Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Sol Patah Hati


__ADS_3

Menjelang magrib, Dewa baru tiba di rumah. Sengaja ia pulang lebih lama dari biasanya, sebab mulai besok ia akan mengambil cuti. Dewa memarkirkan motornya di depan halaman kontrakan. Ia melepaskan helm yang dipakainya dan meletakannya di spion motor, lalu turun. Baru saja ia akan masuk ke dalam rumah, ketika kemudian Mimin menyapanya.


"Aa, baru pulang?" sapa Mimin.


Mendengar suara sapa merdu dari wanita pujaannya, membuat dirinya memutar langkah menghampiri Mimin. Meski raga terasa amat lelah dan ingin segera bertemu dengan kasur untuk merebahkan diri di atasnya, agar dapat mengurai rasa lelahnya. Namun, ketika melihat paras cantik istrinya itu, seketika tubuh lelahnya seakan mendapat energi tambahan. Dan semangat yang tadi meredup akibat kelelahan, sontak menyala kembali.


Mimin meriah tangan Dewa lalu salim mencium lembut punggung tangan suaminya.


"Itu apa A?" Mata Mimin tertuju pada paper bag yang ditenteng Dewa.


"Oh, ini kemeja," jawab Dewa lugas.


"Kemeja punya Aa?"


"Iya eh bukan."


Mimin menatap Dewa dengan tatapan penuh tanda tanya. Sebab jawaban Dewa yang tak konsisten.


"Ini kemeja pemberian Mida. Aku gak enak untuk menolaknya, jadi aku terima aja. Nanti aku bisa kasih kemeja ini untuk  Sol atau Jejed," jelas Dewa sejelas-jelasnya agar tak menimbulkan salah paham di antara mereka.


"Oh. Ya udah Aa masuk gih, mandi dulu. Oya,Aa diundang Kang Rizal kan?"


"Iya, ba'da magrib kan?"


"Iya."


"Neng Mina mau ngapain?"


"Mau nyiram tanaman. Aa mau ngapain?"


"Mau nemenin Neng Mina nyiram tanaman."


Dan mereka pun menghabiskan sore dengan kegiatan menyiram tanaman berdua. Menciptakan momen-momen mesra dalam suatu kegiatan sederhana.


*****


Malam minggu


Selepas salat Magrib berjamaah di masjid, Dewa masih mengenakan sarung dan baju koko. Karena ia akan memenuhi undangan dari Kang Rizal untuk hadir di kediamannya ba'da magrib.


Sementara Sol tengah sibuk mematut dirinya di depan cermin. Sudah lebih dari sepuluh kaos dan kemeja milik Sol yang berserakan di atas kasur. Hampir semua pakaian ia coba, lalu karena merasa kurang keren, dilemparkannya pakaian itu dan mengganti dengan yang lain. Begitu seterusnya, hingga membuat kamar itu awut-awutan dengan pakaian Sol yang terserak di segala penjuru kamar.

__ADS_1


"Lo lagi ngpaian sih Sol, kamar jadi berantakan begini," tegur Dewa. Ia sampai geleng-geleng kepala melihat kamar mereka berantakan.


"Gue kan pengen tampil keren Wa, di malam minggu pertama mengapeli Rahma," sahut Sol yang masih berdiri di depan cermin. Sesekali ia miring kanan, miring kiri untuk memastikan penampilannya sempurna. Sempurna ala Sol, meski tidak menurut orang lain.


Setelah menghabiskan seluruh isi lemari pakaiannya dan mencoba semua pakaian mulai dari, kaos, kemeja lengan panjang, kemeja lengan pendek, sweater, rompi, dan lainnya. Akhirnya pilihan jatuh pada t-shirt ketat warna putih sebagai daleman dan dilapisi jaket kulit warna hitam membalut tubuhnya. Dipadukan dengan celana jeans warna hitam, dan sepatu boots cowok. Benar-benar keren maksimal penampilan Sol malam ini. Ditambah dengan gaya rambutnya yang dibelah tengah, membuat penampilannya mirip Charlie Van Houten. Charlie berpipi chubby.


"Gue keren gak?" Sol melempar pertanyaan kepada kedua sahabatnya itu seraya merapikan kerah jaketnya.


"Pakai baju koko dan sarung aja Sol, kayak gue nih," kata Dewa menasihati.


"Apaan sih lo Wa, orang mau ngapel kok pakai baju koko sama sarung sih, aneh lo mah Wa," sungut Sol.


"Ya sudah lah, terserah lo deh," ucap Dewa pasrah. "Yuk, lah kita berangkat sekarang," lanjutnya.


"Lah, emang lo mau ke mana Wa? Lo ga berangkat ngamen?" tanya Sol.


"Nanti berangkatnya setelah pulang dari rumah Rahma," terang Dewa.


"Loh, kok lo mau ke rumah Rahma sih Wa?! Mau ngapain?!"


"Gue juga mau ke rumah Rahma, Sol," sahut Jejed.


"Apa?? Kalian mau ngapain ke rumah Rahma?" Sol menatap bingung kedua sahabatnya itu.


"Udah Sol, ganti deh baju lo. Lagi pula rumah Rahma kan dekat, ngapain lo pake jaket gitu sih," tegur Jejed.


Dewa mencari-cari di antara serakan pakaian Sol di atas kasur, lalu mengambil satu kemeja yang menurutnya cocok.


"Nih, lo pake ini aja, kalau gak mau pakai koko," ujar Dewa sambil menyerahkan kemeja warna biru muda dengan motif salur pilihannya. "Lo lebih keren kalau pakai ini," lanjutnya.


"Beneran gue keren kalau pakai ini?" tanya Sol yang ragu dengan kemeja pilihan Dewa.


"Iya...!!" sahut Dewa dan Jejed kompak.


"Lagian nih ya. Kalau orang keren pakai baju apa pun akan keren. Kalau orang gak keren mau pake baju sekeren apa pun ga akan kelihatan keren," sahut Jejed.


"Lo ngeledek gue Jed!" protes Sol.


"Enggak lah. Orang gue senasib sama lo, Sol. Sama-sama ga keren," seloroh Jejed.


"Hahahaha." Dewa terbahak mendengar kejujuran dan pengakuan sahabatnya itu. Definisi dari tahu diri.

__ADS_1


Dengan penuh pertimbangan yang alot, akhirnya Sol menyetujui mengganti baju atasannya  dengan kemeja pilihan Dewa. Meski ia tetap mengenakan celana jeans. Kemudian mereka bertiga, bersama-sama pergi ke rumah Rahma.


"Loh, rumah Rahma kok rame amat ya? Ada acara apa sih?" Sol keheranan ketika sampai di halaman rumah Rahma, mendapati banyaknya bapak-bapak yang memakai sarung dan peci berdatangan ke rumah gadis pujaannya itu.


"Sepertinya mau ada acara ngeriung," sahut Jejed.


"Emang iya mau ngeriung," sahut Dewa membenarkan tebakan Jejed.


"Asyik dapat nasi kotak dong kita," ujar Jejed riang.


"Lah, terus gue gimana dong? Gue pakai baju begini," keluh Sol.


"Lo sih bandel, dibilang pakai baju koko malah ngeyel," sungut Dewa.


"Udah nih, lo pakai peci gue aja, biar rada pantas." Dewa memakaikan peci miliknya di kepala Sol. Sehingga Dewa hanya mengenakan sarung dan baju koko saja tanpa peci.


Trio Lakotum Band sudah duduk bersila dengan manis di antara para bapak-bapak warga kampung Cibening yang hadir di acara "ngeriung" ini. Haji Zaenudin dan Fahri juga turut hadir di acara tersebut. Dewa duduk bersebelahan dengan bapak mertua tercinta Haji Zaenudin, sementara di sebelahnya lagi adalah Sol dan Jejed. Sedangkan Fahri selaku Ustaz duduk di sebelah Rizal, si empunya hajat.


Tak berselang lama, Rizal sang empunya hajat berdiri untuk menyampaikan sambutan.


"Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh." Rizal mengucap salam kepada seluruh tamu yang hadir.


"Waalaikum salam warahmatullah wabarakatuh," sahut semuanya kompak.


"Terima kasih bapak-bapak sekalian sudah berkenan hadir di acara syukuran ini. Acara ini hanya sebagai bentuk rasa syukur karena adik saya tercinta yaitu Rahma Solihatunnisa, alhamdulilah telah didekatkan dengan jodohnya."


Dan Sol tersenyum cerah ketika mendengar penuturan Rizal.


Rahma Solihatunnisa telah didekatkan dengan jodohnya. Apakah maksudnya adalah aku ya. Batin Sol sumringah.


"Alhamdulillah Rahma secara resmi sudah di khitbah oleh pria yang mencintainya dan dicintainya. Dan Insyaallah pernikahannya akan dilaksanakan dua minggu lagi. Saya mohon doanya semoga diberikan kelancaran dan keberkahan untuk acara pernikahan adik saya tercinta ini.


Selanjutnya saya serahkan kepada Ustaz Sanusi untuk memimpin doa. Silakan Ustaz Sanusi."


Seketika senyum cerah Sol memudar seiring dengan hatinya yang teriris perih. Kobaran semangat yang tadi berapi-api meredup mati. Dunianya yang ceria muram berganti. Membuat tubuhnya mendadak lemas dan kepalanya jatuh tergolek di bahu Jejed. Patah hati sepatah-patahnya.


.


.


.

__ADS_1


Lanjut


__ADS_2