Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Beretos Cafe


__ADS_3

"Tolong jangan panggil saya Bapak. Cukup panggil Deka saja," pinta Deka.


Mimin mengangguk ragu. "Baiklah Pak. Ee... Maksud saya... baiklah Deka," ucapnya.


Deka tersenyum lebar. "Nah, begitu. Lebih enak terdengar di telinga."


"Jadi Bapak... Eh, Ka Deka. Aku panggil Ka Deka saja, boleh?" tanya Mimin.


"Emmm... Boleh. Not bad. Lebih indah terdengar di telingaku," kata Deka.


"Emmm... Ka Deka mau minum apa?"


"Apa saja. Minuman apapun asal kamu yang bikin, akan terasa enak kurasa," ujar Deka seraya memandang wajah Mimin dengan pandangan mupeng.


Mimin menundukkan pandangannya. "Tunggu sebentar, Ka," ucapnya. Lalu dengan gestur kikuk berlalu meninggalkan Deka.


Mimin hendak menuju dapur lalu mendapati abahnya tengah menonton televisi di ruang keluarga bersama Mami. Mimin menghampiri Abah dan Mami yang sedang tertawa-tawa menonton acara stand up comedy.


Ingat...!! Rokok itu tidak berbahaya bagi kesehatan... asalkan tidak ada koreknya.


"Hahahaha..." Abah dan Mami tertawa terbahak-bahak mendengar kutipan kalimat yang diucapkan sang Komika.


"Abah...!" seru Mimin.


"Iya Teh..." sahut Abah.


"Di depan, ada teman kerja Teteh... katanya mau cari kontrakan," tutur Mimin.


"Lah, kan kontrakannya sudah penuh Teh... ga ada yang kosong," kata Abah.


"Loh kontrakan pintu nomor 7 bekas Bu Sulis itu bukannya kosong, Bah?"


"Udah ada yang mau ngisi. Kemarin orangnya udah ngasih DP."


"Aduh gimana ya... Teteh udah terlanjur bilang ada yang kosong." Mimin menggaruk kepala yang tertutup jilbabnya meski tidak merasa gatal. "Teteh jadi ga enak sama Pak Deka," keluhnya.


"Ya sudah kalau Teteh ga enak ngomongnya. Biar Abah saja yang ngomong sama temen Teteh itu," saran Mami.


"Iya ya Bah... tolong Abah yang bilang sama Pak Deka," pinta Mimin.


"Namanya Pak Deka?" tanya Abah.


Mimin mengangguk. "Iya."


Abah berdiri dari tempat duduknya. "Ya sudah Abah temui Pak Deka dulu," ucapnya.


"Abah sekalian mau dibuatkan kopi?" tawar Mimin.


"Boleh. Biasa yah pahit... jangan dikasih gula," pesan Abah.


"Ok."


Mimin beranjak menuju dapur membuatkan minuman untuk Deka dan abahnya.


"Assalamualaikum," sapa Haji Zaenudin.


"Eh... Wa-waalaikum salam," balas Deka.


Haji Zaenudin mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Deka berdiri dan menyambut uluran tangan Haji Zaenudin. "Saya Deka, Pak Haji," ucapnya memperkenalkan diri.


"Saya abahnya Mimin," balas Haji Zaenudin.


"Silakan duduk," sambungnya.


Deka kembali duduk seperti posisinya semula.


"Tadi kata Teteh... Eh... Maksudnya tadi kata Mimin, Bapak mau mencari kontrakan?" tanya Haji Zaenudin.


"Iya Pak Haji... saya mau mengontrak di kontrakan Pak Haji agar lebih dekat dengan kantor," tutur Deka.


"Tapi mohon maaf ini Pak Deka, saya...."


"Mohon maaf Pak Haji. Jangan panggil Bapak ah. Saya ini masih bujangan Pak Haji... belum pernah menikah," ujar Deka sebelum Haji Zaenudin menyelesaikan ucapannya. (Author: Kamu memang masih bujangan, tapi kamu bukan perjaka Deka!!!. Dan author tersenyum sinisšŸ˜’).


"Oh..." Haji Zainudin ber-oh seraya menatap Deka dari atas sampai bawah. Dari puncak kepala hingga lutut Deka. Karena kaki Deka tidak tampak oleh mata, terhalang meja.


"Jadi begini Pak Deka... Eee... Deka. Tiga hari yang lalu kontrakan Abah memang masih ada yang kosong satu, tapi sekarang sudah ada yang mau mengisi," tutur Haji Zaenudin.


"Wah... sayang sekali. Padahal kemarin saya sudah mengatakan pada Jasmin kalau saya mau mengontrak di sini."


"Iya mohon maaf... Mimin belum tahu kalau kontrakannya sudah ada yang memberi DP kemarin lusa."


"Apa tidak bisa kalau...." Deka menghentikan ucapannya karena kedatangan Mimin yang membawa nampan berisi dua cangkir minuman yang menurut tebakannya adalah kopi. Itu karena tercium dari aromanya yang khas.


Mimin meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, satu untuk abahnya dan satu lagi untuk Deka. "Silakan diminum, Ka Deka," ucapnya sopan.


Deka tersenyum, "Terima kasih, Jasmin," balasnya.


Mimin turut duduk di sebelah abahnya.


"Teh... Pak Deka ini mirip sama Kisanak ya," ujar Haji Zaenudin.


"Kisanak itu siapa Pak Haji?" tanya Deka.


"Yang ngontrak di sebelah," jawab Haji Zainudin.


"Oh..."


"Jadi bagaimana, Pak Haji... apa tidak bisa dibatalkan saja?"


"Apa yang dibatalkan Pak Deka?"


"Orang yang mau mengontrak itu."


"Maaf Pak..."


"Deka, Pak Haji. Jangan panggil Bapak," protes Deka.


"Oh, iya. Maaf Deka, Abah ga bisa membatalkan karena orang itu sudah memberikan DP."


"Saya akan membayarnya tiga kali lipat."


"Bukan masalah uangnya... tapi ini tentang janji. Hal itu dalam agama kami tidak diperkenankan. Kalau janji itu harus ditepati. Kalau Deka mau, bisa mengontrak di kontrakan Haji Samud."


"Di mana itu Pak Haji?"

__ADS_1


"Di kampung sebelah."


"Oh, tidak usah Pak Haji... lain kali saja."


"Baik lah kalau begitu. Ayo Deka, silakan diminum kopinya."


"Makasih, Pak Haji."


"Abah tinggal ya. Abah ngopi di dalam saja. Silakan dilanjutkan ngobrol sama Mimin," ujar Haji Zaenudin seraya bangun dari duduknya lalu membawa cangkir kopinya.


"Teteh bawakan kopinya, Bah," kata Mimin.


"Ga usah, Teh. Abah sendiri aja," ujar Abah lalu berlalu menuju ruang keluarga hendak melanjutkan menonton stand up comedy.


"Silakan diminum kopinya, Ka," ujar Mimin setelah abahnya berlalu


"Iya Jasmin. Terima kasih."


Deka mengangkat cangkir kopinya lalu menyeruput isinya perlahan. Ia meringis. Ini kopi apa jamu sih. Pahit banget. Batinnya.


"Kenapa Ka, ga enak yah?" tanya Mimin ketika melihat ekspresi wajah Deka. Mimin membuatkan kopi untuk Deka tanpa gula, seperti kesukaan abahnya.


"Enak kok... hanya agak pahit. Tapi ga masalah... kalau minumnya sambil lihat kamu terasa manis jadinya," gombal Deka.


"Ea... Ea... Ea... Jangan mau digombalin Teh!" seru Opi yang sudah berpakaian rapi ala remaja lengkap dengan sling bag.


"Teh... kalau orang ini macam-macam sama Teteh, bilang Opi ya Teh. Nanti Opi...greek." Tangan Opi memeragakan sedang menggorok lehernya.


"Huuuuss... Opi!!" sentak Mimin.


"Opi pergi dulu ya," ujar Opi.


"Mau ke mana Pi?" tanya Mimin.


"Malam mingguan dong," sahut Opi.


"Udah bilang Abah sama Mami belum?"


"Udah."


"Opi pergi dulu ya... Daaahh..." kata Opi sambilĀ  berlalu.


"Adik kamu mau malam mingguan. Kita juga yuk..." ujar Deka setelah Opi pergi.


Mimin menggelengkan kepalanya.


"Kita makan aja... atau ngopi. Kemarin aku keliling kota ini ada kafe bagus namanya Baretos tapi aku belum masuk ke sana sih. Kita ke sana yuk, Jasmin.ā€


Mimin kembali menggelengkan kepalanya. Deka menghembuskan nafas panjang.


******


Deka menghentikan mobilnya di parkiran Baretos Cafe. Malam minggu tanpa kekasih sangat terasa suntuk baginya. Ia yang begitu berharap akan melewatkan malam minggu bersama Mimin mendesah kecewa karena tak semudah itu ternyata mengajak Mimin ā€œjalanā€. Sungguh wanita yang sulit didekati, disentuh, apalagi ā€œdimilikiā€.


Jika saja ini kota Jakarta, dia akan melampiaskan dengan pergi ke klub malam lalu menunjuk wanita seksi manapun yang ia suka. Menghabiskan malam bersenang-senang dengan para wanita yang menggugah gairahnya.


Sayangnya ini adalah bukan kota Jakarta. Ini adalah kota Serang yang dijuluki ā€œKota Santriā€. Dan selama ia tinggal di kota ini, tak pernah sekalipun ia melihat wanita berpakaian seksi yang mencolok. Justru kebnayakan para wanita di sini menutup kepalanya dengan kerudung.


Deka masuk ke dalam Baretos Cafe memilih duduk di kursi paling sudut. Ia mengerutkan keningnya tatkala membaca daftar menu, didominasi oleh menu panganan tempo dulu yang dibuat kekinian. Seperti surabi durian, surabi coklat, pancong cheese milk dan sebagainya. Untung saja masih ada menu panganan modern yang sesuai dengan lidahnya. Ia memesan manggo jelly milk ice dan pasta.


So you sailed away


(Maka engkau pun berlayar pergi)


Into a grey sky morning


(Menuju pagi berlangit abu-abu)


Now I'm here to stay


(Kini aku tinggal di sini)


Love can be so boring


(Cinta bisa begitu membosankan)


Ā 


Nothing's quite the same now


(Kini tak ada yang sama lagi)


I just say your name now


(Kini hanya kusebut namamu)


But it's not so bad


(Namun ini tak terlalu buruk)


You're only the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


You don't want me back


(Kau tak ingin aku kembali)


You're just the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


So you stole my world


(Maka kau pun curi duniaku)


Now I'm just a phony


(Kini aku hanyalah seorang pembohong)


Remembering the girl


(Yang terus teringat seorang gadis)


Leaves me down and lonely

__ADS_1


(Yang buatku merana dan kesepian)


Send it in a letter


(Kirimkanlah lewat surat)


Make yourself feel better


(Buat perasaanmu lebih baik)


But it's not so bad


(Namun ini tak terlalu buruk)


You're only the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


You don't need me back


(Kau tak butuh aku tuk kembali)


You're just the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


Ā 


And it may take some time


(Dan mungkin perlu sedikitk waktu)


To patch me up inside


('Tuk obati luka hatiku)


But I can't take it


(Namun aku tak tahan)


So I run away and hide


(Maka aku belari dan sembunyi)


And I may find in time that


(Dan kini mungkin kusadari)


You were always right


(Bahwa dulu kau selalu benar)


You're always right


(Kau selalu benar)


Ā 


So you sailed away


(Maka engkau pun berlayar pergi)


Into a grey sky morning


(Menuju pagi berlangit abu-abu)


Now I'm here to stay


(Kini aku tinggal di sini)


Love can be so boring


(Cinta bisa begitu membosankan)


What was it you wanted


(Apa yang kau inginkan)


Could it be I'm haunted


(Mungkinkah kau ingin aku terus gelisah)


Ā 


But it's not so bad


(Namun ini tak terlalu buruk)


You're only the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


I don't want you back


(Aku tak ingin kau kembali)


You're just the best I ever had


(Engkau hal terbaik yang pernah kumiliki)


The best I ever had


(Hal terbaik yang pernah kumiliki)


The best I ever


(Hal terbaik yang pernah kumiliki)


(Best I Ever Had, by. Vertical Horizon)


Suara penyanyi pria itu begitu menghipnotisnya, hingga ia tak sadar penyanyi pria itu sudah menyelesaikan lagunya. Dan suara riuh tepuk tangan pengunjung kafe mengusik hatinya. Membuatnya ingin mengetahui siapakah pria bersuara khas yang telah dengan sukses menyanyikan lagu Best I Ever Had milik Vertical Horizon.


Deka mengangkat wajahnya. Ia tercengang ketika melihat seorang pria tampan dengan rambut gondrong sebahu, mengenakan jeans denim dan t shirt warna hitam sedang duduk di kursi di atas panggung kecil sambil memegang gitar dan menebar senyum kepada seluruh pengunjung kafe.


ā€œDewa..... ā€œ

__ADS_1


__ADS_2