
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na
(Kepompong. Sindentosca)
Malam harinya Dewa kembali pergi ke tempat Mang Entis, menemani Pipit untuk memberikan hasil kebun sebagai hadiah dari Nini untuk keluarga Mang Entis. Kali ini mereka berangkat dengan menggunakan motor.
Seperti siang tadi, Dewa kembali duduk di bawah pohon asem, menunggu Pipit selesai dengan urusan mengantar pemberian Nini kepada keluarga Mang Entis.
"Astagfirullahal adzim!" pekik Jejed yang terlonjak kaget karena melihat sosok Dewa di bawah pohon asem.
"Kenapa lo Jed?" tanya Sol.
"Be-bener han-hantu. De-Dewa ...." Bibir Jejed sampai bergetar mengucapkannya.
Sol turut melemparkan pandangannya pada pohon asem.
"Huaaa ... Benar gue 'kan Jed?" Sol dan Jejed saling berpelukan, saling menenggelamkan wajah di bahu kawannya.
Sementara di bawah pohon asem, Dewa tertawa cekikikan melihat tingkah konyol kedua pria yang masih asing baginya.
"Kalian kenapa sih!" tegur Mang Entis yang kegelian melihat Sol dan Jejed tengah berpelukan dengan mata terpejam dan mulut berkomat-kamit membaca ayat kursi.
"Ada hantu, Mang," sahut Jejed dengan tidak mengubah posisinya, masih berpelukan bersama Sol.
"Hantu apa?"
"Di bawah pohon asem."
Mang Entis memutar kepalanya mengalihkan pandangannya pada pohon asem. "Kang Asep ... sini!" teriaknya memanggil Dewa.
Sol dan Jejed sontak saling melepas pelukan karena teriakan Mang Entis. Dilihatnya Dewa tengah melangkah menghampiri mereka.
"Sol, Bim, kenalin ... ini Kang Asep." Mang Entis memperkenalkan mereka.
Sol dan Jejed saling berpandangan dengan raut bingung. "Kang Asep???!"
Dewa menyalami Sol. "Saya Asep."
Lalu menyalami Jejed. "Saya Asep."
Sol dan Jejed hanya melongo, tak mampu berucap kata.
"Kang Asep, ikut ngumpul ya di sini, bantu-bantu kami," kata Mang Entis.
"Iya, Mang. Tapi maaf ga bisa lama-lama karena lagi nungguin Pipit," sahut Dewa. Bertepatan dengan suara Pipit memanggil namanya.
"Tuh, Pipit udah manggilin. Saya permisi ya, Mang. Assalamualaikum," pamit Dewa.
"Waalaikum salam." Ketiganya kompak menjawab salam.
Dewa berlalu meninggalkan ketiganya untuk menemui Pipit di tempat ia memarkirkan motornya.
"Asep mirip banget sama Dewa, ya," ujar Jejed.
"Ho oh. Apa jangan-jangan Pak Satya punya selingkuhan di kampung ini, ya. Jadi punya anak Asep yang mirip sama Dewa," sahut Sol.
"Kalian lagi ngomongin siapa sih?!" tanya Mang Entis.
"Asep," jawab Sol.
__ADS_1
"Dewa," jawab Jejed. Keduanya menjawab dengan serentak, tapi dengan jawaban yang berbeda.
Mang Entis mengerutkan kening. "Jadi ngomongin siapa? Asep apa Dewa?" tanyanya.
"Dua-duanya." Sol dan Jejed kompak menjawab.
"Asep itu mirip sama sahabat kami, Mang," jelas Jejed.
"Ooooh." Mang Entis mangut-mangut sejenak lalu berkata lagi, "Asep itu, menurut yang mamang denger dari kegiatan menggibah para ibu-ibu waktu memasak tadi, katanya Asep itu kena insomnia makanya dia lupa ga ingat namanya siapa."
"Maksudnya Asep lupa ingatan, Mang?" tanya Sol.
"Iya." Mang Entis mengangguk.
"Itu namanya anemia, Mang ... bukan insomnia," ralat Sol dengan penuh percaya diri.
"AMNESIA ... Dodooool!!" Jejed menoyor kepala Sol.
"Ya ampun, ketuker gue. Mirip soalnya."
"Sol, kalau begitu ceritanya, jangan-jangan Asep adalah ... DEWA." Sol dan Jejed kompak menyebut nama Dewa di akhir kalimat tadi.
Kemudian mereka bertanya tentang tempat tinggal Dewa. Mang Entis menjelaskan sejelas-jelasnya letak rumah Aki Rusli sebagai tempat tinggal Asep alias Dewa.
"Jed, besok kita samperin si Asep alias Dewa itu," lontar Sol.
"Setuju," sahut Jejed mantap.
Selepas salat subuh, Sol dan Jejed sudah berada di depan halaman rumah Aki Rusli. Mereka memutuskan untuk mengintai dahulu gerak-gerik Dewa. Jangan sampai mereka salah orang.
"Jed, kita pastikan dulu dia itu bener Dewa atau bukan," kata Sol.
"Caranya?"
"Kita periksa punggungnya. Kalau dipunggungnya ada ta*i kebo berarti bener itu si Dewa."
"Ta*i lalat, Sol!" tegur Jejed.
"Ya gak segede ta-i kebo juga lah Sol, yang dipunggungnya si Dewa itu."
"Jed, dia keluar tuh." Sol dan Jejed memperhatikan Dewa yang keluar dari rumah lalu melangkahkan kakinya entah mau ke mana.
"Sol, ayo ikutin!"
"Ayo."
Setelah beberapa meter melangkah, di tempat yang cukup sepi, Sol dan Jejed berlari mengejar Dewa. "Asep, tunggu!"
"Kalian?" Dewa terkejut atas kehadiran dua orang yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kamu Asep atau Dewa?" tanya Jejed to the point.
Dewa diam saja tak menyahut. Sebab ia pun tak tahu siapa dirinya.
"Udah Jed, kita buktikan saja sendiri dia Dewa atau bukan." Sol mendekap tubuh Dewa dari depan, sedangkan Jejed berusaha menyingkap kaos di bagian punggung Dewa.
"Eh, apa-apaan kalian? Kalian mau mesum ya?" Dewa meronta-ronta.
"Enak aja mesum! Sory ga doyan terong kita mah. Kita mau buktikan kamu Dewa apa bukan."
"Beuh, ada ta-i kebonya, Sol."
"Mana? Coba gue lihat." Sol beralih ke belakang tubuh Dewa dan melihat tahi lalat Dewa di punggungnya.
"Lo bener Dewa sobat kami. Lo ga ingat kami, Wa?" tanya Sol.
Dewa menggelengkan kepalanya.
"Sol, ayo kita kasih yel yel," usul Jejed.
"Ayo," sahut Sol.
"LAKOTUM BAND tumben tumben tumben yes!"
__ADS_1
Dewa melongo dengan bibir sedikit tertarik karena ingin tersenyum.
"Ga inget, WA?"
Dewa menggeleng lagi.
Merasa banyak yang harus dibicarakan, Sol dan Jejed mengajak Dewa menepi. Mereka duduk di sebuah batang pohon bekas ditebang. Bercengkerama di suasana pagi yang masih terasa sejuk dan dingin.
"Jadi begitu, Wa. Lo ingat, ga?" Sol dan Jejed baru saja selesai menceritakan kejadian kecelakaan yang menimpa Dewa.
Dewa menggeleng.
"Jadi, begini aja. Besok subuh lo ikut kami pulang, ya. Istri dan anak lo kangen banget sama lo," ujar Sol.
"Sebelumnya lo harus ngomong dulu sama Aki, berpamitan kalau lo mau ikut kami pulang," kata Jejed.
Dewa mengangguk.
"Sekarang kami mau balik ke rumah Mang Entis dulu, khawatir Mang Entis nyariin. Nanti habis ini lo ke rumah Mang Entis juga ya, biar kita ngobrol lagi di sana," ujar Jejed.
"Enggak bisa, saya masih ada pekerjaan," sahut Dewa.
"Kalau nanti sore bisa?"
"Insyaallah."
"Nanti sore kita tunggu di rumah Mang Entis ya," ujar Sol.
"Sekarang kami pulang dulu ya, Wa."
Dewa mengangguk.
Sebelum Sol dan Jejed meninggalkan Dewa, keduanya kompak memeluk Dewa sambil menangis tersedu.
"Ya Allah, alhamdulilah. Ternyata lo masih hidup, Wa. Huuu ... Huuu ..." Sol menangis sampai cairan bening keluar dari mata dan hidungnya.
"Kita kangen lo, WA. Tanpa lo, hidup kita kurang Yes. Huuuaa ... Huuuaa ..." Jejed juga tak dapat membendung tangisnya.
Meskipun Dewa belum mengingat sosok dua pria yang kini tengah menangis di pelukannya. Namun, ada sebuah kehangatan menelusup masuk ke ruang hampa hatinya. Sangat terasa hangat.
*****
Sore hari.
Pipit keluar dari salon spa tempatnya bekerja. Biasanya, Dewa sudah menunggu di depan salon untuk menjemputnya. Namun sore ini, sudah lima belas menit menunggu, belum tampak kehadiran Dewa di sana. Hingga ia memutuskan untuk pulang naik angkot.
Turun dari angkot, Pipit berjalan dari depan gang kampung Ciherang. Jarak yang ditempuh dari depan gang untuk sampai ke rumahnya lumayan jauh, sekitar dua puluh menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Ia sedang berjalan menunduk, sambil sesekali menendang batuan kecil dengan ujung sneaker murahan yang membungkus kakinya. Lalu tiba-tiba ia dikejutkan dengan sepasang tangan kekar menyentuh dua lengannya dari belakang. Sontak, ia memutar tubuhnya.
Matanya membola ketika mendapati pria yang berdiri di belakangnya. "Jefri!" serunya terkejut.
Ia berniat akan lari sekencangnya untuk menghindar dari pria itu, namun terlambat. Pria bernama Jefri itu telah lebih dulu mencekal lengannya kuat.
"Mau ke mana kamu, Pit? Ga kangen sama suamimu, Hah?" Sorot mata Jefri tajam menatapnya.
"Saya udah bukan istrimu lagi!" Sekuat tenaga Pipit berusaha melepaskan diri.
"Kamu tetap istri saya!"
"Kita sudah bercerai!"
"Saya tidak pernah setuju dengan perceraian itu!" bentak Jefri.
.
.
Karena kepanjangan dobel up ya. Jangan lupa di Like dua2nya
__ADS_1