Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Makan Siang


__ADS_3

Mimin menghentikan langkahnya lalu hadap kiri menghadap Yusril dan menatapnya tajam. “Yus, aku udah bilang kan... maaf aku ga bisa. Aku sudah menikah. Aku sudah bersuami!" tegasnya.


"Kamu menikah sama siapa Yas? Sama si Artis Gagal Rehab itu?! Aku gak percaya Yas!"


"Kamu harus percaya Yus!"


"Kalau kamu menikah sama si Fahri yang katanya usatz itu mungkin aku akan percaya. Tapi... kalau menikah sama si Artis Gagal Rehab itu... aku gak percaya. Dia bukan pria idaman kamu kan?"


"Kenyataannya aku sudah menikah dengan dia. Dan dia itu suami aku!" tegas Mimin.


Mimin kembali mengayun cepat langkahnya. Dan Yusril tak berhenti mengikutinya.


"Kamu mau ke mana Yas?!"


"Aku mau makan siang sama suami aku. Kamu pulang aja Yus. Jangan ikuti aku!" seru Mimin.


Seruan Mimin tak menyurutkan langkah Yusril. Ia bersikukuh mengikuti Mimin. Hingga Mimin menyeberang jalan dan menghampiri Dewa di tempat tadi pagi yang sudah dijanjikan.


Dewa sudah lebih dulu sampai di tempat itu. Dan ia turun dari motor ketika melihat Yusril mengiringi langkah Mimin.


"Hey... ngapain lo ngintilin istri gue!" gerutu Dewa ketika Mimin dan Yusril sudah berada di dekatnya.


"Hey... Artis Gagal Rehab! Gue ga percaya kalau lo itu suami Yasmin!"


"Yus...!!" bentak Mimin. Ia geram, tak menyukai kalimat yang diucapkan Yusril.


"Kalau pun benar kamu udah menikah sama dia... aku yakin pasti ada apa-apanya. Mungkin dia main dukun Yas!" tukas Yusril tak beralasan.


"Hey... Lurah Gagal Nyalon Dewan! Jangan sembarangan kalau ngomong. Mana mungkin gue yang gantengnya kebangetan ini main dukun!" balas Dewa.


"Udah udah... Yuk kita berangkat aja! Nanti keburu waktu istirahatnya habis," ujar Mimin.


"Yus... Maaf kamu pulang aja. Sekali lagi aku minta maaf sama kamu," tutur Yasmin kepada Yusril.


Kemudian Dewa memasangkan helm di kepala Mimin lalu menguncinya hingga berbunyi 'klik'. Dewa naik ke atas motornya diikuti Mimin yang duduk di belakang. Kemudian motor pun melaju meninggalkan Yusril dan hatinya yang hancur berserakan.


"Kita salat dulu aja!" titah Mimin yang duduk di boncengan.


"Apa?" Karena motor sedang melaju, Dewa tak bisa mendengar dengan baik apa yang diucapkan Mimin.


Mimin mencondongkan badannya ke depan, dan melongokkan kepalanya ke samping mendekati wajah Dewa. Ia berbicara di dekat telinga Dewa agar terdengar.


"Kita cari masjid. Kita salat dulu aja!"


Dewa menolehkan kepalanya sekejap ke samping, mendekati wajah Mimin. "Asiyaap...!"


Dewa menghentikan motornya di tempat parkir masjid agung. Mimin turun terlebih dahulu lalu diikuti Dewa. Mimin berusaha membuka helmnya namun ia kesulitan sebab helm yang terkunci. Sementara Dewa telah membuka helmnya lalu meletakkannya di bagasi gantungan motor.


"Kenapa?" tanya Dewa ketika melihat Mimin memegangi pengunci helm di bawah dagunya.


"Ga bisa bukanya," jawab Mimin dengan tersipu malu.


"Oh... ga bisa bukanya. Aku bantu buka helmnya boleh?" tawar Dewa. Sementara di dasar hatinya ia sedang tersenyum.

__ADS_1


Mimin mengangguk. "I-iya boleh."


Dewa tersenyum. Lalu ia mendekati Mimin dan meletakkan tangannya pada kuncian helm di bawah dagunya. Dalam hitungan detik sorot mata keduanya saling bertautan. Hingga kemudian Mimin memutus pandangan lalu memilih untuk menundukkan pandangannya. Tak bisa dielakkan bahwa sorot mata Dewa sungguh membuat dadanya dag dig dug tak karuan serta degup jantungnya berdetak tak beraturan.


Dewa pura-pura kesulitan untuk membuka kuncian helm agar ia bisa lebih lama lagi berdekatan dan menatap wajah Mimin dalam jarak yang dekat ini.


"Aduh... kok susah ya... sepertinya kuncinya rusak nih," lirih Dewa pura-pura.


"Aih... terus gimana? Apa ga bisa dibuka?" Raut wajah Mimin terlihat panik. Karena panik, tangannya spontan menyentuh tangan Dewa dengan maksud ingin membantu Dewa membuka kuncian helm di bawah dagunya. Dalam beberapa detik tangan mereka saling bersentuhan sama-sama memegang kuncian helm kemudian mata keduanya saling bertatapan.


"Kalau bukanya berdua begini..." Dewa membuka kuncian helmnya 'klik'.


"Jadi bisa dibuka deh kuncian helmnya," sambungnya sambil menahan senyum.


Dewa melepas helm yang dipakai Mimin lalu meletakkannya di kaca spion motor. Sementara Mimin masih tertunduk tersipu dengan pipi merah merona akibat ulah Dewa yang mengerjainya.


Kemudian mereka berjalan beriringan menuju tempat wudu. Dewa masuk tempat wudu pria dan Mimin masuk tempat wudu wanita. Dan selanjutnya mereka masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan salat Zuhur di masjid agung. Jika beberapa hari yang lalu Dewa bertemu Fahri di masjid ini. Namun kini ia tak menemukannya sebab hari ini bukan jadwal Fahri mengimami salat di masjid ini.


"Jadi kita mau makan di mana?" tanya Dewa seusai melaksanakan salat. Mereka sedang berjalan beriringan menuju tempat parkir motor.


"Terserah kamu aja," jawab Mimin lugas.


"Mau ke Ka ef si apa ke Mek di?" tanya Dewa lagi


"Jangan... Jangan ke sana!"


"Makanya kamu dong yang menentukan kita mau makan di mana. Aku kan belum hafal kota ini," terang Dewa.


"Kita ke Madani aja."


"Bukan Mang Dani tapi Madani."


"Apa itu?"


"Nanti juga kamu tahu."


"Aku gak tahu tempatnya."


"Aku yang tunjukkan tempatnya."


"Ada tokek siang-siang. Ok deh Sayang."


******


Dengan arahan dari Mimin, mereka sampai di Madani Fried Chicken. Dewa menghentikan motornya di tempat parkir. Tidak seperti saat di masjid agung tadi, Mimin kali ini bisa dengan mudah dapat membuka helm sebab ia sengaja tak mengunci helmnya.


"Oh... Ini mah kaya Ka ef si ya," ujar Dewa sembari pandangannya mengitari ke segala penjuru. Menatap deretan kursi pengunjung tempat ini yang sebagian terisi dan sebagian lagi masih kosong. Sebab menurut pantauannya lebih banyak orang yang membeli dengan sistem 'take away' dibanding makan di tempat. Kemudian pandangannya beralih ke betamart yang berada persis di samping tempat makan ini.


"Kamu mau yang apa... dada, sayap atau paha?" tanya Mimin.


"Emmm... Paha. Ya, aku suka sekali paha," jawabnya sambil senyum-senyum.


Kemudian Mimin memesan dua paket nasi dan ayam juga dua botol air mineral. Mimin memilih tempat duduk yang paling sudut. Bukan tanpa alasan, sebab ia tak ingin adanya kemungkinan orang yang mengenalnya melihat ia sedang berduaan dengan Dewa. Ia masih canggung dengan status yang ada.

__ADS_1


Mereka mulai menikmati secepol nasi putih dan ayam goreng crispy layaknya ayam goreng crispy seperti di Ke ef si. Tidak lupa sebelum makan, cuci tangan dan membaca basmalah.


"Mina... aku boleh nanya ga?" tanya Dewa di sela aktivitas makannya.


"Boleh." Jawaban Mimin pendek saja.


"Sepertinya kamu menyembunyikan aku dari teman-teman kantormu. Menyembunyikan status pernikahan kita."


Mimin diam tak menjawab. Ia fokus pada aktivitas makannya.


"Apa karena kamu malu punya suami aku?"


Mimin menghela nafas panjang dan membuangnya pelan.


"Iya aku malu."


"Karena pekerjaan aku?"


Mimin menggelengkan kepalanya.


"Lalu karena apa? Aku kan ganteng begini masa iya kamu malu."


Hening


"Karena kamu mencintai Fahri?"


"Aku malu karena pernikahan kita mendadak. Bagaimana kalau teman-teman aku bertanya tentang mengapa pernikahan kita mendadak." Mimin diam sejenak menatap Dewa.


"Apa aku harus menceritakan kisah di balik pernikahan ini? Kalau kita menikah lantaran digerebek!"


Kini gantian Dewa yang terdiam.


"Maafkan aku tentang malam itu."


"Tidak usah meminta maaf, bukan salah kamu juga."


"Harusnya malam itu aku tuh ga usah buka baju kayak gitu. Lebih baik aku masuk angin kan dari pada orang-orang itu menuduh yang bukan-bukan."


"Baju kamu kotor karena muntahan aku. Bukan salah kamu."


"Apa kamu menyesali kejadian malam itu?" tanya Dewa.


Mimin bergeming.


"Apa kamu menyesali pernikahan ini?" tanya Dewa lagi.


"Kamu sendiri bagaimana apa kamu menyesali kejadian malam itu?" Mimin balik bertanya.


"Aku menyesali sikap orang-orang itu yang menuduh kita dengan tuduhan yang keji. Tapi aku tidak dan tak akan pernah menyesali pernikahan ini," papar Dewa penuh keyakinan.


"Kamu tahu ga... dulu aku bercita-cita ingin menjadi rocker.” Dewa menjeda ucapannya menatap Mimin.


“Tapi kemudian setelah bertemu kamu... cita-citaku berubah haluan,” sambungnya.

__ADS_1


“Berubah haluan jadi apa?”


“Jadi suaminya Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin.”


__ADS_2