
Di suatu Pusat Perbelanjaan Pasar tradisional di kota Serang yang bernama Pasar Rau. Pasar dimana segala macam penjual ada di sini. Seorang gadis berjalan lesu. Langkahnya terasa berat karena menopang hati yang remuk redam akibat patah hati. Dialah Mida.
Ketika sedang stres atau bersedih, banyak wanita yang mencoba mengusirnya dengan berbelanja atau shopping. Bagi sebagian wanita, belanja memang bisa menjadi cara paling jitu untuk memicu rasa bahagia.
Dan inilah yang akan dilakukan Mida. Mencoba mengobati luka dengan berbelanja.
*****
Sementara di toko jilbab dan kerudung Insyaallah Berkah, Sol tengah sibuk melayani pembelinya.
"Yang ini bagus nih, Bu. Kerudung model baru," sahut Sol.
"Enggak lah Kang, model itu saya udah punya."
"Yang ini, Bu?"
"Udah punya."
"Yang ini?"
"Udah punya?"
"Yang ini?"
"Udah punya."
"Lah tetep beda dong sama yang di rumah. Warnanya 'kan beda banyak pilihan, Bu."
"Enggak Kang, makasih saya ga jadi beli cuma lagi jalan-jalan doang."
"Jalan-jalan mah ke Pantai Gope, Bu. Tiket masuknya cuma gope," sahut Sol.
"Makanya itu Kang, saya ga jadi beli. Mau ke Pantai Gope aja. Makasih ya, Kang." Ibu itu akhirnya pergi setelah mengacak-acak barang dagangan Sol tanpa jadi membeli.
"Huh... Ada cicak nyemplung di bubur habis ngacak-ngacak langsung kabur," umpat Sol.
"Kenapa lo Sol?" tanya tetangga toko sebelah yang bernama Selamet. Nama panjangnya adalah Selamet Dunia Akhirat. Karena nama adalah do'a maka orangtuanya memberi nama itu.
"Tuh tadi Rojali baru lewat ... rombongan jarang beli," sahut Sol.
"Kesel ya Sol?"
"Iya...!"
"Persis banget kejadiannya pas saya siram wc byuur...byuur... eehh mampet. Di situ saya benar-benar kehilangan momen be*rak saya. Akhirnya saya beralih ke wc lain. Sekarang sudah tidak ada lagi tuh yang namanya mampet. Malah kata teman-teman, eh pelan-pelan dong be*raknya saya kecipratan ta*i nih," celetuk Selamet.
" Iya, makanya saya beralih ke pasta gigi PRESIDENT," sahut Satria. Nama lengkapnya Satria Baja Hitam yang juga adalah tetangga toko Sol.
"Wahahahahaha... Selamet koplak, pagi-pagi malah ngomong jorok loh!"
"Daripada kesel karena belum ada yang beli mending kita ngomong jorok," sahut Selamet Dunia Akhirat.
Begitu memang candaan orang pasar, terkadang suka ngomong jorok. Jorok dalam artian sebenarnya.
"Toko saya juga sepi aja," kata Satria. "Makanya sekarang saya buat banner tuh buat promosi." Satria menunjuk sebuah banner di depan tokonya.
__ADS_1
Sol membaca tulisan dalam banner itu. Lee Min Ho pernah mampir ke sini.
"Wahahahahaha..." Sol dan Selamet Dunia Akhirat tergelak membaca tulisan konyol itu. Karena toko milik Satria Baja Gosong (Begitu Sol menyebutnya) menjual beha dan pakaian dalam wanita. Lalu kenapa Lee Min Ho mampir ke toko beha??
"Gara-gara banner itu gadis-gadis pada beli di toko saya. Terus mereka tanya 'Lee Min Ho beli beha di sini juga? Memangnya Lee Min Ho pake beha juga?'"
"Hahahaha...."
"Terus kalau ibu-ibu yang udah gak muda lagi tanya 'Emang Lee Min Ho ini sejenis tumbuhan apa makanan?'"
"Wahahahahaha...." Sol tergelak paling keras hingga mulutnya terbuka lebar.
Lalu...
Bluup...
Sebuah bundelan tisu yang telah diremas masuk ke mulutnya.
"Wahahahahaha... Goool...!" seru Satria dan Selamet.
"Puiiih..." Sol memuntahkan bundelan tisu yang nyasar ke dalam mulutnya.
Sol berniat mengumpat seseorang yang telah kurang ajar membuang tisu sampai masuk tepat ke mulutnya. Namun kemudian si pelaku pelempar tisu itu segera menghampiri Sol dan meminta maaf.
Pelakunya adalah seorang gadis yang tengah patah hati. Tisu bekas menyeka ingus dan air mata ia lempar begitu saja.Hingga tak sengaja masuk ke dalam mulut Sol. Gadis itu adalah Mida.
"Maaf, Kang. Saya ga sengaja," ujar Mida.
"Untung kamu cantik, Neng. Coba kalau ganteng, pasti saya sudah pasang kuda-kuda," sahut Sol.
"Kakang jualan jilbab ya? Kebetulan saya mau beli jilbab." Mida mengingat begitu cantiknya Mimin dengan berjilbab. Apakah jika dirinya berjilbab, akan juga mendapatkan jodoh seperti Mimin. Begitu tanya hatinya.
"Silakan masuk, Neng. Silakan dipilih aja jilbabnya," sahut Sol riang. Ia sudah melupakan kekesalannya.
"Buat aku cocoknya yang mana ya?" tanya Mida sambil memilih jilbab.
"Kamu cocoknya ... sama aku." Sol melemparkan senyumnya. Mida yang belum pernah digombalin jadi tersipu dibuatnya.
"Namanya siapa?"
"Nama saya Mida."
"Bukan nama kamu ... tapi nama anak-anak kita nanti." Sepertinya kalimat ini adalah jurus andalan Sol ketika berkenalan dengan wanita.
Ketika tempo hari Sol melempar gombalan ini kepada Rahma dan reaksi Rahma malah tertawa. Berbeda dengan Rahma, reaksi Mida justru tersipu merona.
"Neng, kalau manggil orangtua laki-laki apa? Papa, Ayah atau Bapak?"
"Abah."
"Oh, Abah. Salam ya sama Abahnya, jaga kesehatan dan bilang harus rajin minum susu tinggi kalsium."
"Kenapa?"
"Biar tulangnya kuat dong. Dan biar kuat gendong anak-anak kita nanti." Lagi-lagi Mida tersipu merona.
__ADS_1
"Kakang namanya siapa?" tanya Mida. Membuat Sol seketika membeliakkan matanya. Jarang sekali ada wanita yang menanyakan namanya duluan. Ini sangat luar biasa. Tampaknya hilal jodoh Sol sudah berada pada ketinggian 2 derajat di atas ufuk.
"Saya MD masa depanmu, hehehehe... Nama saya Soleh Munawar. Saya bangga sekali loh orang tua saya memberi nama islami sama saya. Sehingga menyebut nama saya itu ga boleh sembarangan, melafalkannya harus dengan ketartilan yang sempurna. SO LEH MU NA WAR." Sol menyebut namanya dengan fasih sesuai makhraj. Mengganti huruf "S" dengan huruf "Shod" hingga membuat Mida tertawa.
"Kang maaf ya, tadi saya bener ga sengaja. Kang Soleh mau maafin saya 'kan?" sahut Mida penuh harap.
Sol melipat tangan kirinya di dada sementara telunjuk dan ibu jari tangan kanannya diletakkan di dagu. "Emmm ... gimana ya." Sol berekspresi seperti orang yang sedang berpikir.
"Kenapa gitu, Kang?"
"Saya ga bisa ngomong di sini."
"Kenapa...??"
"Bisa saya minta nomor WA aja. Nanti saya ngomong lewat WA."
"Moduuuuuuusss...!!" teriak Satria Baja Hitam dan Selamet Dunia Akhirat kompak.
*****
Keesokan harinya Dewa kembali ke kota Serang bersama Bu Dewi dan Deka. Bu Dewi ingin menjenguk menantunya sementara Deka harus ke kantor untuk mengurus surat pengunduran dirinya.
Setelah hampir seharian menemani Mimin di rumah sakit, Bu Dewi mengunjungi kediaman Mimin dengan maksud untuk memperbincangkan masalah resepsi pernikahan Dewa dan Mimin.
Namun sepertinya jalan yang dilalui Dewa tak semulus harapannya. Ia mendapat halangan dari Mami.
Dewa bersama mamahnya telah duduk di sofa ruang tamu kediaman Haji Zaenudin.
"Sebelum mengutarakan maksud kedatangan kami, terlebih dahulu saya mau meminta maaf perihal kedatangan kami tempo hari yang mungkin sangat mengganggu dan memberikan kesan negatif kepada keluarga Pak Haji dan Bu Haji. Terutama atas sikap suami saya," tutur Bu Dewi sopan.
"Tidak apa-apa, Bu. Kami sudah memaafkan. Yang lalu biarlah berlalu," sahut Abah bijak.
"Kedatangan kami ke sini bermaksud ingin membicarakan soal resepsi pernikahan anak-anak kita," tutur Bu Dewi.
"Maaf, Bu Dewi. Saya rasa, saya belum bisa menyerahkan putri saya Mimin kepada Dewa," sahut Mami menjawab keinginan Bu Dewi yang baru saja diutarakannya. Dewa tersentak mendengar jawaban Mami.
"Kenapa begitu, Bu Haji? Mereka 'kan saling mencintai. Kalau masalahnya karena ucapan papahnya Dewa waktu itu, saya pastikan ucapan papahnya Dewa itu tidak benar. Dewa tidak pernah menghamili wanita mana pun. Saya yakin itu," ujar Bu Dewi.
"Anggap kami percaya kalau Dewa tidak seperti itu. Tapi ada masalah lain yang mengganggu hati dan pikiran saya. Mungkin bagi anak-anak kita yeng belum pernah merasakan menikah hanya menganggap menikah itu enak, menikah itu indah. Padahal kenyataannya menikah itu bukan melulu soal yang enak-enak atau yang senang-senang. Nanti akan ada masanya hubungan mereka atau cinta mereka akan diuji. Kalau papahnya Dewa tidak merestui pernikahan mereka, lalu bagaimana jika saat nanti pernikahan mereka diuji. Tanpa dukungan kita sebagai orang tua tentu akan sulit untuk mereka menjalani suka dan duka pernikahan.”
“Tapi Mih.... “ Dewa hendak mengutarakan keberatannya.
“Begini saja,” potong Mami sebelum Dewa mengutarakan keberatannya. “Saya akan menyerahkan putri kami kepada Dewa kalau papahnya Dewa yang datang ke sini dan meminta putri saya untuk putranya.”
Dewa menghembuskan napas berat mendengar syarat yang diajukan Mami.
Pah, tolongin Dewa. Gumamnya dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
Sabar ya Dewa.