
Dua minggu telah berlalu sejak dilaksanakannya tes DNA. Dibutuhkan waktu 14 hari untuk mendapatkan hasil tes DNA tersebut.
Fakta yang baru terungkap ketika dilaksanakannya tes DNA adalah usia kehamilan Clara yang sudah memasuki minggu ke-17. Artinya ketika berhubungan dengan Deka, Clara memang sudah hamil dan usia janin sekitar 8 minggu.
Pak Harto, ayah Clara sangat murka ketika mengetahui hasil tes DNA menerangkan bahwa probabilitas terduga ayah (dalam hal ini adalah Alex) sebagai ayah biologis dari janin yang dikandung Clara adalah lebih dari 99%. Kesimpulan dari tes DNA itu menjelaskan bahwa Alex adalah benar ayah dari calon cucunya. Sehingga Dewa dan Deka terbebas dari tuduhan dan tanggung jawab atas kehamilan Clara.
Braaak....
Pak Harto menggebrak meja dengan penuh amarah. "Kenapa harus Alex!!!" murkanya.
Pak Harto yang terlanjur membenci Alex sebab pengkhianatan yang telah dilakukannya semakin meradang ketika mengetahui bahwa Alex adalah ayah biologis dari janin yang dikandung putrinya.
Ia tak mungkin menikahkan putrinya dengan Alex si pengkhianat. Daripada menikahkan Clara dengan Alex lebih baik cucunya itu dilahirkan tanpa ayah.
Pada akhirnya Pak Harto memutuskan untuk mencari atau membayar pria yang bersedia menikahi Clara. (Kisah Clara pun berakhir di sini. Semoga di kesempatan lain kisah Clara bisa dijadikan cerita baru untuk karya selanjutnya)
*****
Bu Dewi membawa sepiring kue klepon dan secangkir teh ke ruang keluarga tempat suaminya tengah menonton tv.
"Wah, kue klepon Mah." Mata Pak Satya berbinar ketika melihat kue kesukaannya.
"Mama bikin sendiri 'kan?"
"Iya dong."
Pak Satya mencomot satu kue klepon dan langsung memasukkan ke dalam mulut. "Enak ini Mah. Mantul."
"Syukurlah kalau enak. Mama tadi sore sengaja bikin klepon ini spesial untuk Papa loh. Kue kesukaan Papa 'kan?"
"Kalau mama kayak gini pasti ada maunya deh," tebak Pak Satya sembari mengunyah klepon.
Dan tebakan Pak Satya memang benar adanya. Bu Dewi sengaja membuat kue kesukaan Pak Satya lantaran ingin membujuk suaminya itu agar mau merestui pernikahan Dewa dengan Mimin.
"Mama lagi pengen beli apa memangnya?"
"Mama ga pengen beli apa-apa. Mama cuma mau Papa datang ke rumah mertuanya Dewa untuk minta maaf dan melamar secara resmi, meminta Mina untuk Dewa, Pah."
"Udah lah Mah, itu terus yang dibahas."
"Papa ga kasihan apa sama Dewa."
"Loh, itu 'kan keputusan Dewa sendiri untuk memilih jalannya. Bukannya dia yang memilih untuk tak mengikuti keinginan Papa. Jadi, biar dia yang menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Tapi masalah Dewa itu akibat ulah Papa. Jadi, hanya Papa yang bisa menyelesaikannya!"
"Dia aja ga nurut sama Papa ngapain Papa ngurusin dia!"
"Pah ... Dewa itu anak Papa loh, anak kita. Coba deh Papa sekali aja memahami keinginan anak-anak.
Papa ga takut apa? Bagaimana kalau nanti tiba-tiba Papa dapat notif dari situs berita online. Isinya begini, vokalis grup band rock yang tidak terkenal, putra pengusaha Satya Nugraha tewas bunuh diri karena batal kawin."
"Ada-ada aja kamu, Mah."
"Bisa aja loh, Pah. Dewa itu sangat mencintai Mina. Lagian Papa juga 'kan pernah muda. Apa Papa ga inget dulu Papa juga pernah ditolak sama ayahku. Coba bayangin kalau misalnya waktu itu Mama milih menikah sama Mas Bambang mengikuti keinginan ayah. Kira-kira nasib Papa sekarang bagaimana, ayo!"
Pak Satya bergeming menanggapi ucapan istrinya. Lalu keheningan yang tercipta selanjutnya.
*****
Hari ini adalah hari pernikahan Rahma dan Diev. Kisah cinta Rahma dan Mimin nyaris mirip. Keduanya sama-sama dipertemukan dengan pria yang tak sesuai kriteria mereka. Pria yang jauh dari kata soleh/baik di awal pertemuan mereka.
Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan.Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik. Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apa lingkungannya dulu, dan seburuk apa perangainya di masa lampau. Yang terpenting adalah selalu berusaha untuk menjadi lebih baik di masa sekarang dan nanti.
__ADS_1
Karena orang baik bukanlah orang yang tak pernah melakukan salah dan dosa, melainkan orang yang menyadari kesalahannya dan dosanya lalu berusaha sekuat hati untuk memperbaiki diri. Begitulah kira-kira yang terjadi pada Diev dan Dewa.
Akad nikah dilaksanakan di masjid Al Mukmin kampung Cibening. Prosesi akad nikah berjalan lancar. Para sahabat dan warga Kampung Cibening hadir di sana. Bahkan Haqi pun turut menghadiri akad nikah tersebut. Kehadiran Haqi di acara tersebut atas undangan Rizal, kakaknya Rahma. Karena Rizal adalah salah satu donatur di Yayasan Yatim Piatu Darul Muttaqin. Namun, ada satu orang yang tak tampak kehadirannya dalam acara tersebut yaitu Sol.
Sol tengah dilanda gundah gulana. Biar bagaimanapun di hatinya ada sedikit luka. Menerima kenyataan pahit karena Rahma menikah bukan dengannya. Hingga kemudian ia teringat pada gadis manis sedikit berkumis, bulu tipis-tipis kalau tersenyum sangat manis. Dialah Mida.
Kemudian Sol berpikir untuk nge-chat Mida dan mengajaknya menghadiri undangan pernikahan Rahma.
Sol : Assalamualaikum
Mida : Waalaikum salam
Sol : Apa kabar Mida?
Mida : Baik
Sol : Kakinya gimana?
Mida : Kaki?
Sol. : Iya
Mida : Emang kenapa kaki saya?? Kaki saya baik-baik aja.
Sol : Oh, bisa jalan?
Mida : Bisa dong.
Sol : Serlok ya aku jemput kamu sekarang
Mida : Ih, emang paling bisa ya kamu
Setelah ber-chat ria akhirnya keduanya sepakat untuk menghadiri undangan bersama. Sebab ternyata Mida pun mendapat undangan dari Rahma.
Mimin dan Dewa baru saja menghabiskan santapannya ketika pandangannya jatuh pada sosok pria yang sangat dikenalnya dan terlihat sangat keren malam ini. Dialah Sol.
"A, itu 'kan Kang Sol ya?" Mimin menunjuk ke arah Sol yang baru datang.
"Iya. Kirain Sol ga bakal datang karena patah hati," sahut Dewa.
"Itu yang datang sama Sol siapa ya? Kayak kenal."
Dewa melambaikan tangannya kepada Sol agar Sol datang menghampirinya. Sol yang melihat itu segera menghampiri Dewa dengan senyum terkembang sempurna sebab berhasil membawa gandengan untuk kondangan.
"Hai Dewa, Mina!" seru Sol.
"Sol, keren banget lo! GILA...!" canda Dewa dengan menekankan kata GILA.
"Anjir habis dibilang keren terus dibilang GILA. Dasar lo yang GILA!" sahut Sol turut menekankan kata GILA.
"Eh iya, kenalin nih ... namanya Mida. Kepanjangannya Midadari hatinya Aa Soleh Munawar. Hihihihi...."
"Mida...?!" Dewa dan Mimin kompak menyahut. Keduanya sempat tak mengenali Mida sebab penampilan Mida yang kini mengenakan jilbab.
"Ya ampun pangling deh, Mida sekarang pake jilbab. Alhamdulillah semoga istiqomah ya," ujar Mimin. Lalu kedua gadis yang memang sudah saling mengenal itu berpelukan.
"Hai, Dewa."
"Hai, Mida. Ya Allah seneng banget loh, Sol akhirnya ada gandengan buat kondangan. Mida, Sol ini pria sejati dan setia loh. Percaya deh sama aku."
"Makasih, Sob." Sol menepuk pundak Dewa. "Besok gue kasih jilbab gratis buat lo," lanjutnya.
"Hahahaha... Udah sono gercep ngantri perasmanan entar ga kebagian rabeg loh!" Rabeg adalah daging kambing yang dimasak dengan bumbu tertentu yang merupakan masakan khas kota Serang.
__ADS_1
"Waduh bahaya kalau sampai ga kebagian rabeg." Sol dan Mida pun segera beranjak menuju antrean di depan meja perasmanan.
"Mina, Mida, Mila. Idih, kenapa bisa kompak begitu ya, " gumam Dewa setelah Sol pergi.
"Kenapa A?" tanya Mimin yang tak dapat mendengar gumaman Dewa tentang kekompakan personel Lakotum Band.
"Enggak kenapa-kenapa Neng Mina cantik." Dewa melemparkan senyum seraya mencolek dagu Mimin. "Neng, kita pulang yuk," ajaknya kemudian.
"Kenapa? Nanti ah, sebentar lagi."
"Tuh, mumpung Mami ada di sini ayo kita pulang." Dewa menggenggam tangan Mimin. Mau tidak mau Mimin pun menuruti kemauan Dewa.
"Kenapa gitu A buru-buru pulang?" Dua sejoli itu tengah mengayun langkah pulang sambil bergenggaman tangan.
"Biar Neng bisa main ke kontrakan. Meneruskan kemarin yang tertunda," bisik Dewa di telinga Mimin.
"Awww..." pekik Dewa karena Mimin mencubit tangannya.
"Ayo, masuk Neng!" seru Dewa ketika sudah sampai kontrakan dan membuka pintu.
Dewa masih belum melepaskan genggamannya. Ia menuntun Mimin untuk masuk ke dalam kontrakan.
Cup... Dewa yang berada di sisi Mimin mengecup pipi kanan Mimin tanpa permisi.
Kemudian ia maju selangkah dan memutar badannya sehingga keduanya kini berdiri berhadapan.
Cup... Kali ini Dewa mengecup pipi kiri Mimin. Membuat Mimin tertunduk tersipu. Padahal ini sudah kecupan kesekian kalinya, namun tetap saja setiap Dewa melakukan itu jantungnya berdegup tak karuan hingga ia memilih menunduk untuk menyembunyikan rasa malu.
Dan setelah ini adalah hal yang ditunggu-tunggunya. Diam-diam kini ia merindukan kelihaian Dewa dalam menggigit, mengecap dan menyesap.
Dewa sudah mendekatkan wajahnya. Mimin pun telah memejamkan matanya dan membuka sedikit mulutnya. Berrsiap untuk menerima tautan mesra di bibirnya. Lalu...
“Teteh .... Pulang!!” Keduanya terjingkat dan refleks saling menjauhkan tubuh karena seruan Mami.
“Ayo Teh, pulang!” Mami menarik lengan Mimin agar mengikutinya pulang.
“Mami... tunggu!” Dewa mengikuti langkah Mami dan Mimin.
“Kenapa Mami seperti ini? Kami ini saling mencintai!” seru Dewa.
Mendengar seruan Dewa, Mami menghentikan langkahnya lalu berbalik badan.
“Saya sudah bilang berkali-kali sama kamu. Jangan dekati Mimin sebelum Papa kamu datang ke sini untuk meminta maaf, ngerti!”
“Tapi, Mih.... “
“Kalau kamu tetap ngeyel, saya bisa usir kamu dari kontrakan ini!” ancam Mami. Lalu dengan langkah cepat berlalu meninggalkan Dewa.
Astagfirullah. Ya Allah berilah kemudahan untuk hamba-Mu ini. Ketuklah hati Papa dan Mami agar mau menerima hubungan cinta kami yang tulus ini. Gumam Dewa dalam hati.
Dewa menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa kesalnya. Baru saja ia hendak masuk ke dalam kontrakan ketika kemudian sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah Mimin. Sebuah mobil mewah jenis Lexus yang sangat dikenalnya.
“Papa...?!”
.
.
.
.
Terima kasih sudah membaca cerita ini. Jangan lupa Like ya. ❤️❤️❤️
__ADS_1