang, membahas segala macam hal dan berdiskusi tentang kehidupan.


Satu jam kemudian Dewa kembali meraih ponselnya. Dilihatnya pesan kepada Mimin belum dibaca, masih berstatus centang dua abu. Ia sempat berpikir untuk melakukan panggilan telepon kepada Mimin, namun karena  mengingat ada orang lain yang sedang bersamanya, ia pun mengurungkannya.


Dewa kembali mengetikkan sebuah pesan dan mengirimkannya pada Mimin.


Syahadat, nama untuk si Oton kalau cowok. Bagus ga, Neng?


Dewa kembali men*desah kecewa karena Mimin tak segera membaca pesannya. Ia yang merasa sedikit mengantuk akhirnya memejamkan mata.


"Dod, Abang merem dulu ya," kata Dewa dengan mata yang sudah terpejam.


"Iya, Bang."


"Hati-hati ya bawa mobilnya," pesan Dewa sebelum benar-benar terlelap.


"Siap, Bang."


*****

__ADS_1


Mimin dan ibu mertuanya tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Mama mengajaknya ke sebuah outlet perlengkapan bayi.


"Sayang, ini lucu ya." Mama menunjuk sebuah sepatu bayi perempuan lucu.


Mata Mimin berbinar melihat sepatu bayi yang ditunjukkan Mama. "Iya, Mah ... lucu banget."


"Dibeli aja ya," usul Mama.


"Kalau anaknya laki-laki gimana, Mah?”


"Kalian sih, bukannya memanfaatkan kecanggihan teknologi, malah sengaja ga memanfaatkannya. Malah memilih untuk gak mau tahu jenis kelamin bayinya," keluh Mama.


"Kemauan Aa Dewa, Mah." Mimin tersenyum menanggapi kekecewaan ibu mertuanya.


"Ngomong-ngomong si Dewa itu mau ke mana, sih?" tanya Mama sembari melihat perlengkapan bayi lainnya.


"Ke Ciamis, Mah."


"Ngapain ke Ciamis?"


"Nyari mobil."


"Nyari mobil kok jauh amat sampai ke Ciamis. Di Jakarta juga banyak mobil bagus-bagus."


Mimin tersenyum menanggapi ucapan Mama. "A Dewa ga nyari mobil bagus, Mah. Dia justru nyari mobil rongsok," terangnya.


"Tuh, kan. Anak itu mah beda, mobil rongsok malah dicari," seloroh Mama.


"Buat usaha, Mah."


"Ngapain sih dia itu susah-susah usaha sendiri. Kenapa ga kerja di kantor Papa aja coba."


"Gak apa-apa, Mah. Usaha itu apa aja, yang penting halal."


"Terus sekarang mau apa dulu nih yang dibeli. Baju bayi, sepatu bayi, perlengkapan mandi, popok, tempat tidur bayi?”  tawar Mama.


"Enggak usah, Mah ... nanti aja."


"Kok nanti aja sih? Sekarang aja dong, Sayang."


"Soalnya udah janjian sama si Aa, katanya besok mau beli perlengkapan bayi."


"Oh, begitu. Ya udah deh, kalau ga jadi beli perlengkapan bayi, kita makan aja, yuk," ajak Mama.


"Solat dulu aja yuk, Mah. Sebentar lagi masuk waktu zuhur," usul Mimin.


"Mama sih lagi ga solat. Kamu solat sendiri aja ya, Sayang. Nanti kita cari musolanya bareng," kata Mama. Yang dibalas sebuah anggukan oleh Mimin.


Mimin bertanya kepada salah seorang satpam di pusat perbelanjaan tersebut mengenai letak musala. Atas arahan satpam setempat, ia dapat  menemukan letak musala. Sebelum pergi mengambil wudu, ia memilih duduk sejenak di dalam musala untuk beristirahat. Sementara Mama memilih untuk menunggu di sebuah restoran dekat musala.


Mimin meraih ponsel lalu membukanya. Ia tersenyum ketika mendapati ada dua pesan masuk dari Dewa.


Pesan pertama : Neng Sayang, lagi ngapain?


Pesan kedua  : Syahadat, nama untuk si Oton kalau cowok. Bagus ga, Neng?


Mimin kembali mengembangkan senyumnya usai membaca pesan itu. Lalu ia mengetikkan sesuatu membalas pesan Dewa.


Lagi nemenin mama mertua shopping. Uch, ga sabar pengen cepet-cepet besok, biar bisa shopping bareng Aa.


Balasan pesan pertama dikirimkannya. Kemudian ia kembali mengetikkan pesan berikutnya.


Syahadat, bagus A. Lengkapnya apa A? Syahadat apa?


Balasan pesan kedua pun dikirimkannya.


*****


Sayup-sayup suara azan membangunkan Dewa yang tengah lelap tertidur di dalam perjalanannya. Ia membuka matanya cepat karena merasakan laju mobil yang berjalan secepat kilat.


"Gila...! Jangan ngebut-ngebut!" pekik Dewa berbarengan dengan suara notifikasi pesan masuk di ponselnya. Ia hendak meraih ponsel dari dashboard ketika merasakan laju mobil mulai tak terkendali.


"Dod ... REEEEEEM!!!"


"AAAAAAAGHH....!!!!"


Akibat kecepatan super cepat dan kontur jalan yang menurun membuat mobil itu menjadi semakin tak terkendali. Sopir semakin kalut dan tak kuasa mengendalikan laju mobil. Mobil itu berguling-guling beberapa kali di atas jalan raya beraspal yang lengang.


"AAAAAAAGHH....!!!


Dewa merasakan tubuhnya terpental dari dalam mobil lalu melayang di udara. Hingga kemudian terjerembab jatuh di atas semak. Tak berhenti di situ, tubuhnya lalu berguling-guling ke bawah ke sebuah tempat mirip lembah. Ia merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh dan juga kepalanya. Ia masih meringis mengaduh ketika sesaat kemudian terdengar suara dentuman sangat keras.


"Duuuaaarrrr...."


Lalu semuanya menjadi gelap.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


Love U.


❤️❤️❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2