Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Bertemu Pak Harto


__ADS_3

Dewa masih terlarut dalam kecemasan ketika seorang pria yang memakai baju sama persis seperti pria bertubuh kekar tadi pagi, datang menghampirinya.


"Non, Pak Bos mau bertemu anak ini," sahut seseorang yang pastinya adalah anak buah Soeharto Darwin.


Clara menganggukkan kepala memberikan persetujuan.


"Ayo, ikut!" seru pria itu.


Mau tak mau, suka tak suka, Dewa berjalan mengikuti pria itu. Ia digiring ke sebuah ruangan yang menurut pengamatannya adalah ruang kerja. Seorang pria dengan kharisma luar biasa duduk angkuh di singgasananya. Dia lah Soeharto Darwin. Seorang pengusaha sukses yang cukup berkuasa dan berpengaruh di negeri ini.


Meski Dewa dan Clara sudah berpacaran selama lima tahun, ia belum pernah bertemu langsung dengan Soeharto Darwin ayahnya Clara. Hanya mengetahui profil ayah sang mantan dari majalah terutama majalah bisnis. Dan sesekali pernah melihatnya di televisi.


Dewa berdiri mematung di hadapan Pak Harto. Ini adalah kali pertama ia bertatap muka secara langsung dengan ayah Clara.


"Duduk!" perintah Pak Harto seraya menggerakkan tangannya mempersilakan Dewa untuk duduk.


Dewa mematuhi perintah Pak Harto, duduk di hadapannya dengan sebuah meja kerja sebagai penyekat di antara mereka.


"Kamu pacarnya Clara?" tanya Pak Harto seraya menatap tajam Dewa.


Dewa menggelengkan kepalanya. "Mantan pacar," ralatnya.


Pak Harto masih belum melepaskan tatapan tajamnya. "Kamu sudah tahu kalau Clara hamil?" cecarnya.


"Baru beberapa menit yang lalu, Clara memberi tahu jika dia sedang hamil," jelas Dewa. Berusaha berbicara sebaik mungkin. Dan sekuat hati menekan rasa gugupnya.


"Lalu?!"


"Kehamilan Clara tidak ada hubungannya dengan saya!" tegas Dewa.


"Oya?!"


"Saya tidak pernah melakukan itu bersama Clara atau pun dengan perempuan lain. Saya masih perjaka ting ting!" tegas Dewa lagi.


"Hahahaha...." Pak Harto tergelak atas kejujuran Dewa. "Kamu pikir saya percaya dengan omongan kamu, Hah!" katanya sembari tersenyum menyeringai.


"Suka-suka Anda sih mau percaya apa ga," sahut Dewa sekenanya.


"Hahahaha...." Pak Harto kembali tergelak, kali ini tawanya lebih keras dari yang pertama. "Saya suka kamu, Anak muda!" ujarnya masih dengan sisa tawanya.


Pak Harto bangun dari kursi bak singgasana raja lalu melangkah mendekat kepada Dewa. Dan berdiri di sebelah Dewa. "Coba kamu berdiri!" titahnya.


Dewa menuruti titah Pak Harto, bangun dari tempat duduknya lalu berdiri. Pak Harto meletakkan telunjuk dan ibu jarinya di dagu, matanya memicing mengamati Dewa. Pak Harto memperhatikan pria tampan itu dari atas ke bawah, dan dari bawah ke atas lagi.


"Ok. Saya percaya kamu masih perjaka," putusnya. Lalu ia tertawa lagi. "Hahahaha...."


Dewa mengerutkan keningnya. Hah, memang apa bedanya yang perjaka sama yang udah kopong. Batin Dewa bergumam.


"Hahahaha...." Pak Harto tertawa membahana seolah tahu apa yang dipikirkan Dewa.


"Kamu pasti bingung yah, bagaimana saya bisa tahu kalau kamu masih perjaka." Pak Harto berucap sambil menaik turunkan alisnya. "Itu kelebihan saya. Bisa tahu mana yang masih pe*rawan, mana yang masih perjaka," selorohnya.


"Duduk lagi!" titah Pak Harto.


Dewa menghela nafas panjang untuk kemudian membuangnya kasar, lalu kembali duduk di tempatnya tadi. Begitu pun dengan Pak Harto, ia kembali duduk di singgasananya.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan kakakmu. Bukankah dia yang seharusnya bertanggung jawab. Tapi, dia malah kabur, kan?!"


"Emm... Soal itu saya tid...." Dewa terpaksa menghentikan ucapannya, sebelum menuntaskan kalimatnya.


"Karena kakakmu itu tidak bertanggung jawab," potong Pak Harto cepat. "Maka saya menginginkan kamu menggantikan posisi kakakmu untuk bertanggung jawab atas kehamilan Clara!" serunya.


"Itu tidak adil buat saya!" sahut Dewa.


"Opsi pilihan lainnya adalah... saya hancurkan keluargamu dan orang-orang yang kamu sayangi!" ancam Pak Harto.


Dewa tersentak mendengar ancaman Pak Harto. Pilihan yang sangat sulit, dan ia berusaha untuk berpikir cepat menjawab ancaman Pak Harto.


"Jika saya bisa membawa kakak saya datang ke sini untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya?"


"Oh  Itu lebih baik. Lebih adil buatmu, bukan?"


"Pak Soeharto Darwin yang terhormat. Tolong beri kesempatan kepada saya untuk mencari kakak saya dan membawanya ke sini untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya," mohon Dewa.


"Karena saya ini sesungguhnya manusia yang arif, adil dan bijaksana. Baiklah, saya akan beri kesempatan kamu untuk mencari kakakmu. Jika dalam waktu yang saya tentukan kamu belum menemukan kakakmu, maka kamu yang harus menikah dengan Clara!" putus Pak Harto.


"Baiklah saya setuju. Beri saya waktu satu bulan untuk mencari kakak saya," pinta Dewa.


Pak Harto tersenyum sinis. "Satu bulan terlalu lama. Saya beri waktu, dua minggu."


"Hah, tiga minggu ya," tawar Dewa.


"Satu minggu," sahut Pak Harto.


"Ok. Dua minggu," tawar Dewa lagi.


"Eh, kok semakin sedikit?!"


"Sekali lagi kamu protes, saya pangkas lagi waktunya menjadi tiga hari!" ancam Pak Harto.


"Ok lima hari. Deal," putus Dewa pasrah.


"Jangan pernah main-main dengan saya. Kamu tahu siapa saya. Jika dalam waktu lima hari kamu tak menemukan kakakmu. Kamu harus menikahi Clara!"


Dewa kembali menarik nafas untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak sebab teringat wajah istri cantiknya. Tapi dia mau tak mau harus menyetujui tawaran Pak Harto.


"Hey, Anak muda! Berjanjilah!" seru Pak Harto memecah lamunan Dewa.


"Iya. Saya janji akan menikahi Clara jika saya tak bisa menemukan kakak saya. Dan saya adalah pria yang selalu menepati janji!" tegas Dewa penuh keterpaksaan.


"Ok. Saya pegang janji kamu. Dan jangan pernah bermain-main dengan Soeharto Darwin!" Pak Harto menatap tajam tepat di manik mata Dewa.


"Sekarang kamu boleh pergi. Carilah kakakmu. Dan kembali ke sini lima hari lagi."


"Emm... Saya boleh minta sesuatu?" kata Dewa.


"Apa?"


"Tadi anak buah Anda telah menculik saya. Jadi, tolong antarkan saya ke tempat semula," pinta Dewa.


"Astaga. Kamu gak punya ongkos pulang?!"

__ADS_1


Dewa menggeleng. "Enggak."


Jawaban Dewa sukses membuat Pak Harto menepuk jidat. Untung kamu ganteng, Anak muda. Coba kalau jelek. Udah jelek kere lagi. Tak akan mungkin saya menyetujui kamu menikah dengan anak saya. Gumamnya dalam hati.


Atas perintah Pak Harto, anak buahnya mengantarkan Dewa kembali ke rumahnya.


*****


Setelah pulang ke rumah, Dewa bergegas pergi menemui sahabatnya, Jejed.


"Hah. Apa? Lo mau cari abang lo?!" sahut Jejed setelah Dewa menceritakan tentang penculikan dirinya tadi pagi.


"Iya. Bantu gue Jed."


"Lima hari apa bisa kita menemukan abang lo, Wa?" Jejed merasa sangsi dengan kesempatan waktu yang diberikan Pak Harto yang teramat singkat.


"Makanya gue minta bantuan lo. Kita harus cepat-cepat cari Bang Deka sampai ketemu."


"Kalau lima hari ga ketemu. Lo harus nikah sama Clara?" tanya Jejed.


Dewa mengangguk lemah. "Iya, Jed."


"Astaganaga... terus Mimin bagaimana, Wa? Kenapa lo sanggupin tantangan Pak Harto sih?!" sesal Jejed.


"Ga ada pilihan lain, Jed. Atau keluarga dan orang-orang yang gue sayangi bakalan hancur. Dan gue takut Pak Harto mencelakai Mina," ujar Dewa.


"Ok, kita akan cari abang lo. Kita mulai dari mana?" tanya Jejed.


"Ada satu hal lagi, Jed."


"Apa??"


"Gue gak yakin benih yang dikandung Clara adalah anak Bang Deka," ujar Dewa.


"Hah, maksud lo?!"


"Begini. Ada dua hal yang bisa menyelamatkan gue. Pertama, gue harus menemukan abang gue. Atau yang kedua, kita harus menemukan pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilan Clara," tutur Dewa.


"Bagaimana bisa lo berpikir kalau anak yang dikandung Clara bukan anak abang lo?!"


Ingatan Dewa terlempar kepada selembar surat tulisan tangan Deka yang ditemukan di kamar Deka. Ia menghela nafas panjang lalu menghembuskannya. "Karena gue yakin," ucapnya.


.


.


.


.


Seolah konfliknya berat ya. Padahal, solusinya adalah menemukan Deka. Ayo Mak, bisikin Aa Dewa, kasih tahu di mana Deka berada.


Kalau aku up nya panjang mungkin 4 bab juga udah beres nih. Tapi hampura, othor remahan up nya dikit, pelan-pelan ya. Yang penting nyampe.


Terima kasih semuanya. Atas dukungannya. 😘😘😘😘❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2