
Senin pagi
Di kediaman keluarga Rizal dan Aya.
Aya sedang menyuapi kedua anaknya, Ai dan Ea sambil bersenandung dengan irama lagu anak 'Are you sleeping'.
Makan bubur, makan bubur.
Yang banyak, yang banyak.
Biar perut kenyang, biar perut kenyang
Dan sehat dan kuat.
Sementara Rizal sedang asyik menyiram beberapa macam tanaman hias dalam pot yang tertata rapi di teras samping rumahnya.
Demam tanaman hias yang melanda masyarakat belakangan ini, juga turut melanda pasangan ini. Aya dan Rizal yang tidak paham soal tanaman hias, seminggu yang lalu memborong beberapa jenis tanaman hias sekaligus. Alasannya selain karena ingin seperti orang-orang, mengikuti trend juga untuk mempercantik rumah agar terlihat lebih asri.
"Mi... Umi... Kok yang ini daunnya bolong-bolong sih?" tanya Rizal sambil memperhatikan satu jenis tanaman.
"Masa sih Bi," jawab Aya.
"Iya Umi... Sini lihat geh! Kayaknya dimakan ulat atau belalang deh daunnya."
Aya yang sedang menyuapi makan kedua anaknya pun menghampiri Rizal. "Ih Abi... Itu mah memang bolong dari sananya. Itu namanya Janda Bolong," terangnya.
"Serem amat namanya Sundel Bolong."
"Bukan Sundel Bolong Bi... tapi... Janda Bolong."
"Hah... Janda Bolong?!"
"Iya, Abi."
"Terus Umi ga beli Duda Bolong sekalian."
"Duda bolong... ga ada lah Abi."
"Ada apa sih Teh Aya sama A Ijal kok ngomong bolong-bolong gitu. Apa yang bolong?" tanya Rahma yang ikut nimbrung.
"Tuh lagi ngomongin Janda Bolong," jawab Aya.
"Oh... ini yang namanya Janda Bolong. Benaran bolong ya ternyata," ujar Rahma antusias sambil menyentuh tanaman Janda Bolong.
Tak berselang lama, saat mereka masih membahas tentang Janda Bolong, Bi Inah yang biasa membantu di rumah keluarga Rizal Aya datang.
"Assalamualaikum," sapa Bi Inah.
"Waalaikum salam," jawab semuanya.
"Bi Inah kok tumben datangnya siang? Biasanya jam enam sudah datang," tanya Aya.
"Iya maaf Nong Aya. Saya bangun kesiangan. Soalnya semalam tidurnya kemalaman," jawab Bi Inah.
"Aih... Aih... Habis ngapain Bik," goda Rizal.
"Wah... habis begadang nih Bi Inah," celetuk Rahma.
"Soalnya semalam habis menghadiri pernikahan si Mimin," tutur Bi Inah.
"Apa??" sahut Aya, Rizal dan Rahma serempak.
"Mimin nikah??" sahut ketiganya kembali kompak.
"Iya."
"Mimin nikah sama siapa Bik?" tanya ketiganya berbarengan.
"Tunggu tunggu... Ini kenapa kita bisa kompak banget ya," celetuk Rizal.
"Lanjut Bi Inah," ujar Aya.
"Mimin menikah sama yang ngontrak di kontrakan Pak Haji RW. Yang orangnya ganteng, rambutnya gondrong itu. Namanya...." Bi Inah menggaruk kepalanya sebagai tanda sedang berpikir.
"Dewa," ucap Rahma.
"Iya bener namanya Dewa."
"Kok bisa nikah mendadak gitu?" tanya Aya.
"Jadi ceritanya, semalam warga memergoki Dewa ada di rumah Pak Haji RW sama si Mimin. Sedangkan Pak Haji RW sekeluarga kan sedang pergi ke Malingping kalau ga salah. Terus pas didatangi lanang itu ga pake baju, cuma pake kolor doang. Jadi, warga nuduh Dewa sama Mimin itu habis berbuat begituan. Terus... "
"Mimin ga mungkin seperti itu," potong Rahma.
"Nah makanya Bibi geh mikirnya begitu. Tapi warga sudah terlanjur salah paham. Terus si Dewa itu dipukulin sama warga. Terus pas Haji Zaenudin datang, akhirnya Mimin sama Dewa dinikahin."
"Astagfirullah. Rahma mau ke rumah Mimin dulu ya," ujar Rahma.
"Teteh ikut, Ma," kata Aya.
"Hayu."
__ADS_1
"Umi ga usah ikut, di sini aja," titah Rizal.
"Kenapa Bi?"
"Kalau bener ceritanya seperti yang Bi Inah bilang tadi... berarti saat ini Mimin sedang shock. Udah biar cukup Rahma aja yang ke sana. Rahma kan sahabat Mimin. Umi ga usah ikut ke sana."
"Hmmm...iya deh."
"Ma, bilang sama Mimin... kalau hari ini mau izin ga masuk kerja dulu, Aa izinkan gitu ya."
"Siap A,"
Rahma pun berlalu menuju rumah Mimin.
*****
Mimin baru saja selesai bercerita tentang kejadian semalam kepada Rahma. Ia menumpahkan segala beban hati dan perasaannya kepada Rahma.
"Sabar yah Min... mungkin ini ujian. Percaya sama aku, orang-orang yang sudah menuduh kamu pasti dalam hatinya juga dia ragu dan berpikir bahwa kamu ga mungkin melakukan perbuatan nista itu," tutur Rahma seraya menggenggam tangan Mimin.
"Kamu ikhlaskan saja. Tuduhan mereka dan gibahan mereka akan menjadi ladang pahala buat kamu kan," sambung Rahma kemudian.
Mimin tersenyum lalu memeluk Rahma. "Makasih ya Rahma. Sudah percaya sama aku," lirihnya.
"Iya Neng Mimin geulis solehah. Yang sekarang sudah jadi Nyonya Dewa," seloroh Rahma.
Mimin melepaskan pelukan lalu mencubit Rahma. "Ih, Rahma. Hobi amat si ngeledekin aku."
Rahma tersenyum. "Senyum atuh Min."
"Iya nih senyum," ucap Mimin diakhiri dengan sebuah senyuman.
"Min... maaf aku ga bisa lama-lama. Mau kerja, takut kesiangan," ujar Rahma.
"Ma... tolong bilangin A Ijal dong hari ini aku izin ga masuk kerja."
"Tenang... Sebelum kamu minta izin. Kakakku si Bos tampan itu sudah memberikan izin duluan."
Mimim tersenyum. "Makasih ya, Rahma."
"Ok. Aku pulang ya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Maaf Ma, aku ga nganter ke depan ya."
"No problemo," ucap Rahma seraya mengacungkan jempol kanannya dan mengedipkan sebelah matanya. Kemudian berlalu meninggalkan Mimin.
Ketika Rahma sampai di teras, ia berpapasan dengan Dewa dan Sol.
"Mina?? Mimin maksudnya??" Rahma balik bertanya.
"Iya Mina... Mimin," jawab Dewa.
"Iya, aku temannya Mimin," terang Rahma.
"Bagaimana keadaan Mina. Apa sudah lebih baik?" tanya Dewa khawatir.
Rahma tersenyum. "Insyaallah sudah lebih baik. Tapi sebaiknya, biarkan Mimin sendiri dulu," ucapnya.
"Alhamdulillah kalau Mina sudah lebih baik," tutur Dewa.
"Kamu temannya Mimin?" tanya Sol yang sedari tadi menatap takjub Rahma. Dan jelas ini adalah sebuah pertanyaan unfaedah karena tadi di awal Dewa sudah menanyakan dengan kalimat yang sama persis.
Rahma mengangguk sembari tersenyum. "Iya Kang, saya temannya Mimin."
"Oh... Siapa namanya?" tanya Sol diiringi sebuah senyuman terbaiknya.
"Saya Rahma."
"Bukan nama kamu... tapi... nama anak-anak kita nanti."
Rahma tertawa tertahan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sesungguhnya ia sudah pernah mendengar gombalan dengan kalimat yang persis seperti ini. Namun karena yang melempar gombalan adalah pria berpipi cubby dengan raut wajah jenaka membuatnya tak dapat menahan tawa.
Dewa menoyor kepala Sol. "Ye... Malah ngegombal."
"Namanya juga usaha Wa," sungut Sol.
"Neng Rahma perkenalkan nama saya Soleh Munawar. Salken ya," ucap Sol seraya mengulurkan tangannya.
Rahma mengapitkan kedua tangannya di dada. "Iya Kang Soleh. Salam kenal kembali," ucapnya.
"Apa Neng Rahma bisa membantu permasalahan saya?"
Rahma menautkan kedua alisnya. "Ee... Ada masalah apa gitu Kang?"
"Saya sedang mendapat tugas negara."
"Oh, ya. Tugas negara apaan Kang?"
"Tugas mencatat nomor kontak WhatsApp. Tapi anehnya nomor kamu kok ga ada ya di daftar kontak aku. Bisakah Neng Rahma membantu saya dengan memberikan nomor kontak WA-nya?"
Dewa kembali menoyor kepala Sol. "Sadar Soleh Munawar!!"
__ADS_1
"Hihihihihi..." Rahma terkikik geli. "Aku permisi ya. Mau berangkat kerja, takut kesiangan. Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikum salam," jawab keduanya.
"Maafin temen saya yang rada konslet ya Neng," seloroh Dewa sebelum Rahma berlalu.
"Yah... Gue kan belum dapat nomor teleponnya," keluh Sol yang menatap nanar kepergian Rahma.
"Lo ga dapat nomor telepon Rahma... Emmm... Gua kasih nomor telepon Rahmat aja mau??" ledek Dewa.
Sol memukul lengan Dewa. "Memangnya gue penganut kaum anggar!!"
"Hahahahaha...." keduanya tertawa bersama.
******
Senin malam.
Langit malam begitu indah dengan penampakan bulan setengah dan taburan bintang. Mimin sedang berada di kamarnya. Seharian ini ia menghabiskan sepanjang waktunya di kamar. Kejadian kemarin malam sungguh menyisakan trauma mendalam. Ia masih merasa malu bahkan untuk keluar rumah. Meskipun sesungguhnya ia tak berbuat salah.
“Bah... Opi kok belum pulang sih. Sudah mau jam sembilan.” Dari dalam kamar ia mendengar obrolan Mami dan Abah.
“Coba ditelepon,” kata Abah.
“Udah... tapi nomornya ga aktif,” jawab Mami.
Mimin yang mendengar hal itu dari dalam kamar segera meraih ponsel lalu melakukan panggilan kepada nomor “Adikku Manis” namun justru operator telepon yang menjawab panggilannya. Ia lalu keluar kamar untuk bergabung dengan Mami dan Abah.
“Opi belum pulang, Mih?” tanya Mimin.
“Belum Teh, nomornya juga ga aktif,” jawab Mami.
“Tadi Opi ada pesan ga sama Mami, takut mau menginap di rumah siapa,” kata Abah.
“Enggak, Bah. Orang waktu pagi itu Opi diem aja. Tumben ga banyak ngomong. Pas Mami tanya ‘Opi kenapa?’ eh malah ga jawab, diem aja,” tutur Mami.
Mendengar penuturan Mami, Mimin bergegas hendak menemui seseorang.
“Teteh mau ke mana?” tanya Mami.
“Mau ke sebelah,” jawab Mimin.
“Mau ketemu Suami?”
Kalimat Mami membuat ia menghentikan langkahnya sejenak. Ia sempat ragu untuk melanjutkan langkah karena kata “Suami”. Namun kekhawatiran dirinya terhadap Opi meyakinkannya untuk menemui “Suami”.
Tok... Tok.. Tok..
Mimin mengetuk pintu kontrakan nomor satu. Tak menunggu lama, Dewa sudah membuka pintu.
“Mina.”
Mimin menautkan kedua alisnya mendengar panggilan nama yang terasa asing baginya.
“Nama kamu Jasmina kan? Aku panggil Mina aja boleh? “
Mimin mengangguk ragu. “Ya,” ucapnya singkat.
“Ada apa Mina?”
“Opi belum pulang... Apa kamu bisa membantu untuk mencari Opi?”
“Tentu saja. Aku boleh minta nomor telepon Opi?”
“Nomor Opi ga aktif. Dia mematikan ponselnya. Tapi coba saja... ini nomornya 08181234xxxx.”
“Ok. Aku akan coba cari Opi. Apa aku boleh minta nomor telepon temannya Opi?”
Mimin menggelengkan kepalanya. “Aku enggak tahu.”
“Oh, Ok.”
“Apa aku boleh minta nomor telepon kamu??”
.
.
.
.
Kasih dong Teh Mimin nomor teleponnya.
Aya, Rizal dan Rahma itu siapa sih?
Mereka itu adalah tokoh dalam novel pertama aku Suami Bayaran. Sambil menunggu cerita ini up, boleh baca cerita itu dulu ya.
Terima kasih 😘😘
__ADS_1