Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Tidak Tepat Sasaran


__ADS_3

Gadis remaja itu memandangi Dewa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia memandangi Dewa yang tengah terlelap tertidur. Karena penasaran, gadis itu mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Dewa. Embusan nafasnya terasa menyapu wajah Dewa sehingga membuatnya terbangun.


“Hey... Lo mau cium gue!!” pekik Dewa terperanjat.


Gadis remaja itu pun terkejut karena melihat Dewa yang tiba-tiba saja bangun.


"Lo mau cium gue ya. Lo mau mesumin gue ya!" tuduh Dewa.


"Eh, enggak lah ... enak aja," sungut gadis remaja itu menolak tuduhan Dewa.


"Terus lo lagi ngapain, muka lo nempel-nempel ke muka gue," tukas Dewa.


"Emmm... Ini kan rumah gue, dan lo duduk di rumah gue. Gue harus mastiin lo itu siapa. Jangan-jangan lo itu maling yang lagi numpang ngadem di rumah gue," ujar gadis itu memberi alasan. Tidak mungkin kan kalau bilang bahwa tadi Ia sedang menikmati wajah tampannya. No no no.


"Oh, ini rumah lo. Berarti lo anak Pak Haji Zaenudin dong. Pak Haji udah pulang belum? Gua mau cari kontrakan," tutur Dewa.


"Oh, lo mau cari kontrakan. Abah belum pulang. Tapi... ya udah nanti gue bilang si Teteh," ujar gadis remaja itu. "Lo tunggu dulu ya, gua panggil Teteh gue dulu," imbuhnya.


Dewa manggut-manggut. Gadis itu masuk ke dalam rumah.


"Teteh ... itu di luar ada yang nyari kontrakan juga, malah dianggurin," kata gadis itu kepada tetehnya.


"Astagfirullah ... Mami lupa. Iya bener di luar ada tamu yah. Min... kamu bikinin minum gih untuk tamu di depan," kata Ibu kepada gadis yang lebih dewasa di antara kedua anak gadisnya. Gadis itu ternyata adalah Mimin.


"Pi, tamunya bapak-bapak atau ibu-ibu?" tanya Mimin kepada adiknya.


"Gak dua-duanya. Tamunya masih muda, ganteng, kwerenz pokoknya." Gadis itu senyum-senyum sambil membayangkan wajah pria yang tadi sempat berjarak sangat dekat dengannya. Lalu ia mencomot pisang goreng crispy yang baru saja ditiriskan.


"Sofia Adriana...!! Kebiasaan kalau habis dari luar rumah itu cuci tangan dulu. Jangan main comot makanan aja. Gimana kalau kamu bawa virus," omel Mimin kepada adiknya.


"Opi, udah sore. Mandi dulu sana!" titah wanita yang dipanggil Mami.


"Iya iya ... nih Opi mau mandi," kata gadis yang akrab dipanggil Opi itu.


"Min... tadi siang Abah telepon Mami, katanya kalau ada anak muda yang namanya... duh, Mami lupa namanya siapa. Pokoknya kalau ada anak muda yang nyari kontrakan, kasih aja yang pintu nomor satu... begitu kata Abah," tutur Mami.


"Memangnya yang nyari kontrakan, tamu yang di depan itu Mih?" tanya Mimin.


"Sepertinya iya. Udah sana, kamu temui tamunya!" titah Mami.


"Iya Mih." Mimin sudah akan melangkahkan kaki menuju depan rumah.


"Min... sekalian bawakan minum sama pisang goreng crispy, kasihan dari tadi nungguin lama."


"Iya, Mih."


Mimin membawa nampan yang berisi secangkir teh manis hangat yang tadi dibuatnya. Juga sepiring pisang goreng crispy. Ia berjalan keluar menemui tamunya


"Maaf yah Mas, terlalu lama nung...." Mimin terkejut, untung saja tidak sampai menjatuhkan nampan yang berisi secangkir teh manis dan sepiring pisang goreng crispy.


"Kamu lagi. Kamu ngikutin aku?!" Ini adalah tuduhannya entah yang ke berapa. Padahal Dewa pun sama terkejutnya, tak menyangka jika bertemu Mimin di rumah ini. Berarti kemungkinannya Mimin adalah putri Pak Haji Zaenudin.


"Please, Min. Hari ini kamu sudah berkali-kali mengucapkan kalimat itu. Menuduh aku ngikutin kamu. Padahal ini di luar skenario aku. Seperti aku bilang, ini benar-benar kebetulan. Jangan-jangan kita ini memang ditakdirkan berjodoh," ujar Dewa. Mimin mencebikkan bibir ranumnya.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" tanya Mimin datar.


"Aku lagi nyari kontrakan. Aku itu ke sini disuruh sama Abah kamu loh," sahut Dewa. Mimin mendelik tak mempercayai ucapan Dewa.


"Kamu ga percaya? Aku sama abah kamu itu udah ... begini nih." Dewa mengaitkan telunjuk jari kanan dan telunjuk jari kiri. Membuat simbol hubungan yang sangat erat.


Mimin mendelik sekali lagi.


"Kamu ga percaya juga? Sebentar...." Dewa merogoh dompet di saku belakang celananya. Ia lalu membuka dompetnya dan menunjukkan sebuah kartu nama yang tadi pagi diberikan oleh Pak Haji Zaenudin. "Nih, aku dikasih kartu nama sama Abah kamu."


Mimin memandang kartu nama itu, benar itu adalah kartu nama milik abahnya. Hatinya bertanya-tanya mengapa abahnya bisa sampai memberikan kartu nama kepada pria menyebalkan itu. "Kamu mau cari kontrakan?" tanyanya.


"Iya, aku butuh banget kontrakan. Beberapa hari ini aku numpang di rumah temen aku. Ga enak kan kalau lama-lama numpang di rumah orang. Takut merep...." Tanpa permisi, Mimin masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Dewa yang sedang mengoceh.


"Loh, Min... kamu mau ke mana?" tanya Dewa.


"Ih, si Mimin main tinggal aja," gerutunya.


Beberapa menit kemudian. Mimin keluar lagi menemui Dewa dengan ditemani Opi, adiknya yang sudah wangi karena baru saja selesai mandi.


"Hai Ka, gue Opi. Kita belum kenalan ya," ujar Opi mengulurkan tangannya.


"Oh, iya gue Dewa." Dewa balas mengulurkan tangan dan menjabat tangan Opi. "Kalian adik kakak ya?" tanyanya.


"Iya, Ka." Opi tersenyum. Sepertinya ada sesuatu yang baru timbul dari dalam hatinya, meskipun Ia belum mengetahui apakah sesuatu yang tiba-tiba saja timbul dari dalam hatinya itu.


Dua gadis itu berjalan menuju ke deretan kontrakan di sebelah rumah.


"Ayo... katanya mau lihat kontrakan!" seru Opi.


Kontrakan yang dimaksud ternyata adalah pintu nomor satu, kontrakan yang letaknya bersebelahan dengan rumah Haji Zainudin. Mimin membuka pintu kontrakan. Dan mereka masuk ke dalam.


Kontrakan itu terdiri dari satu kamar, dan satu ruangan yang mungkin bisa digunakan sebagai ruang tamu atau ruang tv. Lebih masuk ke dalam, ada dapur kecil yang dilengkapi wastafel untuk cuci piring. Dan sebuah kamar mandi. Di sebelah kamar mandi ada pangkalan yang bisa digunakan untuk mencuci baju atau pun berwudu.


Di dapur ada pintu belakang. Ketika membuka pintu belakang, baru lah Dewa mengetahui bahwa ada dua belas pintu kontrakan lagi yang pastinya milik Pak Haji Zaenudin. Jadi jumlah kontrakan seluruhnya adalah dua puluh pintu. Ini menandakan kemungkinan bahwa Haji Zaenudin termasuk orang paling kaya di kampung ini.


"Lumayan kontrakannya masih bersih. Kalau dilihat dari bangunannya sepertinya kontrakan ini masih baru," ujar Dewa.


"Memang masih baru kontrakannya." Opi yang menjawab pertanyaan Dewa. Tidak lupa menampilkan senyum manisnya.


"Kalau airnya bagaimana? Lancar ga?" tanya Dewa.


"Teh, airnya bagaimana, lancar ga?" Opi bertanya kepada Mimin. Karena Mimin memang lebih mengetahui tentang kontrakan ini.


"Lancar," jawab Mimin.


"Lancar, Ka." Di sini tugas Opi ternyata sebagai perantara percakapan antara Mimin dan Dewa.


"Berapa sebulannya?"


"Teh, berapa sebulannya?"


"Enam ratus ribu."

__ADS_1


"Enam ratus ribu, Ka."


"Listrik sendiri?"


"Teh, listriknya sendiri?"


"Iya, listriknya sendiri pakai token."


"Listriknya sendiri, pakai token Ka."


"Apa boleh bawa barang-barang seperti kulkas atau AC misalnya?"


"Teh, boleh bawa kulkas sama AC enggak?"


"Boleh kalau listriknya kuat. Tapi sepertinya kalau AC ga kuat. Kapasitas daya hanya 450 watt," ujar Mimin.


"AC mah ga kuat Ka, kipas angin aja yah," kata Opi. Padahal tanpa Opi berbicara, Dewa sudah mendengar jawaban dari Mimin.


"Ga masalah, aku juga memang ga mau pake Ac," ujar Dewa.


"Terus ngapain lo nanya?" tanya Opi.


"Biar lo ada kerjaan. Lo kan penyambung lidah gue sama Mimin," jawab Dewa. Opi merengut kesal.


"Satu pertanyaan lagi. Gua boleh tinggal di sini berdua sama temen gue kan?" tanya Dewa. Ia memang berniat mengontrak rumah bersama Sol.


"Teh, boleh ga bawa teman?" tanya Opi.


"Boleh, asal jangan banyak-banyak," jawab Mimin.


"Boleh Ka, asal jangan banyak-banyak."


"Jadi gue boleh bawa temen ya?"


"Boleh, Ka."


"Kalau bawa hatiku yang rapuh ini untuk kusandarkan di dermaga cintamu, boleh ga?" Dewa tersenyum menyeringai.


Dan wajah Opi seketika merah merona, hatinya terasa dipenuhi bunga-bunga, kilatan pelangi terbit di mata beningnya.


Sementara di lubuk hati Dewa. Ayo Opi, bilang sama tetehmu itu.


Kalau bawa hatiku yang rapuh ini untuk kusandarkan di dermaga cintamu, boleh ga. Opi bergeming, sedang menikmati alunan lagu paling indah di taman penuh bunga.


Bagus Dewa, gombalanmu tidak tepat sasaran. Siapa yang dituju, siapa yang merah merona. Yeah.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sahabat, jangan berekspektasi terlalu tinggi dengan novel ini ya. Ini ceritanya simpel aja, cerita cinta sehari-hari, tidak ada konflik yang berarti. Mungkin nanti Season 2 baru akan aku ciptakan konflik.


__ADS_2