
Rasa cemas masih meliputi hati Mimin. Ia sedang berusaha kembali menelepon Opi. Berharap semoga nomor Opi sudah aktif. Namun harapannya pupus karena lagi dan lagi suara khas seorang wanita yang menjawabnya, suara operator telepon.
Mimin masih menggenggam ponselnya ketika ada sebuah panggilan telepon WA dari sebuah nomor yang tak dikenal. Nomor tak dikenal itu tak menggunakan foto profil. Biasanya jika ada panggilan dari nomor telepon tak dikenal tanpa foto profil ia enggan menerima panggilan itu. Namun karena saat ini ia sedang cemas memikirkan Opi, ia memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu. Berharap Opi yang meneleponnya dengan menggunakan nomor temannya, mungkin.
"Assalamualaikum," sapa suara seseorang yang ternyata adalah suara laki-laki.
"Waalaikum salam. Ini siapa?" jawab Mimin.
"Mina... Ini aku, Dewa."
"Oooh... Bagaimana apa kamu sudah menemukan Opi?"
"Aku sudah mengetahui kabar tentang Opi. Sekarang aku mau ketemu Abah ya. Abah belum tidur, kan?"
"Semua di sini belum ada yang tidur karena menunggu kabar Opi."
"Ok. Satu detik ke depan aku mengetuk pintu rumahmu."
Dan benar saja baru Dewa mengatakan itu, terdengar suara ketukan dari pintu utama.
Mimin segera menutup teleponnya tanpa aba-aba apalagi berpamitan. Cepat sekali dia datangnya. Sebenarnya dia mencari Opi apa enggak sih. Batinnya.
Abah dan Mami sudah terlebih dahulu membuka pintu sebelum Mimin menemui Dewa. Bahkan Abah, Mami dan Dewa sudah duduk di sofa ruang tamu. Mimin pun turut duduk di sebelah Mami. Dewa menatap Mimin sejenak dan hatinya berbunga-bunga manakala dilihatnya Mimin masih mengenakan jaket miliknya. Oh, begitu nyamankah jaketku hingga kamu belum melepasnya. Gumam Dewa dalam hati.
"Tadi Fahri menemukan Opi di daerah Cipocok. Sekarang Fahri sedang bersama Opi dan membujuknya agar mau pulang. Kata Fahri... Opi mau menginap di rumah temannya. Apa Abah dan Mami mengizinkan?" tutur Dewa dan sesekali ia memandang Mimin.
"Suruh pulang aja, Bah," saran Mami.
Abah terdiam merenung sejenak, sedang berpikir dan menimbang apa yang harus diputuskannya. Sementara Abah terdiam termenung, Dewa memusatkan pandangannya pada Mimin yang terlihat sangat cantik. Ah, Mina kan cantiknya konsisten. Di mana pun, kapan pun, bagaimana pun akan selalu terlihat cantik memesona. Gumamnya dalam hati.
Mimin yang semula menatap Abah sebab menunggu apa yang akan diputuskan abahnya, kemudian mengalihkan pandangan. Dan tanpa sengaja pandangannya terjatuh pada Dewa yang sedang menatap intens dirinya. Seperti biasa Dewa melemparkan senyuman pesona khasnya. Dengan ragu Mimin membalas tersenyum dengan canggung dan kilat.
Ehem...
Deheman Abah membuat keduanya segera mengalihkan pandangan kepada Abah.
"Menurut Abah biarkan Opi menginap di rumah temannya. Sepertinya Opi sedang ada masalah tapi kita kan ga tahu masalahnya apa," ujar Abah.
Abah beralih menatap Dewa. "Ding Gagah...!"
"Iya Bah," sahut Dewa. Meskipun terasa asing namun Dewa merasa 'Ding Gagah' itu adalah panggilan untuknya. Sepertinya Abah sudah resmi mengubah panggilan 'Kisanak' menjadi 'Ding Gagah'.
"Ding gagah bisa teleponkan Fahri dan minta tolong kepada Fahri untuk mengantar Opi ke rumah temannya itu. Pastikan Fahri mengantarkan Opi sampai Opi benar-benar masuk ke rumah temannya itu."
"Siap Bah!!" sahut Dewa.
Fahri? Kenapa dia bisa kenal sama Fahri?. Pertanyaan dalam benak Mimin.
Ding Gagah? Apa-apaan si Abah pake manggil dia 'Ding Gagah' . Bisa besar kepala dia. Batinnya.
*****
Selasa pagi.
Matahari sudah beranjak naik. Mimin mematut dirinya di depan cermin, bersiap untuk pergi bekerja. Mengenakan blus lengan panjang warna krem dipadukan dengan rok plisket warna coklat muda. Ditambah polesan make up sederhana, hanya sapuan bedak tipis dan lip tint warna nude sebagai riasan andalannya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya, Mimin mengayun langkah keluar rumah. Ia sedang mengutak-atik ponselnya hendak memesan ojek online ketika Dewa yang juga akan berangkat kerja menyapanya.
"Mina... mau berangkat kerja?" tanya Dewa.
Mimin menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Mau bareng? Aku anterin kamu ke tempat kerja?" tawar Dewa.
Mimin hendak menolak tawaran Dewa namun kemudian ia teringat ucapan Fahri tempo hari "Sebaiknya sih yang mengantar itu mahram kamu."
"Iya... Aku berangkat bareng kamu," ucap Mimin.
Dewa terkesiap sesaat akan jawaban Mimin untuk kemudian mengangguk mantap. "Dengan senang hati... Mina," ucapnya.
__ADS_1
Dewa menyerahkan helm kepada Mimin. "Ini helmmya, Mina."
"Terima kasih," ucap Mimin.
"Aku yang berterima kasih. Terima kasih karena kamu sudah menerima tawaranku," ujar Dewa.
Mimin membalas dengan sebuah senyuman tipis dan kilat.
"Ayo kita berangkat!" seru Dewa setelah menaiki motornya. Dan diikuti Mimin yang naik dan duduk di boncengan. Motor pun melaju.
"Stop... Aku turun di sini saja!" titah Mimin.
Ia memilih turun di seberang kantornya. Dewa pun menghentikan laju motornya.
"Memangnya kantor kamu di mana?" tanya Dewa setelah Mimin turun dari motor.
"Itu... di seberang." Mimin menunjuk sebuah bangunan berlantai tiga yang bertajuk ABC Architect, Building n Construction.
"Oh." Dewa mangut-mangut. Walaupun sejujurnya ada hal yang mengganjal di hati dan ingin bertanya kenapa memilih berhenti di seberang jalan, tidak di depan kantornya saja. Agar tak perlu repot-repot menyeberang jalan. Namun karena mengingat ini adalah momen pertama mengantar Mimin bekerja, maka ia mengurungkannya. Tak ingin merusak such a beautiful first moment.
"Ini helmnya... terima kasih," ucap Mimin seraya menyerahkan helm.
"Sama-sama." Dewa tersenyum. "Nanti pulangnya aku jemput ya?" tawarnya.
Mimin menggeleng. "Enggak usah. Aku pulang sendiri aja."
Dewa mendesah kecewa. "Hemmm...."
"Ya sudah kalau begitu... aku seberangin kamu aja ya."
Mimin menggeleng." Enggak usah. Aku bisa menyeberang sendiri."
Dewa mendesah kembali. "Hemmm...."
"Aku permisi," ucap Mimin. Baru dua langkah ia berjalan, ia kembali menghampiri Dewa.
"Dewa..."
"Aku boleh minta tolong?"
"Ya...." jawab Dewa dengan mata berbinar.
"Tolong pulang kerja nanti temui Opi."
"Ya...." jawab Dewa ragu.
"Opi mungkin kecewa dengan pernikahan kita ini. Bicaralah dengannya."
Dewa mendesah untuk kesekian kalinya. "Hemmm... Akan kucoba."
*****
Tok... Tok... Tok...
"Ya masuk..."
Mimin masuk ke ruangan Rizal membawa sebuah berkas.
"Ini berkas laporan proyek yang sudah mendapat Acc dari Pak Bambang," ujarnya seraya menyerahkan berkas laporan yang diminta Rizal.
"Oh, iya makasih ya Min."
"Sama-sama , Pak."
"Silakan duduk dulu, Min," titah Rizal.
"Iya, Pak." Mimin pun duduk di kursi di hadapan Rizal.
"Katanya kamu sudah menikah, Min?" tanya Rizal.
"Iya, Pak," jawab Mimin singkat.
__ADS_1
"Selamat ya semoga pernikahannya langgeng, sakinah mawaddah warahmah," ucap Rizal.
Mimin tersenyum.
"Kok ga bilang Amin," tegur Rizal.
"A-amin," ucap Mimin ragu. "Pak, saya boleh minta tolong," sambungnya.
"Minta tolong apa?"
"Tolong rahasiakan pernikahan saya dari rekan-rekan kantor di sini."
"Kenapa harus dirahasiakan Min?" tanya Rizal heran.
"Untuk sementara saya mohon rahasiakan dulu karena saya... belum siap. Dan lagi hanya... nikah siri," tutur Mimin.
"Kalau menurut kamu baiknya seperti itu... saya ok ok aja."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Tapi Min... Kamu tahu ga dulu saya sama istri saya menikah juga mendadak loh."
"Beneran Pak?"
"Iya... baru kenal... tanpa pacaran... kemudian menikah. Sekarang kamu lihat sendiri kan... alhamdulilah." Rizal menjeda ucapannya. "Saya juga yakin pernikahan kamu nanti akan bahagia, sakinah mawaddah warahamah."
"Terima kasih, Pak."
"Oya... Nama suami kamu siapa tuh?"
"Dewa."
"Ah, iya... Dewa. Saya sudah beberapa kali bertemu dia."
"Di mana Pak?"
"Di masjid."
*****
Mimin sedang sibuk dengan pekerjaannya membuat laporan perencanaan proyek yang akan dijadwalkan dalam bulan ini, ketika si Memet, OB di kantor ini menyeru namanya.
"Teh Mimin..."
"Apa Met?"
"Ada yang nyari Teh Mimin," ujar Memet.
"Siapa?"
"Katanya teman Teh Mimin."
Mimin yang tak mempunyai banyak teman sedang berpikir tentang siapa kira-kira yang datang mencarinya. Teman akrabnya hanya Rahma dan Hana. Kalau Hana rasanya tak mungkin sebab tidak tinggal di kota ini. Kalau Rahma pun rasanya tak mungkin sebab ini adalah jam kerja. Lagi pula jika Rahma tentu dia akan langsung masuk menemuinya.
“Temannya laki-laki Teh,” ujar Memet ketika Mimin masih berpikir.
“Laki-laki?? Siapa??” tanya Mimin terkejut.
“Saya lupa ga tanya namanya Teh,” jawab Memet jujur.
“Tapi... Orangnya sih kasep, mukanya bersih, ada jenggotnya lima lembar,” tutur Memet.
“Fahri... “ gumamnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Dobel up nih, di Like dua-duanya ya. Maacih😊.