Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Extra part 4


__ADS_3

Mimin dan Dewa telah pindah dari rumah Abah ke tempat tinggalnya semula sebelum kejadian kecelakaan Dewa. Rumah yang adalah milik Deka. Pindah rumah ini adalah keinginan Dewa.


"Neng, kita pindah aja ya. Di sini 'kan udah ada Ririn. Kalian mirip banget, Aa ngeri ketuker." Dewa bergidik ketakutan membayangkannya.


Meskipun berat karena akan berjauhan dengan Syad, Abah dan Mami akhirnya mengizinkan mereka pindah.


"Masih deket ini. Di Serang keneh, Mih," bujuk Mimin pada Mami agar mengizinkannya pindah.


"Tapi, nanti kalian sering datang ke sini, ya."


"Pasti dong, Mih. Kita pasti sering main ke sini. Mami, Abah dan Ririn juga harus sering main ke rumah, ya."


Kini hampir sebulan sudah keluarga kecil itu tinggal di rumah lamanya.


Sang fajar hampir menghilang, sebentar lagi sang surya yang akan mengganti kedudukannya. Mimin masih bergelung dalam selimutnya. Sementara Dewa sudah lebih dulu bangun lalu melaksanakan salat subuh.


Syad terbangun tepat saat Dewa pulang dari masjid. Dewa langsung menggendong Syad, agar tak mengganggu tidur istrinya. Raut wajah kelelahan Mimin membuatnya berpikir untuk membiarkan Mimin tertidur sebentar lagi.


"Neng sayang, bangun." Karena langit subuh sudah hampir terang, Dewa tentu harus membangunkan Mimin untuk melaksanakan salat subuh.


Mimin hanya menggeliatkan tubuhnya. Lalu kembali menarik selimutnya sampai ke pangkal leher.


"Syad, ayo bangunin Bunda." Dewa menelungkupkan Syad di atas tubuh Mimin.


"Bangun, Sayang. Nyenyak amat tidurnya." Dewa mengusap-usap pipi Mimin.


"A, neng pusing," sahut Mimin dengan mata yang masih terpejam.


"Neng sakit?" Dewa meletakkan tangannya di dahi Mimin untuk mengecek suhu tubuh Mimin. "Tapi ga demam, Neng."


"Jam berapa ini A?"


"Setengah enam."


"Udah siang ya."  Mimin membuka mata dan beringsut bangun.


"Iya, makanya solat subuh dulu gih."


Baru saja duduk, ia merasakan mual.


"Hoeek." Setengah berlari, Mimin beranjak menuju kamar mandi. Lalu memuntahkan isi perutnya.


"Neng kenapa? Sakit?" Dewa memijit lembut tengkuk Mimin sembari menggendong Syad.


"Enggak tau, A," jawab Mimin setelah merasa lebih baik. "Beberapa hari ini suka mual kalau pagi," sambungnya.


"Apa jangan-jangan Neng hamil ya?"


"Masa sih, A. Aa 'kan baru sebulan pulang. Masa cepet amat hamil."


"Eh, siapa tau aja. Ini pasti gara-gara Neng sering diatas, jadi cepet hamil," goda Dewa.


"Ih, apaan sih." Mimin memukul pelan lengan Dewa. "Syad sama Ayah dulu ya, bunda mau solat dulu," lanjutnya seraya mencium pipi Syad.


"Ayahnya ga dicium juga nih?"


"Enggak, jangan. Neng belum gosok gigi nanti Aa pingsan."


"Kalau begitu aa aja yang nyium. Mmuach ...." Dewa mencium pipi Mimin.


"Udah udah, takut matahari naik dulu, Neng belum solat." Mimin mendorong pelan tubuh Dewa.


Dewa pun akhirnya keluar setelah sebelumnya menyempatkan mencium pipi Mimin sekali lagi.


Mimin segera mengambil wudu, kemudian menunaikan salat Subuh.


Hari berikutnya Mimin masih merasakan mual ketika subuh dan jika mencium bau makanan tertentu. Bahkan, ia yang begitu menggemari bakso malah berubah membenci bakso. Menimbulkan kecurigaan tentang kemungkinan Mimin tengah hamil.


Setelah melakukan tes kehamilan dengan alat testpack, hasilnya ternyata Mimin benar-benar hamil. Perasaan Dewa dan Mimin campur aduk ketika mengetahui kehamilan anak kedua. Antara rasa terkejut, senang dan khawatir.

__ADS_1


Terkejut karena tak menyangka secepat ini, padahal dulu mereka harus menunggu hingga dua tahun untuk kehamilan anak pertama. Senang karena ini adalah rezeki dari Allah. Lagipula Dewa memang bercita-cita memiliki anak yang banyak. Namun, ada sedikit rasa khawatir ketika mengingat usia Syad yang masih kecil yaitu 1 tahun 3 bulan.


"Ya Allah Teh, Syad masih kecil malah udah punya adik." Begitu reaksi Mami saat mendengar kabar kehamilan Mimin.


"Ih, Mami. Ya gimana, namanya teteh punya suami."


"Jangan begitu. Ini rezeki dari Allah, harus disyukuri. Syad insyaallah akan semakin pintar dengan punya adik," ujar Abah bijak.


"Iya, Mih. Kalau ga punya suami terus hamil itu baru serem," timpal Ririn.


"Iya, alhamdulilah. Kami memang pingin punya anak yang banyak," sahut Dewa.


"Astagfirullah iya ya. Kalau begitu alhamdulillah ya Teh. Mami doakan semoga Teteh dan bayinya selalu sehat dalam lindungan Allah."


"Amin," sahut semuanya kompak.


Jika pada kehamilan pertama, Mimin tak merasakan gejala layaknya wanita ngidam, di kehamilan kedua ini justru penuh perjuangan Mimin melewati masa-masa ngidam.


Saat masa ngidam, hal yang paling dihindari adalah tukang bakso. Mencium aroma bakso yang lewat depan rumah saja membuat Mimin mual dan muntah-muntah.


Dewa sampai harus berputar arah jika melewati gerobak bakso ketika tengah membonceng Mimin dengan motornya. Bahkan di depan rumah ia sengaja memasang banner bertuliskan, "Maaf bakso dilarang lewat sini. Istriku sedang musuhan sama bakso."


Waktu terus bergulir. Terasa cepat bagi yang bahagia. Terasa lambat bagi yang tersiksa. Terasa sesak bagi yang menunggu. Terasa lama bagi yang menanti. Dan setelah penantian panjang, melalui hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, kini kehamilan Mimin sampai di usia jalan 35 minggu.


Sudah lima hari Mimin menginap di rumah mertuanya bersama Dewa dan Syad. Di kehamilan kedua ini, Mimin mengandung anak kembar.


Demi keselamatan menantu dan cucunya, Pak Satya meminta agar Mimin melahirkan di Jakarta. Pak Satya akan menyiapkan rumah sakit dan dokter terbaik untuk persalinan Mimin.


"Padahal neng ingin lahiran di Serang. Syad 'kan lahir di Jakarta. Yang kedua maunya di Serang," keluh Mimin.


"Demi keselamatan Neng dan si kembar, lahiran di Jakarta aja, ya. Next anak ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, insyaallah lahiran di Serang," bujuk Dewa.


Dewa yang juga khawatir akan keselamatan anak dan istrinya, memutuskan untuk mengikuti keinginan Papa. Apalagi Dokter menyatakan kehamilan Mimin mengalami prolaps tali pusat. Adalah suatu kondisi di mana tali pusar atau tali pusat bayi berada mendahului kepala bayi di leher rahim (serviks). Kemungkinan besar, Mimin akan menjalani proses persalinan caesar.


Bu Dewi (Mama) tersenyum sumringah setelah berhasil membuat kue klepon bersama dua menantu cantiknya. Mimin dan Ririn.


"Enak, Mah," ujar Mimin seraya mengicip kue klepon.


"Mama cuma bisa bikin klepon aja. Karena ini kue kesukaan Papa. Kalau bikin kue yang lain mama ga bisa, hehehe," sahut Mama diiringi tawa bahagia. Setelah bertahun lamanya hanya memiliki dua anak laki-laki, kini Mama memiliki dua anak perempuan. Menantu sama juga dengan anak, bukan?.


"Bu, ini hapenya dari tadi bunyi. Telepon dari Den Deka," lapor Bi Siti seraya menyerahkan ponsel pada Bu Dewi.


"Hape kamu ke mana, Rin?" tanya Mama sebab Deka malah meneleponnya, bukan menelepon Ririn.


"Gak kebawa, Mah. Ketinggalan di rumah."


"Oh, gitu. Pantas Deka nelepon mama."


"Assalamualaikum, Mah." Suara Deka di ujung telepon terdengar cemas.


"Waalaikum salam. Ada apa, Bang?"


"Ririn ada di sana, Mah?"


"Loh, memangnya kamu gak tahu Ririn ke mana?"


"Emmm ...."


"Ririn ada di sini sejak tadi pagi."


"Alhamdulillah. Ya sudah, Mah. Sekarang Deka ke sana. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Dan telepon terputus.


"Ririn sayang, memang Deka ga tahu kalau kamu pergi ke sini?" tanya Mama.


"Tadi mau telepon, Abang. Tapi ga nyambung. Jadi, Ririn langsung ke sini."

__ADS_1


"Oh, gitu. Bilangin ke Deka jangan terlalu sibuk. Biar kalian bisa cepet punya anak."


Gimana mau punya anak, kalau .... Batin Ririn.


"Iya, Mah," sahut Ririn singkat.


"Astagfirullah, udah mau jam dua. Mama belum solat duhur."


"Solat dulu, Mah. Jangan gara-gara klepon Mama jadi ga solat," timbrung Dewa. Menghampiri ketiga wanita yang tengah duduk di meja makan.


"Iya, iya. Mama solat dulu, ya." Mama berdiri dan beranjak untuk menunaikan salat.


"Syad udah tidur A?" tanya Mimin.


"Udah, barusan aja tidur. Diusap-usap sebentar doang langsung tidur. Neng juga istirahat, yuk."


"Iya, Min. Istirahat sana. Bumil harus banyak istirahat," sahut Ririn.


"Gak papa aku tinggal, Rin?"


"Gak apa-apa."


"Tuh, kayaknya suara mobil Bang Deka," ujar Dewa.


"Ya udah, Rin. Aku tinggal ya?"


"Iya. Hati-hati."


Dewa menuntun Mimin menuju kamar. Ukuran perut Mimin dua kali lebih besar dari saat hamil Syad dulu karena mengandung anak kembar.


Dewa dan Mimin telah masuk ke dalam kamar ketika Deka datang lalu menghampiri Ririn.


"Sayang." Deka mengecup puncak kepala Ririn yang tengah duduk di kursi meja makan.


"Aku tadi istirahat pulang ke rumah, kamu ga ada. Aku khawatir. Takut kamu pulang ke Subang," ujar Deka dengan raut cemas. Lalu mengambil posisi duduk di sebelah Ririn.


"Aku memang berpikir mau pulang ke Subang aja."


"Jangan, Sayang. Nanti siapa yang ngurusin aku."


"Sepertinya Abang ga butuh aku."


"Sayang, jangan kayak gitu. Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku butuh kamu." Deka meraih tangan Ririn.


Banyak yang ingin disampaikan Deka kepada Ririn. Namun urung karena teriakan Dewa.


"Maaah. Si Neng kenapa nih!" teriak Dewa dari dalam kamar.


.


.


.


.


Maaf ya, loncatnya jauh banget ya. 😁😁


Setelah berpikir, kayaknya kasian kalau cerita Bang Deka cuma ditulis di extra part. Kayaknya aku mau buat judul baru aja. Mengangkat harkat dan martabat Bang Deka jadi tokoh utama.


Kapan??


Belum tahu. 🤭🤭


Doakan semoga aku dan keluarga selalu sehat. Mood bagus. Ide lancar. Waktu yang luang. Biar bisa lancar nulisnya.


Pastikan GBM masih di favorit ya. Nanti aku umumkan di sini ya, cerita sang mantan cassanova.


Terima kasih dukungannya. ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Love U 💓💓💓💗


__ADS_2