Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
129. GBM S3


__ADS_3

🎶 Kalau ada makanan di meja


🎶 Mejanya ... aku makan


(Btw sahabat semua tau lagu ini yang dipelesetkan Opi ga? Ini lagu dangdut femomenal dari biduan legend Rita Sugiarto. Kalau judulnya, saya kurang tahu)


Oke lah lanjut ....


*****


Cinta 'kan membawamu


Kembali di sini


Menuai rindu, membasuh perih


Bawa serta dirimu


Dirimu yang dulu


Mencintaiku apa adanya.


(Cinta kan Membawamu Kembali, Dewa 19)


Deka menatap lekat tepat pada bola mata berwarna coklat itu. Wanita yang beberapa jam lalu telah menolaknya, menolak lamarannya, kini malah menggamit lengannya.


Dan yang mencengangkan adalah kalimat yang terucap dari bibir ranumnya. Memperkenalkan dirinya sebagai calon suami dan mengatakan akan segera menikah dengannya pada pria yang ....


Siapa pria itu? Deka beralih menatap tajam pria yang berjarak lima langkah di depannya.


"Saha maneh? (siapa kamu?)" salak Jefri.


Deka mengerutkan keningnya, tak paham dengan bahasa yang digunakan pria di hadapannya. Namun dari intonasi suaranya, tentu saja itu bukanlah kalimat sapaan yang menyejukkan.


Deka kemudian beralih menatap Pipit yang masih menggamit lengannya. Sorot mata Pipit seolah mengatakan, "tolong saya!"


"Kamu pegang hape aku." Deka menyerahkan ponselnya kepada Pipit. "Nyalakan kamera, mode video ya," titahnya lagi.


Pipit menerima ponsel Deka dengan raut bingung.


"Saha maneh itu pasti artinya berantem yok, 'kan?" lontar Deka.


"Dan aku gak bakal melawannya, aku mau jadi patung aja. Aku mau menghadapinya dengan elegan. Kamu cukup rekam semua yang dia lakukan ke aku. Oke!" lanjut Deka.


"I-iya." Pipit mengangguk.


"Kamu jangan ikut campur urusan kami!" salak Jefri.


"Kalau saya mau ikut campur aja. Gimana?" sahut Deka.


"Saya hajar kamu!"


"Silahkan!" tantang Deka.


Jefri melangkah mendekati Deka. Tangannya sudah terkepal untuk memberi hadiah sebuah tinju kepada Deka.


"Sekali tanganmu menyentuhku, aku pastikan kamu bakal terancam pasal 351 KUHP!" ancam Deka, lalu menoleh ke arah Pipit. "Rin, kamu siap rekam apa yang mau orang ini lakukan padaku," ujarnya.


Jefri membuka kepalan tangannya, nyalinya ciut seketika karena mendengar ancaman Deka. Baru juga keluar bui, masa iya harus masuk bui lagi, apalagi untuk urusan tak penting ini. Begitu pikirnya.


Setelahnya Jefri memilih pergi meninggalkan Pipit dan Deka.


"Makasih," ucap Pipit kepada Deka setelah Jefri pergi.


"Hemmm." Deka menatap Pipit sejenak, lalu berbalik badan dan sudah melangkahkan kakinya beberapa langkah menjauh dari Pipit.


"Tunggu!" seru Pipit.


Deka menghentikan langkahnya, diam terpaku tanpa menoleh ke arah Pipit. Ini pasti seperti di pilem-pilem 'kan. Pasti habis ini wanita itu akan mengejarnya sambil mengucapkan I love you atau I want to marry you atau apa lah, kalimat romantis sejenisnya. Batin Deka.


Beberapa jenak Deka terdiam terpaku membelakangi Pipit, namun Pipit malah tak menghampirinya dan tak kunjung mengucapkan kalimat seperti tebakannya.


Hal itu sontak membuat Deka penasaran dan segera memutar badan menghadap ke arah Pipit. Dilihatnya Pipit tengah menunduk menatap ponsel Deka. Setelah beberapa saat barulah Pipit mengangkat wajahnya menatap Deka.


"Ini hape kamu." Pipit menghampiri Deka dan mengulurkan tangan menyerahkan ponsel milik Deka. "Aku gak bisa buka hape-nya," sambung Pipit.


Apa? Untung pria tadi ga jadi mukul gue. Gumam Deka dalam hati.


*****


Mimin mengajak Dewa dan Syad berkeliling ke tempat yang mungkin bisa membuka ingatan Dewa. Mulai dari depan kampus UNTIRTA, tempat pertama kali mereka bertemu saat insiden penimpukan itu. Mimin bahkan sengaja membeli sekaleng minuman bersoda merk "Coca Coca" untuk membuka ingatan Dewa.


"Ini tempat pertama kita bertemu," ujar Mimin.


"Aa lihat deh jidat Neng." Mimin menunjukkan keningnya yang terdapat bekas jahitan.


"Kenapa itu?" tanya Dewa.


"Berawal dari kaleng minuman ini yang melayang ke jidat Neng, kita jadi jodoh, dan lahirlah Syad," terang Mimin.


"Kok bisa gitu??" Dewa menggaruk kepalanya bingung.


"Gara-gara Aa, kepala Neng bocor, terus dibawa deh ke klinik depan situ." Mimin menunjuk klinik yang terletak di seberang kampus.


"Kok aku jahat banget sih," sahut Dewa.


"Bukan jahat sih, tapi ... menyebalkan," timpal Mimin.


Setelah dari depan kampus, mereka pergi ke  bengkel Haji Hamid, kantor Mimin, Baretos Cafe dan tempat-tempat penuh kenangan lainnya. Namun, Dewa belum dapat mengingat satu pun tempat-tempat tersebut.


****


"Shodaqollohuladzim." Mimin mengakhiri tilawah saat dilihatnya Syad sudah tertidur pulas. Kebiasaannya ketika menidurkan Syad adalah membaca surah pendek juz amma, mulai dari Alfatihah, An-nas dan seterusnya sembari mengusap punggung bocah kecil itu.

__ADS_1


Beruntung malam ini tak ada drama menjelang Syad tidur. Baru sampai surah Al-Falaq, bocah kecil tampan menggemaskan itu telah menutup rapat matanya, Syad telah tertidur pulas. Mungkin karena kelelahan setelah seharian Mimin mengajaknya jalan-jalan berkeliling kota, menapak tilas tempat-tempat penuh kenangan antara dirinya dan Dewa.


"Cepat sekali Syad tidur," ujar Dewa yang sedari tadi memperhatikan Mimin mengeloni Syad.


"Alhamdulillah. Begitulah Syad, kadang tidur cepat, terkadang rewel parah menjelang tidur." Mimin melemparkan pandangannya pada Dewa yang duduk di kursi dekat meja kerja. "Aa sih ga tahu. Setahun pergi meninggalkan kami," keluhnya.


Dewa bangun dari duduknya, melangkah menghampiri Mimin lalu duduk di tepi ranjang. Duduk berhadapan dengan Mimin. "Aku belum bisa mengingat apa pun. Belum bisa mengingat kamu. Belum bisa mengingat apa yang terjadi di antara kita. Tapi, selama setahun itu, kamu sering hadir dalam mimpiku," ujarnya.


"Bagaimana cara Neng bisa mengembalikan ingatan Aa." Mimin menatap Dewa.


"Doakan aku ya. Semoga aku bisa segera mengingat semuanya," sahut Dewa balas menatap Mimin.


Mimin mengangguk seraya tersenyum. Sejurus kemudian ia teringat dengan perkataan Abah kemarin malam. "Coba rangsang ingatan Dewa dengan hal-hal yang selama ini menjadi kesukaannya. Atau, mungkin ada hal yang menjadi keinginan Dewa yang selama ini belum pernah terwujud atau Teteh belum dapat mewujudkannya."


Mimin berpikir keras untuk menemukan apa kiranya keinginan Dewa yang belum pernah dapat diwujudkannya. Seketika wajah Mimin merona ketika mengingat hal yang paling diinginkan Dewa namun belum pernah terwujud adalah ...


"Neng, di atas ya."


"Sekali-kali atuh Neng. Mau ya, ya, ya."


"Menyenangkan suami itu hadiahnya pahala loh."


Dua malam ini, mereka tak melakukan apa-apa selain tidur bersama, bertiga dengan Syad. Bukan karena mereka tak menginginkannya, namun tak ber-etika rasanya jika mereka sampai melakukannya sedangkan Dewa belum mengingat apa pun tentang hubungan di antara mereka.


Namun malam ini, Mimin bertekad akan mewujudkan keinginan Dewa. Apa pun akan ia lakukan yang penting ingatan Dewa kembali. Abaikan dahulu rasa malu. Malu hanya akan menghambat diri untuk maju.


Mimin menarik tubuh Dewa lalu mendorongnya hingga Dewa jatuh terlentang di atas kasur. "Eh, mau apa ini?" tanya Dewa bingung.


Mimin duduk di atas perut Dewa. Membuka kuncir lalu mengibaskan rambutnya. Persis seperti tingkah wanita penggoda di film-film. Menggoda suami sendiri tentu tak berdosa. Malam ini ia yang akan menjadi pemeran utamanya. Hal yang belum pernah dilakukan sepanjang perkawinannya dengan Dewa sampai detik ini.


Mimin mulai melakukan aksinya. Memeluk rindu yang menggebu. Mencumbu hasrat yang menggelora. Menyatukan raga dalam cinta. Dewa terpesona sampai mulutnya menganga. Tak percaya wanita cantik yang duduk di atas tubuhnya itu benar-benar menciptakan suasana malam dingin ini menjadi panas membara.


Aaaaah ...


Iiiiiiiiiiiih ...


Uuuuuh ...


Eeeeeeh ...


Oooooh ...


Mimin terus beraksi tanpa henti. Seirama desau dan desah yang mengiringi hening malam. Hingga keduanya sampai ke puncak rasa. Terbang melayang hingga ke nirwana.


“Makasih ya,” ucap Dewa. Menatap Mimin yang bercucuran peluh di tubuh dan dahi.


“Aa udah inget?” lontar Mimin penuh semangat. Wajah cantiknya pun merona merah berseri-seri.


“Inget apa?”


“Yang ... tadi,” sahut Mimin tersipu. Oh, betapa malu-nya ia mengingat apa yang telah terjadi barusan. Bisa-bisanya ia melakukan itu.


“Yang tadi?? Oh, yang barusan tadi ... sungguh luar biasa.” Dewa mengulum senyum.


Sudah membuang jauh malu hingga ke Maluku, belum tergugah juga ingatan Dewa.


*****


Matahari telah merangkak naik meski belum tinggi. Hangatnya menyinari bumi. Opi tengah bermain-main dengan ponakannya yang ia panggil Cadat. "Cadat, ciluk ... baaa."


"Huaaaa...." Syad meringis. Sepertinya Syad bosan bermain cilukba.


"Iya, iya. Ganti deh, enggak cilukba. Onty nyanyi aja boleh?"


"Yayayayaya. Hi ... Hi ... Hi ...."


Sambil bertepuk tangan, Opi bernyanyi.


🎶 Dua tangan saya


🎶 Hidung saya satu


🎶 Dua mata saya


🎶 Pakai sepatu baru


“Gek ... Gek ... Gek ...” Syad tergelak mendengar Opi bernyanyi dengan ekspresi lucu.


“Opi ngajarin nyanyi yang bener ah! Dua mata saya kok pakai sepatu baru,” tegur Mimin.


“Hehehehe ... Gak papa atuh, Teh. Cadat itu harus diajarkan humor sejak dini. Agar kelak ia bisa menjalani hidup lebih santai dan rileks. Karena hidup itu berat, Teh. Seberat rasa rinduku padanya,” kelakar Opi dengan raut wajah serius.


“Curhat niye,” goda Mimin.


“Opi lihat A Dewa ga? Ke mana dia?” tanya Mimin. Sebab tak menemukan Dewa di kamar dan seluruh sudut rumah.


“Gak tahu. Tadi keluar sih, mungkin lagi muter-muter kampung ini. Biarin sih, Teh. Siapa tahu kepalanya kepentok apa gitu, biar pulang-pulang dia udah inget lagi."


“Justru itu teteh khawatir, takut dia ga hafal jalan pulang."


"Udah gede ini A Dewa mah. Kalau nyasar juga bisa nanya."


"Iya, ya. Opi, jagain Syad dulu, ya, Teteh mau masak.”


“Siap, Teh.”


Mimin mulai melakukan aktivitasnya di dapur. Ia yang dulu tak bisa memasak, kini jadi hobi masak. Kepergian Dewa, membawa pengaruh besar dalam hidup Mimin. Terutama soal kemandirian. Banyak hal yang dulu tak bisa dilakukannnya, namun kini malah mahir dilakukannya seperti memasak ini. Bukan hanya tentang masak, bahkan kini ia bisa mengendarai motor. Dan saat ini tengah belajar mengendarai mobil.


Sekitar setengah jam Mimin berkutat di dapur. Mengungkep ayam dan memasak sop ceker kesukaan Dewa dan Syad. Setelah mencuci tangan dan membersihkan diri, ia segera menghampiri Syad yang sedang bermain di teras.


“Astagfirullah. Syad kok sendiri, Onti-nya mana?”


“Teh, Opi di sini!” pekik Opi dari atas pohon jambu. “Cadat, mau jambu katanya.”

__ADS_1


“Dadadadada.” Syad mengoceh sambil menjilat kaleng bekas minuman soda.


“Astagfirullah. Kok Syad main ini sih! Ini bahaya Mimin merebut kaleng itu dari tangan Syad lalu melemparnya dengan sekuat tenaga.


Pletak ...


“Awwww.” Kaleng bekas minuman bersoda itu tepat mengenai kening Dewa yang baru saja tiba entah dari mana.


“Astagfirullah.” Mimin terkejut, tak menyangka kaleng itu malah mengenai Dewa.


Mimin segera berlari menghampiri Dewa. “Aa ga kenapa-napa? Maaf, Neng ga sengaja.”


"Opi, tolongin A Dewa!" seru Mimin panik.


Dewa meringis kesakitan. Tangan kirinya memegang kening, sementara tangan kanannya memegang kepala yang mendadak terasa sakit luar biasa.


Dewa bergeming. Kilatan bayangan bagai sebuah trailer film memenuhi kepalanya.


"Doakan semoga gue ketemu bidadari."


"Omegos apakah ini yang dinamakan bidadari."


"Mala ... namanya Mala. Malaikat tak bersayap."


"Mimin ... maafin aku yah. Kita ketemu lagi nanti,”


"Mimin ... kita bertemu lagi."


"Kalau sampai sekali lagi ada kebetulan di antara kita ... aku mah yakin pasti kita ditakdirkan berjodoh."


"Kisanak... Apakah kamu bersedia menikahi Mimin malam ini??”


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Syadewa Argian bin Satya Nugraha dengan anak saya yang bernama Jasmina Zahra binti Zaenudin dengan mas kawin dua puluh gram emas dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Jasmina Zahra binti Zaenudin dengan mas kawin tersebut tunai.”


”Alhamdulillah, Neng hamil A. Kita bakal punya anak.”


“Masya Allah, aku mau jadi ayah.”


“Neng tunggu Aa di sini ya. Aa akan secepatnya pulang.”


“Dod, hati-hati ya bawanya. Ga usah buru-buru, yang penting selamat.”


“Dod ... REEEEEEEEM!!!”


“AAAAAAAGHH”


“Aa jidatnya berdarah. Maafin Neng A ... maafin. Neng ga sengaja,”ucap Mimin histeris.


Dewa mengangkat wajahnya menatap Mimin.”Neng. Neng Mina. Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin yang cantik jelita, istrinya Aa Dewa yang ganteng mempesona cetar membahana,” ujarnya seraya tersenyum. Senyum khas Dewa.


“Aa udah inget. Alhamdulillah ya Allah.” Mimin memeluk Dewa.


Dan mereka saling berpelukan erat, di bawah hangatnya sang mentari. Melepas rindu yang terpatri dalam sanubari. Dewa telah kembali. Dengan senyum khas yang menawan hati.


.


.


.


.


.


Tamat.


.


.


Alhamdulillah akhirnya tamat juga. Maaf kalau kurang greget. Sejak bab Soljed bertemu Dewa, saya dan anak-anak dikasih sakit. Sakitnya sih cuma beberapa hari. Tapi efeknya panjang, saya ga bs duduk berlama-lama ngetik. Megang hp sebentar mata udah berat, pusing, dan ngantuk banget. Mood menurun drastis. Bab ini aja saya nulis selama 3 hari. Saya tulis nyicil, sedikit-sedikit. Untung, pembacanya pada baik-baik semua. Setia menunggu.


Terima kasih banyak atas dukungan luar biasa dari sahabat semua. Yang telah setia membaca dan mengikuti cerita ini sampai akhir. Yang setia memberi Like, komen, hadiah, vote bahkan koin. Saya sangat berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan sahabat semua.


Banyak kenangan yang tercipta saat menulis novel ini. Saat 3 atau 4 bab pertama, saya sempat mau mundur karena mood mendadak hilang. Maklum ya namanya remahan dan amatir. Hampir satu bulan, novel ini terbengkalai saya diamkan.


Kemudian ketika mood kembali, saya lanjutkan menulis. Dan malah bertubi-tubi saya mendapatkan duka hati. Mulai dari Teteh yang divonis kanker, dan akhirnya meninggal. Ibu yang sakit, dan akhirnya juga meninggal dunia.


Beberapa waktu saya terpuruk. Novel ini genre komedi, sementara kehidupan saya tengah dilanda duka, tentu sangat sulit untuk melanjutkan menulis. Saya ga dapat feel-nya.


Kehilangan keluarga itu sedihnya menyesakkan dada. Ga kebayang deh perasan Mimin saat kehilangan Dewa. Jahat banget ya aku. Hehehe.... Yg penting endingya bahagia.


Novelnya saya tamat kan sampai di sini saja ya. Insyaallah semoga nanti ada beberapa extra part, kalau mood bagus, ide lancar, waktu ada, dan semuanya sehat.


Terima kasih semuanya. Semoga nanti ketemu dengan kisah baru lagi. Kalau mau ada spin of dari novel ini kira-kira sahabat mau ceritanya siapa? Yg ini jawab di komentar ya.


 


Terima kasih.


Love U semuanya


❤️❤️❤️❤️❤️


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2