Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Inikah Alasan Jatuh Cinta?


__ADS_3

Sore hari sepulang kerja, Mimin, Hana dan Rahma janjian untuk bertemu di tempat makan terkenal di kota ini. Hana menjemput Mimin di kantornya. Mereka sempat mampir sebentar ke sebuah counter untuk membeli pulsa. Kemudian, langsung pergi ke tempat makan itu. Sementara Rahma yang bekerja di kota Cilegon baru lima belas menit kemudian sampai di tempat makan itu.


"Ayo mau pada pesan apa nih? Aku yang traktir deh," ujar Hana.


"Aseek... Ditraktir Budos yang lagi seneng udah ketemu calon imam yang dicari-cari selama ini," seloroh Rahma.


"Alhamdulillah, doakan saja semoga jalannya diberikan kelancaran oleh Allah. Semoga calon imam sepanjang masa aku itu, Allah takdirkan menjadi imamku," ujar Hana penuh pengharapan.


"Amin," sahut Rahma. Matanya melirik ke arah Mimin yang terdiam terpaku dengan raut kegelisahan.


"Min... Kok diam aja sih?! Ga ikut ngaminin doanya Hana," tegur Rahma.


"Oh... Eh... Ma-maaf. A-aku tadi lagi ga fokus," kilah Mimin. Padahal ia mendengar jelas ucapan Hana tadi yang minta didoakan. Tentu doa yang dimaksud Hana adalah tentang Iyan 'kan. Mendoakannya agar berjodoh dengan Iyan. Tapi, mana mungkin ia turut mengaminkan doa Hana. Itu artinya sama saja ia mendoakan biduk rumah tangganya karam, bukan.


Karena ia adalah wanita yang tak bersedia jika dipoligami. Ia bukan wanita salihah yang berhati sesuci malaikat, mampu sabar dan ikhlas serta bisa merelakan suaminya berpoligami. Ia hanya seorang Jasmina Zahra binti Haji Zaenudin, yang memiliki keimanan begitu kerdil dan tak luput dari dosa setiap harinya. Ia tak mungkin merelakan Dewa menikah dengan Hana. Tak akan mungkin dan tak akan pernah terjadi. Eh, tunggu... Kenapa? Ada apa? Apa aku mulai mencintai... Dia. Batinnya bergumam.


"Kayakanya Mimin lagi mikirin Misua nih. Min, kamu udah minta izin sama suami kan kita janjian di sini?" tanya Rahma.


"Udah," jawab Mimin datar cenderung tegang. Tentu saja, mungkin mulai saat ini dan entah sampai kapan hatinya akan selalu dilanda kegelisahan dan ketegangan jika bersua atau mengobrol dengan Hana.


"Eh iya, padahal diajak aja loh Min... biar suami kamu gabung sama kita. Aku kan pengen tahu suami kamu," kata Hana.


"Suami Mimin tuh orangnya...." sahut Rahma namun dipaksa menggantung sebab reaksi Mimin.


Belum sempat Rahma meneruskan cerita tentang suami Mimin, dari bawah meja, Mimin menendang kaki Rahma. "Awwwh...!" pekik Rahma.


"Kenapa Ma?" tanya Hana.


"Eh... Eng-enggak papa kok," sahut Rahma berbohong. Padahal barusan ia merasakan kakinya ditendang pelan oleh Mimin.


Rahma mengalihkan pandangannya menatap Mimin. Melalui isyarat mata, seolah Mimin mengatakan. "Ingat, jangan bahas tentang suami aku dan pernikahan aku di depan Hana!"


Rahma membalasnya melalui isyarat mata juga. "Iya, maaf keceplosan."


"Terus kita jadinya pesan apa nih? Kamu pesan apa Ma? " tanya Mimin untuk mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Emm... Pengen siomay tapi... pengen empek-empek juga. Gimana dong? Pesan dua boleh Budos." Rahma melirik Hana.


"Boleh, asal dimakan, biar ga mubazir. Sanggup ga tuh kira-kira makan seporsi empek-empek dan siomay. Inget Ma, bulan depan kamu mau nikah. Awas nanti baju pengantinnya ga muat," seloroh Hana menggoda Rahma yang sebentar lagi akan menikah dengan pujaan hatinya.


"Ah, iya ya. Soalnya aku suka khilaf kalau udah makan di sini. Enak-enak semua sih. Emm... Aku empek-empek aja deh, kamu siomay yah Min nanti kita barter icip, Ok?" sahut Rahma.


"Ok," balas Mimin.


Kemudian Hana memanggil pelayan dan memesan seporsi empek-empek+ jus alpukat pesanan Rahma, seporsi siomay komplit+ jus mangga pesanan Mimin, serta mi ayam bakso + minuman teh dalam botol pesanan dirinya. Lalu Pelayan menuliskan pesanan itu di sebuah kertas daftar catatan menu. Setelah pelayan itu berlalu untuk membuatkan pesanan, ketiga gadis itu kembali melanjutkan mengobrol.


"Ga kerasa yah, kita udah mau seperempat abad aja. Tapi... belum dapat jodoh," kata Hana.


"Tenang Han sebentar lagi Insyaallah kita akan nyusul Mimin," jawab Rahma.


"Kalau kamu, iya bulan depan mau nikah. Aku kan belum jelas, Ma,”  ujar Hana lagi.


"Kan katanya udah ketemu sama calon imam sepanjang masa kamu. Semoga saja itu adalah jalan takdir dari Allah," sahut Rahma.


"Amin. Oh iya. Aku jadi inget... tadi aku juga ngajak Iyan untuk ikut gabung di sini," tutur Hana.


"A-apa... Kamu ngajak Iyan ke sini Han?" tanya Mimin dengan raut cemas.


"Iya, ajak ke sini aja. Aku kan, pengen tahu Iyan," sahut Rahma.


"Iya... tapi belum dibalas sih pesannya. Coba deh bentar aku cek." Hana mengambil ponsel dari dalam tasnya.


Sementara perasaan Mimin semakin cemas tak karuan. Ya Allah semoga Dewa ga datang ke sini. Doanya dalam hati.


"Udah di bales nih," ujar Hana bersemangat. "Aku bacakan yah," lanjut Hana.


Kemudian Hana membaca pesan dari Dewa di depan Rahma dan Mimin.


"Waalaikum salam wr wb. Terima kasih Hana atas ajakannya. Mohon maaf aku ga bisa ikut, dikarenakan ada hal yang harus kukerjakan."


Dewa memang tak bisa mengikuti ajakan Hana, sebab khawatir pulangnya kesorean atau bahkan kemalaman. Sedangkan nanti malam adalah jadwalnya mengamen.

__ADS_1


Hana mendesah kecewa, sementara Mimin merasa sedikit lebih lega perasaannya. Tak bisa membayangkan jika Dewa ikut bergabung bersamanya di tempat ini. Mungkin jantungnya akan pecah atau hatinya akan meledak sebab kegelisahan, kekhawatiran, dan kecemasan yang teramat sangat. Sebuah kengerian yang tak ingin dibayangkannya.


"Yaah... Sayang banget Iyan ga bisa ikut. Padahal aku ingin lihat kaya gimana sih yang namanya Iyan itu," ujar Rahma.


"Ma, mungkin kamu juga udah pernah lihat orangnya. Karena dia juga tinggal di kampung Cibening," kata Hana.


"Hah, apa? Iyan tinggal di Cibening?!" Rahma terkejut.


"Iya, dia tinggal di kontrakan Mimin," jelas Hana.


"Oya," sahut Rahma semakin terkejut. Lalu menatap Mimin yang sedari tadi diam, tak seperti biasanya, dan kini sedang terdiam tertunduk.


Iyan tinggal di kontrakan Mimin? Kenapa sikap Mimin tidak seperti biasanya ya? Apa jangan-jangan Iyan adalah.... Batin Rahma menerka-nerka.


*****


Sang Fajar telah hadir menyapa. Kumandang azan subuh telah digemakan setengah jam yang lalu. Mimin semalaman tak bisa tidur pulas sebab sedang dilanda stres karena memikirkan masalahnya. Sungguh merasa terbebani dengan semua ini. Ia memilih untuk merebahkan diri di atas kasur usai menunaikan salat Subuh. Memejamkan mata sejenak dan berharap semoga dapat mengurangi beban pikirannya.


Mengapa Hana begitu mencintai Dewa?


Apa sesungguhnya alasan yang membuat Hana jatuh cinta kepada Dewa?


Begitu pertanyaan yang hadir di benaknya.


Tak bisa dimungkiri Hana adalah sosok wanita sempurna. Cantik, meski tak secantik Mimin, tak se-ayu Rahma dan tak semanis Opi. Salihah, pintar, cerdas, juga berpendidikan tinggi. Sejak kecil, di antara mereka bertiga Hana lah yang paling berprestaai dalam urusan akademik. Belum genap seperempat abad usianya ia sudah menjadi dosen. Salah satu contoh sosok Perempuan Berdaya. Sosok wanita idaman pria baik-baik, idaman pria soleh. Tapi kenapa pilihannya jatuh pada Dewa, pria yang dulu terlihat sangat menyebalkan di mata Mimin.


Ia menghembuskan nafas perlahan untuk mengurai kegundahannya. Setelah beberapa menit dalam posisi rebahan, ia beringsut bangun lalu beranjak ke luar kamar. Dilihatnya Abah sudah duduk anteng di depan televisi. Abah sudah pulang dari masjid artinya langit subuh sudah semakin terang. Waktunya untuk melakukan kegiatan rutinnya yaitu menyapu halaman, sebelum langit benar-benar terang.


Ia hendak mulai menyapu ketika terdengar suara merdu orang sedang mengaji dari dalam kontrakan. Ia sempat mengira yang mengaji adalah Sol, sebelum kemudian Sol yang sedang merentangkan tangannya sambil berlari-lari kecil menyapanya.


"Assalamualaikum. Selamat pagi Mimin. Mau ikut olahraga ringan sama aku," kata Sol sambil melambaikan tangan dan berlari pelan semakin menjauh.


Mimin menggelengkan kepalanya, menjawab ajakan Sol.


Sementara suara orang mengaji itu masih terdengar dari dalam kontrakan.

__ADS_1


Oh, inikah yang membuat Hana jatuh cinta kepadanya?? Memilihnya sebagai calon imam sepanjang masa. Syadewa Argian. Gumamnya lirih.


__ADS_2