Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Bab 104


__ADS_3

Malam menjelang pernikahannya, Dewa merasa uring-uringan. Pasalnya sudah seminggu ia meninggalkan kontrakan karena menuruti permintaan Mami. Sehingga akhirnya ia pindah ke tempat tinggal Deka bersama Sol.


Mami pun memintanya untuk tak bertemu dengan Mimin dulu selama menjelang pernikahan. Dan anehnya Mimin malah mendukung keputusan Mami. Setiap kali ia ingin menjemput Mimin ketika pulang kerja, Mimin selalu menolaknya.


"Aa turutin aja sih perkataan orang tua walaupun aku juga ga percaya sama yang namanya pamali tapi apa salahnya kalau kita ikutin." Bagitu kata Mimin.


Ia tak habis pikir dengan pikiran orang tua tentang pamali. Jangankan pamali, sama bumali saja ia tak takut. Selain Mami, Mama juga turut membuatnya kesal dengan menyuruhnya untuk memotong rambut gondrongnya dengan alasan agar nanti kelihatan lebih tampan ketika jadi pengantin.


Padahal ia merasa bahwa dirinya selalu terlihat tampan di manapun, kapanpun dan bagaimanapun. Baginya tampan adalah Dewa. Dewa adalah tampan. Tak boleh seorang pun menyangkal hal itu. Titik.


"Wa, bisa ga sih lo diem! Jangan bulak balik kayak setrikaan oleng!" tegur Deka saat melihat Dewa bulak balik bercermin, terus duduk, pegang hape, lalu berdiri, bercermin lagi, duduk lagi, pegang hape lagi, begitu seterusnya.


"Bang Deka belum ngerasain sih gimana rasanya kalau besok mau kawin," kilah Dewa.


"Kawin mah gue udah sering kalee," kelakar Deka. Beruntung kelakarnya tidak sampai terdengar orangtuanya.


Dewa kembali duduk dan meraih ponselnya. Ada sepuluh pesan yang ia kirimkan kepada Mimin tapi tak ada satu pun yang dibaca. Status pesannya centang dua abu-abu.


Pun dengan Sol yang ditugaskan untuk membantu persiapan resepsi di rumah Mimin malah tak bisa dihubungi sama sekali. Suara merdu gadis operator yang menjawab ketika Dewa melakukan panggilan ke nomor Sol.


Benar-benar membuat Dewa sangat gelisah malam ini.


*****


Masjid Al Mukmin kampung Cibening kembali diramaikan oleh warganya yang berkumpul menghadiri akad nikah pasangan Mimin dan Dewa. Apalagi mengingat Mimin adalah putri Haji Zaenudin sang ketua RW, hampir seluruh warga kampung Cibening datang menghadiri pelaksanaan akad nikah tersebut.


"Bagaimana sah?"


"Saaaaaaaaahhhhh."


Kata sah telah terucap, doa-doa telah dibacakan. Kini adalah saatnya mempertemukan kedua mempelai.


Dewa menatap Mimin yang mengayun langkah hati-hati dengan dituntun oleh Mami dan Opi. Bayangan kejadian tiga bulan yang lalu berkelebat di memorinya. Bagaimana ketika usai ijab kabul di malam dramatis itu, dengan berurai air mata Mimin digiring ke hadapannya lalu pingsan.


Namun kini sungguh berbeda, rona bahagia justru terpancar di wajah cantik Mimin. Dengan wajah tertunduk Mimin berjalan menghampiri Dewa yang sudah sah secara agama dan hukum negara sebagai suaminya.

__ADS_1


Mimin mengangkat wajahnya ketika langkahnya telah sampai di hadapan Dewa. Dilihatnya Dewa tengah mengukir sebuah senyuman kepadanya. Senyum kemenangan atas perjuangannya selama ini dalam melewati segala macam halangan dan rintangan hingga akhirnya sampai di titik ini.


Mimin balas tersenyum seraya memandang wajah suaminya dan mencium takzim tangannya. Lalu Dewa menyentuh kepala Mimin yang tertutup jilbab seraya membacakan doa.


"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi.” (Ya Allah, aku memohon dari-Mu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya).


Fahri yang mengajarkan doa tersebut kepada Dewa. Beberapa hari yang lalu Fahri mengunjungi Dewa sebagai seorang sahabat. Dan mereka banyak berbincang sebagai seorang sahabat. Di antara perbincangan itu Fahri juga membahas tentang kitab qurotul uyun. Kitab yang menjadi favorit dan selalu ditunggu-tunggu pembahasannya oleh para santri.


Dewa yang hanya sekejap menjadi santri, hanya mempelajari hal dasar saja dari kitab qurotul uyun tersebut yakni pembahasan tentang akil baligh seperti menstruasi bagi perempuan, dan mimpi basah bagi laki-laki.


Berbeda dengan Fahri yang menghabiskan jenjang pendidikannya di pesantren. Fahri sudah khatam teori tentang kitab itu, tinggal menunggu jodoh saja agar bisa mempraktikkannya dengan wanita halalnya.


Dewa begitu antusias ketika Fahri membahas tentang kitab qurotul uyun sembari otak mesumnya membayangkan bagaimana nanti akan dipraktikkan bersama istri cantiknya, Mimin. Masya Allah.


Kembali ke acara prosesi akad nikah. Dewa lalu mendaratkan kecupan di kening Mimin. Dan ia sempat tersenyum ketika mengingat bahwa kisah perjalanan jodohnya berawal dari kening sehalus pualam itu. Kening yang tak sengaja terkena lemparan kaleng minuman soda akibat ulahnya. Kening yang membuatnya menemani gadis berkerudung merah itu sampai ke klinik. Kening yang membuat Mimin sebal kepadanya. Lalu seiring perjalanan waktu rasa sebal itu berubah menjadi suka, lalu menjadi sayang, dan akhirnya menjadi cinta.


Setelahnya kedua mempelai memohon doa restu kepada orang tua serta keluarga. Banyak pesan dari para anggota keluarga kepada kedua mempelai itu.


Ding Gagah sekarang sudah jadi anak abah. Cintai Mimin sebagaimana kami mencintainya. Jagalah Mimin sebagaimana kami menjaganya. Berperilakulah yang baik dengan penuh kasih sayang karena sesungguhnya yang diinginkan Mimin bukanlah harta emas permata melainkan cinta sampai ujung usianya. Semoga Allah senantiasa memberikan banyak keberkahan untuk rumah tangga kalian. Abah.


Nak Dewa, maafkan sikap Mami yang kemarin. Semua itu Mami lakukan karena rasa sayang Mami yang begitu besar kepada si Teteh. Dewa juga harus sayangi si Teteh. Jangan pernah sakiti Teteh. Jadilah suami yang menghargai istri. Mami akan selalu mendoakan kalian.Mami.


Dewa, jadi pria itu jangan banyak basa-basi ga penting. Harus efisien, efektif dan terarah atas semua yang kita kerjakan. Jadilah suami pekerja keras agar bisa membahagiakan keluargamu. Papa.


Jaga adik saya. Jangan pernah sekalipun menyakitinya. Saya ga akan diam kalau sampai kamu menyakitinya. Haris.


Cintai Teh Mimin ya Kakak Ipar. Awas jangan sampai di duain apalagi di tigain, empatin dan seterusnya. Inget ada Opi adiknya Teh Mimin si juara pencak silat PORCAM. Opi.


Selamat yah, Wa. Lo emang anak baik. Dan pantas untuk mendapatkan wanita seperti Jasmin. Jaga Jasmin, jangan pernah meninggalkannya. Karena gue orang pertama yang akan menyambutnya kalau lo sampai meninggalkannya. Deka.


Usai prosesi akad nikah, kedua mempelai dan seluruh orang yang hadir pergi menuju tempat resepsi pernikahan Mimin dan Dewa. Resepsi dilaksanakan di depan halaman rumah Mimin.


Yang membuat Mimin sangat malu dan tak berani mengangkat wajahnya adalah karena kemudian pengantin diarak dengan becak menuju tempat resepsi. Mimin mengira ini adalah ide Abah dan Mami maka ia menurut saja. Padahal sesungguhnya ini adalah idenya Sol.


"Wa, gimana kalau nanti pengantinnya dari masjid menuju tempat resepsi naik becak aja. Soalnya dulu waktu kecil pas gue jadi pengantin sunat gue juga kayak gitu diarak pake delman," cetus Sol beberapa hari sebelum hari-H.

__ADS_1


"Wah, seru tuh. Boleh-boleh Sol. Lo siapin becaknya dan disulap menjadi sekeren mungkin becaknya," sahut Dewa menanggapi usulan Sol.


Maka kini kedua mempelai itu menaiki sebuah becak. Becak milik Mang Kemed salah seorang warga kampung Cibening yang disewa oleh Sol. Becak itu dihias dengan ornamen khas pernikahan seperti janur kuning dan bunga-bunga. Di belakang becak sudah bersiap para rombongan penabuh rebana untuk mengiringi perjalanan pengantin menuju tempat resepsi.


"Teh Mimin, Teh Mimin, Teh Mimin."


"A Dewa, A Dewa, A Dewa."


"Teh Mimin, Teh Mimin, Teh Mimin."


"A Dewa, A Dewa, A Dewa."


Anak-anak kecil besorak sorai meneriakkan nama kedua mempelai ketika pasangan itu akan menaiki becak. Membuat Mimin semakin tertunduk malu. Seandainya saja Mimin tahu jika semua ini adalah idenya Sol. Mimin mungkin akan mencincang habis pria itu hingga tak tersisa.


Becak pun melaju ketika kedua pengantin sudah duduk di atasnya. Diiringi syair salawat oleh rombongan penabuh rebana. Dan para warga yang hadir juga turut berjalan kaki di belakangnya mengiringi pengantin menuju tempat resepsi.


Selama dalam perjalanan, Mimin yang sifatnya memang pemalu hanya tertunduk. Ia tak berani untuk mengangkat wajahnya karena terlalu malu. Sementara Dewa justru kebalikannya, ia tersenyum lebar-lebar hingga tampak deretan gigi rapi dan putihnya. Seraya tersenyum, ia melambaikan tangannya bak seorang Raja yang tengah disambut rakyatnya.


Benar-benar jadi Raja gue hari ini. Gumamnya dalam hati.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca cerita ini. Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️❤️


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2