
Dari dalam kontrakan, melalui tirai jendela yang sedikit dibuka, Dewa memperhatikan Mimin dan Fahri sejak tadi.
"Itu kan...." Keningnya mengernyit pertanda ia sedang berpikir. "Fahri. Ya, dia Fahri," ucapnya yakin.
Dewa teringat obrolannya bersama Opi kemarin sore saat di kedai bakso Mas Bakar.
"Karena Lo itu ga masuk kriteria calon imam Teh Mimin."
"Yang seperti apa kriteria calon imam Mimin?"
"Yang seperti Ustaz Fahri."
"Siapa lagi itu Ustaz Fahri??"
"Pokoknya Teh Mimin suka sama cowok yang soleh."
"Jadi Ustaz Fahri yang dimaksud Opi adalah ... Fahri." Dewa berbicara dengan dirinya sendiri. "Oh, semakin rumit," gumamnya.
*****
Dewa sudah berada di bengkel, baru saja selesai melayani customer mengganti oli. Mida datang menghampiri Dewa.
"Wa... teman aku yang mau jual motor itu sebentar lagi mau datang ke sini," tutur Mida.
"Oh, Ok."
"Semoga cocok yah motornya. Kalau uang kamu kurang, bilang aku aja ya Wa. Nanti biar aku yang bayar kekurangannya," ujar Mida.
"Terima kasih banyak Mida. Tapi... ga usah. Kalau uangnya kurang mungkin lain kali aja belinya. Nunggu yang cocok sama budget," kata Dewa.
"Eh itu temen aku udah datang," seru Mida ketika matanya melihat seseorang yang datang menggunakan motor Honda Beat.
Mida menghampiri pria itu. Kemudian Mida dan pria itu masuk ke dalam bengkel.
"Wa, kenalin ini Samsul," ucap Mida.
Dewa menatap pria itu begitu pun sebaliknya.
"Dewa...!!" seru pria yang bernama Samsul.
"Samsul...!!" sahut Dewa.
Mereka berdua bersalaman sambil tertawa-tawa. Ternyata keduanya sudah saling mengenal.
"Kalian sudah kenal?" tanya Mida.
"Dewa ini teman kuliah aku," jelas Samsul.
"Loh, jadi kamu dulu kuliah. Terus kenapa kamu kerja begini, Wa?" tanya Mida.
"Karena aku senang, Mida," jawab Dewa tulus.
Mida terlihat masih ingin mengobrol dengan Dewa, penasaran dengan kehidupan Dewa. Namun ia harus kembali ke meja kasir, karena banyak customer yang akan melakukan pembayaran.
"Mida, aku izin ngobrol sama Samsul dulu ya," pinta Dewa sebelum Mida kembali ke mejanya.
__ADS_1
"Iya. Jangan lupa cek dulu motornya," jawab Mida.
"Sip."
Dewa mengajak Samsul ke sisi kiri halaman bengkel untuk mengobrol di sana.
"Jadi, kenapa lo bisa sampai ada di sini Wa?" tanya Samsul.
"Gue lagi ada masalah sama keluarga gue. Dan gue kabur dari rumah ga bawa ijazah. Jadi gue kerja di sini deh," jelas Dewa.
"Oya, memangnya lo orang sini Sam?" tanya Dewa.
"Kalau gue sih orang Pandeglang. Tapi gue kerja di sini. Istri gue juga orang sini, jadi gue tinggal di sini sama istri," terang Samsul.
"Wah dah kawin lo... enak dong," kelakar Dewa sambil meninju pelan lengan Samsul.
"Yah enak lah. Hehehehe..." Samsul tertawa.
"Nanti juga lo ngerasain kawin Wa," imbuhnya.
"Eh, nikah dulu baru kawin. Jangan kawin dulu baru nikah," ralat Samsul.
Dewa tersenyum simpul. Ya Allah semoga aja gue juga bisa segera kawin eh nikah sama Mimin. Batinnya.
"Jadi motor lo mau dijual Sam?" tanya Dewa.
"Iya. Sok bayarin 8 juta aja," jawab Samsul.
"Gua cek dulu ya," ujarnya.
"Ok." Samsul mengacungkan jempolnya.
"Sam, tujuh aja ya?" tawar Dewa setelah memastikan kondisi motornya baik. "Motornya sih masih bagus tapi budget gue cuma segitu," sambungnya.
"Emmm... Ya udah deh ga papa tujuh juta. Hitung-hitung balas budi, karena lo dulu baik banget, suka pinjemin gue duit."
"Wah, makasih nih Sam," ucap Dewa kegirangan.
"Oya Wa, lo bisa nyanyi kan?" tanya Samsul setelah urusan jual beli motornya bersama Dewa telah rampung.
"Bisa, meski ga bagus-bagus amat suara gue," jawab Dewa.
"Lo mau ga nyanyi di kafe tempat gue?" tawar Samsul.
"Serius?? Mau lah," jawab Dewa antusias.
"Lo nyanyi sendiri apa ngeband?"
"Kalau band udah gue bubarin. Paling gue nyanyi sendiri."
"Ga masalah. Lo bisa main musik apa selain gitar?"
"Gitar, bass, drum, piano, keyboard, organ, harmonika gue bisa. Asal jangan gamelan, kalau gamelan gue ga bisa. Hehehe...."
"Sip. Rencana konsepnya selain lo nyanyi, lo harus bisa memainkan alat musik kalau-kalau ada pengunjung yang mau menyumbang lagu atau ingin tampil bernyanyi," terang Samsul.
"Ini gue nyanyi cuma malam kan?"
__ADS_1
"Iya dong."
"Ok. Mulai kapan gue mulai nyanyi?"
"Sekarang hari kamis yah. Mulai besok malam, kalau lo sudah siap."
"Siap."
"Nanti malam lo boleh datang dulu... lihat-lihat kafe gue." Samsul membuka dompet dan mengeluarkan sebuah kartu nama. "Ini alamat kafe gue."
Dewa menerima kartu nama Samsul. "Terima kasih Sam. Lo benar-benar teman gue," ucapnya seraya memeluk Samsul.
*****
Mimin baru saja selesai menemani Deka ke Dinas Pendidikan Kota. Membahas tentang pembangunan renovasi SD Banjar Agung yang adalah proyeknya Rizal. Karena pembahasannya tentang anggaran, maka Deka selaku kadiv keuangan yang lebih banyak berperan dalam pertemuan ini. Seharusnya Rizal lah yang menemani Deka. Namun karena Rizal berhalangan maka digantikan oleh Mimin.
Sedianya pertemuan ini dijadwalkan esok. Berhubung esok adalah tanggal merah, pertemuannya dimajukan sore ini.
"Aku tuh geleng-geleng kepala dengan proyek ini," ujar Deka.
"Kenapa gitu Pak?" tanya Mimin.
"Setelah aku pelajari, hitungan persentase keuntungannya jauh di bawah standar. Sepertinya Pak Rizal melupakan risk contigency atau cadangan biaya risiko yang seharusnya diperhitungkan minimal 2%. Dan anehnya mengapa Pak Bambang menyetujui proyek ini," tutur Deka.
"Karena SD Banjar Agung itu sekolah Pak Rizal dulu. Aku pun dulu sekolah di sana," ujar Mimin.
"Oooh...." Deka ber-oh sambil manggut-manggut. "Jadi ceritanya ini proyek bakti seorang alumni," selorohnya.
Mimin tersenyum. "Seperti itu kira-kira," ucapnya.
"Ini sudah jam pulang kantor." Deka melihat jam tangan mewah yang melingkar di tangannya. "Kamu langsung pulang kan? Ga ke kantor lagi?" tanyanya.
Mimin mengangguk. "Iya, Pak. Tadi pesan Pak Rizal saya boleh langsung pulang ke rumah," ujarnya.
"Kalau begitu saya antarkan kamu pulang ya?"
"Tidak usah, Pak. Terima kasih," tolak Mimin.
"Ayo lah, Jasmin. Lagi pula kalau aku pulang sendiri aku bisa nyasar nih. Kamu ga kasihan sama aku... kalau aku nyasar bagaimana?"
Mimin terdiam sejenak untuk menimbang tawaran Deka. Sesungguhnya ia ingin menolak saja apapun alasannya. Tapi benar juga yang dikatakan Pak Deka, dia baru di kota ini. Bagaimana kalau nanti malah nyasar. Gumamnya dalam hati.
Pada akhirnya Mimin menerima tawaran Deka untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Ia sempat menolak ketika Deka mengajaknya untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang. Dan ia tak menyangka jika Deka ikut turun juga ketika sampai di depan rumahnya. Bukan sekedar mengantarkannnya pulang.
"Maaf Pak, di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Kedua orangtua saya sedang tidak ada di rumah. Bapak duduk di luar saja ya," kata Mimin.
"Oh, ya. Ga masalah kok," jawab Deka tanpa beban.
"Saya permisi mau buatkan minum dulu," ujar Mimin.
"Iya, silakan," jawab Deka dengan ringannya.
Jawaban Deka tentu tidak sesuai harapan Mimin. Ia berharap Deka menjawab "Tidak usah repot-repot, Jasmin. Aku permisi pulang saja."
Dengan langkah gontai Mimin masuk ke dalam, untuk membuatkan minum.
Sementara Deka yang semula berdiri, mendaratkan bokongnya pada kursi di teras rumah Mimin. Matanya berkeliaran melihat sekeliling halaman rumah Mimin. Melihat pohon jambu dan pohon mangga yang sedang rimbun buahnya. Melihat pot-pot tanaman yang bertengger rapi. Hingga kepalanya menoleh ke sebelah kiri dan melihat deretan kontrakan.
__ADS_1
Deka bangun dari duduknya dan sudah beberapa langkah berjalan menuju kontrakan. Namun kemudian matanya tertuju pada sebuah gitar yang duduk di atas kursi teras lainnya. Ia mengambil gitar itu dan memperhatikannya dengan saksama. Sebuah gitar yang dibubuhi tanda tangan Billie Joe Amstrong, sang frontman, vokalis serta gitaris band rock Green Day. Gitar itu terasa tak asing baginya.
“Ini seperti gitar milik ... Dewa.”