Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
127. GBM S3


__ADS_3

Usai beristirahat, pihak keluarga membawa Dewa ke rumah sakit. Dokter melakukan serangkaian wawancara kepada pasien dan keluarganya. Melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang lain yang meliputi MRI, CT scan, pemeriksaan darah dan EEG (elektroensefalogram). Serta melakukan tes kognitif untuk mengukur daya ingat pasien.


Dari hasil serangkaian tes tersebut, dokter mendiagnosa Dewa menderita amnesia retrograde.


Amnesia retrograde merupakan suatu kondisi ketika seseorang mengalami kehilangan ingatan yang berpengaruh pada kemampuan penderita dalam menciptakan kenangan, menyimpannya sekaligus mengingat kembali. Sehingga penderita tidak dapat mengingat informasi atau kejadian di masa lalu.


Kemungkinan amnesia yang terjadi pada Dewa adalah karena cedera otak traumatis disebabkan benturan yang sangat keras di kepala. Amnesia terjadi karena kerusakan pada bagian otak yang berfungsi untuk membentuk sistem limbik. Sistem limbik tersebut berperan dalam mengatur emosi dan juga ingatan seseorang. Ketika kepala terbentur kencang, maka ada kemungkinan dinding otak mengalami cedera berupa retak.


Amnesia ini bisa bersifat sementara atau pun permanen. Tergantung pada tingkat kerusakan bagian otak itu sendiri.


Dokter merekomendasikan sejumlah metode perawatan di antaranya psikoterapi dan terapi okupasi.


Pak Satya berencana akan mencarikan dokter saraf terbaik untuk menyembuhkan amnesia pada Dewa. Kedua pihak keluarga sepakat, selama menunggu mendapatkan dokter terbaik, Dewa akan tinggal di kediaman Abah bersama istri dan anaknya.


Dengan harapan semoga kehadiran Mimin dan Syad dapat memberikan dampak positif untuk mengembalikan ingatan Dewa. Seperti pesan dokter, "Pihak keluarga terutama yang terdekat, seperti istri misalnya, diharapkan untuk memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pasien untuk membantu mengingat hal-hal yang dilupakan."


*****


"Kamu besok mau pulang, Pit?" tanya Dewa usai makan malam bersama keluarga Abah. Hanya tinggal Dewa dan Pipit yang berada di meja makan itu. Sementara yang lain telah beranjak melanjutkan aktivitas lainnya.


Pipit mengangguk. Matanya entah memandang apa. Mungkin sedang memandang taplak meja makan bergambar buah.


"Kenapa? Bukankah ini juga adalah keluargamu?"


"Kasihan Aki dan Nini," jawab Pipit lugas.


"Kalau begitu, besok aku ikut kamu," kata Dewa.


"Jangan! Kamu di sini aja. Di sini ada anak dan istri kamu yang sudah sekian lama menunggu kepulangan kamu."


"Kamu datang ke sini bersama aku, Pit. Masa iya kamu pulang sendiri. Aku besok ikut kamu, Pit," pungkas Dewa.


Di balik dinding sekat antara ruang makan dan ruang keluarga ada Mimin yang mendengar percakapan keduanya di meja makan. Hatinya mencelos. Ada setitik rasa yang mencokol di dada. Sesak seperti mau meledak.


"Teteh yang sabar ya," ujar Abah ketika memergoki Mimin tengah mencuri dengar obrolan Dewa dan Pipit dengan raut sendu.


"Teteh terus berusaha dan berdoa agar ingatan si Ding kembali," lanjutnya.


"Iya, Bah."


"Coba rangsang ingatan Dewa dengan hal-hal yang selama ini menjadi kesukaannya. Atau, mungkin ada hal yang menjadi keinginan Dewa yang selama ini belum pernah terwujud atau Teteh belum dapat mewujudkannya."


Mimin terdiam. Hatinya sedang mencerna kalimat yang baru saja disampaikan Abah.


*****


Esok hari, Pipit bersiap untuk pulang ke Subang. Abah dan Mami memutuskan untuk ikut menemani Pipit pulang, bermaksud ingin bertemu dengan Aki dan Nini lalu meminta izin agar Ririn alias Pipit dapat tinggal bersama keluarga di Serang.


Tak ketinggalan keluarga Deka juga turut ikut ke Subang sebab ingin bertemu keluarga Aki yang telah menolong dan merawat Dewa selama ini. Sekedar ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga Aki Rusli.


"Aa di sini aja ya, ga usah ikut. Temenin Neng dan Syad," pinta Mimin.


"Tapi, aku harus temani Pipit pulang," sahut Dewa. Ia tengah membantu mengemas barang-barang yang akan dibawa Pipit.


"Ada Abah sama Mami yang menemani Ririn."


"Iya, Kang Asep eh Dewa. Kamu di sini aja, menemani anak dan istrimu." Pipit mengambil alih membereskan barang-barangnya.


"Tapi kamu ...."


"Ga usah khawatirkan saya. Lagian saya ga pulang sendiri. Abah sama Mami ikut. Bahkan, keluarga kamu juga ikut. Saya berasa mau naik haji jadinya, dikawal dua mobil sekaligus. Hehehehe ...."


Dewa turut tersenyum menanggapi kelakaran Pipit. "Kalau begitu ... kamu hati-hati ya, Pit."


"Kamu juga semoga cepat pulih ya, 'kan udah bertemu langsung dengan si gadis berkerudung merah yang selama ini hadir di mimpi-mimpi kamu. Kalau kamu sudah sehat dan pulih ... kamu boleh main ke tempat Aki," sahut Pipit bertepatan dengan selesainya kegiatan mengemas barang.


"Sampaikan rasa terima kasih dari aku untuk Aki dan Nini."


"Iya, nanti disampaikan."


Mimin mendekati Pipit lalu memeluknya. "Ririn, makasih ya karena udah merawat A Dewa selama ini," ucapnya.

__ADS_1


"Bukan saya yang merawat, tapi Aki dan Nini."


"Salam untuk Aki dan Nini."


"Iya, insyaallah nanti disampaikan. Semoga Dewa cepat segera pulih dan kembali mengingat dirinya dan juga kamu."


"Amin."


"Teh Ririn kenapa ga tinggal di sini aja sih. Opi senang deh punya dua teteh yang cantik-cantik kayak gini." Opi memeluk Ririn.


"Teteh juga senang ternyata punya saudara di sini. Apalagi ternyata punya adik yang manis banget kayak Opi." Ririn mencubit gemas pipi Opi.


"Iya, Rin. Kenapa kamu ga tinggal di sini aja. Kami ini keluargamu," kata Mimin.


"Nanti aja ya. Sekarang aku harus menemani Aki dan Nini."


"Teh Ririn janji ya, nanti bakal ke sini lagi. Nanti kita bertiga bikin squad. Squad tiga putri cantik anaknya Abah Haji Zaenudin bin Zulham," kelakar Opi.


"Iya, insyaallah." Ketiga putri Haji Zaenudin itu saling berpelukan.


"Mama setuju, anaknya Abah Haji ini cantik-cantik. Sayang, anak cowok mama cuma dua, coba kalau tiga," kelakar Bu Dewi yang disambut tawa semuanya.


Usai berpamitan, dua mobil itu pun berangkat menuju Subang mengantar Pipit.


*****


"Deka, sekalian aja ya kita melamar Ririn buat kamu," usul Mama. Mobil yang mereka tumpangi tengah melaju, mengekor di belakang mobil Abah.


"Iya, papa setuju. Kelihatannya kamu suka sama Jasmin. Sedangkan Jasmin 'kan istrinya Dewa. Udah kamu sama Ririn aja. Wajahnya juga sama persis karena mereka kembar," timpal Papa.


"Iya, Deka. Kalau ga sekarang, terus kapan lagi kamu mau nikah. Inget umur, Deka!"


"Waktu papa seumur kamu, papa itu udah punya anak dua loh, Deka. Iya 'kan, Mah?" Papa melirik Mama.


"Hemmm. Punya anak dua dan masih nyebelin."


"Ga usah dibahas soal nyebelin-nya dong, Mah," protes Papa.


Papa dan Deka jadi tersenyum dibuatnya. Sepertinya kekonyolan Dewa memang menurun dari Mama. Sedangkan raut serius serta sifat pekerja keras Deka adalah turunan dari Papa.


"Mau ya, Deka ... kita sekalian melamar Ririn untuk kamu," ujar Mama lagi.


"Tapi, Deka 'kan belum kenal orangnya, Mah."


"Ririn dan Mimin itu sama-sama anaknya Pak Haji. Mama rasa, anaknya Pak Haji mah dijamin kualitasnya," seloroh Mama.


"Loh, kok mama ngomongnya begitu. Jangan-jangn Mama suka sama Pak Haji nih," tukas Papa.


"Eh, bukan suka, Pah. Cuma kagum aja sama sosok Pak Haji yang bijaksana." Mama berkelit.


"Terus, papa ga bijaksana gitu?"


"Papa juga sama bijak ... bijaksini."


"Mama!!" Papa mencubit gemas pipi Mama.


"Papa!!" Mama balas mencubit gemas pipi Papa.


"Udah udah, Mama sama Papa kok malah berantem sih! Kayak anak kecil!" tegur Deka.


"Makanya kamu cepetan menikah, Deka. Punya istri itu selain sebagai tempat mencurahkan kasih sayang, juga tempat untuk begini nih ... bertukar pikiran dan sesekali bersilang pendapat. Asalkan ga sampai adu jotos," kata Mama.


"Iya, iya. Deka mau menikah ... kalau ada yang mau," ucap Deka.


"Menyedihkan sekali, kamu," ledek Papa.


"Menikah itu ga seperti pacaran, Pah," kata Deka.


"Memang. Yang bilang sama kayak pacaran siapa?" sahut Papa.


"Nyari istri juga ga seperti mencari pacar."

__ADS_1


"Makanya itu. Biar mama lamarin Ririn untuk kamu. Mau ya, mau ya?" Mama menaik-turunkan alisnya.


Dengan malu-malu akhirnya Deka mengangguk juga.


*****


Dua puluh enam tahun silam, Aki Rusli mendapati sebuah mobil yang mengalami kecelakaan tunggal. Saat itu suasana sekitar sangat sepi dikarenakan hujan yang mengguyur tanpa henti. Aki mendekati mobil itu, niat hati adalah untuk menolong.


Aki terkesima ketika mendapati seorang bayi cantik tengah menangis di antara beberapa tubuh lain yang tak sadarkan diri dalam mobil itu. Dengan rasa bimbang, Aki menggendong bayi itu lalu memutuskan untuk membawanya pulang. Tanpa memastikan keadaan para penumpang lain yang tak sadarkan diri. Aki bahkan tak tahu para penumpang lain di mobil itu telah meninggal atau masih hidup.


Aki menyerahkan bayi itu pada Sari, putri Aki yang telah lama menikah namun belum memiliki momongan. Berharap kehadiran bayi cantik itu dapat menyelamatkan pernikahan putrinya yang penuh nelangsa. Meskipun pada akhirnya, keputusan Aki membawa pulang bayi cantik itu adalah sebuah kesalahan yang sangat disesalinya. Sebab hanya menorehkan jutaan luka di sepanjang hidup bayi cantik yang kemudian diberi nama Pipit Nawangwulan.


"Maafkan Aki. Huuu ... Huuu ... Maafkan Aki karena sudah membawamu ke kehidupan keluarga Aki," sesal Aki usai menceritakan peristiwa yang terjadi dua puluh enam tahun silam.


"Seandainya Aki tak membawamu ke sini, mungkin kehidupanmu akan bahagia. Bahagia bersama keluargamu yang sebenarnya." Penuh penyesalan, Aki bahkan tak berani menatap Pipit.


Derai air mata tumpah membasahi pipi mulus Pipit. Ada setitik rasa kecewa dalam sanubari saat mengingat Aki lah yang telah memisahkan dirinya dengan keluarga sesungguhnya.


Namun, ia memilih untuk mengikhlaskannya. Tidak ada satu kejadian pun yang tak berarti dalam hidup. Semua kejadian pasti memiliki makna tersendiri. Jutaan luka hidup yang dialami selama ini, ia anggap sebagai tempaan untuk menjadi wanita yang kuat dan tegar.


"Sudah lah Ki, ini mungkin sudah suratan takdir Pipit. Aki juga tak sepenuhnya salah. Aki, Nini dan almarhumah Mamah sudah menyayangi Pipit dengan setulus hati selama ini. Kalau masalah sikap Bapak yang buruk, itu bukan salah Aki. Memang Bapak saja yang tak tahu diri," ujar Pipit.


"Pipit mau memaafkan Aki?"


Pipit mengangguk, seutas senyum juga ia sematkan di bibirnya.


"Nini juga minta maaf, Pit. Karena belum bisa membahagiakan Pipit selama ini," timbrung Nini.


Menghela napas panjang, Pipit memeluk dua orang sepuh yang telah merawatnya selama ini.


"Terima kasih karena Aki dan Nini telah merawat Pipit dengan kasih sayang yang tulus," ucapnya penuh haru.


"Aki juga minta maaf pada Pak Haji dan Bu Haji selaku orangtua kandung Pipit. Maaf atas sikap egois Aki yang telah memisahkan kalian," sesal Aki.


"Ya sudah lah. Yang lalu biarlah berlalu. Kami berharap mulai saat ini, Ririn bisa ikut kami, tinggal bersama kami."


"Pit, kamu ikutlah bersama orangtua kandungmu."


"Tapi Aki sama Nini, bagaimana?"


"Tidak usah khawatirkan kami. Aki sama Nini di sini banyak tetangga dan saudara."


"Tapi, Pipit ga tega ninggalin Aki dan Nini."


"Ga papa, Pit. Lagipula Jefri udah bebas sekarang, kalau kamu di sini, Jefri akan terus mengganggu kamu. Tinggallah bersama orangtua kandungmu. Anggaplah ini sebagai penebus dosa aki. Kalau kamu rindu sama kami, kamu bisa main dan menjenguk aki di sini."


Pipit terdiam. Sedang menimbang keputusan. Dari lubuk hati, sangat berat rasanya jika harus pergi meninggalkan Aki dan Nini.


"Aki, Nini, kami orangtua dari Dewa ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pertolongan Aki dan Nini yang telah merawat Dewa selama ini," sela Bu Dewi di tengah keheningan.


"Sama-sama, Bu. Sejujurnya kami juga merasa terbantu dengan adanya Asep," sahut Nini.


"Begini, mumpung di sini sedang berkumpul. Ada Pak Haji sebagai orangtua Ririn, serta ada Aki dan Nini yang telah merawat Ririn. Sekalian saja, kami melamar Ririn untuk Deka. Bagaimana?" lontar Bu Dewi seraya melemparkan senyum kepada semuanya.


Semua yang berada di tempat itu membeliakkan mata, terkejut dngan pernyataan Bu Dewi.


.


.


.


.


.


Maaf yah bukan bermaksud menggantung. Tapi, karena sedang memikirkan ending yang apik. Satu atau dua bab lagi juga mungkin tamat. Maafkan kalau ga bs up teratur.


Terima kasih dukungannya untuk sahabat semua.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2