
"Ding gagah ke sini sebentar!"
"Iya, Bah," sahut Dewa sembari meringis.
"Ding gagah kenalkan ini teman-teman Abah waktu Abah muda dulu," tutur Abah.
Dewa tersenyum ramah dan menyalami kedua teman Abah tersebut.
"Ini teman-teman Abah nge-band dulu," ujar Abah.
"Yang gendut ini namanya Kosim, dia dulu drummer."
"Kalau yang ini bassis namanya Dayat." Abah memperkenalkan kedua temannya. Sementara Dewa hanya melongo karena terkejut.
"Abah dulu nge-band juga?"
"Iya. Abah dulu nge-band juga, band aliran rock. Abah vokalis sekaligus gitaris," ungkap Abah.
Dewa tercengang mengetahui fakta yang baru saja diketahuinya tentang Abah.
"Apa nama band-nya, Bah?" tanya Dewa penasaran.
"D' Jeng Kol."
Dewa mengerutkan kening demi mendengar nama band yang unik D' Jeng Kol.
"Karena kita semua suka makan jengkol," timpal salah seorang teman Abah.
"Hahahaha." Semuanya tertawa termasuk Dewa.
Sudah satu jam lebih Dewa menemani Abah berbincang. Berkali-kali ia melirik pada penunjuk waktu bergambar Ka'bah yang kini menunjukkan pukul sebelas lebih sepuluh menit. Sepertinya Abah tak mengerti dirinya.
Whooaaamm... Dewa menguap lebar-lebar dan berharap semoga Abah bisa memahaminya.
"Din, itu menantumu udah ngantuk loh," ujar Kosim.
"Kamu mah Din. Ini 'kan malam pertama malah diajakin ngobrol," timpal Dayat.
"Ding gagah udah ngantuk? Ya udah kalau udah ngantuk masuk sana, tidur," anjur Abah.
Alhamdulillah. Kenapa gak dari tadi, Bah. Gumam Dewa dalam hati.
"Iya, Bah. Saya masuk dulu ya." Dewa berpamitan pada Abah dan teman-temannya.
Dewa kembali ke kamar Mimin dan tak lupa mengunci pintunya. Membayangkan Mimin membuat rasa kantuknya hilang. Ia melangkah menuju tempat tidur berseprai pink itu. Dan sedikit kecewa karena mendapati Mimin telah tidur.
Ia naik ke atas tempat tidur lalu memeluk Mimin sambil berbisik di telinganya. "Neng, udah tidur?"
Ujung hidung Dewa mengendus di telinga Mimin hingga mengusik tidur Mimin yang belum lelap.
Mimin membuka matanya. "Iya A," lirih Mimin karena masih mengantuk.
Cup... Dewa mencium pipi Mimin.
"Ini 'kan malam pertama Neng, kok tidur sih," protes Dewa.
"Neng lagi...."
Humpp... Dewa langsung saja meraup bibir Mimin sebelum Mimin menuntaskan kalimatnya. Dan dengan lihai bibir dan lidahnya telah beraksi menelusup dan menjelajahi bibir beserta isi-isinya. Membuat Mimin tak kuasa menolak dan mengikuti saja alurnya. Hingga kemudian Dewa melepas cangkuman bibirnya. Memberikan jeda untuk meraup oksigen yang hampir kehabisan.
"A, Neng lagi...."
Humpp... Dewa kembali meraup bibirnya. Mengulang yang barusan tadi dilakukannya. Bahkan, kini tangannya menelusup masuk ke dalam piyama Mimin dan menyentuh pada sesuatu yang pernah dimainkannya tempo hari.
Mimin refleks menarik tangan Dewa yang telah menyentuh sesuatu di da*danya. Memberi isyarat kepada Dewa agar menghentikan aksinya.
Penolakan Mimin sontak membuat Dewa menghentikan aksinya serta melepaskan cangkuman bibirnya.
"Kenapa Neng? Udah boleh 'kan udah halal," bisiknya.
"Neng lagi dapet A."
"Dapet apa?"
"Lagi dapet."
"Iya dapet apa?"
"Datang bulan."
"Oh, datang bulan." Dewa tampak santai karena masih belum menyadari dengan situasi yang terjadi lalu sedetik kemudian terlonjak kaget karenanya. "Hah!! Apa?!"
__ADS_1
Dewa meletakkan kedua tangannya di kepala sembari meremas rambutnya sendiri. "Ya Allah dosa apa sih gue."
"Maaf yah A. Mohon bersabar tujuh hari lagi."
"Aa udah sabar tingkat Dewa, Neng. Andai kesabaran itu dibayar, Aa pasti udah jadi miliarder," seloroh Dewa.
"Oya, dari tadi belum sempat komen. Aa potong rambut gitu kelihatan lebih tampan loh," puji Mimin.
"Ini kalimat pujian, penenang atau motivasi?!" lontar Dewa.
"Kalimat penuh ketulusan dari hati yang begitu mencintai," sahut Mimin.
"Aduh Neng please, jangan dimanis-manisin gitu nanti Aa ga kuat." Dewa bergeming sejenak lalu meringis sedih. "Terus malam pertamanya kita ngapain dong?!"
"Apa aja boleh asal jangan yang itu."
Akhirnya malam pertama mereka dihabiskan dengan ciuman sampai jontor.
*****
Dua hari kemudian Dewa dan Mimin bertolak ke Jakarta. Mereka berangkat dengan menggunakan mobil Deka yang sengaja ditinggal untuk keperluan mereka.
Mama begitu antusias menyambut kedatangan anak dan menantunya. Dan yang paling membuat Dewa tercengang adalah lontaran pertanyaan dari Mama.
"Wa, Mina lagi datang bulan ya?"
"Loh, kok Mama tahu sih?!"
"Soalnya muka kamu kusut gitu. Hihihihihi." Mama terkikih-kikih sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Dewa hanya meringis menanggapi gurauan Mama.
Jelang resepsi pernikahan di Jakarta, di depan rumah Dewa telah terpasang tenda pelaminan nuansa hitam putih. Mama sengaja memilih warna hitam, warna kesukaan Dewa.
Semula resepsi akan diselenggarakan di salah satu hotel bintang lima sesuai keinginan Pak Satya, namun Dewa menolaknya.
"Ga usah lah, Pah. Resepsi di rumah aja yang sederhana aja. Nanti kalau nikahan Bang Deka tuh baru resepsi yang meriah, kalau bisa tujuh hari tujuh malam sekalian," ujar Dewa.
"Tujuh hari tujuh malam udah kayak tahlilan aja," lontar Deka.
"Hahahahaha." Dewa tertawa.
Resepsi mengusung konsep modern. Hal ini dikarenakan asal-usul garis keturunan Dewa yang beragam. Pak Satya berdarah Batak-Sunda. Sementara Bu Dewi berdarah Manado-Jawa. Maka untuk menyikapi keragaman tersebut agar mencerminkan sikap positif terhadap nilai-nilai pancasila terutama sila kelima yang berbunyi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dipilihlah konsep pernikahan modern.
Tamu undangan yang hadir adalah saudara, kerabat, kolega, sahabat dan teman-teman Dewa semasa sekolah dan kuliah. Dan pastinya Sol Mida serta Jejed Mila juga turut hadir di sana.
"Wa, cantik banget bini lo. Nemu di mana?" Kalimat itu sepertinya yang menjadi trending topik di acara ini. Entah sudah berapa orang yang mengatakan demikian.
"Mba, nanti buket bunganya dilempar ya." Salah seorang pelaksana dari WO memberikan arahan kepada Mimin.
"Oh, biar apa Mba?" tanya Mimin.
"Iya gak apa-apa sih cuma tradisi aja. Buket bunga 'kan melambangkan kesuburan dan keindahan. Bagi para lajang yang berhasil mendapatkan lemparan bunga diharapkan akan segera menyusul pengantin, agar segera mendapatkan jodoh dan menikah," terang pelaksana WO.
"Saya ga mau melempar bunga. Saya mau kasihkan saja ke orangnya langsung," sahut Mimin.
Kemudian ia meminta izin kepada suaminya untuk memberikan bunga kepada seseorang. Ia menghampiri Deka dan menyerahkan buket bunga itu. "Bang Deka, semoga segera bertemu jodohnya ya. Dan segera menikah. Amin."
*****
Keesokan malamnya.
"Widih keren," lontar Dewa ketika membuka kado pemberian Deka. Sebuah kamera fotografi merk "Conan" yang sangat diidamkannya.
"Itu dari Bang Deka?" tanya Mimin.
"Iya, keren ya." Dewa sangat antusias dengan kamera plus paket lensa tersebut.
"Coba ya." Dewa membidikkan kamera ke arah Mimin.
"Ih, jangan! Aku gak pake kerudung," sergah Mimin.
"Oh iya ya." Dewa meletakkan kamera tersebut ke tempatnya.
Whooooam... Mimin menutup mulutnya dengan tangan karena menguap.
"Neng udah ngantuk ya?" Dewa melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 22.00 tepat.
"Ya udah Neng cantik, mari kita tidur," ujar Dewa seraya mencubit mesra dagu Mimin. Lalu menggendong Mimin menuju tempat tidur.
__ADS_1
"Ih, Aa mah. Turunin ih!" seru Mimin sambil mengguncang-guncangkan kakinya.
"Sekali-sekali atuh Neng, digendong biar romantis," seloroh Dewa.
Dan mereka berdua kini telah berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring dan saling berhadapan.
"Neng."
"Hemmm."
"Besok jadi pulang?"
"Iya A. Lusa aku sudah masuk kerja soalnya."
"Mau pulang pagi, siang, sore atau malam?"
"Terserah Aa. Neng ngikut aja. Yang penting jangan terlalu malam."
"Kita besok pulang siang aja ya, biar ga kena macet."
"Iya A."
Dan selanjutnya mereka hanya terdiam saling pandang dan saling melempar senyum.
"A..."
"Hemmm."
Lalu hening sejenak.
"Kenapa Neng?"
"Enggak jadi."
"Mau bilang sayang ya?"
"Udah sering itu mah."
"Coba bilang lagi."
"Sayang."
"Yang lengkap dong."
"Neng sayang Aa."
"Aa juga sayang Neng."
Hening kembali.
"Kita tidur aja yuk, Neng."
"Yakin, Aa mau tidur aja?"
"Masa mau jingkrak-jingkrak."
"Aa ga mau minta hak Aa?"
"Maksudnya?"
"Neng udah suci A." Mimin menunduk tersipu. "Udah boleh diapa-apain," lanjutnya malu-malu.
Seketika Dewa terjingkat bangun. "Serius, Neng??" lontarnya dengan mata berbinar.
.
.
.
.
.
Kenapa Mimin pake datang bulan sih, Thor?
Karena takut ada reader soleh/solehah yang komen begini. "Itu Mimin pas jadi pengantin solat ga, Thor?"
Masa iya Mimin yang solehah ga istiqomah.
Next part beneran horor deh.
__ADS_1
Kasih kesempatan untuk otor remahan ini menuliskan bab horor yang ga terkesan horor. Tanpa menggunakan kata-kata horor, tapi terasa horor-horornya.
Btw terima kasih atas dukungannya. ❤️❤️❤️