
Mimin menatap sebungkus gado-gado pemberian Fahri di atas piring. Ia mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Fahri saat obrolan tadi.
"Sebaiknya kamu minta izin suamimu dulu. Kalau suamimu mengizinkan dan ridho, baru kamu makan ya. Aku gak mau kecipratan dosa karena ketidakridhoan suamimu.”
Mimin menghela nafas panjang lalu meraih ponselnya. Membuka daftar riwayat panggilan hingga menemukan sebuah nomor yang dicarinya. Nomor ponsel Dewa.
Tak terlalu sulit untuk menemukan nomor Dewa. Dikarenakan saat jam tersebut hanya Dewa yang meneleponnya. Ia menyimpan nomor itu dan berpikir sejenak. Hingga ia mengetikkan sebuah nama kontak "Pria Itu" sebagai nama kontak Dewa di daftar kontaknya.
Mimin memotret sebungkus gado-gado di atas piring lalu mengirimkan foto itu pada pemilik nama kontak "Pria Itu". Tidak lupa menuliskan sesuatu di bawah foto. "Apa aku boleh makan gado-gado ini ?". Dan terkirim.
*****
Matahari sudah berada di tengah langit. Fahri tengah duduk di atas sajadahnya di masjid agung kota. Menunggu saat matahari tergelincir ke arah barat, memasuki waktu zuhur.
Pikirannya terlempar pada pertemuannya dengan Mimin beberapa menit yang lalu. Ia bukannya tak tahu mengenai perasaannya terhadap Mimin yang telah tumbuh sejak kecil. Bukan sekedar rupa gadis itu yang memesona hatinya. Kebaikan hati dan pembawaannya yang kalem serta santun telah mengukuhkan perasaannya menjadi abadi.
Bahkan pesona para santri wanita yang dikenalnya tak mampu menggeser kekagumannya terhadap Mimin bahkan sejak Mimin belum berjilbab seperti sekarang.
Dan perasaannya semakin meresap mendalam ketika Mimin memutuskan berjilbab saat tamat SMA. Perasaan yang semakin besar berbanding terbalik dengan rasa percaya diri yang semakin mengerdil. Sungguh ironis.
Sosok Haji Zaenudin yang dikenal sebagai orang paling terkaya di kampung Cibening membuat keberaniannya menciut bahkan untuk sekedar menyatakan perasaannya kepada Mimin. Kendatipun ia tahu, merasa dan cukup peka untuk memahami bahwa Mimin pun mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Tetap saja kesenjangan status sosial yang ada ditambah beban berat di pundaknya sebagai kepala keluarga yang harus menghidupi kedua Tetehnya yang berstatus janda dan para keponakannya yang harus ia biayai pendidikannya. Membuat dirinya tak memprioritaskan urusan hati.
Selama ini yang dilakukannya adalah berdoa. Doa menjadi satu-satunya ikhtiar dalam mewujudkan mimpinya menyatukan hati dengan Mimin. Dan kini ia harus berusaha sekuat-kuatnya untuk melepas, merelakan, dan menghancurkan perasaan yang telah terpupuk sejak lama. Layu sebelum berkembang, patah sebelum menjadi utuh. Menyedihkan.
Tepukan seseorang di punggung membuyarkan lamunannya. "Astagfirullah," lirihnya.
"Taz... dah waktu," ujar marbot yang biasa dipanggil James singkatan dari Jamaah masjid.
"Makasih ya Jemz," ucap Fahri.
Fahri adalah salah satu imam di masjid ini. Ia berdiri hendak mengumandangkan azan ketika pandangannya menangkap sosok bayangan seseorang pria berambut gondrong.
"Yan...!!" seru Fahri.
"Fahri."
"Antum yang azan ya," titah Fahri.
"Wih, enggak lah. Aku gak pede," elak Dewa.
"Udah... Ayo sana antum azan! Ana masih ingat dulu antum itu Muazin terbaik waktu di pondok dulu. Suara antum paling merdu," tutur Fahri. Ya memang benar, Dewa memiliki suara cukup merdu makanya ia pun menjadi vokalis.
"Tapi...."
"Jangan pernah menolak kesempatan baik. Apa antum mau menolak kesempatan untuk mendapat pahala?"
"Baiklah... Bismillah."
"Yan... setelah salat, tunggu ana ya. Ana pengen ngobrol sama antum." Pesan Fahri sebelum Dewa menuju mimbar.
"Siap... Ustaz Fahri."
"Haissssh..." Fahri mendesis tak menyukai sahabatnya memanggil dengan sebutan ustaz. Baginya sahabat adalah tetap sahabat. Jangan sampai sebutan Ustaz akan memberi jarak di antara mereka.
Usai Dewa mengumandangkan azan. Fahri maju dan menjadi imam.
__ADS_1
*****
Hari ini Dewa bekerja hingga waktu istirahat saja. Beberapa hari yang lalu ia lembur bekerja, pulang bekerja hingga malam dikarenakan banyaknya motor customer yang harus diperbaiki. Dan ia memilih mengganti jam lemburnya dengan pulang cepat hari ini karena berencana untuk menemui Opi.
Bukan karena terlalu mengkhawatirkan Opi, namun justru karena ia mengkhawatirkan Mimin. Tentu ia tak ingin melihat Mimin cemas dan risau karena mengkhawatirkan Opi.
Sebelum menemui Opi, ia mampir ke masjid agung dikarenakan waktu zuhur yang sebentar lagi tiba. Usai berwudu dan akan mempersiapkan diri untuk salat, tak sengaja justru bertemu dengan Fahri.
Usai menunaikan salat Zuhur yang diimami oleh Fahri, ia duduk di beranda masjid. Sambil menunggu Fahri menyelesaikan kegiatannya, ia memilih untuk membuka ponselnya. Dan seketika bibirnya tersenyum selebar mungkin sebab membaca notifikasi yang masuk. Ada pesan WA masuk dari "Kekasih Halalku", begitu ia menamai kontak dari Mimin.
Dengan senyum lebar dan sumringah ia membuka pesan dari Mimin. Dan senyumnya semakin lebar dan semakin sumringah, manakala membaca pesan dari Mimin. Sebuah foto sebungkus entah apa mungkin nasi warteg, nasi padang, ketoprak, kupat tahu, atau gado-gado di atas sebuah piring. Dan pesan manis di bawah foto itu "Apa aku boleh makan gado-gado ini?"
Dewa membalas pesan Mimin. Cukup lama ia mengetikkan kalimat balasan pesan untuk Mimin. Hingga tak menyadari Fahri yang sudah duduk bersila di sampingnya.
"Ehem... Kelihatannya antum senang banget. Ngetik pesan sambil senyum-senyum gitu," goda Fahri.
"Eee, iya sih seneng banget malah," jawab Dewa diiringi senyum.
"Dapet pesan WA dari kekasih ya?" tanya Fahri menggoda Dewa.
Dewa tertawa kecil. " Hehehehe... Iya... kekasih halal," jawabnya.
Fahri tertawa tergelak karena mengira Dewa sedang bercanda. "Hahahaha... Makanya buruan halalin biar bisa jadi kekasih halal," ujarnya.
Dewa membalas dengan sebuah senyuman.
Fahri tersenyum getir. "Buruan halalin sebelum diambil orang!" serunya.
"Jangan seperti ana, Yan. Gak pernah berani maju, dan akhirnya keduluan orang lain. Layu sebelum berkembang, patah sebelum menjadi utuh, berpisah sebelum bersatu, kehilangan selama-lamanya sebelum memiliki," tuturnya.
Dewa menatap Fahri. Apakah yang dimaksud Fahri adalah Mina. Batinnya.
"Oya, Yan. Antum tinggal di mana?" tanya Fahri. Saat awal pertemuan mereka setelah sekian lama tak berjumpa, mungkin karena euforia yang mendalam hingga membuat Fahri tak sempat menanyakan nomor telepon dan tempat tinggal Dewa.
"Di kampung Cibening," jawab Dewa.
"Iya... tapi di sebelah mana?"
"Aku tinggal di kontrakan Haji Zaenudin."
"Oya...." ucap Fahri terkejut.
"Iya." Dewa mengangguk.
"Pintu kontrakan nomor berapa?"
"Nomor satu."
"Berarti pas sebelah rumah Pak Haji dong."
"Yup. Betul."
Fahri terdiam sejenak. Ingin sekali rasanya bertanya pada Dewa tentang siapa sosok suami Mimin. Jika Dewa tinggal di kontrakan Haji Zaenudin apalagi pintu nomor satu pastilah mengetahui tentang desas-desus yang beredar, tentang peristiwa penggerebakan yang terjadi, seperti yang ia tak sengaja dengar dari mulut orang-orang kampung Cibening. Namun ia merasa tak enak hati untuk bertanya.
"Antum kerja di mana?" tanya Fahri akhirnya.
__ADS_1
"Di bengkel."
"Oya. Bengkel yang di mana?"
"Bengkel yang di....(menyebutkan nama tempat)"
"Bengkel Haji Hamid?"
"Iya. Antum kenal Haji Hamid juga?"
"Iya. Oya, Yan... kapan antum punya waktu luang, ana ingin main ke tempat antum. Sekalian minta tolong periksa motor ana yang sering mogok."
"Nanti sore jni juga boleh. Aku hari ini kerja setengah hari."
"Kenapa setengah hari?"
"Aku mau menemui Opi... membujuknya untuk pulang."
"Pak Haji yang menyuruh antum menemui Opi?"
"Bukan... Mina."
"Mina??"
"Mimin maksudnya."
"Oh... Kenapa Mimin menyuruh antum menemui Opi?"
"Karena dia is... Karena disuruh Pak Haji," ralat Dewa. Hampir saja Dewa keceplosan menyebut status Mimin sebagai istrinya.
"Hehehehe... Sama aja lah Yan."
"Hehehehe..." Dewa ikut tertawa sumbang.
"Insyaallah hari ini ana juga ga banyak kegiatan. Nanti sore Insyaallah ana ke tempat antum ya!"
"Siap. Aku tunggu Fahri."
*****
Mimin masih duduk di kursi kerjanya. Sesaat kemudian ia menatap ponselnya yang menggelepar di atas meja kerjanya.
Ia meraih ponselnya. Ada notifikasi sebuah pesan dari "Pria Itu."
Ia membelalakkan matanya lebar-lebar ketika melihat sebuah pesan balasan dari Dewa. Pesan balasan yang teramat panjang layaknya kereta api.
.
.
.
Penasaran ga sih Dewa balas apa?
UP berikutnya entar siang atau sore ya insyaallah. Udah aku ketik namun belum rampung, tinggal sedikit lagi.
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk Like, komen dan hadiah serta vote nya.