
"Opi, please gue harus bicara sama Mina. Gue mohon," ucap Dewa penuh permohonan.
Opi sempat ragu untuk menjawab. Namun karena melihat kesungguhan di mata kakak iparnya itu, membuatnya memutuskan untuk tak mengindahkan pesan Mami. "Teteh ga ada di rumah," jawab Opi datar.
Dewa melirik arloji di tangannya. "Ini baru jam tujuh pagi. Harusnya Mina belum berangkat kerja 'kan," sahut Dewa. Ia tahu persis jam berapa kebiasaan istrinya itu berangkat bekerja.
"Teteh di rumah sakit," ungkap Opi. Akhirnya ia memutuskan untuk memberi tahu kakak iparnya itu tentang keberadaan tetehnya.
"Mi-Mina kenapa Pi? Ke-kenapa bisa di Rumah Sakit?" tanya Dewa dengan penuh rasa kekhawatiran. Sungguh ia merasa sangat khawatir mendengar kata Rumah Sakit sebab ia salah satu orang yang jarang bahkan hampir tidak pernah bersentuhan dengan rumah sakit.
"Teteh sakit."
"Sakit apa Pi?"
"Gak tahu. Semalam Teteh dibawa ke rumah sakit sama Abah dan Mami," tutur Opi.
"Astagfirullah," lirih Dewa.
"Sekarang lo mau ke rumah sakit Pi?"
Opi menjawab dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengucap kata.
"Ok. Gue ikut lo ke rumah sakit."
"Jangan!"
"Kenapa Pi?"
"Mami ga akan mengizinkan lo ketemu sama si Teteh," sahut Opi ragu.
"Kenapa? Gue kan suaminya?!"
"Ya karena Mami percaya kalau lo adalah cowok brengsek."
"Astagfirullah," sahut Dewa sembari memegangi kepalanya yang terasa semakin mau pecah.
"Ya udah begini aja. Kalau lo mau ketemu Teh Mimin lo pergi ke rumah sakit duluan aja, jangan bareng gue, nanti gue kena omel Mami," tutur Opi.
"Ok kalau begitu. Rumah sakit mana?"
"RSU Drajat Prawiranegara."
Begitu mendengar informasi dari Opi, Dewa segera berbalik badan hendak bergegas menuju motornya.
"Kakak ipar!" seru Opi sebelum Dewa melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Dewa kembali berbalik badan menghadap Opi.
"RSU Drajat Prawiranegara ruang VIP," sahut Opi kemudian.
Dewa melangkah mendekati Opi lalu mengacak rambut puncak kepala adik iparnya itu seraya melemparkan senyum. "Terima kasih Adik ipar," ucapnya.
"Iya, sama-sama. Semoga kakak ipar bisa menyelesaikan masalah atau kesalahpahaman ini," ucap Opi tulus.
Dewa kembali melemparkan senyumnya. "Sekali lagi terima kasih adik iparku," ucapnya. Dan dibalas oleh sebuah senyuman kembali dari Opi.
Kemudian Dewa bergegas menuju motornya. Dengan gesit ia memecut si kuda besi, melaju menuju rumah sakit secepatnya. Seolah berkejaran dengan waktu. Harus secepatnya bertemu sang istri dan menjelaskan semuanya. Hingga ia dapat fokus mencari keberadaan Deka di sisa waktu yang semakin singkat ini.
Dewa menghentikan motornya di tempat parkir motor Rumah Sakit. Ia mengayun cepat langkahnya berusaha mengikis jarak tempat parkir motor dengan lobi Rumah Sakit yang lumayan jauh. Saat hampir sampai lobi Rumah Sakit, ia berpapasan dengan Mami dan Abah.
"Assalamualaikum Abah, Mami," sapa Dewa ketika berpapasan dengan orang tua Mimin yang sejatinya adalah mertuanya.
"Waalaikum salam," jawab Abah ketika menantunya itu meraih tangan lalu mencium hormat punggung tangannya.
Sementara Mami yang juga diperlakukan sama oleh Dewa justru menolak ketika Dewa berusaha meraih tangannya untuk memberi salam hormat.
"Mau apa kamu ke sini!" ketus Mami. Tak ada senyum ramah dan tatapan hangat seperti biasanya.
"Sa-saya mau bertemu Mina," sahut Dewa gugup dikarenakan sikap antipati dari Mami.
"Jangan pernah temui putri saya lagi!" tegas Mami dengan nada bicara yang tak bersahabat.
"Oya. Apa kamu pernah memberi nafkah lahir dan batin kepada putri saya, Hah?!" sinis Mami tajam. Seketika Dewa merasa bodoh sendiri, dan baru menyadari jika selama ini tak pernah sekalipun memberi nafkah kepada sang istri. Suami macam apa aku ini. Batinnya.
"Dan sekarang baru ketahuan kalau ternyata kamu itu laki-laki brengsek yang sudah meng*hamili mantan pacar kamu!" tukas Mami.
"Itu fitnah. Saya tidak seperti yang papa saya katakan!" tegas Dewa.
"Mana ada orang tua yang memfitnah anaknya!"
"Maka dari itu kedatangan saya kemari adalah ingin menjelaskan semuanya kepada Abah, Mami dan Mina. Ceritanya sangat panjang. Kalau diizinkan saya akan ber...."
"Gak perlu! Kami gak mau membuang waktu mendengar cerita bohong kamu!" potong Mami cepat sebelum Dewa menuntaskan kalimatnya.
"Mami... Jangan begitu!" seru Abah menengahi perdebatan antara istri dan menantunya.
"Abah percaya sama Dewa," ucap Abah.
"Tapi, Bah...." protes Mami yang tak setuju dengan ucapan Abah.
"Sudahlah, Mi. Biarkan Dewa bertemu dengan Mimin. Biar bagaimanapun Mimin adalah istrinya," putus Abah.
__ADS_1
Abah yang sedari tadi diam kini menunjukkan tanggapannya. Ia menatap Dewa sembari menepuk bahu menantunya itu. "Ding, temui istrimu dan ceritakan masalahmu. Abah percaya sama kamu," ujarnya.
"Terima kasih banyak Abah. Terima kasih," ucap Dewa seraya menciumi punggung tangan Abah. Kemudian dengan langkah gegas ia segera beranjak menuju lobi Rumah Sakit untuk menanyakan ruangan tempat istrinya dirawat.
*****
Kediaman Deka.
Deka tengah asyik menikmati sarapan selembar roti dengan diolesi selai coklat di atasnya ketika ponselnya berbunyi pertanda ada notifikasi pesan yang masuk. Dengan malas ia membuka ponsel yang terletak di atas meja makan tempatnya menikmati sarapan.
Ada sebuah pesan dari Devi.
Devi : Pak Deka buka chat grup dong.
Deka memang jarang nimbrung atau aktif di chat grup teman kantornya. Apalagi setelah mengetahui jika Mimin pun termasuk yang tidak aktif di grup chat, membuatnya semakin malas untuk aktif di grup.
Alih-alih membuka chat grup WhatsApp teman kantornya yang sudah mencapai ribuan chat. Ia lebih memilih untuk menelepon langsung si pengirim pesan setelah menerima pesan itu.
Tak menunggu lama, Devi yang memang sedang dalam mode online segera menjawab panggilan telepon darinya.
"Ada apa Dev?" tanya Deka langsung kepada pokok tujuannya menelepon.
"Pak Deka, Mimin masuk rumah sakit."
"Apa, Jasmin masuk rumah sakit? Kenapa? Sakit apa?" Berondongan pertanyaan Deka karena rasa cemasnya.
"Satu-satu atuh Pak nanyanya. Iya Pak, saya dapat kabar dari Opi, adiknya Mimin yang memberi tahu kalau Mimin semalam masuk Rumah Sakit. Jadi, hari ini Mimin ga masuk kerja."
"Jasmin sakit apa?"
"Kurang tahu kalau soal penyakitnya. Di grup sedang diskusi kapan kita menjenguk Mimin. Pak Deka mau ikut jenguk ga?"
"Tentu, saya mau ikut menjenguk Jasmin. Kapan kalian mau jenguk Jasmin?"
"Teman-teman sih rencananya nanti pulang kerja mau bareng-bareng jenguk Mimin."
"Oh. Berarti nanti sore ya."
"Iya, Pak. Pak Deka mau ikut?"
"Iya, saya ikut."
"Ok, deh Pak. Kalau begitu nanti kita bicarakan lagi di kantor."
"Ok."
__ADS_1
Dan sedetik kemudian panggilan telepon pun terputus. Ia melanjutkan aktivitas sarapan dengan angan yang terlempar jauh pada bayangan sosok wanita cantik jelita yang dua bulan ini telah memikat hatinya. Sosok wanita "berbeda" dari kebanyakan teman wanita yang pernah singgah dalam kehidupannya. Kehidupan cinta dan kehidupan malamnya.
Tiada tubuh seksi nan menggoda yang terbalut pakaian mini super ketat. Tiada polesan make up tebal guna mempercantik diri. Untuk pertama kalinya ia menjatuhkan cintanya, hasratnya serta mimpinya kepada wanita berjilbab yang memesona hatinya. Jasmina Zahra.