Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
123. GBM S3


__ADS_3

"Dewa ...!" Sekali lagi Deka berteriak memanggil nama Dewa. Namun, yang dipanggil tak bereaksi.


Deka masih menerka-nerka apakah pria itu benar Dewa atau bukan, ketika kemudian melihat seorang wanita yang tak lain adalah Pipit datang menghampiri Dewa. Penampilan Pipit yang berkerudung sangat mirip dengan Mimin.


"Jasmin??" Deka membelalakkan matanya tak mengerti.


"Itu Dewa dan Jasmin??" Hatinya bertanya-tanya.


"Pak Deka, ada telepon dari Pak Lukman." Laporan salah seorang pegawai membatalkan langkah kakinya. Ia berniat mengejar dua orang yang mirip Dewa dan Jasmin.


Deka menerima panggilan telepon itu. Setelahnya ia kehilangan jejak Dewa.


Tadi Dewa sama Jasmin? Tidak mungkin itu pasti hanya halusinasi. Iya pasti hanya halusinasi. Atau aku telepon Jasmin saja untuk memastikan. Batin Deka.


Deka melakukan panggilan telepon ke nomor Mimin namun tak dijawab, lalu ia beralih dengan melakukan panggilan ke nomor mamahnya.


"Halo, Mah. Jasmin di mana?"


"Jasmin? Di sini lah, nih lagi sama mama, lagi main sama Syad juga. Kenapa?"


"Enggak kenapa-kenapa, Mah. Ya udah kalau begitu. Salam aja buat Syad."


"Iya. Makanya kamu cepetan pulang, biar Syad ada temannya."


"Iya, nanti sore juga Deka pulang. Ya udah gitu aja ya, Mah." Deka menutup panggilan teleponnya.


Benar, tadi hanya halusinasi. Gumamnya dalam hati.


(maaf ya ga seru kalau Dewa diboyong pulang oleh Deka. Lalu siapa yang akan memboyong Dewa pulang? Jawabannya ada di akhir bab ini. Cekidot, lanjut)


*****


"Jasmin, bisa kita bicara sebentar?" lontar Deka saat baru sampai mengantarkan Mimin dan Syad pulang ke rumah Abah.


"Sebentar, aku bawa Syad ke kamar dulu." Mimin membawa masuk Syad yang tertidur pulas dalam gendongannya.


Mimin menidurkan Syad di tempat tidur, dan menepuk-nepuk sebentar bokong bocah kecil itu sebab hampir terbangun. Setelah yakin Syad kembali pulas, baru ia menemui Deka di ruang tamu.


Deka tengah menyeruput secangkir teh saat Mimin mendatanginya. Mami yang menyuguhkan secangkir teh dan camilan saat ia masih menidurkan Syad tadi.


"Bang Deka mau bicara apa?" tanya Mimin. Ia duduk segaris lurus di hadapan Deka.


"Jasmin, sudah setahun Dewa pergi. Kamu ga berpikir untuk ...."


"Enggak," potong Mimin cepat. Ia paham ke mana arah pembicaraan Deka bermuara.


"Aku sayang sama Syad. Apa kamu ga berpikir untuk ...."


"Enggak!" ketus Mimin.


"Ayo lah, Jasmin. Mungkin kamu memang belum butuh suami untuk menggantikan Dewa. Tapi Syad butuh seorang ayah yang bisa menyayanginya."


"Syad sudah punya ayah, Bang!"


"Jasmin, izinkan aku untuk bisa lebih dekat dengan Syad, memberikan perasaan sayang yang lebih besar kepadanya, menemani hari-harinya, mengikuti pertumbuhannya. Izinkan aku menjadi ayah sepenuhnya untuk Syad," mohon Deka.


"Bang Deka cukup jadi daddy-nya Syad. Tidak perlu jadi ayah, karena tak ada seorang pun yang dapat menggantikan ayahnya!" tegas Mimin.


"Aku tahu kamu mencintai Dewa. Tapi, Dewa sudah enggak ada, sudah meninggal dan tak akan pernah kembali," tukas Deka.


"Dewa masih ada, Bang. Aku yakin itu!"


"Kalau Dewa memang masih ada. Sekarang dia di mana? Lantas, kenapa dia tidak pulang menemui kamu?"


Mimin bergeming. Hal itu juga yang menjadi pertanyaan di benaknya selama ini. Mengapa Dewa tak kunjung pulang menemuinya. Mengapa Dewa tak kembali kepadanya.


"Kalau Dewa masih hidup dan mencintaimu, dia pasti akan kembali. Nyatanya sudah lebih dari setahun, Dewa ga pernah kembali."


Mimin kembali bergeming. Ia tak mampu menjawab pemikiran Deka.


"Jasmin, menikahlah denganku. Izinkan aku menjadi pengganti Dewa. Menjadi ayah untuk Syad," mohon Deka sekali lagi.


Tajam, sorot mata Mimin menatap Deka. Tak mengira Deka akan mengungkapkan keinginan yang membuatnya geram.


"Aku gak akan menikah lagi dengan siapa pun!" Mimin bangkit dari duduk lalu meninggalkan Deka.


Deka hanya mampu mengembuskan napas panjang. Oh, Tuhan. Kapan aku bisa meluluhkan hatinya. Lirihnya dalam hati.


*****


Dewa tengah duduk termenung di atas tempat tidur. Di hadapannya ada sebuah kaleng bekas biskuit tempat ia menyimpan uangnya selama ini. Ia membuka pelan kaleng itu lalu merapikan lembaran demi lembaran uang di dalamnya. Setelahnya, ia mulai menghitung lembaran yang didominasi pecahan uang sepuluh ribu itu.


Satu juta tujuh ratus ribu, uang yang sudah terkumpul di dalam celengan kaleng. Belum mencapai target yang diinginkannya. Rencananya jika uang sudah terkumpul minimal tiga juta rupiah, ia akan pergi berobat untuk memeriksakan kondisi kesehatannya terutama soal ingatannya. Meskipun kemungkinan biaya pengobatan akan lebih dari itu, namun setidaknya cukup untuk biaya pemeriksaan awal.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Sep ...." Suara Aki memanggilnya.


"Iya, Ki." Dewa segera memasukkan kembali uangnya ke dalam kaleng biskuit, menutupnya, lalu meletakkannya di kolong tempat tidur.


Ia bergegas membuka pintu kamar. "Iya, Ki. Ada apa?"


"Aki boleh minta tolong?"


"Boleh atuh, Ki."

__ADS_1


"Di belakang ada Mang Entis, katanya lagi butuh kambing buat hajatan. Dia mau nyunat anak bungsunya. Tolong temenin ya, dia mau lihat dulu kambingnya," tutur Aki.


"Siap, Ki."


Aki membawa Dewa menemui Mang Entis.


"Entis, ini Asep. Kamu lihat kambingnya ditemani Asep ya," ujar Aki kepada Mang Entis.


"Iya, Ki. Gak apa-apa." Sorot mata Mang Entis menelisik memperhatikan Dewa. "Ngomong-ngomong Asep ini siapa, Ki?" tanya Entis yang baru pertama kali melihat Asep.


"Cucu Aki."


"Oooh." Mang Entis manggut-manggut. "Kang Asep bisa pilihin kambing yang bagus 'kan?" lontarnya kemudian.


"Bisa, Mang. Tenang aja. Yuk, Mang ... kita langsung ke kandang aja," ajak Dewa.


"Iya, yuk."


Dewa mengajak Mang Entis ke kandang kambing milik Aki Rusli. Ada dua belas ekor kambing yang dimiliki Aki, beragam jenis ukuran dan usia dari yang kecil, sedang, dan dewasa.


"Kang Asep ini bener cucunya Aki?" tanya Entis disela kegiatan memilih kambing.


"Iya, Mang."


"Saya kaya pernah ketemu Kang Asep, tapi di mana ya, saya lupa." Begitulah yang dirasakan Mang Entis ketika tadi Aki memperkenalkannya.


"Pernah ketemu saya di mana, Mang?" Antusias, Dewa bertanya.


"Saya lupa. Ga inget," sahut Mang Entis.


Ada terbesit kecewa di hati Dewa. Jika benar mereka pernah bertemu, Dewa ingin bertanya lebih lanjut. Berharap Mang Entis mengetahui asal usulnya.


"Besok Kang Asep anterin kambingnya ke rumah saya, ya," pinta Mang Entis setelah sebuah kambing bandot dengan ukuran tubuh paling besar mantap dipilihnya.


"Iya, boleh."


"Soalnya kalau dibawa sekarang, ribet, harus diurus, dikasih makan, belum lagi resiko ada yang nyolong. Jadi, besok aja dianterin sama Kang Asep," lanjut Mang Entis.


"Jam berapa diantarnya?"


"Jam dua atau tiga sore aja. Karena jam empat sore besok, rencananya kambing akan dipotong."


"Siap, Mang."


"Oya, uang depe sekalian besok aja ya, kalau kambing udah diantar ke rumah saya."


"Kalau urusan itu, dibicarakan sama Aki aja, Mang."


"Udah. Tadi udah ngomong sama Aki, katanya enggak papa."


"Makasih ya, Kang Asep."


"Sama-sama, Mang."


Setelah berpamitan pada Aki dan Dewa, Mang Entis melangkah pulang. Saat sampai di depan rumahnya, ada sebuah mobil terparkir di sana. Mang Entis bergegas masuk ke dalam rumah untuk menemui tamunya yang sudah pasti adalah keluarganya.


"Bimbim ...!" seru Mang Entis ketika sampai di ruang tamu, dan melihat ada tamu di sana.


"Mang ...." Bimbim yang tak lain adalah Bima Sakti Bambang Pamungkas alias Jejed segera menghampiri Mang Entis dan menyalaminya.


"Bapakmu mana?" Mang Entis adalah pamannya Jejed. Ia adalah adik laki-laki satu-satunya Pak Cecep, ayahnya Jejed.


"Bapak nanti ke sini pas hari H bareng Mama dan keluarga yang lain. Sekarang Bapak masih sibuk. Jadi Bapak ngirim Bim ke sini untuk bantu-bantu Mamang mempersiapkan hajatan. Istri dan anak Bim juga nanti ke sini bareng sama Bapak dan Mamah," tutur Jejed.


"Terus kamu ke sini sama siapa, Bim?"


Jejed melirik Sol. "Sama sobat Bim, nih. Mamang inget ga?"


Sol segera menyalami Mang Entis. "Assalamualaikum. Gimana kabarnya, Mang Entis?" sapa Sol.


"Waalaikum salam. Ini ...." Mang Entis meletakkan satu tangannya di jidat, berusaha mengingat Sol. "Oh, ini teman nge-band kamu itu, Bim?"


"Yupz betul, Mang," sahut Jejed.


"Siapa namanya tuh? Emmm ... sol sepatu." Rupanya sol sepatu adalah klu untuk mengingat nama Sol. "Iya, ingat. Kamu Sol 'kan namanya?"


"Iya betul, Mang. Tapi, bukan sol sepatu juga sih, Mang. Nama saya Soleh Munawar," jelas Sol.


"Hahahahaha, iya iya. Kang Sol namanya bagus banget, sebagus orangnya," puji Mang Entis.


"Ah, Mang Entis bisa aja." Hidung Sol kembang kempis karena mendengar pujian Mang Entis.


"Kalau ga salah, kalian kan nge-band bertiga. Yang satu lagi ga diajak ikut, Bim?


"Itu dia, Mang. Sekarang kita cuma berdua. Yang satu lagi sudah berpulang ke rahamtullah, Mang. Meninggal karena kecelakaan. Di deket sini kayaknya kecelakaannya,” terang Jejed.


"Inna lilahi wa Inna ilaihi rojiun. Padahal yang satu lagi mah kasep pisan orangnya, ya. Walau mamang ga hafal wajahnya tapi yang mamang inget orangnya ganteng."


"Saya kurang ganteng gitu, Mang?" lontar Sol.


"Kamu juga ganteng, tapi kegantengannya hanya lebih tinggi satu level aja di atas Mamang. Hehehehe," kelakar Mang Entis.


Sol mengerucutkan bibirnya lucu. "Kalau artinya sekarang cuma beda satu level, artinya dibanding Mang Entis waktu muda, lebih ganteng Mang Entis waktu muda, dong."


"Hahahahaha, itu maksud Mamang." Mang Entis dan Jejed tergelak dalam tawa.

__ADS_1


"Ya sudah kalian istirahat dulu aja. Habis itu nanti makan. Terus nanti bantuin mamang," titah Mang Entis.


"Siap, Mang," sahut Sol dan Jejed kompak.


*****


Esok harinya. Tepat pukul dua siang, Dewa bersiap untuk mengantarkan kambing pesanan Mang Entis ke rumahnya.


"Rumahnya di RT 15. Dekat masjid. Kalau ga salah, cat rumahnya warna hijau," terang Aki.


"Iya, Ki."


"Kalau ga ketemu, nanti tanya saja sama orang di jalan. Emm, tapi 'kan Entis katanya mau hajat, udah pasti rumahnya yang ramai dan dipasang tenda hajatan," kata Aki.


"Siap, Ki. Saya berangkat ya, Ki."


"Makasih ya, Sep. Untung Aki punya kamu." Aki Rusli sejujurnya merasa terbantu dengan keberadaan Dewa di rumahnya. Sebab, Aki memang tak punya anak laki-laki. Anaknya Aki hanya seorang, yaitu Sari, ibu yang mengasuh Pipit.


"Sama-sama, Ki. Saya juga beruntung bisa ketemu Aki," balas Asep.


Aki tersenyum menatap Dewa. Ada terbesit rasa haru jika membayangkan kelak Dewa akan pergi meninggalkannya setelah ingatannya kembali.


"Saya jalan yah, Ki."


Seruan Dewa membuyarkan lamunan Aki. "Oh, iya. Hati-hati ya, Sep."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Dewa berangkat ke rumah Mang Entis dengan berjalan kaki. Ia membawa kambing dengan menarik tali tambang dadung pada kambing. Ternyata rumah Mang Entis lumayan jauh dari rumah Aki, perlu waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke sana.


"Makasih nih, Kang Asep. Udah dianterin kambingnya." Mang Entis menerima kambing yang dibawa Dewa. Lalu, dengan dibantu Dewa mengikatkan kambing itu ke sebuah pohon jambu yang dirasa kokoh.


"Sebentar ya, Kang. Saya ambil uang depe dulu."


"Iya, Mang."


"Kang Asep sembari nunggu boleh diicip kue-kuenya," ucap Mang Entis ramah.


"Iya, Mang. Makasih," jawab Dewa sebelum Mang Entis meninggalkannya untuk mengambil uang.


Perjalanannya ke rumah Mang Entis dengan membawa kambing berukuran besar  itu sangat melelahkan, membuatnya ingin beristirahat mencari tempat duduk. Hingga kemudian ia menemukan tempat duduk yang cukup pas. Di bawah pohon asem, ia duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.


Sementara itu di sudut yang lain. Sol dan Jejed kelelahan sehabis membantu memasang tenda di halaman rumah Mang Entis. Kemudian mereka memilih untuk duduk sebentar, sekedar beristirahat. Mereka duduk di kursi tamu yang sebagian kecil sengaja dipasang untuk tempat duduk para warga yang membantu persiapan hajatan tersebut.


Sol baru saja meneguk tandas satu cup air mineral, dilanjutkan dengan mencomot satu kue pisang. Ia tengah menikmati gigitan demi gigitan kue pisang ketika pandangannya jatuh pada sosok pria yang tengah duduk di bawah pohon asem, berjarak sekitar tujuh meter di depannya. Pria yang tak lain adalah Dewa juga tengah menatapnya.


"Astagfirullahal adzim," ucap Sol yang seketika langsung memejamkan mata.


"Kenapa Sol?" tanya Jejed heran.


Sol membuka matanya dan sekali lagi melemparkan pandangannya ke bawah pohon asem.


"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk." Sol sampai tersedak karena mengetahui Dewa masih menatapnya. Kembali ia memejamkan mata lalu melafalkan bacaan ayat kursi sampai tuntas.


"Kenapa sih Sol? malah baca ayat kursi segala," sewot Jejed.


"Di belakang lo, Jed. Ada han-han-hantu," sahut Sol masih dengan memejamkan matanya.


"Siang siang begini mana ada hantu, Sol."


"Lo lihat aja sendiri, di belakang lo. Di bawah pohon asem."


Jejed memutar tubuhnya dan melemparkan pandangannya pada pohon asem yang dimaksud Sol. "Ga ada apa-apa kok, Sol."


Sol membuka matanya dan melemparkan pandangannya kembali ke tempat duduk Dewa tadi. "Oh, iya. Udah pergi kayaknya, Jed."


"Hantu apa sih Sol?" tanya Jejed penasaran.


"Hantu si Dewa, Jed. Gue tadi lihat hantunya Dewa di bawah pohon asem."


"Apa???!" Jejed terperanjat mendengar pengakuan Sol.


.


.


.


.


Dunia tak selebar daun toge. Namanya juga dunia halu. Tuh udah ada dua sobat gokil Dewa di kampung Ciherang. Siap-siap bakal boyong Dewa pulang.


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2