
"Teteh...! Ka Dewa...!"
Dewa dan Mimin beralih menatap Opi yang sudah rapi berpakaian seragam sekolah.
"Teteh sama Ka Dewa lagi main apa sih! Kantong keresek diperebutkan. Pusing tahu liatnya!"
Dewa dan Mimin menghentikan drama rebutan kantong keresek itu dan meletakkan kantong keresek itu di atas meja. Dewa menggaruk kepalanya walau tak terasa gatal. Dan Mimin memilin ujung kerudungnya. Keduanya sama-sama terdiam dan memperhatikan Opi yang bersiap berangkat ke sekolah dengan menaiki motornya.
"Kalau Opi udah berangkat boleh deh dilanjut permainan rebutan kantong kereseknya," sahut Opi yang telah duduk di atas motor
"Opi pergi dulu ya... Daaah... Assalamualaikum."
"Waalaikum salam." Mimin dan Dewa kompak menjawab salam.
Setelah Opi berlalu dengan motornya hingga bayangannya tak tampak lagi oleh mata, Dewa dan Mimin kompak meraih kantong keresek di atas meja hingga tangan keduanya saling bersentuhan. Lalu sorot mata keduanya saling bertautan, saling bertatapan, saling berpandangan. Dan sayup-sayup terdengar sebuah lagu sebagai backsound.
Pandangan matanya menghancurkan jiwa
Dengan segenap cinta aku bertanya
Bila rindu ini masih milikmu
Kuhadirkan sebuah tanya untukmu
Harus brapa lama aku menunggumu aku menunggumu.
(Petikan lirik Menunggumu. By. Noah)
Mimin dan Dewa yang sedang terhanyut dalam tatapan mata yang terasa begitu dalam, seketika tersadar bahwa suara seseorang yang menyanyikan lagu itu pitch control-nya berantakan. Hingga keduanya menoleh ke asal suara, dan dilihatnya Sol yang berdiri di depan teras kontrakan sedang tersenyum cengengesan. Ya, tadi backsound lagu dinyanyikan oleh Sol.
"Wa... Ini nasi uduknya gue habisin ya!" seru Sol sambil memegang piring berisi nasi uduk.
"Ya... Habisin aja! Hingga tak tersisa!" sahut Dewa.
"Siap laksanakan!" sahut Sol dengan semangat.
"Tuh kan, nasi uduk dari Hana ga mubazir. Ada Sol si Pemakan Segalanya," gurau Dewa.
Mimin tersenyum mendengar gurauan Dewa.
"Jadi, lontong sayurnya buat aku kan?" Dewa mengerlingkan matanya.
Mimin mengangguk menjawab pertanyaan Dewa.
"Mau yang pedas apa sedang? Emm... Aku belum tahu selera kamu," ujar Mimin.
"Mau tahu selera aku? Makanya... kenali aku luar dan dalam." Dewa berkelakar, membuat Mimin memelototkan kedua matanya.
Kemudian mereka memakan lontong sayur bersama di teras samping rumah Haji Zaenudin, tempat yang lebih tersembunyi dan tak dapat dijangkau oleh mata orang-orang yang lewat.
Setelah selesai sarapan, Dewa kembali ke rumahnya karena ia harus bersiap untuk pergi bekerja. Jadwal libur bekerja di bengkel adalah random, maka meskipun hari ini adalah weekend, ia tetap tidak bisa libur jika bukan jadwalnya libur.
Mimin baru saja selesai mencuci piring dan mangkok bekas sarapan ketika kemudian ia teringat sesuatu. Ia segera beranjak menuju kontrakan. Saat sampai kontrakan dilihatnya Dewa sudah mengganti celana pendek cargo dengan celana jeans andalannya. Dengan atasan t-shirt seperti biasanya. Ketika berangkat bekerja, Dewa memang selalu berpakaian dengan style-nya baru nanti ketika sampai bengkel ia akan menggantinya dengan overall seragam bengkel.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Mimin kepada Dewa.
"Waalaikum salam, Mina," balas Dewa bersemangat.
"A-aku mau...." Mimin menggantung kalimatnya ragu.
"Mau apa?" Dewa tersenyum melihat gestur kaku Mimin.
"Mau...."
"Mau bilang kangen boleh, mau bilang cinta boleh." Dewa semakin meledek Mimin.
"Aku mau ambil baju kotor kamu," jawab Mimin akhirnya.
"Baju kotor aku? Untuk apa?" tanya Dewa heran.
"Sini, aku cucikan."
"Sungguh Mina?"
Mimin mengangguk. "Iya."
Beberapa hari ini Dewa memang belum sempat mencuci karena kesibukannya. Jadi, tawaran Mimin ini laksana embusan angin segar yang menyejukkan. Ia biasa mencuci manual dengan tangan, sebab belum membeli mesin pencuci pakaian. Semakin menumpuk baju kotor, semakin banyak dan berat untuk memulai mencucinya. Tentu Mimin akan mencuci dengan mesin pencuci pakaian 'kan.
Kemudian Dewa masuk ke dalam untuk mengambil baju kotornya.
"Tapi banyak nih Mina. Soalnya udah empat hari aku ga nyuci," tutur Dewa sambil membawa keranjang baju kotornya.
"Gak apa-apa. Aku kan mencuci pakai mesin."
"Boleh. Ini baju kamu aja atau sama baju Sol juga?" tanya Mimin.
"Baju aku aja. Kalau Sol, baju kotornya dibawa pulang ke rumah, ibunya yang mencucikan," terang Dewa.
"Oh."
"Mina, tapi sepertinya ada yang ketinggalan deh yang harus dicuci."
"Apa yang ketinggalan? Sekalian aja biar aku cucikan."
"Tunggu sebentar ya." Dewa lalu beranjak menuju kamarnya. Sementara Mimin menunggu di teras luar.
"Mina... Ini!!" seru Dewa sambil mengibaskan ce lana da lam miliknya.
"Sekalian minta tolong cucikan ini boleh dong?!"
Mimin mengangguk meski ragu. "Bo-boleh."
"Eng-enggak tertukar sama punya Sol kan?" tanyanya ragu. Sebab ia masih teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu, saat Sol mengibaskan ce lana da lam dan mengatakan kalau ce lana dalamnya tertukar.
"Enggak dong. Aman terkendali pokoknya," jawab Dewa.
"Min... Ga akan tertukar sekarang mah!" seru Sol yang baru keluar kamar.
__ADS_1
"Soalnya sekarang udah ditandai pakai spidol permanen. Kalau ce lana dalem punya dia ada tulisan huruf 'D'... punya aku ada tulisan huruf 'S'," sahut Sol lagi.
"Idenya si Sol tuh," seloroh Dewa.
"Hahahahaha..." Dua pria itu tertawa-tawa terpingkal-pingkal.
Mimin menjadi salah tingkah dibuatnya. "A-aku bawa ini dulu, permisi," ucapnya.
"Tunggu Mina, biar aku yang bawakan," ujar Dewa. Dan Mimin mengangguk menyetujuinya.
Dewa membawa keranjang berisi baju kotor itu ke dalam rumah Mimin.
"Makasih ya Mina untuk pagi ini. Untuk lontong sayur dan mencuci baju kotornya," ujar Dewa.
"Iya, sama-sama. Udah kewajiban aku," sahut Mimin sembari memasukkan baju kotor milik Dewa itu ke mesin pencuci pakaian.
"Padahal aku belum menunaikan kewajiban aku," keluh Dewa.
"Tak usah pikirkan itu." Mimin masih dengan kegiatan memasukkan baju kotor ke mesin cuci.
"Aku ingin membawa orang tuaku ke sini untuk melamarmu. Dan kita menikah, agar bisa membangun keluarga yang sakinah mawaddah warahmah," kata Dewa.
Perkataan Dewa membuat Mimin menghentikan kegiatannya, lalu beralih menatap pria tampan di hadapannya.
"Mohon maaf, untuk sekarang aku belum siap. Aku masih memikirkan Hana."
"Kenapa kamu memikirkan Hana sih? Coba lah kamu pikirkan aku."
"Kita tak usah membahas ini sekarang." Mimin melirik jam di dinding dapur. "Sebaiknya kamu berangkat kerja sekarang... sudah siang, nanti terlambat," pungkasnya memutus pembahasan.
Dewa mendesah kecewa. "Huft... Ya udah deh. Aku berangkat ya. Assalamualaikum," pamitnya.
"Waalaikum salam," jawab Mimin.
"Dewa... tunggu!!" seru Mimin ketika Dewa sudah beranjak beberapa langkah.
Mimin menghampiri Dewa. Lalu meraih tangan Dewa secepat kilat dan mencium punggung tangannya dengan cepat.
Dewa terpegun sejenak lalu terbitlah senyum dari bibirnya. "Terima kasih Salihahku," ucapnya sebelum berlalu meninggalkan Mimin. Walaupun hati dan raga ingin sekali tetap berada di sini menemani Mimin mencuci.
Setelah Dewa pergi Mimin kembali melanjutkan kegiatannya, memasukkan baju kotor milik Dewa ke mesin cuci. Hingga ketika tumpukan baju kotor itu menyisakan ce lana dalam, ia tertawa terpingkal-pingkal sendiri. Mengingat ucapan Sol.
"Kalau ce lana dalem punya dia ada tulisan huruf 'D'... punya aku ada tulisan huruf 'S',"
Ia tak mampu menghentikan tawanya sebab membayangkan Sol memakai kostum ketat warna biru bersayap merah dengan logo "S" di dada dan celananya... SuperSol.
"Hihihihihi... Hahahaha.... Wkwkwwk...."
"Teteh...! Ari Teteh sehat?! Kunaon seuri sorangan?! (Teteh...! Teteh sehat?! Kenapa tertawa sendiri?!)" ujar Mami yang memergoki Mimin tertawa terpingkal-pingkal sendiri.
.
.
__ADS_1
.
.