Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Malaikat Tak Bersayap


__ADS_3

"Sori ... gue ga sengaja. Lo engga ap...." Dewa tak melanjutkan kalimatnya. Kalimatnya menguap begitu saja ketika gadis berkerudung merah yang semula menunduk karena kesakitan, kini mengangkat wajahnya.


Omegos apakah ini yang dinamakan bidadari. Batinnya.


Sumpah demi apa ini adalah wanita paling cantik yang pernah ia temui. Lebih cantik dari Clara apalagi dengan empat wanita yang sengaja Mama bawa ke rumah beberapa hari kemarin.


"Ma-maf a-aku ga sengaja. Kamu enggak apa-apa?" tanyanya. Tidak ada kata "lo gue lo gue" berganti menjadi "aku dan kamu".


"Ehem...." Dewa berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Mana mungkin rocker gugup kaya begini karena cewek. Batinnya.


Gadis berkerudung merah itu terus memegang dahinya beberapa saat. Sampai ia menyadari tangannya terasa basah dan lengket. Ia melepaskan tangan yang sedari tadi menempel di dahi, lalu melihat keempat ujung jarinya yang basah dan lengket berwarna merah. Gadis itu terkejut, begitu pun dengan Dewa.


"Darah!!" seru Dewa terkejut.


"Kamu berdarah. A-ayo kita ke rumah sakit," seru Dewa panik.


"Wah berdarah itu kepala si Neng. Wah bocor kayaknya," kata seorang ibu yang kebetulan berada dekat dengan mereka.


"Bu, di mana rumah sakit?" tanya Dewa.


"Ke klinik aja Mas. Tuh di seberang ada klinik," ujar si Ibu sambil menunjuk sebuah bangunan di seberang kampus agak ke kiri sedikit. Dewa membaca tulisan yang tertera di bangunan itu. Klinik Ikhlas Medika.


"Ayo kita ke klinik. Luka kamu harus di obati. Aku yang tanggung jawab," ujarnya. Ia hendak menggandeng tangan gadis itu namun segera ditepis sebelum tangannya berhasil menyentuh tangan gadis itu.


"Eee..." Dewa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia memahami gadis cantik di depannya ini tidak ingin disentuh.


Kedua insan berlainan jenis itu menyeberang jalan dengan mudah karena jalan raya memang sepi dan lengang. Meraka berjalan menuju klinik yang dituju.


"Sus tolong, ini kepalanya berdarah," ujar Dewa kepada perawat penjaga di klinik itu.


Perawat itu memperhatikan luka di dahi gadis berkerudung merah.


"Silakan langsung masuk ke ruangan tindakan saja Mas," jawab perawat.


"Di mana?"


"Itu Mas." Perawat itu menunjuk sebuah ruangan di depannya.


"Oh, iya terima kasih, Sus."


Dewa dan gadis itu pun masuk ke ruangan. Ada seorang dokter wanita di sana yang sedang berjaga.


"Duh, kenapa itu?" tanya sang Dokter. Dewa tersenyum kikuk menanggapi pertanyaan dokter. Sementara gadis itu hanya menunduk dengan raut wajah kesal.


Dokter segera menangani luka di dahi gadis itu. Dewa berdiri di samping brankar memperhatikan dokter yang sedang memeriksa luka gadis itu.


"Wah, ini lukanya lumayan dalam jadi harus dijahit ... " kata Dokter sambil mengamati luka. Gadis cantik itu meringis.

__ADS_1


"Lebih baiknya seperti itu ... agar menghindari terjadinya infeksi sekaligus mencegah sobekan luka semakin dalam," sambung Dokter. Gadis cantik itu semakin meringis. Dewa merasa tak enak dibuatnya. Dewa dan gadis itu sama-sama diam, tak menanggapi ucapan dokter.


"Dijahit ga sakit kok Mba ... seperti digigit semut aja," bujuk sang Dokter. Kemudian Dokter itu melirik Dewa "Apalagi ditemenin sama Ayang Beb ... ga kerasa sakitnya," goda sang Dokter.


Gadis cantik itu semakin menekuk wajahnya karena merasa kesal. Namun Dewa justru tersenyum meski samar agar tak terlihat. Ya ampun lagi kesel aja wajahnya tetap terlihat cantik. Gumamnya dalam hati.


"Gimana? Gak apa-apa yah dijahit?" Dokter meminta persetujuan gadis itu. Setelah terdiam sejenak dan berpikir, akhirnya gadis itu mengangguk, menyetujui usulan dokter.


"Maaf boleh dibuka kerudungnya?" tanya Dokter itu.


Gadis itu menatap dokter lalu melirik tajam ke arah Dewa dan memelototinya. "Kamu keluar jangan di sini!" Meski gadis itu tak berbicara, namun Dewa seolah paham pasti kalimat itu yang ingin diucapkannya. "Aku keluar dulu ya," sahut Dewa. Bertepatan dengan seorang perawat memasuki ruangan itu.


"Mas ... silakan mengurus administrasinya dulu," seru perawat.


"Baik, Sus," jawab Dewa.


"Ke bagian pendaftaran dulu yah, Mas," kata perawat itu.


"Oh, ok ok."


Dewa berjalan menuju tempat pendaftaran. Klinik tampak sepi. Hanya ada satu dua orang saja yang terlihat di sana, sedang menunggu obat di apotek. Itu pun semuanya adalah wanita. Hanya dia satu-satunya pria yang ada di klinik itu.


"Permisi Sus ... saya mau mengurus administrasi...." Dewa tampak bingung, "Eee...."


"Oh, Mba cantik yang kerudung merah tadi yah, Mas." Perawat itu masih hafal dan mengingat rupanya. Dewa mengangguk seraya tersenyum ramah.


"Namanya siapa, Mas?" tanya Perawat.


"Bukan namanya Mas, tapi nama istrinya," ujar perawat itu. Apa? gue dikira suaminya? Amin aja lah. Batinnya.


"Istrinya apa pacarnya Mas?" tanya Perawat itu lagi.


"Iya," ucapnya sambil mengangguk ragu.


"Iya yang mana nih Mas, kan pertanyaannya dua, jadi istri atau pacar?"


"Eee... Emm..."


"Ooo... Pacar dan sebentar lagi mau jadi istri. Begitu ya, Mas?" Perawat itu menyimpulkan sendiri sebelum Dewa menjawab.


"Eee... I-iya." Tidak ada pilihan lain. Yang terbaik adalah menjawab "Iya". Tanpa disadari di dalam lubuk hatinya diam-diam merasa senang juga dengan "tuduhan" Perawat itu. Tuduhan sebagai "calon suami" si gadis berkerudung merah.


"Jadi... pasien atas nama siapa?" tanya Perawat membuyarkan lamunannya.


Dewa tentu saja belum tahu nama gadis itu. Mereka belum berkenalan. Tapi kalau mau menjawab jujur bahwa ia belum tahu nama gadis itu, rasanya idak mungkin, bisa-bisa ditertawakan perawat itu karena sudah mengaku sebagai calon suami gadis itu.


"Mala ... namanya Mala," jawab Dewa.

__ADS_1


"Ada kartu BPJS?"


"Oh, saya enggak punya kartu BPJS"


"Jadi pakai umum saja ya?"


"Iya, Sus."


"Sudah pernah periksa di sini sebelumnya?"


"Belum."


"Kalau begitu saya buatkan kartu berobat ya." Perawat mengambil sebuah kartu dan menuliskan sesuatu di sana. "Tadi nama pasien Mala yah. Mala apa Mas?" tanya Perawat sambil menulis.


Malaikat tak bersayap. Tapi kalimat itu tak terucap. Cukup dirinya saja yang tahu.


"Mala aja," jawabnya. Postur tubuh Dewa yang tinggi membuat ia bisa membaca sesuatu yang dituliskan perawat itu. "Sus, kok 'aja' nya ditulis. Maksud saya ... namanya Mala aja, Mala doang tapi jangan ditulis 'aja' atau 'doang'," protesnya.


"Oh, begitu." Perawat itu mengangguk-angguk.


"Ini kartunya Mas ... kalau kapan-kapan berobat ke sini lagi, bawa kartu ini." Perawat itu menyerahkan sebuah kartu.


"Terima kasih, Sus."


"Sama-sama. Silakan Mas menunggu dokter selesai melakukan tindakan."


"Oh, ok ok."


Dewa duduk di kursi panjang. Kursi yang biasa digunakan untuk pasien maupun keluarga pasien ketika menunggu antrian pemeriksaan dokter. Setelah beberapa menit menunggu, seorang perawat yang ada di ruangan tindakan keluar menghampirinya.


"Mas ... ini resep obatnya sama kwitansi pembayarannya. Mas silakan ke apotik di pojok sana untuk menyerahkan resep obatnya, kemudian Mas ke kasir untuk mengurusi pembayarannya. Nanti kalau sudah selesai di kasir, Mas ke apotik lagi untuk mengambil obatnya," tutur perawat.


"Oh, ok ok," ucapnya sambil mengangguk-angguk.


Dewa melaksanakan arahan perawat. Ia pergi ke apotik untuk menyimpan resep obat. Kemudian ke kasir untuk menyelesaikan pembayarannya. Setelah dari kasir ia berniat untuk ke apotik untuk mengambil obat.  Bertepatan dengan gadis itu keluar dari ruangan tindakan ditemani seorang perawat.


"Tuh Mba ... suaminya," ujar Perawat sambil menunjuk Dewa yang sedang berjalan mendekatinya. Gadis itu mengerutkan kedua alisnya. Hah, apa tadi?? Suami??. Batinnya.


"Mas ... ini istrinya sudah selesai," kata Perawat kepada Dewa.


Gadis itu melotot dan mimik wajahnya seolah bertanya "Kenapa bisa seperti ini?". Dewa membalasnya dengan sebuah senyuman paling manis miliknya, seolah berkata. "Ga masalah, aku happy kok mereka mengira aku suami kamu."


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2