Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Aa


__ADS_3

Selepas salat Magrib, Hana duduk termenung di atas sajadahnya. Biasanya selepas salat ia akan mengaji, namun tidak untuk kali ini. Sebab merasa tak dapat berkonsentrasi. Ia sedang berkemelut dengan pikirannya. Tentang duka cinta yang menimpanya.


Bagaimana hatinya saat ini, tentulah sakit dan merana. Kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui bagaikan badai topan yang menghempaskan tubuhnya, melemparkannya pada hamparan padang kedukaan. Bagaikan gelombang ombak yang menggulung raganya, menenggelamkannya dalam lautan kesedihan.


Hingga di usia hampir seperempat abad ini hanya ada satu nama pria yang tertulis indah di hatinya. Hanya satu sosok pria yang terlukis menawan di setiap mimpinya. Sang superhero yang menjadi calon imam sepanjang masa. Syadewa Argian.


Namun kini, ia terpaksa harus meredam dalam-dalam perasaannya, membuang jauh-jauh harapannya.


Siapa yang harus disalahkan di sini. Apakah dirinya yang terlalu percaya diri takdir cintanya akan bermuara sesuai keinginannya? Atau kah Iyan yang tak pernah memahami isi hatinya? Atau kah Mimin sahabatnya, yang berhari-hari menyembunyikan statusnya? Atau kah ia harus menyalahkan takdir buruk yang menimpanya kepada si penulis novel ini? (Dan author tersenyum nyengir).


Harapannya kini semoga ia mampu mengikhlaskan semuanya. Dan segera dipertemukan dengan jodoh terbaik yang telah disiapkan penulis novel ini untuknya. Semoga. Segera.


*****


Selepas magrib di kontrakan.


"Wa, lo mau ngamen malam ini?" tanya Sol ketika melihat Dewa sedang berkaca di depan cermin.


"Ho oh," jawab Dewa sambil menyisir rambutnya.


"Gue mau jemput Jejed, dia kan mau datang kemari," ujar Sol sembari mengutak-atik ponselnya hendak menghubungi Jejed.


"Ah, iya gue lupa, belum balas pesan si Jejed. Coba lo telepon Sol si Jejed," titah Dewa.


"Nih, gue mau telepon." Sol menggenggam ponsel dan menempelkannya di telinga.


Tak menunggu lama, Jejed menjawab panggilannya.


"Assalamualaikum, Soleh Munawar." Suara Jejed di ujung telepon menirukan intonasi Bang Haji Rhoma Irama.


"Waalaikum salam... Hai, Jerawat Jedogan." Sol balas menirukan intonasi Bang Haji.


"Hahahahaha..." Keduanya tertawa di telepon, termasuk Dewa yang sedang mematut diri di cermin pun ikut tertawa.


"Jed... Nyampe mana lo?"


"Enggak tahu nih nyampe mana."


"Naik bus kan lo?"


"Ho oh."


"Kalau udah sampai telepon aja, nanti gue jemput."


"Baiklah. Terima kasih Soleh Munawar." Jejed kembali berkata dengan menirukan intonasi Bang Haji.


"Ah, Sungguh Ter La Lu," balas Sol dengan intonasi serupa, sebelum memutuskan sambungan teleponnya.


Malam ini Dewa tetap menjalankan pekerjaannya mengamen di Baretos Cafe. Sepulang mengamen, ia mendapati kedua sahabatnya Sol dan Jejed, mantan personil "Lakotum Band" tengah mengobrol sambil menunggunya pulang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam. Dewa....!"


"Jejed...!"


"Berpelukan....!"


Ketiganya Dewa, Sol, dan Jejed berpelukan lalu menyerukan yel yel khas mereka. "Lakotum Band... tumben tumben tumben Yes!"


"Hahahaha." Mereka bertiga tertawa. Mentertawai kekonyolan mereka sendiri.


"Bagaimana, udah dua bulan kita ga bertemu. Apa gue terlihat lebih tampan?" tanya Jejed, tangannya bersidekap di dada dan memasang wajah sok tampan.


"Sebentar." Dewa mengarahkan telunjuknya di depan wajah Jejed lalu menggerakkan telunjuk layaknya sedang menghitung sesuatu. "Satu, dua, tiga, empat, lima. Yes selamat Jed... jerawat lo berkurang lima biji," gurau Dewa.


"Hahahahaha." Ketiga pria itu tertawa, Sol yang tertawanya paling keras.


"Salah Wa,  si Jejed jerawatnya bukan berkurang lima biji, malah nambah tujuh biji," timpal Sol.


"Hahahahaha."


"Jed, orang mah budidaya tuh yang bermanfaat, kayak ikan hias atau tanaman hias yang lagi nge-hits. Ini malah budidaya jerawat," ledek Sol.


"Hahahaha."


"Halah Sol... Biar jerawat gue jedogan begini, gue udah punya cewek. Dari pada lo... Bau-baunya masih jomblo nih." Jejed balas meledak Sol.


"Jomblo tuh ada dua macam loh. Ada jomblo yang karena kebanyakan milih dan ada jomblo yang ga pernah kepilih," tutur Sol.

__ADS_1


"Nah, lo masuk jomblo yang mana Sol?" tanya Dewa sambil senyum meledek.


"Iya udah jelas lah. Gue masuk jomblo yang ga pernah kepilih. Udah nasib gue jomblo dari lahir."


"Hahahahaha."


"Makanya Sol, jadilah jomblo yang keren. Biar jomblo tapi banyak yang naksir," ujar Dewa.


"Sinting lo mah Wa. Kalau gue keren yah gue ga bakal jadi jomblo."


"Hahahahaha."


"Udah sono bersih-bersih dulu Wa, baru lanjut ngobrol lagi. Kita begadang malam ini," kata Sol.


"Kata Bang Haji, begadang jangan begadang kalau tak ada Rika nya, eh salah... kopinya."


"Hahahahaha."


Setelah membersihkan diri dan salat Isya, Dewa pun bergabung dengan kedua sahabatnya itu.


"Jed, bagaimana kabar nyokap gue?"


"Yang pasti sangat kehilangan lo Wa. Beberapa kali nyokap lo datang ke rumah gue, nanyain lo. Bahkan, yang terakhir kemarin sore nyokap lo masih datang ke rumah. Tapi ya gue bilang aja, ga tahu lo di mana, sesuai permintaan lo," tutur Jejed.


Dewa termangu mendengar penuturan Jejed. Sesungguhnya jauh di relung hati, ia sangat merindukan mamanya. Meskipun ia bahagia tinggal di kota ini. Tinggal di kampung Cibening, hingga tak disangka ia berjodoh dengan Mimin, wanita cantik pujaan hatinya. Namun tetap saja sebagai seorang anak, ia sangat merindukan mamanya.


"Bukan cuma nyokap lo doang yang nyariin lo, bokap lo juga nyariin," tutur Jejed.


"Tumben amat bokap nyariin gue."


"Ada yang lebih mengejutkan lagi. Clara juga nyariin lo Wa."


"Mau ngapain dia nyariin gue?!"


"Entahlah. Denger-denger sih, Clara lagi hamil."


"Wah buset sampai hamil gitu. Kerjaan abang lo tuh Wa." Sol menimpali.


"Kalau Clara hamil, ngapain dia nyariin gue?" tanya Dewa.


Jejed mengedikkan bahunya. "Gak tahu deh. Bahkan, Clara pernah ngintilin gue seharian karena penasaran pengen tahu lo tinggal dimana. Dikira gue mau nyamperin lo kali," tutur Jejed.


"Terus dua manusia bejat itu udah dikawinin?" tanya Dewa.


"Eh, kabur kenapa?"


"Ga ngerti, gue juga."


"Tuh, kan bener Wa. Gue pernah bilang sama lo kan kalau gue pernah ketemu abang lo di indiapril daerah sini," tutur Sol.


"Tapi rasanya, ga mungkin deh kalau dia tinggal di kota ini. Pria cassanova kayak dia ga cocok tinggal di kota ini. Gak bakal tahan dia," sahut Dewa.


"Iya. Bener juga ya."


"Wa kata Sol lo udah nikah, iya?" tanya Jejed.


"Iya dong."


"Serius Wa, lo udah kawin? tanya Jejed lagi.


" Eh, belum sih."


"Lah yang bener yang mana tadi katanya udah, sekarang belum," sewot Jejed.


"Si Dewa mah nikahnya udah, kawinnya yang belum," terang Sol.


"Ah, iya kah? Biasanya kalau orang lain mah kawinnya udah, nikahnya yang belum," celetuk Jejed.


"Kan dia mah beda... rocker soleh mantan anak santri," seloroh Sol.


"Jadi beneran lo mantan anak santri, Wa?" Jejed yang sudah mendengar cerita itu dari Sol, masih belum yakin sepenuhnya jika Dewa pernah menjadi santri.


"Iya lah. Kemarin-kemarin mah gue khilaf. Sekarang alhamdulillah sudah insyaf," ujar Dewa.


"Ngomong-ngomong siapa nama istrinya si Dewa? Wanita yang membuat si Dewa sampai mau menikahi meski belum mengawini," kata Jejed penasaran.


"Namanya Mimin."


"Hahahahaha." Jejed tergelak mendengar nama Mimin. "Dari Clara pindah ke Mimin, hahahaha." Jejed masih belum dapat menghentikan tawanya.

__ADS_1


"Ee, jangan salah. Nama boleh Mimin tapi cantiknya luar biasa seperti wonder womin," terang Dewa.


"Wonder womin... Wonder woman"


"Suka-suka gue lah."


*****


Kokok ayam terdengar bersahutan dari belakang rumah Haji Zaenudin, bersamaan dengan terbitnya sang fajar. Membangunkan setiap insan yang masih terlelap bersama mimpinya masing-masing.


Mimin tersenyum sumringah ketika kumandang azan Subuh terdengar menggema dari speaker masjid. Suara sang muazin terdengar syahdu, suara seseorang yang belakangan ini selalu dirindukannya. Pria menyebalkan yang terpaksa menjadi suaminya. Dan belakangan telah mencuri hatinya. Dewa.


Mimin akan memulai menyapu halaman ketika Abahnya dan Dewa pulang dari masjid. Sementara Sol dan Jejed tak tampak ikut salat berjamaah di masjid. Rupanya akibat begadang semalam, Sol dan Jejed gagal bangun subuh dan menunaikan salat Subub di rumah saja.


Mimin segera menghampiri Abah yang berjalan beriringan bersama Dewa. Ia meraih tangan Abah lalu mencium punggung tangannya dan juga Dewa.


"Mina, boleh bicara sebentar," ujar Dewa kepada Mimin setelah Abah masuk ke dalam rumah.


"Boleh."


Keduanya kemudian duduk di kursi teras.


“Mina, aku berencana pulang ke rumah orang tuaku,” tutur Dewa. Mimin fokus mendengarkan Dewa berbicara.


“Apa kamu sudah siap?” tanya Dewa.


“Siap apa?”


“Menikah denganku.”


“Kita sudah menikah.”


“Maksud aku, kita menikah seperti layaknya orang lain menikah. Hidup dalam satu atap, satu kamar, satu tempat tidur, dan satu... selimut.”


Dewa berbicara dengan senyum tertahan karena pikiran liarnya membayangkan satu selimut bersama Mimin. Pikiran liar yang halal, bukan.


Mimin mendelikkan matanya, menatap Dewa.


“Kenapa, ada yang salah dengan kalimat aku? Bagian mana yang salah?" ujar Dewa ketika mendapati sorot mata Mimin menatapnya tajam.


“Ekspresi kamu yang salah,” ketus Mimin.


“Iya maaf, aku gak akan bahas selimut dulu deh. Emmm... Aku mau bawa orang tuaku ke sini untuk melamar kamu." Dewa menjeda ucapannya sejenak untuk menghela nafas panjang.


“Kamu mau 'kan menikah denganku?” tanya Dewa kemudian.


“Maaf aku gak bisa,” jawab Mimin dengan ekspresi murung.


Dewa tersentak kaget mendengar jawaban Mimin. Tak menyangka Mimin akan menolaknya. Bukankah hubungan keduanya sudah sangat baik. Bahkan, Mimin kemarin tak menolak ketika ia memberikan kecupan lembut di kening dan bibirnya. Hal luar biasa yang tak akan pernah dilupakannya.


“Gak bisa kenapa? Kamu belum yakin sama aku?” tanya Dewa.


Mimin menggelengkan kepalanya. “Maaf aku gak bisa," ucapnya.


Ia tertunduk sejenak lalu melanjutkan kalimatnya."gak bisa nolak kamu,” ucapnya tersipu.


Dewa bersorak kegirangan. “Yes Yes Yes Horeee!"


“Sungguh Mina? Kamu mau menikah denganku?” Senyum Dewa terkembang sempurna menatap wanita pujaannya.


“Iya. Aa,” jawab Mimin yang juga menampilkan senyum terindahnya.


Seketika senyum Dewa semakin terkembang dan lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. “Coba ucapkan sekali lagi,” pintanya.


“Iya.”


“Bukan yang itu. Kata setelah iya.”


“Aa?!”


“Yes, aku suka panggilan itu. Kalau Mas dan Abang mesti ada embel-embelnya ‘kan. Abang ojek, Abang siomay, Mas bakso, mas-mase. Tidak ada Aa bakso, Aa siomay, Aa ojek,” kata Dewa sumringah.


Aa. I like It. Batinnya riang.


 .


.


.

__ADS_1


Maaf ya sahabat readers kalau belakangan up nya Kendor. Mohon maklum ya, namanya juga author remahan. Ada kalanya, otakku membeku, dan seketika tergugu dalam menulis. Kesulitan menulis kata per kata. Tapi aku tetap semangat kok.


Terima kasih banyak yang sudah memberikan Like, komen, hadiah dan vote untuk author remahan ini. Makasih banyak juga untuk yang sudah memberi koin, terhura aku tuh. Makasih tak terhingga ya. Love U.


__ADS_2