Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
120. GBM S3


__ADS_3

Mimin menatap murung peti jenazah di hadapannya. Jenazah orang yang disangka Dewa itu telah tiba di rumah keluarga Dewa.


Raut murung Mimin bukan tentang kesedihan seperti sebelumnya. Melainkan kesedihan karena tak ada seorang pun yang mempercayai keyakinannya. Bahwa jenazah tersebut bukanlah Dewa.


"Kalau bukan Dewa, lantas ini siapa, Jasmin? Bukankah Dewa berangkat sendiri dalam perjalanan itu?" Begitu reaksi Papa ketika Mimin mengungkapkan keyakinannya.


"Di mobil itu tidak ditemukan identitas orang lain, Jasmin. Yang ditemukan justru semua yang berhubungan dengan Dewa, ponselnya, dompetnya, bahkan cemilan kesukaan dan minuman favoritnya," timpal Deka.


Kepada Mama, ia tak dapat berbicara banyak. Hingga kini Mama masih sangat syok dan sering tiba-tiba menangis meraung. Bahkan, beberapa kali masih sering pingsan. Mama benar-benar tak dapat mengontrol rasa sedihnya.


Mimin juga sempat mengajukan usul untuk melakukan identifikasi jenazah melalui tes DNA. Karena jenazah tersebut memang sulit dikenali disebabkan wajahnya yang hangus terbakar. Namun, sebagai seorang istri tentu ia hafal betul fisik suaminya dari kepala hingga ujung kaki. Ia yakin, jenazah tersebut bukanlah Dewa. Sayang, pihak keluarga tak menyetujui usul yang dilontarkannya.


"Kasihan Dewa, kondisinya sangat mengenaskan. Lebih baik kita mempercepat proses pemakamannya," ujar Papa.


Abah yang bijak pun untuk kali ini tak menyetujui usul tersebut.


"Menghormati jenazah adalah segera memakamkannya. Mempercepat penguburan itu termasuk sunnah nabi." Begitu kata Abah yang menyetujui ucapan Papa.


"Kasihan almarhum, Teh. Kalau diotopsi, nanti badannya diboek-boek gitu 'kan? Mami aja yang bukan ibu kandungnya ga tega, Teh." Mami bergidik ngeri membayangkannya.


Mimin mengerutkan keningnya. Ia juga tak mengetahui pasti tentang prosedur identifikasi jenazah itu seperti apa.  Menurut pemikirannya, kemungkinan proses identifikasi jenazah hanya melakukan pemeriksaan eksternal tubuh saja. Tak ada proses pembedahan organ tubuh seperti yang dikhawatirkan Mami. Akan tetapi, lagi-lagi ia tak dapat meyakinkan pihak keluarga. Dan prosesi pemakaman akan segera dilakukan.


Pelayat semakin banyak yang berdatangan. Mulai dari keluarga, kerabat, rekan dan kolega Pak Satya, teman-teman Mama, teman-teman Dewa yang ia kenal maupun yang tak dikenalnya, kedua sahabat Dewa, Sol dan Jejed beserta pasangan mereka, juga kedua sahabat Mimin, Hana dan Rahma beserta pasangannya.


Para tamu yang datang, satu per satu menyampaikan rasa belasungkawa. Kebanyakan dari mereka memusatkan perhatian pada Mimin. Menatap pilu wanita yang tengah hamil besar itu.


"Kasihan ya, lagi hamil besar ditinggal mati suaminya," bisik beberapa pelayat yang hadir dan tak sengaja terdengar oleh indra pendengarannya.


Ingin rasanya ia menyahut, "suami saya belum mati dan tidak meninggalkan saya."


Pagi hari pukul delapan, prosesi pemakaman itu dilaksanakan. Awalnya Mimin tak mau ikut menghadiri, namun karena desakan Mami, mau tak mau ia mengikuti prosesi pemakaman tersebut.


Usai disalatkan, jenazah dimakamkan di TPU tak jauh dari kediaman Dewa. Sol, Jejed, Haqi dan Diev tampak turut menggotong peti jenazah.


Mimin menatap satu per satu orang yang dikenalnya. Sol dan Jejed tampak sangat terpukul, mereka menangis terisak sambil berpelukan berdua. Mida dan Mila berdiri di belakang suami mereka untuk menenangkan.


Sementara Mami, Opi, Hana dan Rahma berdiri di dekat Mimin untuk memberikan kekuatan. Di seberang tampak Papa dan Deka menenangkan Mama yang terus menangis bahkan pingsan untuk ke sekian kalinya.


Semua orang yang menghadiri pemakaman terlarut dalam kesedihan dan isak tangis. Hanya Mimin yang tak menangis. Ia justru tak fokus pada prosesi pemakaman itu. Pikirannya tengah berkecamuk, menerka-nerka tentang keberadaan Dewa dan segala kemungkinannya. Seraya terus berdoa, semoga Dewa baik-baik saja dan segera kembali pulang.


*****


Setelah prosesi pemakaman selesai, para keluarga dan sahabat kembali ke kediaman Dewa.


Para sahabat duduk mengelilingi Mimin untuk memberikan kekuatan dan semangat.


Hana memeluk Mimin. "Sabar ya, Mimin. Setiap mukmin itu pasti akan mendapatkan ujian. Allah mengujimu karena kamu kuat," ujar Hana seraya mengusap punggung sahabatnya itu.


"Dalam hadits qudsi, Allah bahkan menyebut akan memberikan balasan surga bagi orang yang bersabar atas kehilangan seseorang yang dicintai," lanjutnya.


Mimin tersenyum. "Terima kasih, Hana," ucapnya.

__ADS_1


Kini gantian Rahma yang mendekat dan memeluk Mimin. "Sabar dan ikhlas ya, Min. Dewa orang baik, insyaallah Dewa ditempatkan di tempat yang indah," ujarnya terisak.


Sejenak kemudian Mimin melepas pelukannya lalu menatap Rahma. "Aku yakin Dewa masih hidup, Ma."


Pernyataan Mimin sontak membuat terkejut para sahabat.


"Maksudnya gimana, Min?" lontar Sol.


"Kang Sol, Kang Jejed." Mimin menatap Sol dan Jejed bergantian. "Kalian adalah sahabatnya Dewa, sudah pasti sangat mengenal Dewa. Kalau kemarin kalian lihat jenazahnya langsung, kalian pasti akan berpikiran sama denganku. Jenazah itu bukanlah Dewa," ungkapnya.


Mimin beralih menatap Diev dan Haqi. "Mas Diev, Kang Haqi, tolong bantu aku menemukan si Bocah Tengil itu," pintanya.


Sejenak semuanya terdiam. Mereka hanya saling berpandangan tanpa terucap kata. Semua diam dengan pikirannya masing-masing antara harus percaya atau tidak dengan ucapan Mimin.


"Baiklah, mari kita cari Dewa sama-sama," sahut Diev memecah keheningan.


"Terima kasih, Mas Diev," ucap Mimin berbinar menyambut secercah harapan yang datang. Teriring sebuah doa, semoga dapat menemukan Dewa.


Hari itu juga Mimin dengan ditemani para sahabat mendatangi lokasi kecelakaan. Mereka berangkat dengan menggunakan dua mobil. Mobil pertama ditumpangi oleh Diev, Rahma dan Haqi, Hana serta Mimin. Sementara di mobil kedua ada Pak Satya, Deka, Sol dan Jejed.


"Ini betul lokasi kecelakaannya?" tanya Papa kepada Deka.


"Iya, Pah. Tuh, masih ada police line di sana." Deka menunjuk sisi kiri jalan bekas terjadinya kecelakaan.


"Di tempat ini 'kan mitosnya sering terjadi kecelakaan," seloroh Sol.


"Kamu masih muda malah percaya mitos. Saya aja yang tua ga percaya mitos!" omel Pak Satya.


"Betul, kalau aku lihat memang geometrik jalan dan luasan sentrifugal-nya perlu diperbaiki," kata Deka yang paham betul tentang geometrik jalan. Beberapa kali ia mendapatkan proyek pembangunan jalan raya.


"Padahal kemampuan menyetir Dewa itu ga abal-abal," timbrung Jejed.


"Betul, meskipun Dewa tipe orang yang cuek, tentang keselamatan dia ga bisa cuek. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmat untuknya," ujar Haqi.


Hampir seharian mereka menyisir lokasi terjadinya kecelakaan, namun tak ditemukan  tanda-tanda dan jejak keberadaan Dewa.


"Mimin yang sabar ya. Kalau kamu yakin Dewa masih ada, tentu Dewa akan pulang untuk menemui kamu, bukan?" kata Rahma.


"Banyak-banyak berdoa. Jika Dewa benar masih ada, semoga Allah selalu melindunginya. Namun, Jika jenazah itu benar adalah Dewa, semoga Allah melapangkan hatimu," ujar Hana.


Mimin hanya bisa pasrah dalam rasa gundahnya. Sembari hatinya terus berdoa semoga Allah selalu melindungi dan menyelamatkan Dewa di mana pun kini berada.


Tujuh hari sudah kepergian Dewa. Selama itu Mimin masih terus optimis dalam keyakinannya, bahwa Dewa pasti akan kembali. Ia terus menunggu kepulangan Dewa.


"Teteh ga mau ikut pulang sama abah?" Abah menghampiri Mimin.


"Teteh mau di sini aja, nunggu A Dewa pulang. Ga papa 'kan, Bah?"


Abah mengangguk. "Gak papa, Teh. Mertua itu sama seperti orangtua sendiri."


Abah lalu mengambil posisi duduk di samping Mimin.

__ADS_1


"Abah juga pernah mengalami seperti yang Teteh rasakan. Ibumu juga dulu meninggal karena kecelakaan. Dalam kecelakaan itu abah tidak hanya kehilangan ibumu, tapi juga kehilangan Ri ...." Abah yang tersadar sudah terlalu banyak bicara, segera menghentikan ucapannya.


"Abah juga kehilangan siapa??" Mimik wajah Mimin penuh tanda tanya.


"Sudah, kita tidak usah membahas soal kecelakaan ibumu. Teteh sudah tahu Mami punya trauma tentang itu," sahut Abah.


Selama ini Abah memang jarang membahas soal kecelakaan ibunya. Saat pertama kali Abah bercerita kepadanya soal kecelakaan itu, Mami yang tak sengaja mendengarnya langsung menangis histeris. Sampai saat ini Mimin belum mengerti apa yang menyebabkan Mami trauma seperti itu.


Sore hari, Abah dan Mami berpamitan pulang. Sudah tujuh hari mereka menginap di kediaman keluarga Dewa untuk menemani Mimin. Sementara Mimin memilih untuk tetap tinggal di Jakarta, menunggu Dewa.


“Bu Dewi, titip putri saya, yah,” ujar Mami.


“Iya, Bu ... tentu saja. Saya senang sekali Mina tinggal di sini. Saya sangat terpuruk karena kehilangan Dewa, saya gak mau ikut kehilangan Mina.” Mama kembali menangis.


“Sabar, Bu Dewi ... ikhlaskan semuanya,”pesan Abah.


"Teteh jaga kesehatan ya. Jangan terlalu banyak pikiran, kasihan Dede yang di dalam perut. Banyak makan biar Dede sehat. Dan jangan lupa rutin periksa kandungan." Sederet pesan Mami.


Mimin mengangguk lalu memeluk Mami. "Doakan teteh dan juga A Dewa ya, Mih."


"Mami pasti akan selalu mendoakan Teteh dan almarhum sampai kapan pun."


Hati Mimin teriris perih ketika ada yang menyebut Dewa dengan sebutan almarhum. Baginya, Dewa masih ada dan pasti akan kembali.


“Kalau Teteh mau pulang, kabari aja ya. Biar nanti Haris yang menyusul kemari,” ujar Abah.


“Biar Jasmin tetap di sini dulu, Pak Haji, Bu Haji. Biar Jasmin menemani istri saya. Kasihan istri saya,” mohon Papa. “Kalau Jasmin mau pulang, nanti biar saya atau Deka yang mengantar ke sana,” sambungnya.


“Baiklah Pak Satya. Kalau ada apa-apa dengan putri saya, mohon segera hubungi kami,” pesan Abah.


“Tentu saja, Pak Haji.”


“Kami pulang dulu ya, Pak, Bu.” Kedua keluarga itu saling bersalaman dengan hangat.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


.


.


.


.


Terima kasih dukungannya


❤️❤️❤️❤️❤️


 

__ADS_1


__ADS_2