Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kedatangan Yusril


__ADS_3

"Yas... Yasmin!!” seru seorang pria yang berjalan mendekat menghampiri keduanya.


Deka dan Mimin menoleh ke arah suara.


"Yusril..." gumam Mimin.


Deka menatap pria yang wajahnya tak lebih tampan dari wajahnya. Mengenakan kemeja motif batik warna coklat tua dipadukan dengan celana bahan warna hitam. Memakai sepatu pantofel warna hitam mengkilat. Penampilan Yusril persis dandanan seseorang yang mau kondangan, lalu bertemu teman di jalan dan disapa "Pak Lurah mau ke mana??".


Pria itu kini sudah berdiri di samping Mimin dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Tengil sekali gayanya. Gue ga suka gaya lo!. Umpat Deka dalam hati.


"Yas... Ayo kita pulang!" ajak Yusril setelah sampai di dekat mereka.


"Anda siapa? Datang-datang langsung ngajak Jasmin pulang," tegur Deka. Matanya menatap nyalang pria yang bernama Yusril itu.


"Perkenalkan...." Yusril mengulurkan tangannya. Sejujurnya Deka enggan untuk menyambut uluran tangan dari pria dengan gaya yang membuatnya muak. Namun ia harus menjaga dirinya searif mungkin. Agar terlihat baik di mata Mimin tentunya. Bukankah Mimin adalah tipikal wanita baik-baik yang menyukai pria baik-baik.


Dengan ragu Deka menyambut uluran tangan Yusril. Dan mereka pun bersalaman.


"Nama saya Yusril... calon suami Yasmin," ucap Yusril dengan penuh percaya diri.


Deka segera membuang genggaman tangannya dari tangan Yusril sesaat setelah mendengar pengakuan Yusril yang penuh percaya diri itu. Ia menatap Mimin, tatapannya seolah menuntut jawaban Mimin atas pernyataan Yusril. Namun Mimin memilih menunduk setelah menatap Deka dan mata meraka sempat bertautan sekian detik.


Deka mencebikkan bibirnya. "Cih... Yang kaya begini ngaku pacarnya Jasmin. Hahahahaha..." cela Deka dibumbui tawa mengejek.


"Yas... Bilang sama orang sombong ini kalau aku calon suami kamu!" seru Yusril kepada Mimin yang terus menunduk sedari tadi.


Mimin mengangkat wajahnya. "Maaf Pak Deka... saya permisi pulang duluan," ujarnya menatap Deka. Lalu mengalihkan pandangan kepada Yusril. "Ayo Yus! Kita pulang!" seru Mimin lalu ngeloyor pergi meninggalkan Deka.


"Hahahaha...." Yusril membalas tertawa mengejek. "Sekarang apakah Anda percaya bahwa saya calon suami Yasmin, Tuan sombong!" ucap Yusril membalas ejekan Deka sebelumnya. Kemudian ngeloyor meninggalkan Deka mengikuti Mimin.


Mimin sudah berjalan lumayan jauh meninggalkan Yusril yang sempat membalas drama saling mengejek dengan Deka. Yusril berlari kecil menyusul Mimin lalu menyejajarkan langkahnya di samping Mimin.


"Sebelah sini, Yas!" seru Yusril sebab Mimin salah jalan menuju tempat parkir motor.


Mimin menoleh ke arah Yusril lalu menatapnya dengan tatapan bingung. Matanya mengikuti langkah Yusril yang justru berjalan ke arah tempat parkir mobil.


"Yas... Sini!!" seru Yusril yang berdiri di samping sebuah mobil tipe MPV.


Sebelum menanggapi seruan Yusril, Mimin menoleh ke arah Deka. Dilihatnya Deka masih berdiri tegak di tempat tadi dengan pandangan mata tertuju penuh kepadanya.

__ADS_1


Sesungguhnya Mimin pun enggan untuk pulang bersama Yusril. Namun karena Deka terus memperhatikan dirinya, membuat ia terpaksa menerima tawaran Yusril demi menghindari Deka. Agar Deka tak berusaha mendekatinya lagi.


Mimin mengayun langkah menghampiri Yusril.


"Alhamdulillah Yas... Aku udah bisa beli mobil sekarang," ujar Yusril ketika Mimin telah berada di dekatnya. Lalu menekan remote alarm mobil hingga menghasilkan suara melengking khas alarm mobil.


Tit... Tit... Tit...


"Ini mobilku Yas. Aku sengaja pilih tipe MPV biar bisa muat banyak. Kan, kalau aku nikah sama kamu nanti... aku mau punya anak yang banyak minimal lima lah," tutur Yusril seraya mengembangkan senyumnya dan menatap Mimin tanpa berkedip.


Mimin memalingkan kembali pandangannya ke arah Deka. Dan dilihatnya Deka masih tetap  berdiri di sana memperhatikan gerak-gerik dirinya. Begitu pun Yusril turut melemparkan pandangan ke arah Deka.


Yusril membuka pintu mobil untuk Mimin. "Ayo Yas... naik!" titahnya ketika melihat Deka masih berdiri dan tak melepas pandangan kepada Mimin.


Mimin pun naik ke mobil dan duduk di kursi penumpang depan. Yusril berjalan mengitari mobil lalu duduk di belakang kemudi. Mobil tipe MPV Toyota Calya itu pun melaju membelah jalanan di suasana sore yang cerah.


"Yas... Aku sekarang udah punya mobil. Dan aku udah siap mau melamar kamu," tutur Yusril sambil mengemudikan mobilnya.


"Aku juga sedang mengumpulkan uang untuk modal usaha. Rencananya kalau kita menikah nanti terus punya anak... aku mau buka usaha di sini aja... ga mau kerja jauh-jauh lagi." Yusril terus saja berbicara, sesekali ia melirik Mimin yang duduk di sampingnya dan membuang pandangannya entah ke mana.


"Nanti kalau kita menikah, aku maunya kamu ikut aku ke Qatar... tinggal di sana enak kok, Yas," ujar Yusril kembali sambil melirik Mimin.


"Aku gak mau kaya temanku. Suami kerja di negara orang, eh istrinya malah selingkuh, pacaran sama brondong. Tapi... Kalau kamu sih aku yakin bakal jadi istri solehah, ga akan tuh selingkuh," sambungnya kemudian.


"Yas... Kalau kita menikah nan...."


"Yus...!" seru Mimin memotong ucapan Yusril.


Sejak mobil melaju, Mimin mengarahkan pandangannya ke arah spion mobil. Sama sekali tak tertarik untuk menyimak apa yang dibicarakan Yusril. Setelah mobil melaju cukup jauh dari kantor dan setelah yakin Deka tak mengikutinya. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Yusril yang duduk di sampingnya.


"Yus... Stop! Aku berhenti di sini aja," ujar Mimin.


"Loh... Kenapa? Ada apa Yas?" tanya Yusril heran.


"Aku mau naik angkot aja," ujar Mimin menatap Yusril.


Yusril menoleh ke samping menatap Mimin sekejap. "Iya... tapi kenapa? Aku kan mau anter kamu pulang," ucapnya lalu berusaha fokus kembali mengemudi.


"Maaf Yus... Aku tadi sedang berusaha menghindar dari Pak Deka. Aku gak mau Pak Deka terus-terusan mendekati aku," tutur Mimin.

__ADS_1


"Pria sombong yang tadi itu? Bagus... memang sudah seharusnya kamu menghindarinya," jawab Yusril dengan pandangan fokus ke depan, berkonsentrasi pada jalanan yang cukup ramai meski tak menimbulkan kemacetan yang berarti.


"Yus... Sebaiknya kamu ga usah temui aku lagi!" Mimin menatap Yusril.


"Kenapa Yas?" Yusril menoleh menatap Yasmin sekejap.


"Karena aku sudah menikah. Aku sudah bersuami," ujar Mimin bertepatan dengan lampu lalu lintas menyala merah.


Belum sempat Yusril menjawab pernyataan Mimin, kemudian ia menghentikan mobilnya karena lampu merah dan Mimin menggunakan kesempatan itu untuk membuka pintu lalu turun dari mobil.


"Yas....!!" pekik Yusril ketika Mimin memutuskan untuk turun dari mobil tanpa berpamitan kepadanya.


Mimin mengayun cepat langkahnya menuju trotoar. Dan Yusril ikut turun dari mobil dan meninggalkan mobilnya lalu melangkah cepat mengejar Mimin.


"Yas... Tunggu!!" seru Yusril. Namun Mimin sama sekali tak mengindahkan seruan Yusril bahkan semakin mempercepat langkahnya.


"Yas...!" seru Yusril.


"Yus...!" balas Mimin yang membalikkan tubuhnya menghadap Yusril.


"Woi... Udah hijau tuh... Jalan!!" seru seorang pengendara mobil yang berada di belakang mobil Yusril.


"Malah maen sinetron.... bikin macet aja!!" seru pengendara lainnya. Mungkin adegan Yusril mengejar Mimin ini mirip seperti adegan sinetron.


"Lagi marahan yah Mas? Kalau mau berantem... di rumah Mas, jangan di jalan raya!" seru pengendara motor yang berada paling dekat dengan Yusril.


“Kayak lagu syuting sinetron kumenangis membayangkan,” seloroh seorang pejalan kaki yang kebetulan memperhatikan mereka.


Seruan para pengguna jalan raya yang terjebak macet karena ulahnya membuat Yusril berhenti mengikuti Mimin, lalu berlari menuju mobilnya. Dan segera melajukan mobilnya.


Setelah Yusril kembali ke mobilnya. Mimin berjalan menuju sisi persimpangan jalan tempat pangkalan ojek lalu pulang menggunakan ojek pangkalan


.


.


.


Dobel up. Lanjut

__ADS_1


__ADS_2