Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Bab 103


__ADS_3

Dewa tengah duduk anteng di atas motornya di bawah langit sore nan indah. Sedetik yang lalu pesannya baru terkirim. Pesan yang ia kirimkan kepada Mimin melalui aplikasi bertukar pesan dengan ciri khas warna hijau.


Neng, Sayang, Cinta, Aa tunggu di tempat biasa ya. Love U.


Begitu pesan yang ia kirimkan kepada Mimin.


Sebenarnya bisa saja ia langsung menjemputnya di depan kantor Mimin. Tapi entahlah ia ingin merasakan saat-saat seperti dulu. Momen ketika melihat gadis cantik itu mengayun langkahnya dengan ujung jilbab yang melambai tertiup angin. Dan ia melihat momen tersebut dari kaca spion sambil senyum-senyum. Rasanya seperti dihampiri bidadari. Dan yang paling membuatnya bahagia luar biasa adalah ketika gadis itu akhirnya tersenyum ketika telah sampai di dekatnya.


"Dooor...." Mimin menepuk punggung Dewa yang tengah duduk melamun di atas motor.


"Astagfirullah." Hal yang dilakukan Mimin sontak membuat Dewa terjingkat kaget dan hampir jatuh.


"Hihihihihi... Maaf. Habisnya Aa malah ngelamun sih."


Mimin masih tertawa cekikikan ketika Dewa mencubit mesra hidung mancung Mimin seraya mengancamnya. "Mau tak cium di sini!"


"Eh, enggak enggak." Mimin menggeleng kepala dengan ekspresi panik.


"Hahahahaha." Dewa tertawa karena ekspresi kepanikan di wajah Mimin itu malah tampak lucu baginya.


"Salim dulu," kata Mimin seraya meraih tangan Dewa dan mencium punggung tangannya.


"Aa kenapa ngelamun?" tanya Mimin kemudian.


"Duduk sini dulu, yuk!" ajak Dewa. Lalu membimbing Mimin untuk duduk di kursi trotoar.


"Neng, berapa harga emas se gram?" tanya Dewa.


"Kenapa Aa nanya harga emas?" Mimin balas melontarkan pertanyaan.


"Aa cuma punya uang satu juta delapan ratus ribu. Uang segitu apa bisa untuk beli mas kawin ya?"


"Aa 'kan waktu itu udah pernah kasih mas kawin yang kalung itu. Pakai yang itu aja."


"Kalau kalung itu sebenarnya punya nenek aku, itu simpan saja buat kenang-kenangan. Kalau Aa maunya kalau untuk mas kawin itu pake uang Aa sendiri."


Mimin meraih lengan Dewa untuk melihat penunjuk waktu dari arloji yang dipakai Dewa.


"Masih keburu. Ya udah yuk kita beli mas kawin sekarang!" seru Mimin lalu bangkit dari duduknya.


"Beli di mana?" tanya Dewa.


"Nanti aku tunjukkan tempatnya," sahut Mimin seraya menggenggam tangan Dewa lalu menggandengnya. Mereka pun pergi menuju tempat yang dituju dengan berboncengan motor.


Kurang dari sepuluh menit, Dewa menghentikan motornya di depan sebuah toko sesuai arahan Mimin.


"Ini 'kan toko perlengkapan salat," ujar Dewa sembari membaca tulisan besar-besar yang tertera di plang nama toko.


"Iya, Aa."


"Neng mau beli mukena?"


"Iya, Aa."


Mereka pun masuk ke dalam toko itu. Toko perlengkapan salat milik Haji Harun yang adalah asli orang Arab namun telah lama tinggal di kota ini. Abah berlangganan di toko ini. Setiap menjelang lebaran biasanya Abah membeli banyak sarung di sini untuk dibagikan kepada orang-orang yang berhak.


Setelah memilah dan memilih akhirnya Mimin memutuskan untuk membeli mukena seharga Rp. 250.000 dan sajadah seharga Rp. 50.000.


Setelahnya Dewa yang membayar pembelian perlengkapan salat pilihan Mimin itu.


"Terus kapan kita beli mas kawinnya, Neng?" tanya Dewa setelah keluar dari toko.


"Beli apa lagi Aa?"


"Uangnya tinggal satu setengah juta. Kira-kira dapat berapa gram uang segitu?


"Enggak usah. Ini aja mas kawinnya seperangkat alat salat." Mimin menunjuk plastik tentengan belanjaannya.


"Emang ga papa mas kawinnya cuma itu?"


"Gak papa. Yang penting bukan mas kawinnya tapi ... Mas Dewa-nya. Hehehehe...."


Dewa mencubit gemas hidung mancung Mimin. "Bisa ngegombal ya sekarang," sahutnya.


Mimin membalas perlakuan Dewa dengan hal yang sama mencubit gemas hidung mancung Dewa. "Karena sering digombalin makanya jadi pinter ngegombal," balasnya.


"Hahahahaha...." keduanya kompak tertawa.


"Oya A, Nanti malam Bang Deka mau traktir teman-teman kantorku ke Baretos Cafe. Neng boleh ikut ga A?"


"Bilang sama dia, boleh. Asalkan aku juga ditraktir gitu."


"Asyik. Ok, siap tak bilangin nanti ke Bang Deka," sahut Mimin riang.


"Sejak kapan manggil Abang sama dia?"

__ADS_1


"Sejak hari ini," sahut Mimin lalu menautkan lengannya di lengan Dewa dan berjalan bergandengan.


"Sekarang Neng ada kemajuan ya. Udah mulai berani pegang-pegang Aa duluan," ledek Dewa.


"Ya udah dilepas aja." Mimin melepaskan gandengan tangannya dengan raut cemberut.


"Cantik, Sayang, Cinta ga boleh ngambek. Kalau ngambek jadi makin cantik tau. Nanti tanggung sendiri akibatnya."Dewa meraih tangan Mimin lalu menggenggamnya.


Ketika mereka sudah duduk di atas motor, Dewa kembali meraih tangan Mimin lalu meletakkan di pinggangnya hingga melingkari perutnya.


"Mulai sekarang kalau naik motor begini ya, Neng. Biar kerasa manis-manisnya walau belum merasakan enak-enaknya," seloroh Dewa.


"Adaw...!!" pekik Dewa karena Mimin mencubit perutnya.


*****


Langit telah berubah menjadi gelap. Mimin beserta teman-temannya telah sampai dan menginjakkan kaki di Baretos Cafe.


Tadi, selepas magrib Devi Cs menjemputnya ke rumah. Lalu setelahnya Devi menghubungi Deka dan mereka berjanjian bertemu di Baretos Cafe.


Mimin dan teman-temannya telah duduk di meja nomor 17, meja yang ditunjukkan oleh pegawai kafe. Ternyata Deka telah membuat reservasi sebelumnya untuk memudahkan mereka mendapatkan tempat duduk.


"Asyik ada live musik juga ternyata walaupun ini bukan malam minggu," sorak Devi ketika mereka baru saja duduk.


"Eh iya, itu ada vokalis yang ganteng itu," timpal Irna.


Para gadis itu sontak melemparkan pandangannya ke panggung kecil di mana Dewa tengah duduk di sana dengan memegang gitarnya bersiap untuk bernyanyi.


"Kalau ga salah namanya Dewa 'kan?" lontar Susi.


"Iya benar Dewa namanya," sahut Irna.


Sementara Mimin yang juga turut melempar pandangannya ke arah Dewa hanya tersenyum saja. Bertepatan dengan Dewa yang juga kini tengah memandangnya dan melemparkan senyum.


"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Selamat malam untuk Anda semuanya. Selamat menikmati menu spesial dari Baretos Cafe yang enaknya ... sampai ngiler-ngiler." Dari atas panggung, Dewa menyapa para pengunjung Baretos Cafe.


"Salam semangat untuk Anda semuanya. Sebuah lagu spesial untuk yang terspesial. Untuk seseorang sangat spesial di meja nomor 17." Dari atas panggung, Dewa melemparkan senyumnya. Sorot matanya tertuju ke meja nomor 17 tempat Mimin dan teman-temannya duduk.


"Eh, dia senyum ke sini loh!" seru Devi.


"Kayaknya dia senyumin gue deh," timpal Susi


"Hey, meja kita kan nomor 17 berarti memang maksudnya ke sini deh," sahut Irna semangat.


"Eh iya baru sadar meja kita nomor 17," timpal Devi.


"Huuuuuuu...." Irna dan Devi kompak menyoraki Susi.


Sementara Mimin seperti biasa selalu dengan mode kekalemannya yang membuat pesonanya kian paripurna.


"Sebuah lagu dari Peterpan, Satu Hati spesial buat kamu, iya kamu," cakap Dewa dari atas panggung. Dan ia mulai memetik gitarnya.


Bagai bunga harum nafasmu yang kurasa


Santun warna yang beri kesejukan


Hilangkan rasa gelap


Bagai sirna semua kata yang tak terungkap


S'gala rasa yang tak pernah bicara


Tak pernah tuk terucap


Satu hati yang kuberi cinta, kuberi rasa


Kuberikan sanjungan


Tuk saling cinta, saling menjaga


Tuk saling menyatukan


Mungkin juga hanya nafasmu yang terasa


Satu warna yang beri kesejukan


Hilangkan rasa gelap


Bagai sirna semua kata yang tak terungkap


S'gala rasa yang tak pernah bicara


Tak pernah tuk terucap


Satu hati yang kuberi cinta, kuberi rasa

__ADS_1


Kuberikan sanjungan


Tuk saling cinta, saling menjaga


Tuk saling menyatukan


Satu hati yang kuberi cinta, kuberi rasa


Kuberikan sanjungan


Tuk saling cinta, saling menjaga


Tuk saling menyatukan


Yang kuberi cinta, kuberi rasa


Kuberikan sanjungan


Tuk saling cinta, saling menjaga


Tuk saling menyatukan


(Satu Hati, Peterpan)


Dewa masih menyanyikan lagu tersebut ketika Deka tiba di meja tempat Mimin dan teman-temannya duduk. Mereka tengah menikmati persembahan lagu yang dinyanyikan Dewa.


"Gimana gimana, kalian udah pesan menunya?" tanya Deka begitu sampai di meja para gadis itu.


"Belum, Pak. Kita nunggu Bapak soalnya," sahut Devi.


"Aduh jangan panggil Bapak dong emang gue Bapak kalian apa!" tegur Deka.


"Panggil Deka aja atau Abang boleh," lanjutnya.


"Abang aja deh, kalau panggil nama ga enak," ujar Susi.


"Enakin aja lah," sahut Deka.


"Kita pesannya bebas nih, Pak eh Bang?" lontar Irna.


"Bebas merdeka. Terserah kalian mau pesan apa," sahut Deka.


"Asyik," sorak semuanya.


Para gadis itu dengan antusias membaca, memilah dan memilih menu yang disediakan di kafe tersebut. Mimin juga turut antusias memilih pesanannya.


"Jasmin, suami kamu mau pesan apa?" tanya Deka.


"Samakan dengan pesanan Bang Deka katanya," jawab Mimin.


"Haish... Tau aja kalau selera kita sama," kelakar Deka.


"Loh loh, emang calon suami Mimin mau ke sini juga?" tanya Irna.


Mimin mengangguk menjawab pertanyaan Irna.


"Yeay, kita mau dikenalin sama calon suami Mimin," sorak Devi.


"Pinisirin deh jadinya," seloroh Susi.


"Bukan calon suami tapi memang udah jadi suami," sahut Deka.


Pernyataan Deka sontak membuat ketiga teman Mimin itu terbelalak. Berbarengan dengan hadirnya Dewa di meja mereka.


"Ini suamiku," kata Mimin seraya menyentuh bahu Dewa yang telah duduk di sampingnya. Dewa melemparkan senyum ramah kepada ketiga teman Mimin tersebut.


"Apa??!" Ketiga gadis itu semakin terbelalak dengan pernyataan Mimin.


"Aa Dewa ini juga adiknya Bang Deka," ujar Mimin selanjutnya.


"Apa??!" Devi, Susi dan Irna kembali semakin terbelalak hingga mulutnya terbuka menganga.


.


.


.


.


.


Terima kasih semuanya sudah membaca cerita ini. Dan terima kasih juga dukungannya.


Jangan lupa siapin kado ya. Part selanjutnya kita kondangan ke pernikahan Aa Dewa dan Neng Mina.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2