
Habis jemur baju, aku langsung mandi. Sebenarnya kalau hari Minggu kek begini atau pas enggak ada acara keluar rumah, aku tuh jarang mandi. Bukan karena aku jorok atau malas ya, tapi mandi itu bisa menyebabkan aku disantet, bahkan mungkin menyebabkan kematian buatku.
Aku jelasin nih kenapa mandi bisa menyebabkan disantet dan mati. Jadi begini, kalau aku mandi, entar aku makin cakep. Kalau makin cakep, entar makin banyak yang naksir. Kalau makin banyak yang naksir, entar banyak yang sirik. Kalau banyak yang sirik, entar banyak yang nyantet. Kalau banyak yang nyantet, entar aku cepat mati. Begitulah kira-kira kalau aku mandi.
Namun, karena aku berencana mau kabur, aku jadi mandi deh pagi-pagi begini. Setelah memakai kostum andalanku, yaitu celana jeans bolong dan kaus oblong yang dipadukan dengan jaket denim yang membuat penampilanku mirip Dilan. Tapi, kalau soal kegantengan, Dilan mah lewaaaat. Dilihat dari segala sisi, kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, jelas lebih ganteng aku ke mana-mana dibanding Dilan.
Setelah yakin penampakanku udah keren bingits, aku mengendap-endap keluar kamar. Pas aku buka pintu kamar, Mama dan Papa malah udah berdiri di depan kamarku.
“Udah siap, Dan? Ayo kita berangkat!” seru Papa yang sudah ganteng dengan mengenakan baju batik kopelan sama sang istri tercinta.
“Berangkat ke mana, Pah?” tanyaku polos.
“Tadi kan udah bilang mau ketemu calon jodoh kamu.” Mama yang penampilannya sudah mirip Bu Hajah menjawab pertanyaanku.
“Ish, enggak mau ah. Memangnya ini zaman Siti Nurbaeti apa main dijodoh-jodohin segala.”
“Memang bukan. Sekarang mah zamannya Siti Badriah,” celetuk Papa yang super garing.
Aku sudah berusaha menolak setengah mati setengah hidup tentang keinginan My Mom n My Dad untuk mengajakku ke rumah teman Papa itu. Tetapi, pada akhirnya aku tidak berkutik. Aku tak kuasa menolak karena Papa mengancam tidak akan lagi memberikanku jatah uang bulanan. Ancaman Mama lebih seram lagi, katanya mau mencoret namaku dari Kartu Keluarga lalu dipindahkan ke kartu remi. Jadi King di dunia perkatuan.
Ya sudahlah aku menurut saja. Lagi pula Papa berjanji tidak akan memaksaku. Katanya lihat dulu saja orangnya, kenalan dulu, mana tahu cocok. Kalau gak cocok bisa diretur.
“Kamu kan anak Papa satu-satunya dan tiada duanya. Jadi, Papa enggak akan menggadaikan kebahagiaan kamu. Kalau kamu enggak suka ya papa enggak akan maksa,” janji Papa saat membujuk aku.
“Kalau aku enggak suka terus aku nolak perjodohan ini enggak papa kan?” Aku memastikan ucapan Papa barusan. Kalau bisa, omongan Papa tadi aku stempel pakai materai biar diakui keabsahannya.
“Enggak papa. Kalau kamu nolak, paling nanti Papa aja yang nikahin Siti.”
__ADS_1
“PAPA!!” sentak perempuan tercantik di rumahku sembari mengepalkan tangan gemas. Ekspresi Mama kelihatan lucu sekali.
“Canda, Mah. Hehehehe.” Udah bikin Mama gemas, Papa malah berhaha hehe tanpa dosa.
Kami bertiga masuk ke dalam mobil. Aku duduk di belakang kemudi karena menuruti perintah Papa. Sementara Papa dan Mama duduk di bangku penumpang belakang berduaan. Jadinya aku seperti seorang sopir yang hendak mengantar sepasang juragan. Enggak apa-apa lah. Anggap saja ini adalah salah satu cara membahagiakan kedua orangtua. Aku kan anak soleh.
Aku melajukan mobil sesuai instruksi Papa. Sebenarnya aku ingin membawa mobil ini ke toko bangunan yang menjual bahan-bahan bangunan untuk membangun semangatku. Sungguh semangatku saat ini tengah kuyu gara-gara mendengar akan dijodohkan dengan perempuan yang bernama Siti.
Bagaimana nasib Celin, Bianca, Davina dan sederet cewek cantik Ardan lovers lainnya? Apa kata dunia jika ujung-ujungnya aku berjodoh dengan perempuan bernama Siti.
Mobil yang kukendarai masuk ke dalam area komplek perumahan sederhana, tidak se elit perumahan tempat tinggalku. Mungkin di perumahan inilah kediaman Siti berada.
“Pah, gak bisa lewat, di depan ada orang hajat,” kataku saat melihat ada keramaian khas orang hajatan, beberapa meter di depan.
“Maju dikit lagi,” sahut Papa. Aku patuh dengan instruksi Papa, melajukan mobil pelan-pelan.
“Lah ini mah tempat parkir tamu undangan, Pah?”
“Ya memang kita mau kondangan.”
Pantes aja Papa sama Mama udah pakai baju kapelan. Ternyata mau kondangan toh. Katanya mau ke rumah Siti.
“Kondangan dulu, baru setelahnya ke rumah Siti,” sahut Papa sembari membuka pintu dan turun dari mobil. Padahal aku Cuma ngomong di hati, kok Papa bisa jawabnya pas begitu ya?
“Dan, kok enggak ikut turun?” Mama yang kakinya sudah menginjak bumi mengetuk kaca mobil, lalu bertanya padaku.
“Enggak ah, Mah, malu. Ardan nunggu di mobil aja.”
__ADS_1
“Enggak mau makan gratis?” tanya mamaku yang cantik itu dan langsung kubalas dengan gelengan kepala. Ngapain, ketimbang makan gratis doang. Makan mah tiap hari juga makan. Kalau dapat berlian gratis segede gaban, atau cewek seksi dan bahenol baru deh aku mau.
Daripada bete menunggu dua sejoli yang tengah kondangan, aku memilih turun dari mobil untuk jalan-jalan di sekitar perumahan. Niatnya cari warung, mau beli minuman yang dinyanyikan sama Blackpink, Aye Aye (Ale Ale). Biar nanti aku gosok kemasannya pakai koin terus dapat ... jodoh cantik deh.
Setelah berjalan beberapa langkah serta belok kanan, akhirnya kutemukan warung itu. Ternyata warungnya enggak jual minuman yang aku maksud. Lalu si Teteh pemilik warung menawarkan Teh Geulis sebagai penggantinya. Setelah merenung dengan segenap jiwa raga, aku lebih memilih minuman botol yang agresif, Teh Sosor daripada Teh Geulis yang kemasannya mini.
Teh Sosor lumayan dapat menghilangkan dahagaku. Duh kenapa siang ini dahagaku begitu menggugah ketenteraman jiwa.
Selesai menandaskan sebotol Teh Sosor dalam sekejap teguk, aku kembali mengayun langkah ini, berjalan-jalan di sekitar kompleks. Mana tahu aku ketemu bidadari yang bakal jadi jodoh aku. Ya kan?
Sepanjang jalan yang kususuri tampak begitu sepi. Mungkin di hari Minggu yang ceria ini, masyarakat penghuni kompleks lebih memilih untuk berdiam di rumah saja agar tetap kinclong. Aku terus mengayun langkah ringan sambil sesekali celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Semoga saja aku enggak kelihatan kayak maling ya. Ya kali, mana ada maling ganteng begini. Maling pencuri hati sih mungkin.
Langkahku yang seringan beban hidup Rafatar seketika terhenti mana kala pandanganku bersirobok dengan sesosok makhluk. Sumpah, sosok tersebut membuat jantungku berdebar hebat dan lututku gemetar. Debar dan gemetarnya bukan seperti pengantin baru yang hendak melakukan ritual belah duren, tetapi karena rasa jiper yang begitu mencekam.
Di depan sana, sosok yang adalah musuh bebuyutan ku sejak kecil, menghunuskan tatapan bengis ke arahku dengan liur yang menetes-netes.
Grrr ... Guk ... Guk ... Guk.
Anjing hitam, bengis, galak, ileran itu menyalak ke arahku. Beberapa jenak aku hanya terpaku, tidak mampu berpikir. Aku harus apa ini? Salto, kayang, push up, sit up, nari atau ... berdoa.
Ya, berdoa. Tapi, doa apa?
“BISMILLAHIROHMANIROHIM. BISMIKA ALLAHUMMA AHYA WA BISMIKA AMUT. AMIIIIN”
Grrr ... Guk ... Guk ... Guk. Anjing itu semakin bengis menatapku.
Mampus gue. Doanya gak mempan pemirsah.
__ADS_1