
Usai menjenguk Hana, Mimin mengunjungi dokter spesialis obstetri dan ginekologi untuk memastikan kehamilannya. Dewa sudah lebih dulu mendaftar dan mengambil nomor antrean sebelum menjenguk Hana tadi.
Dewa dan Mimin sangat antusias ketika dokter memeriksa perut Mimin dengan alat USG. Mereka berdua merasa takjub dan tak henti mengucapkan syukur tatkala melihat calon anak mereka dari layar monitor. Dokter menjelaskan kehamilan Mimin berusia tujuh minggu. Perkembangan janin yang baru sebesar biji apel itu sehat dan baik-baik saja.
"Ibu Jasmina, harus banyak makan makanan yang sehat ya. Perhatikan asupan gizinya. Karena sekarang makanan yang ibu makan bukan hanya untuk ibu sendiri, tapi untuk berdua, untuk bayi kecil yang di dalam perut," pesan dokter wanita itu ramah. Ia sedang menuliskan beberapa resep vitamin di meja kerjanya. Sementara Mimin dan Dewa duduk di hadapannya.
"Tuh, Neng. Inget makan makanan yang sehat. Jangan jajan basreng sama tahu bulat aja," timpal Dewa.
"Iya iya," sahut Mimin. Dewa memang sering menegurnya jika ia jajan sembarangan.
"Jadi, kehamilan saya sudah tujuh minggu, Dok?" tanya Mimin.
"Betul. Dari hasil pemeriksaan USG janin berusia tujuh minggu. Kalau dihitung manual dengan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) juga sama, usia tujuh minggu. Jadi, kalau HPHT tanggal 6 November berarti HPL (Hari Perkiraan Lahir) tanggal 13 Agustus," terang Dokter.
"Tapi kenapa saya ga merasa mual seperti ibu hamil lainnya ya, Dok?" tanya Mimin. Ia tak merasakan mual atau ciri-ciri yang biasa dialami wanita hamil lainnya. Maka dari itu ia tak pernah menyangka akan kehamilannya ini.
"Masa kehamilan masing-masing orang itu berbeda-beda. Ada yang mual-mual di trimester pertama. Ada juga yang tidak pernah merasakan mual selama kehamilan. Atau bahkan, ada yang justru merasakan mual selama masa kehamilan. Jadi, sampai usia sembilan bulan dia mual-mual aja terus," papar Dokter.
"Oh, begitu ya."
"Istri saya dan calon anak saya, sehat-sehat aja 'kan, Dok?" tanya Dewa.
"Alhamdulillah, sehat. Insyaallah, semoga sehat terus ya sampai nanti saatnya proses kelahiran," sahut dokter berjilbab yang adalah rekomendasi dari Hana.
"Amin ya Allah," ucap Dewa dan Mimin serempak.
"Ini saya kasih vitamin ya. Ada asam folat sama vitamin penambah darah. Jangan lupa asupan makanan yang bergizi dan sehat."
"Ada makanan pantangan ga selama hamil, Dok?"
"Tidak ada. Semua makanan boleh dimakan asalkan sehat dan bergizi."
"Kalau seperti buah nanas dan durian itu gimana, Dok?"
"Itu pun boleh, kalau memang sangat kepingin. Dengan catatan, jangan makan buah tersebut berlebihan."
"Oh, begitu ya, Dok."
"Dan jangan lupa prenatal visit rutin ya. Pemeriksaan kandungan rutin ke rumah sakit, klinik atau puskesmas bersama dokter ataupun bidan selama masa kehamilan."
"Baik, Dok."
"Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Aa mau nanya apa lagi?" Mimin menoleh kepada Dewa yang duduk di sampingnya.
"Enggak, Dok. Insyaallah cukup. Terima kasih."
"Baiklah, sekali lagi selamat ya, Bu Jasmina. Selamat menikmati masa kehamilan dan semoga lancar dan sehat sampai waktu persalinan nanti."
"Amin. Makasih, Dok."
"Kalau begitu kami permisi, Dok. Terima kasih."
"Terima kasih kembali."
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam."
Dewa dan Mimin menyalami dokter itu sebelum meninggalkan ruangan.
"Ya Allah, kita mau jadi ayah dan bunda, Neng." Dewa menghambur memeluk Mimin setelah keluar dari ruangan pemeriksaan. Mendaratkan beberapa kecupan di puncak kepala Mimin yang tertutup kerudung.
"Woy woy woy ... Dasar Bocah Tengil!! Dunia bukan hanya milik kalian berdua, tau!!" protes Diev yang sedang duduk di kursi tunggu pasien. Ia juga akan menemani Rahma memeriksakan kandungan di dokter yang sama.
Rahma memukul pelan lengan Diev. "Biarin, Mas. Mereka lagi seneng," sergah Rahma.
"Pakde lagi, Pakde lagi. Dunia sempit bener, ketemu Pakde terus," seloroh Dewa.
"Min, gimana hasilnya?" Rahma menghampiri Mimin.
"Alhamdulillah, Ma ... aku hamil," sahut Mimin dengan binar mata bahagia.
"Alhamdulillah ... selamat, Mimin." Rahma memeluk Mimin. Ia turut bahagia mendengar kehamilan sahabatnya itu.
"Selamat, Bocah Tengil." Diev mengacak puncak rambut Dewa. "Bocah, mau punya bocah," selorohnya.
"Gue bukan bocah, Pakde!" protes Dewa. Usia Dewa selisih sepuluh tahun lebih muda dari Diev, maka dari itu Diev memanggilnya dengan sebutan "Bocah".
"Mau jadi ayah loh, sebentar lagi," lanjut Dewa dengan bangganya.
"Siap-siap lo akan menjadi urutan kelima dari daftar prioritas perhatian Mimin nantinya," kata Diev sembari memukul pelan bahu Dewa.
Dewa mengerutkan keningnya. "Kenapa bisa begitu?!"
__ADS_1
"Karena nanti kalau anak lo udah lahir, yang jadi nomor satu itu anak. Nomor dua anak dulu. Nomor tiga anak lagi. Nomor empat anak dong. Dan lo bakalan jadi sisanya," papar Diev.
"Begitu ya." Dewa menggaruk kepalanya meski tidak gatal.
Sementara Rahma dan Mimin mengulum senyum melihat tingkah suami-suami mereka.
"Astagfirullah, tadi Aa lupa, ga nanya sama dokternya." Dewa melewatkan satu pertanyaan penting yang baru ia ingat sekarang.
"Nanya apa, A?"
"Kalau istri hamil masih boleh berhubungan intim ga ya?"
"Boleeeeh....!!" jawab Rahma dan Diev kompak lalu mereka semua tertawa.
*****
Esok harinya Dewa dan Mimin mengunjungi rumah Abah untuk memberitakan tentang kehamilan Mimin. Abah dan Mami begitu bahagia mendengar kabar tersebut, sampai-sampai Mami mengadakan saweran saat itu juga, sebagai simbol rasa syukur atas kebahagiaan keluarganya.
"Halo, Oton." Dewa mengelus perut Mimin.
"Bukan Oton, A ... Utun," ralat Mimin.
"Tapi Aa maunya panggil Oton."
"Suka-suka Aa aja deh. Lagian Aa 'kan ayahnya."
"Iya dong."
"Oton pengen makan apa nih?" Dewa masih mengelus perut Mimin yang tentu saja masih rata.
"Enggak pengen makan apa-apa, Ayah," sahut Mimin.
"Mangga muda, mau?" tawar Dewa.
"Enggak, Ayah."
"Ayo lah, Neng." Dewa menggenggam tangan Mimin lalu menuntunnya ke teras rumah.
"Aa ambilin mangga aja, ya," ujar Dewa sambil menunjuk buah mangga yang bergelantungan di pohonnya.
"Enggak usah. Neng, ga mau mangga," sahut Mimin.
"Ayo lah, Neng. Aa 'kan pengen kayak suami-suami lainnya ... diminta suruh ini, suruh itu, demi menuruti ngidam sang istri," tutur Dewa.
"Tapi, Neng 'kan ga pengen apa-apa A." Masa kehamilan Mimin memang lancar jaya, tak pernah ada keluhan ini itu. Ia bahkan tak mengalami morning sickness seperti wanita hamil pada umumnya. Ia juga belum pernah ngidam menginginkan sesuatu. Malah Dewa yang merengek supaya Mimin meminta sesuatu layaknya wanita hamil lainnya.
"Aa jangan!!" jerit Mimin ketika melihat sebelah kaki Dewa sudah terangkat hendak memanjat pohon. "Aa kayak bisa manjat aja," lanjutnya.
"Walau ga bisa, demi istri yang lagi ngidam, Aa rela melakukan apa aja," sahut Dewa.
"Tapi, Neng 'kan ga kepengen mangga."
Dewa mengurungkan niatnya untuk memanjat pohon lalu kembali menghampiri Mimin yang duduk di kursi teras rumah Abah.
"Terus Neng mau apa?" tanya Dewa. Ia mengambil posisi duduk di kursi lainnya.
"Serius, Neng boleh minta apa aja?"
"Iya, serius."
"Beneran?"
"Beneran."
"Minta apa aja dikabulin?"
"Iya, minta apa aja boleh."
"Minta ketemu mantan boleh?"
"Apa??!" Dewa membelalakkan matanya.
Mimin terkekeh geli melihat ekspresi Dewa yang terkejut dengan permintaannya.
"Bercanda doang A. Neng ga punya mantan, kok. Hihihihi.... "
"Kirain beneran. Kalau beneran, permintaan kayak gitu ga akan Aa kabulin. Biar deh mending anaknya ileran dari pada harus mempertemukanmu dengan mantan," ujar Dewa.
"Hihihihihi...." Mimin terkikik geli.
"Sebenarnya Neng ngidam sesuatu sih, A,"ungkap Mimin.
"Apa Neng? Bilang aja ga papa."
"Takut Aa marah."
__ADS_1
"Enggak, insyaallah Aa enggak marah. Insyaallah kalau Aa mampu pasti diturutin."
"Neng ngidam martabak, A," ujar Mimin.
"Ya Allah, cuma martabak aja mah gampang. Nanti Aa belikan."
"Tapi, penjual martabaknya harus yang ganteng."
"Hah?!"
"Ini kemauan si Oton loh, A."
"Iya iya, nanti dibeliin."
"Jadi, Aa survei dulu aja, ada ga penjual martabak yang ganteng di kota ini. Nanti, Neng harus ikut pas belinya. Bisa ga, A?"
"Iya, insyaallah bisa. Nanti Aa cari penjual martabak yang ganteng."
"Bener yah A."
"Iya, Neng geulis. Walaupun di dunia ini ga akan ada yang lebih ganteng dari Aa," kata Dewa dengan penuh percaya diri.
******
Beberapa hari ini Dewa disibukkan dengan kegiatan mencari penjual martabak berwajah ganteng. Hampir seluruh penjuru kota Serang ia jelajahi. Namun belum juga menemukan apa yang menjadi permintaan Mimin.
Hingga kemudian ia meminta tolong pada Rahma, mana tahu Rahma mengetahui di mana ada penjual martabak yang berwajah ganteng.
"Neng ... kata Rahma, di Cilegon ada tuh penjual martabak yang ganteng," ujar Dewa.
"Jauh amat, di Cilegon."
"Serang Cilegon mah dekat, Neng. Demi Neng dan si Oton, Aa siap mengejar martabak sampai Cilegon."
"Bener A?"
"Iya. Nanti sore kita ke sana ya," putus Dewa.
"Asyik," ucap Mimin kegirangan.
Sore hari mereka berangkat ke Cilegon demi martabak. Ternyata benar yang dikatakan Rahma, penjual martabak itu berwajah ganteng dan manis mirip Fedi Nuril, artis idola Mimin. Ia tak hentinya mengembangkan senyum dan berkali-kali mencubit tangan Dewa sambil berbisik, "ganteng, penjual martabaknya."
Mimin memesan tiga jenis martabak sekaligus, martabak coklat kacang, keju susu, dan martabak telur spesial. Mimin dan Dewa duduk di kursi plastik yang disediakan, menunggu martabak pesanannya siap.
"Neng," panggil Dewa. Namun, yang dipanggil tak menyahut.
"Neng." Mimin masih tak menyahut karena tengah memerhatikan penjual martabak itu membuat pesanannya. Bahkan, kedipan mata Mimin jadi berkurang intensitasnya karena menatap abang penjual martabak.
"Neng, lihat Aa dong!" Dewa meraih wajah Mimin dan mengarahkan agar menatapnya. Jujur ia sangat cemburu dengan tatapan Mimin kepada penjual martabak itu. Namun, karena mengingat ini adalah kemauan si Oton, ia berbesar hati mengikhlaskan.
"Eh, maaf A." Mimin tersenyum.
"Ga usah kayak gitu kali lihatinnya," protes Dewa.
"Ini bukan kemauan Neng loh, kemauan si Oton," kilah Mimin.
"Hemmm." Dewa berdehem saja untuk menyembunyikan kecemburuannya.
"Kenapa beli martabaknya banyak banget??" tanya Dewa. Satu porsi martabak saja, Mimin tak sanggup untuk menghabiskannya. Ini malah beli tiga porsi martabak dengan berbagai rasa. Gerutu Dewa dalam hati.
"Sengaja biar bisa lama-lama lihat abang martabaknya. Hihihihihi."
"Neeeeng...!"
"Si Oton loh A yang mau, bukan Neng."
"Iya iya, si Oton lagi, si Oton lagi."
"Cup cup cup. Bagi Neng, tetep kok Aa yang terganteng. Tapi bagi si Oton, Fedi Nuril yang terganteng. Hihihihihi...."
.
.
.
.
.
Aku mah kalau mau minta vote suka segan rumasa otor remahan, udah gitu up nya tidak teratur. Tapi yang sayang sama Neng Mimin dan Aa Dewa, boleh ya kasih vote.
Terima kasih sudah membaca.
Terima kasih dukungannya.
__ADS_1
Love U. ❤️❤️❤️❤️