Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Sarapan


__ADS_3

Setelah mengunjungi Dewa di kontrakan untuk membicarakan masalah tentang Hana, kini Mimin bersiap hendak mengunjungi Rahma.


"Teteh, mau ke mana?" tanya Mami ketika melihat Mimin menenteng paper bag.


"Mau ke rumah Rahma, Mih. Mau nganterin buku ini," jawab Mimin sambil menunjukkan paper bag yang ditentengnya.


"Lama ga Teh?  Mau sampai siang?"


"Enggak, sebentar doang."


"Mami nitip lontong sayur dong."


"Ok. Nanti Teteh belikan lontong sayur buat Mami, ga pake sambal kan?"


"Pake sambal tapi setengah sendok aja."


"Ok."


"Teh, Opi juga ya lontong sayur yang pedes, sambelnya tiga sendok," sahut Opi.


"Ok. Nanti Teteh belikan lontong sayur pedas buat Opi."


"Teh, itu Nak Dewa sekalian atuh dibelikan sarapan. Lontong sayur tah nasi uduk tah," ujar Mami.


"Iya Mih, nanti Teteh belikan buat Dewa. Teteh ke rumah Rahma dulu ya. Assalamualaikum." Mimin berpamitan, mencium punggung tangan Mami.


"Waalaikum salam."


*****


"Assalamualaikum Teh Aya, Kang Rizal," sapa Mimin kepada pasangan suami istri Aya dan Rizal yang sedang duduk santai di teras rumah. Jika di luar kantor, Mimin memanggil Rizal dengan sebutan 'Kang' sebab Rizal tak mau jika dipanggil Bapak, terdengar terlalu tua katanya.


"Waalaikum salam," jawab Aya dan Rizal kompak.


Kemudian Mimin menyalami Aya, dan menyalami Rizal tanpa bersentuhan.


"Aih pengantin baru, apa kabarnya?" Aya menggoda Mimin.


"Ih, Teh Aya apaan sih." Mimin tersipu malu.


"Teh Mimin, didatna udah tembuh beyun?" tanya Ai yang duduk dipangkuan Aya.


"Udah dong. Alhamdulillah dong, Aa ganteng," ucap Mimin sambil mencubit gemas pipi Ai.


"Matih tatit enda?" tanya Ai dengan gaya khas menggemaskan.


"Enda, udah enda tatit," jawab Mimin menirukan cara bicara Ai.


"Teyus udah ketemu beyun yang nimpukna?"


Mimin tertegun mendapat pertanyaan dari Ai. Ia jadi teringat tentang kejadian penimpukkan yang menimpa kening sehalus pualam dengan tersangka utama adalah Dewa. Dan tak disangka pria yang dulu sangat menyebalkan di matanya, kini telah menjadi suaminya.


"Memangnya kalau yang nimpuk udah ketemu, Aa mau apa?" tanya Rizal kepada putra kecilnya.


"Mau bayes timpuk," jawab Ai.


"Hahahaha" Semuanya tertawa.


"Anak ganteng udah mandi belum? Adik cantik Ea mana?" tanya Mimin.


"Ea mayes beyun banun bobo. Teh Mimin mau apa ke tini?"


"Mau ketemu Teh Rahma. Terus kangen juga sama Aa dan Ea."


"Oooh." Ai manggut-manggut.


"Masuk aja Min, Rahma ada di dalam," kata Aya.


"Iya Teh, Kang, permisi ya."


Mimin pun masuk ke dalam rumah Rizal dan Aya. Lalu mengayun langkah menuju kamar Rahma. Ia segera menghampiri Rahma yang sedang menyetrika pakaian.

__ADS_1


"Assalamualaikum," sapa Mimin.


"Waalaikum salam," balas Rahma. Lalu mereka bersalaman dan cipika-cipiki.


"Gimana gimana, jadi seserius dan serumit apakah masalahnya?" tanya Rahma langsung ke inti permasalahan padahal Mimin saja baru datang dan belum sempat duduk. Ini disebabkan rasa penasaran Rahma yang sudah melambung tinggi.


Mimin kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Rahma. Menemaninya menyetrika pakaian. Ia menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.


"Iyan itu adalah Dewa." Mimin langsung saja bercerita pokok perkaranya.


"Hah?! Apa?!" Rahma terkaget-kaget sampai-sampai ujung alas setrikaan menyentuh kulit tangannya.


"Awwwh... Panas panas!" pekik Rahma.


"Ih, hati-hati atuh Ma!"


"Saking kagetnya aku loh Min. Ga masalah kena setrikaan dikit doang ini, bukan masalah berat. Terus terus...." Rahma memutar pengatur suhu ke off dan menghentikan kegiatan menyetrika, sebab begitu bersemangat ingin mendengarkan cerita.


"Terus aku harus bagaimana Rahma?"


"Hana belum tahu??"


"Belum. Dan aku takut kalau Hana sampai tahu. Bagaimana reaksi Hana... aku enggak bisa membayangkannya."


"Min walaupun berat tapi Hana harus tahu 'kan. Karena Dewa itu bukan sekedar pacarmu, dia itu udah jadi suami kamu."


"Tapi, Hana pernah bilang... kalau sampai Iyan udah menikah rasanya ga sanggup lagi menatap matahari, begitu katanya."


Rahma mendesah. "Rumit nian masalahnya."


"Nah, rumit kan?"


"Atau aku aja yang kasih tahu Hana," tawar Rahma.


"Aku belum siap, Ma. Aku takut."


"Waktu kita makan bareng itu pun aku sempat menerka-nerka. Pas denger Iyan itu tinggal di kontrakan kamu, kukira Iyan itu adalah Sol. Eh, ternyata malah Dewa yah. Hadeuh, rumit ya."


"Tetep kamu harus jujur sama Hana."


"Hana pasti akan terluka."


"Hana harus tahu kenyataannya. Cepat atau lambat Hana pasti akan tahu. Awalnya pasti akan terluka, tapi aku yakin dan semoga aja Hana bisa menerimanya. Terus kalau Dewa sendiri bagaimana? Dewa sudah tahu tentang masalah ini?"


"Udah, barusan aku kasih tahu tadi. Dan aku minta sama dia jangan pernah cerita hubungan kami kepada Hana."


"Tapi Dewa ga punya perasaan ke Hana, kan?"


Mimin menggeleng. "Enggak."


"Iya lah, pastinya. Karena kamu lebih cantik dari Hana. Jadi Abang Dewa klepek-klepeknya sama Neng Mimin," gurau Rahma.


"Ih, Rahma, apaan sih." Mimin mendorong pelan tubuh Rahma.


Persahabatan ketiga gadis ini adalah persahabatan yang saling melengkapi. Di antara mereka bertiga, Hana adalah yang paling pintar, dan paling menonjol dalam prestasi di sekolahnya, meskipun paras Hana tak secantik Mimin dan tak se-ayu Rahma.


Mimin mungkin yang paling lemah kalau urusan prestasi di sekolah. Menjadi anak Haji Zaenudin yang terkenal paling kaya di kampung Cibening, membuatnya senang berbagi sejak kecil, dan sering membantu kedua sahabatnya termasuk Fahri.


Sedangkan Rahma adalah gadis ayu yang gigih sebab saat masih dalam kandungan, ia sudah ditinggalkan ayahnya. Permasalahan keluarga telah menjadikannya pribadi yang kuat. Kini kondisi perekonomian keluarga Rahma sudah jauh lebih baik, sebab kakaknya Rizal telah menjadi salah satu pemegang saham di PT. Architec Building Construction tempat Mimin bekerja. Dan tetehnya yang bernama Nisa kini sudah pindah ke Jakarta mengikuti sang suami yang sekarang menjadi artis setelah suaminya yang bernama Bang Zae berhasil menjadi juara tiga di ajang stand up comedy di salah satu TV swasta Indonesia. (Kisah Rizal, Rahma, Nisa, dan Bang Zae ada di novel Suami Bayaran).


"Dunia sempit bener ya, Min," ujar Rahma.


"Ho oh. Ma, katanya kamu mau pinjam buku ini," kata Mimin seraya mengeluarkan buku dari paper bag.


"Wah, La Tahzan ya."


"Ho oh."


"Mau mau. Tebel banget yah Min." Rahma memperhatikan buku setebal 596 halaman karya Dr. Aidh al Qarni.


"Santai aja, aku udah selesai baca kok. Kamu baca aja, kapan pun selesainya."

__ADS_1


"Ok. La Tahzan... jangan bersedih. Mungkin nanti Hana juga perlu baca buku ini kalau sampai tahu Iyan udah menikah."


Rahma memutar kembali pengatur suhu setrika ke posisi semula. Lalu melanjutkan kegiatan menyetrikanya. Sorot mata Mimin tertuju pada baju yang sedang disetrika Rahma.


"Ma, baju siapa itu? Bukan baju Kang Rizal kan?" Sebab Mimin hafal baju yang biasa dipakai Rizal ketika bekerja.


"Punya Diev, kemarin baju kerja dia kotor terus ganti baju eh baju kotornya malah terbawa aku," terang Rahma.


"Ciye ciye... Calon istri solehah nih," goda Mimin.


Sejurus kemudian ia merenungi dirinya sendiri. Dia yang sudah menjadi seorang istri malah tidak pernah melakukan seperti yang Rahma lakukan. Ya Allah maafkan dosa-dosaku. Jika Dewa adalah memang jodoh yang kau tetapkan untukku. Tumbuhkan lah cinta yang teramat indah kepadanya. Dan tuntun lah diriku untuk menjadi sebaik-baiknya seorang istri. Dan tunjukkan kami ke jalan yang lurus, membangun rumah tangga sesuai syariat-Mu dalam penuh keberkahan. Amin. Doanya dalam hati.


Setelah sekitar setengah jam mereka mengobrol, membahas masalahnya dan membahas banyak hal lainnya. Mimin pun berpamitan pulang.


Sebelum pulang ke rumah ia mampir ke kedai Bi Ipah untuk membeli lontong sayur pesanan Mami.


"Berapa bungkus Neng Mimin lontongnya?" tanya Bi Ipah.


"Tiga, eh... Empat, Bi." Semula ia akan memesan tiga yaitu untuk Mami, Opi dan dirinya. Kemudian ia teringat Dewa, maka ia memesan satu lagi untuk Dewa. Sementara Abah tidak dibelikan karena Abah tidak biasa sarapan berat. Secangkir kopi dan pisang goreng menjadi menu andalan sarapan Abah. Dan untuk Sol, Mimin sama sekali tak mengingat Sol ketika membeli lontong ini. (Tragis nasibmu Sol, tak diingat sama sekali oleh Mimin 😁)


"Pedes semua Neng?"


"Yang dua pedes, yang dua lagi sedeng aja Bi."


Dengan lincah, Bi Ipah melayani empat bungkus pesanan lontong sayur.


"Ini Neng."


"Semuanya berapa Bi?"


"Dua puluh ribu, Neng."


"Ini Bi, uangnya. Makasih ya."


Setelah membeli lontong, ia mengayun langkahnya menuju rumah. Saat hendak sampai rumah, seketika langkah kakinya menjadi kaku sebab melihat Hana sudah ada di depan teras kontrakan bersama Dewa.


Dengan langkah ragu, Mimin melanjutkan langkahnya. Pandangannya tertunduk kaku.


"Min, dari mana?" sapa Hana ketika melihat Mimin sudah semakin dekat dengan rumah.


"Eh... Emmm... A-aku habis beli sarapan," jawab Mimin gugup. Ia menatap Dewa sekilas saja, lalu mengalihkan pandangannya menatap Hana. "Kamu sengaja ke sini?" tanyanya.


"Iya nih aku habis bawakan sarapan buat Iyan," jelas Hana.


"Oh, begitu."


"Sebentar ya Han, aku bawa masuk dulu ini rantangnya," ujar Dewa. Ia menatap Mimin yang juga sedang menatapnya. Sorot mata keduanya saling bertautan beberapa saat, sebelum kemudian seruan Hana memutuskan tautan mata di antara mereka.


"Min...!"


"Eh, iya Han."


"Aku ke dalam dulu ya," pamit Dewa kepada kedua wanita berjilbab yang berdiri di depannya. Ia lalu masuk ke dalam rumah sambil menenteng rantang berisi makanan pemberian Hana.


.


.


.


.


.


Kenapa Mimin ga bilang aja sih sama Hana? Karena aku sudah menyiapkan alur sedemikian rupa. Kalau Mimin bilang begitu aja sama Hana ga seru ceritanya.


Hana pasti akan tahu. Aku udah bikin alur yang seru nih. Sabar ya, tungguin ya. Paling 2 atau 3 bab lagi.


Kapan dong Mina dan Dewa bersatu? Kalian bisa baca sinopsis GBM. Memang ini ceritanya fokus ke perjuangan Dewa menaklukan hati Mina.


Mereka bersatu yah, di akhir2 cerita ini lalu tamat deh novelnya. Please, aku belum mau cerita ini tamat sekarang. Jadi sabar, ikuti saja. Kalau yang ga sabar bisa di skip. Nanti aja bacanya kalau udah tamat. Ga akan nyampe 100 episode kok.

__ADS_1


__ADS_2