Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Extra part 6


__ADS_3

"Ayaaaah ...!" Dua gadis cantikku berhambur memeluk.


"Hai Teteh 1. Hai Teteh 2."  Aku mengacak puncak kepala  dua putri kecilku yang tertutup jilbab. Teteh 1 adalah panggilan untuk Syakira dan Teteh 2 adalah panggilan untuk Safiyaa.


Beginilah aku, sesibuk apapun selalu berusaha mengantar dan menjemput sekolah anak-anakku. Beruntung aku adalah Bos.


Bos? Ya, sekecil apapun usaha yang kita miliki, jika memiliki usaha sendiri dan tidak bekerja kepada orang lain, bukankah memang disebut Bos.


"Abang belum pulang, Teh?"


"Belum. Abang 'kan kelas tiga. Kalau kelas tiga pulangnya lamaaaaaa banget." Syakira yang menjawab pertanyaanku.


Oya, sekarang Syad sudah duduk di kelas tiga, sedangkan Kira dan Fiya duduk di kelas satu. Mereka bersekolah di salah satu SDIT di kota ini


"Kita tunggu di sana, yuk!" tunjukku pada gerobak es cincau, beberapa meter dari gerbang sekolah di bawah sebuah pohon rindang.


Aku memang biasa menunggu di tempat gerobak es cincau ini mangkal. Mamang es ini biasa mangkal di sini saat jam-jam pulang sekolah seperti sekarang.


"Ayuk!" sahut Kira dan Fiya semangat.


"Mau minum es cincau ga?" tawarku menatap Kira dan Fiya bergantian.


"Mau," sahut si kembar kompak.


"Mang es-nya tiga ya."


"Siap, Pak Haji," sahut mamang es yang adalah langgananku.


Semua orangtua murid yang sekolah di sini, dia panggil dengan sebutan Pak Haji dan Bu Haji. Alasannya karena ini sekolah islam mahal. Yang sekolah di sini pasti orang kaya, pasti semua orangtua di sekolah ini udah jadi Pak Haji dan Bu Haji. Begitu menurut si mamang es. Astaga, polos sekali pikirannya.


"Mang es-nya yang maniiiiiiiiiis ya," pinta Fiya pada mamang es cincau.


"Aku juga," timpal Kira.


"Siap, Geulis!" Mamang es mulai membuatkan pesanan. Kami duduk di sebuah bangku panjang.


"Tadi belajar apa, hemm?" tanyaku pada si kembar.


"Tadi belajar tentang aurat, Ayah," sahut Fiya.


"Oya. Bagaimana katanya aurat itu?"


"Berarti Ayah ga boleh pake celana yang sobek itu!" seru Kira semangat.


"Celana yang sobek yang mana?!"


"Celana yang dengkulnya sobek-sobek itu," sahut Kira.


Aku tahu celana yang dimaksud putriku. Celana jeans yang modelnya sobek di bagian lutut. Namun aku pura pura mengernyitkan kening seolah sedang berpikir.


"Celana warna biru yang dengkulnya bolong itu. Tapi celana itu udah dibuang sama Bunda deh." Fiya ikut menyahut.


"Oh, yang itu. Kenapa ga boleh pake celana itu? Ayah malah rencana mau beli celana kayak gitu lagi."


"Jangan, Ayah! Karena aurat laki-laki itu dari pusar sampai lutut. Kalau Ayah pakai celana sobek itu, nanti lututnya kelihatan, ga boleh!" sahut Kira.


"Masa sih?!"


"Iya, Ayah. Ga boleh!" timpal Fiya.


"Ga boleh ya ... padahal ayah suka celana itu," ucapku memasang wajah sendu.

__ADS_1


"Ayah itu lebih ganteng kalau pake baju koko sama sarung," cetus Fiya.


"Kalau ayah ga pakai baju koko dan sarung berarti ayah jelek dong." Aku memasang wajah merengut.


"Enggak. Ayah tetap ganteng. Maksudnya gantengan kalau pake baju koko," jelas Fiya.


"Pokoknya Ayah kita mah ganteng," imbuh Kira.


"Iya dong. Kalau ayah ga ganteng, Bunda ga akan mau sama ayah," timpalku.


"Ayaaaah ...!" Syad berlari-larian ke arah kami.


"Kok, Abang udah pulang? Tumben cepet," kataku. Syad cepat meraih tanganku untuk salim.


"Ayah nanti mau ada MABIT."


"MABIT itu apa, Bang?" lontar Kira.


"MABIT itu acara malam-malam di sekolah," sahut Syad.


"Memangnya kelas tiga udah harus ikut MABIT juga, Bang? Bukannya untuk kelas yang tinggi aja ya, kelas lima dan enam?"


"Kata ustaz, kelas tiga juga ikut MABIT. Ayah, aku boleh ya ikut MABIT?"


"Kalau ayah sih boleh-boleh aja. Tapi minta izin sama Bunda, dong."


"Ayah bantu ngomong dong sama Bunda, biar aku bisa diizinin."


"Iya, nanti ayah bilang ke Bunda."


"Ini esnya, Pak Haji." Mamang es menyerahkan tiga cup es cincau.


"Abang mau es cincau ga?" tawarku pada si sulung.


Syad mendekati mamang es cincau. "Mang, ini esnya pakai gula asli apa pemanis buatan?" tanyanya sembari melipat tangan di dada.


Aku geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Begitulah Syad. Mungkin karena sewaktu kecil sering menghabiskan waktu bersama Bang Deka, ia malah mirip Bang Deka yang selalu pilah-pilih makanan. Tak mau memakan makanan sembarangan.


"Aduh anak kasep. Pakai gula asli, tapi ditambahin gula biang juga sedikit," jawab mamang es jujur. Beruntung si mamang tidak marah karena sudah cukup akrab denganku dan anak anak.


"Ayah, gula biang itu pemanis buatan bukan?" bisik Syad di telingaku.


"Abang lihat aja sendiri. Ayah baik-baik aja dan tetap ganteng 'kan minum es cincau ini."


"Iya, Bang. Kira sama Fiya juga tetep cantik minum es ini. Hihihihi." Duo kembar itu tertawa cekikikan.


"Baiklah, Mang. Aku pesan es satu aja. Ingat, cuci tangan dan baca bismillah sebelum membuat es pesananku," kata Syad masih melipat tangan di dada.


Please, Bang. Itu bukan ayah banget.


"Siap, Anak Kasep!" Mamang es itu patuh menuruti ucapan Syad. Mencuci tangan dan membaca basmalah sebelum membuatkan satu cup es cincau untuk Syad.


Dasar Syad.


"Bunda dibelikan es cincau ga nih?"


"Jangan, Ayah! Nanti Bunda pilek, nanti nular sama Adek," sahut Syad.


Setelah tuntas menikmati es cincau, baru kami beranjak pulang. Mengendarai Pajero Sport Dakar, mobil yang kubeli second dari Bang Deka.


Bang Deka si crazy rich itu bergonta-ganti mobil sudah seperti bergonta-ganti ce-lana dalam. Biar sajalah sulltan mah bebas, asal jangan bergonta-ganti istri saja. Hahahaha.

__ADS_1


Aku menghentikan mobil di depan sebuah fashion outlet bertajuk Pim Pim Pom. Toko dua lantai yang menyediakan busana anak dengan berbagai macam model dan segala pernak-perniknya. Toko ini adalah usaha bersama Mina dan Ririn. Di tahun pertama berdirinya, toko ini langsung melejit dan laris manis.


Kini Pim Pim Pom menjadi toko busana anak terlaris di kota Serang. Setiap hari selalu ramai dengan pengunjung dan pembeli. Selain karena model bajunya yang lucu-lucu, cantik-cantik dan keren-keren, mungkin karena toko ini menyediakan produk dari kisaran harga kaki lima sampai butik, sehingga dapat dijangkau oleh semua kalangan.


"Bunda ...!" Ketiga anakku menghambur ke arah bundanya. Tidak lupa untuk mencium punggung tangannya.


Mina mencium satu per satu anak-anaknya.


"Gimana sekolahnya? Asyik?"


"Asyiiik," sahut ketiga anakku kompak.


Mina mendekatiku lalu mencium punggung tanganku takzim.


"Shadam mana?" tanyaku.


"Tidur," jawabnya pelan mungkin agar tidak membangunkan Shadam.


Muhammad Shadam Argian adalah anak keempatku. Lebih tepatnya anak keempat dari proses persalinan ketiga. Bocah laki-laki tampan yang memiliki warna kulit putih dan wajah mirip seperti bundanya itu kini berusia satu tahun tiga bulan.


"Terus jadi ga ke Sawah Luhur?" tanyaku. Aku sudah janjian dengan Sol dan Jejed untuk bertemu dan makan bersama di Sawah Luhur.


"Hayuk. Tapi ayah udah solat Zuhur belum?"


"Udah tadi di bengkel."


Oya, aku kini memiliki sebuah bengkel penampungan mobil dan truk rongsok tua. Mobil-mobil tua itu nantinya diambil suku cadangnya yang masih layak pakai untuk kemudian didaur ulang menjadi mesin kapal nelayan, mesin potong rumput, mesin traktor atau odong-odong.


Alhamdulillah usahaku juga berjalan lancar, bahkan kini pangsa pasarnya meliputi seluruh kota di Indonesia bahkan hingga Asia Tenggara.


Lakotum Band juga mempunyai chanel youtube yang kini jumlah subscriber-nya sudah mencapai jutaan. Sol dan Jejed yang lebih aktif dalam project ini. Dikarenakan kesibukanku yang sangat padat, aku tidak bisa terlalu aktif dalam project tersebut.


Chanel ini berisi konten pembelajaran musik dan band, juga ajang pencarian bakat untuk band-band sekolah di kota Serang. Dengan candaan khas kami, membuat chanel tersebut lebih berwarna.


Sungguh definisi dari sebuah kesuksesan. Sukses adalah jika hobi menghasilkan money.


.


.


.


.


MABIT \= Malam Bina Iman dan Takwa.


.


.


.


Hai hai sahabat mampir yuk ke ceritanya Babang tamvan berboxer Doraemon. Klik saja profilku terus pilih novel terbaruku yang berjudul Sang Mantan Cassanova.


Mohon dukungannya ya sahabat semua.


Terima kasih.


Love U ❤️❤️❤️❤️


__ADS_1


__ADS_2