
Setelah semua anggota keluarga menyalami Dewa dengan sambutan terhangat, mereka berkumpul di ruang tamu keluarga Abah. Dewa menceritakan kejadian sebelum kecelakaan itu. Tentang pertemuannya dengan Dodi, detik-detik sebelum terjadi kecelakaan hingga kemudian ia tinggal bersama keluarga Aki Rusli.
"Sekarang Dewa malah jadi kepikiran Dodi. Berarti Dodi meninggal dan keluarganya ga ada yang tau," ujar Dewa.
Sungguh tragis nasib Dodi, menumpang mobil ingin pulang menemui keluarganya, namun yang terjadi malah pulang ke rahmatullah.
Dewa menarik napas dan memejamkan mata, dalam hati ia memanjatkan doa untuk Dodi. Semoga Dodi diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
"Dewa harus menemui keluarga Dodi," ujar Dewa lagi.
"Sudah, kamu ga usah memikirkan hal itu dulu. Sekarang sebaiknya fokus sama pemulihan kesehatan kamu," sahut Papa.
"Iya, Sayang. Nanti tetap harus kontrol ke rumah sakit. Kelihatannya kamu sudah sehat, tapi dale-mannya 'kan belum tau," timpal Mama. Yang dibalas sebuah anggukan dari Dewa.
Kemudian tercipta obrolan hangat di antara kedua keluarga. Hingga penunjuk waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Meskipun masih banyak yang ingin diperbincangkan, namun rasa lelah yang mendera usai perjalanan jauh, membuat mereka memilih untuk mengakhiri obrolan hangat itu.
"Opi, kamar untuk Teh Ririn sudah disiapkan?" tanya Mami.
"Udah beres dong, Mih," sahut Opi.
"Pak Satya, Bu Dewi, Nak Deka, bagaimana kalau malam ini menginap di sini saja, di rumah kami," tawar Mami. "Biar malam ini Ririn tidur bersama Opi. Pak Satya dan Bu Dewi bisa tidur di kamar tamu. Nak Deka bisa tidur di kamar Ririn," lanjutnya.
"Betul, Pak Satya. Kalau malam ini pulang ke Jakarta, khawatir kelelahan dalam perjalanan. Tadi 'kan habis pulang pergi Serang-Subang," timpal Abah.
"Terima kasih tawarannya Pak Haji, Bu Haji. Saya juga mungkin tidak akan pulang malam ini karena badan sudah sangat lelah. Tapi saya dan istri mungkin akan menginap di hotel saja. Biar Deka saja yang menginap di sini," sahut Pak Satya.
__ADS_1
"Iya, Deka. Kamu nginap di sini saja. Menghemat pengeluaran biaya hotel," bisik Mama pada Deka yang duduk di sebelahnya.
"Haish ... Mama nih perhitungan sekali," balas Deka.
"Iya, Bang Deka nginep di sini aja. Bang Deka belum pernah nginap di sini. Sekali-kali dong nginep di sini," ujar Dewa.
Meskipun ragu, akhirnya Deka menyetujui tawaran keluarga Abah untuk menginap. Karena rumah milik Deka yang ada di Serang telah lama kosong dan belum dibersihkan. Deka menginap menempati kamar tamu, sedangkan Papa dan Mama memilih menginap di hotel.
*****
Ririn menatap langit-langit kamarnya. Ia tak menyangka, dirinya kini berada di tempat ini, berkumpul bersama keluarga kandungnya. Keluarga yang baru beberapa hari bertemu dan sudah memberikan kehangatan luar biasa. Ia sungguh senang melihat hubungan Abah dan Mami yang terasa hangat dan mesra, tak seperti hubungan bapak dan ibunya dulu.
Ririn memeluk boneka Doraemon kesayangannya. Boneka ini sengaja dibawa karena ia terbiasa tidur dengan memeluk boneka Doraemon.
Sejak kecil Ririn sangat menyukai Doraemon, robot kucing yang bisa mengabulkan segala permintaan dengan kantong ajaibnya. Jika hatinya tengah bersedih, suka berhayal seandainya saja ia memiliki sahabat robot kucing Doraemon yang bisa memberikan jalan keluar untuk setiap masalah yang dihadapinya.
Ririn menghela napas panjang. Berusaha mengubur segala kenangan buruk tentang hidupnya. Tubuh yang terasa lelah, membuatnya tak dapat menahan kantuk. Ia memanjatkan doa sebelum menutup mata. Tak lupa memeluk Doraemon untuk mengiringinya ke alam mimpi. Berharap mimpi indah akan menghampirinya malam ini.
*****
Deka masuk ke dalam kamar yang telah dipersiapkan untuknya. Kamar tamu ini tak dilengkapi fasilitas mesin pendingin ruangan. Pantas saja Papa memilih untuk menginap di hotel. Kalau tahu begini ia pun akan memilih untuk menginap di hotel. Begitu pikirnya.
Deka membuka kemeja, kaos dalam dan celana panjangnya, menyisakan celana boxer. Setelahnya merebahkan tubuh ke atas kasur yang lumayan empuk meski tak seempuk kasur miliknya. Lega rasanya bisa berbaring setelah perjalanan pulang pergi Serang-Subang yang cukup melelahkan. Tidak sampai lima menit, ia yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan boxer itu langsung berkelana ke alam mimpi.
Pukul dua dini hari, Deka terbangun dari tidurnya. Tubuhnya menggelinjang karena HIV alias Hasrat Ingin Vivis. Ia segera bangun dari posisi tidurnya. Sempat berpikir untuk memakai pakaiannya, namun kemudian mengurungkannya karena HIV sudah di ujung tanduk. Lagipula tengah malam begini, penghuni rumah pasti tengah terlelap dalam tidur. Jadi, tak masalah ia pergi ke kamar mandi dengan penampilan begini. Begitu pikirnya.
__ADS_1
Deka membuka pintu kamar yang bersebelahan dengan kamar Ririn. Ia mengayun langkah cepat menuju kamar mandi yang terletak di belakang dekat dapur.
Karena sudah tak tahan, ia masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintu. Dan segera menuntaskan hasratnya. Tak lupa untuk cebok dan menyiram bekas buang air kecilnya. Ia baru saja menaikkan boxer-nya lalu berbalik badan, ketika dikejutkan dengan keberadaan Ririn di hadapannya. Ririn pun sama terkejutnya. Ia memasuki kamar mandi yang pintunya tak tertutup, tak menyangka ada Deka di sana.
"Aaaaa ...." Ririn berteriak karena terkejut. Deka membekap mulut Ririn dengan tangannya.
"Sssstttt ... Jangan teriak! Nanti semua bangun dengar teriakan kamu," kata Deka dengan posisi tangan masih membungkam mulut Ririn.
"Emmm." Ririn melotot memberi isyarat agar Deka melepaskan tangan yang membungkam mulutnya. Tangan Ririn juga refleks menyentuh tangan Deka berusaha untuk melepaskan diri.
"Maaf, habisnya kamu teriak, sih." Deka melepaskan bungkaman tangannya.
Sorot mata mereka bertemu. Saling bertatapan. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik. Pada detik keenam Ririn memutuskan tatapannya. Ia menundukkan pandangannya menghindar dari sorot mata Deka.
Saat dalam perjalanan menundukkan pandangan. Dada Ririn mendadak bergemuruh. Jantungnya berpacu cepat karena penampakan Deka.
Euleuh euleuh ... roti sobek.
Namun sedetik kemudian ia berusaha mengulum senyum ketika pandangannya lebih turun lagi dan jatuh pada boxer yang dikenakan Deka.
Euleuh euleuh ... boxer bergambar Doraemon.
Deka yang terlambat menyadari ke mana arah sorot mata Ririn tertuju, seketika merasakan wajahnya memanas karena malu. Detik itu juga rasanya ia ingin bersembunyi di lubang semut.
Dengan gestur kikuk dan malu, tanpa sepatah kata pun yang terucap, Deka berlalu meninggalkan Ririn. Langkahnya terbirit-birit menuju kamar. Hatinya menggerutu sendiri.
__ADS_1
Duh, kenapa hari ini gue pake boxer Doraemon sih.
Malu banget gue, kepergok pake boxer Doraemon.