Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Pertemuan


__ADS_3

"Jika semua orang berkata buruk tentangnya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang berkata baik tentangnya. Jika semua orang meragukannya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang mempercayainya. Jika semua orang menyangkalnya, kamu harus menjadi satu-satunya orang yang membenarkannya."


Butiran bening lolos dari sudut mata Mimin yang tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit kala mengingat wejangan Hana tentang Iyan. Butir bening itu mengalir dan membasahi pelipisnya.


Bagaimana mungkin dirinya yang terpilih sebagai wanita yang dicintai Dewa, malah meragukannya. Sedangkan Hana yang tak terpilih yang tak mendapatkan balasan cinta dari Dewa malah begitu mempercayainya. Tak pernah mengubah rasa cintanya sejak kecil hingga sebelum akhirnya Dewa menikahi dirinya. Tak pernah berbalik memusuhi Dewa, bahkan teramat sangat mempercayai. Wejangan Hana kepada dirinya tentang Iyan adalah bukti dari tingginya keyakinan terhadap Dewa.


*****


Usai bertanya tentang kamar ruangan tempat Mimin dirawat kepada perawat yang berjaga, Dewa mengayun pasti langkahnya melewati koridor rumah sakit. Melewati orang-orang yang sibuk dalam antrian loket pendaftaran. Melewati para pekerja rumah sakit ini yang tengah sibuk dengan aktivitasnya, mulai dari cleaning service, perawat hingga dokter. Aroma khas rumah sakit menguar begitu kentara memenuhi ruang nafasnya. Salah satu hal yang menjadi alasan ketidaksukaan terhadap rumah sakit, adalah aroma rumah sakit yang seperti ini.


Dewa terus mengayun langkahnya. Hingga kemudian ia melewati taman bunga, persis seperti kesukaan sang istri. Di belakang taman bunga itulah ruang VIP Rumah Sakit ini berada. Saat bertanya kepada perawat yang berjaga tadi, ia mendapat informasi bahwa istrinya dirawat di ruang VIP nomor satu. Dewa menatap pintu kamar VIP bertuliskan angka satu.


Dewa membuka pintu kamar ruang VIP nomor satu itu perlahan. Tampak seorang wanita berkerudung terbaring lemah di atas ranjang di ruangan itu. Ia melangkah pelan mendekati ranjang. Hingga ketika telah sampai di samping ranjang, ia mendapati wajah cantik itu tengah terpejam dengan pelipis yang basah bekas jejak butiran air mata. Pemandangan sendu itu menimbulkan rasa perih bak teriris di ruang kalbu. Diriku kah yang menjadi alasan tangisnya?. Batinnya lirih.


"Assalamualaikum," sapa Dewa.


Mimin yang tengah terpejam namun tak tertidur perlahan membuka mata dan mendapati seorang pria tampan yang beberapa hari lalu begitu dirindukannya dan saat ini tengah merajai pikirannya. Pria yang adalah suaminya itu berdiri di samping ranjang seraya melemparkan sebuah senyuman.


"Waalaikum salam," "jawab Mimin lirih karena kondisi tubuhnya yang tengah lemah.


Dewa melangkah lebih mendekat lagi ke tempat istrinya terbaring. Kemudian ia mengusap lembut bekas sisa air mata di pelipis istrinya. Dan memberikan sebuah kecupan lembut, lama, dan meresapi, di kening sehalus pualam istri cantiknya. Lalu berucap, "Aa rindu sama Neng Mina."


*****


Deka tengah mengemudikan mobilnya memecah keramaian pagi di kota ini. Ia menghentikan laju mobilnya tatkala lampu lalu lintas berwarna merah. Seketika pandangannya terarah pada rambu penunjuk jalan dengan tulisan "RSU Drajat Prawiranegara 5 km". Membaca rambu itu membuatnya terpikirkan sesuatu. Ia segera meraih ponsel dari jok sebelahnya kemudian melakukan panggilan telepon kepada seseorang.


Tut... Tut... Tut...


"Halo selamat pagi, Pak Deka." Suara seseorang di ujung telepon yang tak lain adalah Devi sekretarisnya.


"Dev, kamu ingat ga jadwal saya pagi ini?"


"Emmm... Ingat Pak."


"Apakah ada meeting penting pagi ini?"


"Ada, Pak. Meeting dengan Pak Bagja dari dinas tata kota."


"Jam berapa?"


"Jam sepuluh Pak."


"Apakah ada jadwal penting di jam 8 pagi?"


"Kalau jam 8 pagi tidak ada, Pak."


"Kalau begitu, pagi ini saya izin terlambat masuk kantor. Saya mau menjenguk Jasmin. Dia dirawat di rumah sakit mana?"


"RSU Drajat Prawiranegara, Pak."


"Ruangan apa?"


"Kalau menurut informasi dari adiknya sih ruang VIP nomor satu."

__ADS_1


"Oh, ok. Terima kasih informasinya, Dev."


"Sama-sama, Pak."


Usai lampu lalu lintas berubah warna hijau, tanpa ragu Deka membelokkan laju mobilnya ke kiri menuju rumah sakit untuk menjenguk wanita pujaannya, Jasmina Zahra.


Sebelumnya ia singgah terlebih dahulu ke sebuah toko bunga terdekat dan toko buah untuk membeli buah tangan.


*****


Di Rumah Sakit.


Dewa menarik sedikit kursi di samping ranjang tempat Mimin berbaring lalu mengambil posisi duduk di atasnya.


"Aa rindu sama Neng Mina." Ia kembali mengucap kalimat itu sembari mengusap lembut pipi yang biasanya kemerah-merahan namun kini justru tampak putih pucat.


Mendengar ucapan rindu dari sang suami membuat butiran bening kembali lolos dari sudut mata Mimin.


"Kenapa nangis?" Dewa kembali mengusap air mata Mimin yang lolos terjatuh. "Neng juga rindu sama Aa ya? Sampai kurus begini gara-gara merindui Aa," guraunya.


Mimin tersenyum mendengar gurauan Dewa. "Maafkan Aa ya. Karena telah membuat Neng menjatuhkan air mata," sesal Dewa.


Dewa menggenggam erat tangan Mimin lalu mengecupnya lama.


"Aa boleh bercerita?" tanya Dewa.


Mimin mengangguk lemah, sorot matanya tertuju penuh pada suami tampannya itu.


"Kalau Aa jelaskan semuanya, Neng mau mendengarnya?" tanya Dewa lagi.


Dewa menarik nafas sebelum memulai bercerita. "Aku harus mulai cerita dari mana ya," ujarnya.


"Begini. Aku pernah punya pacar, namanya Clara. Aku sama Clara berpacaran cukup lama, lima tahun. Meskipun dulu gaya hidupku belum seperti ini, meskipun dulu sempat melupakan Allah, tapi sumpah demi apa pun aku gak pernah melakukan hal yang tidak-tidak saat berpacaran dengan Clara. Hingga suatu hari aku pernah memergoki sendiri Clara bersama abang aku melakukan.... " Dewa menghentikan sejenak ucapannya.


"Lan-jut-kan," ucap Mimin terbata dengan intonasi lemah.


"Hal itu yang membuat aku kabur dari rumah lalu pergi ke kota ini. Hingga alhamdulillah akhirnya di kota ini aku bertemu dengan bidadari surga yang kini menjadi istriku." Dewa mengusap lembut pipi Mimin.


"Dulu aku sempat membenci keduanya. Membenci kelakuan Clara dan abang aku yang tega mengkhianatiku. Namun sesaat setelah aku melafalkan ijab, menikahi Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin, aku malah bersyukur dengan mereka.


Karena kelakuan mereka, aku jadi berjodoh dengan gadis berkerudung merah yang cantik jelita yang kening sehalus pualamnya sempat berdarah-darah akibat kena timpuk pria tampan rupawan menawan ini."


Mimin tersenyum mendengar ucapan terakhir Dewa.


*****


Deka telah sampai di Rumah Sakit. Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir rumah sakit. Sebelum turun ia sempat berkaca melalui rear vision mirror, untuk memastikan tampilannya sudah ganteng maksimal.


"Harus terlihat tampan, meskipun aslinya memang sudah tampan. Jauh lebih tampan dari si Batik itu. Jasmin oh Jasmin, masa iya kamu mau sama si Batik itu. Celaka dua belas itu namanya," gumam Deka, bermonolog sambil berkaca.


Kemudian Deka turun dari mobil. Tangan kanannya memegang sebuah parsel berisi berbagai macam buah-buahan. Sementara tangan kirinya menggenggam sebuah buket bunga matahari nan indah. Bunga dengan warna kuning cerah, warna ceria yang diharapkan akan membawa energi positif bagi wanita pujaannya yang tengah terbaring sakit. Teriring sebuah doa semoga wanita cantik itu lekas sembuh dari sakitnya.


Kemudian Deka mengayun langkah penuh percaya diri menuju tempat ruangan Mimin dirawat.

__ADS_1


*****


"Lalu tentang ucapan papamu itu?" tanya Mimin masih dengan nada bicara yang sama, lemah tak bertenaga.


"Nah itu dia. Kini kenyataannya kelakuan mereka jadi masalah buatku. Clara hamil dan abang aku kabur. Papa menginginkan agar aku menikah dengan Clara. Begitu juga dengan papanya Clara, dia mengancamku agar bertanggung jawab atas kehamilan Clara. Menggantikan abang aku yang kabur.


Beruntung papanya Clara masih memberikanku kesempatan untuk mencari abangku. Dengan perjanjian, jika aku tidak bisa menemukan abang, maka aku yang harus menikah dengan Clara. Dan besok adalah hari terakhir kesempatan aku mencari abang.” Dewa menceritakan masalahnya sejelas mungkin.


“Makanya aku pamit mau pergi ke Bali untuk mencari abang. Dan aku mohon, Neng doakan Aa ya, agar bisa secepatnya menemukan abang. Aku ga mau menikah dengan Clara, Neng. Hiks... Hiks... Hiks...” Dewa terisak membayangkan bagaimana jadinya jika ia harus menikah dengan Clara.


“Siapa nama abangnya?” tanya Mimin.


“Deka.”


“Deka??” sahut Mimin terkejut.


“Iya Deka.”


“Teman kantorku ada yang bernama Deka.”


“Nama lengkapnya Radeka Bastian.”


“Radeka Bastian... “ lirih Mimin. Bertepatan dengan suara decit pintu terbuka dan seketika pandangan Mimin teralihkan pada pria tampan yang berdiri di pintu dengan membawa parsel buah dan buket bunga.


“Pak Deka... “ lirih Mimin kembali, seraya menatap Deka yang masih berdiri di pintu.


Sesaat kemudian Dewa memutar kepalanya, mengalihkan pandangannya kepada arah pandangan mata Mimin tertuju.


Sontak ia terjingkat kaget menatap pria tampan yang berdiri di depan pintu. Begitupun dengan Deka, ia terkejut mendapati adiknya duduk di samping Mimin sembari menggenggam tangannya erat.


“Bang Deka....”


“Dewa....”


Dewa bangun dari tempat duduk lalu beranjak cepat menghampiri Deka. Tangan kirinya meraih kerah baju kakaknya itu dengan kasar. Sementara tangan kanannya sudah terkepal, bersiap untuk meluapkan amarahnya. Namun sesaat kemudian luapan amarah yang telah panas berkobar itu berubah menjadi dingin meredam. Astagfirullah. Batinnya.


“Bang Deka, pulang Bang. Selesaikan masalah lo dengan Clara. Gue mohon,” pintanya.


.


.


.


.


Season 1 End.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih. 😘😘😘😘😘


__ADS_2