Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Penyelidikan Deka


__ADS_3

"Huuu... Huuu.... Huuu... Huaaa... Kenapa nasib gue selalu begini. Huuaaa..." Sol nangis kejer setelah sampai di kontrakan.


"Sabar Sol," ujar Dewa menenangkan sahabatnya itu.


"Tuhan, jika kau belum bisa memberikanku jodoh, tolong jomblokan saja teman-temanku," kata Sol.


"Asal aja lo. Gue mah udah punya Neng Mina," sungut Dewa.


"Sabar Sol, kita senasib. Gue juga sekarang jomblo,"sahut Jejed.


"Katanya lo udah punya pacar Jed?" tanya Dewa.


"Udah putus Wa. Gara-gara beda keyakinan," ujar Jejed dengan tatapan nanar menerawang, mengingat kisah cintanya yang getir.


"Kalau urusannya beda keyakinan mah susah Jed. Akan sulit untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Sabar ya Jed." Dewa menepuk bahu kedua sahabatnya itu, mencoba memberi kekuatan kepada mereka.


"Iya Wa. Gue sama dia beda keyakinan. Gue yakin kalau gue ganteng sementara dia enggak," sahut Jed yang membuahkan toyoran dari Dewa.


"Huuaaa... Gue belum pernah merasakan malam mingguan sama pacar," keluh Sol masih dengan menangis.


"Gue juga udah lama ga merasakan malam mingguan Sol. Apa masih sama ya rasanya?" seloroh Jejed.


"Malam minggu, malam jumat dan malam lainnya rasanya sama aja," sahut Dewa.


"Gue kan malu kalau ada yang nanya... enggak malam mingguan Sol. Gue tuh selalu bingung jawabnya," keluh Sol.


"Kalau ada yang nanya malam mingguan. Sebaiknya lo pura-pura budeg aja deh. Ga usah dijawab," celetuk Dewa.


"Hahahaha..." Dewa dan Jejed kompak tertawa.


"Truk aja gandengan masa gue enggak. Huuaaa..."


"Buat apa iri sama truk yang gandengan, kalau Ferrari aja kelihatan keren sendirian," ujar Dewa.


"Eh, bener tuh kata Dewa." Jejed menimpali.


"Banyak-banyak berdoa Sol, semoga cepet dipertemukan dengan jodoh." Dewa menasihati Sol.


"Gue ga pernah putus berdoa Wa, tapi belum dikabulkan juga," keluh Sol.


"Harus optimis lah Sol. Ingat, jika doamu belum terkabul, maka bersabarlah. Dan ingatlah bahwa yang berdoa bukan cuma kamu," tutur Dewa.

__ADS_1


"Udah ah, gue mau berangkat ngamen dulu. Kalau malam minggu rame, dan banyak yang kasih uang tips buat gue. Entar kalian gue traktir lidi-lidian deh," lanjut Dewa.


"Ih, lidi-lidian, apaan tuh? Martabak atuh Wa," protes Sol.


"Baiklah kalau martabak bisa menenangkan jiwamu yang lara, nanti gue belikan. By the Way kalau makan martabak gue selalu inget lo Sol," kata Dewa.


"Kenapa? Pasti karena gue manis kan?" balas Sol.


"Bukan, karena tebel dan lebar persis lo," kelakar Dewa.


"Hahahaha..." Kelakaran Dewa sukses membuat mereka tertawa bersama.


*****


Sementara di tempat lain.


Deka tengah memilah-milah pakaian yang akan dikenakannya. Sebuah sweater hoodie, dan celana jeans robek di bagian lutut menjadi pilihannya. Pakaian seperti ini sungguh bukan styIe-nya. Tentu saja karena ada yang sedang ia rencanakan hingga ia memilih pakaian seperti ini.


Penuturan Samsul malam minggu yang lalu, tentang Dewa yang telah menikah sungguh membuatnya penasaran. Dan malam ini ia berencana akan menyelidikinya.


Benarkah Dewa sudah menikah? Siapakah istrinya? Di mana mereka tinggal? Beragam pertanyaan yang hadir dan mengganggu pikirannya selama seminggu ini. Dan malam ini ia akan menyelidiki. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.


Setelah yakin dengan penampilannya, Deka bergegas pergi menuju Baretos Cafe dengan menggunakan motor sewaan milik salah satu tukang ojek yang biasa mangkal di depan komplek perumahan tempat ia tinggal.


Ia sempat terkecoh beberapa kali setiap ada wanita yang mendekati Dewa. Sempat mengira wanita itu adalah istrinya Dewa. Hingga kemudian terbantahkan sebab wanita yang mendekati Dewa ternyata adalah pengunjung kafe yang ingin me-request lagu.


Hingga kafe hampir tutup, ia tak mendapati tanda-tanda istrinya Dewa berada di kafe itu. Ia keluar dari kafe sesaat sebelum kafe tutup. Dan juga sempat bertanya kepada satpam perihal pintu keluar karyawan.


Ia sudah duduk di atas motornya, bersiap untuk membuntuti Dewa. Netranya semakin awas ketika menemukan sosok Dewa keluar dari pintu lalu pergi ke tempat parkir khusus motor karyawan. Tak sulit untuk mengenali Dewa, karena adiknya itu masih sosok yang sama seperti ia mengenalnya. Penampilan Dewa selalu seperti itu, memakai celana jeans, kaos, dan jeket denim favoritnya.


Tak berselang lama, Dewa telah melajukan motornya dan dengan sigap Deka membuntutinya di belakang. Hingga kemudian motor Dewa melaju menuju sebuah perkampungan yang tak begitu asing baginya. Bukankah ini kampung Cibening, kampung tempat tinggal Mimin. Batinnya.


Dan ia semakin tercengang ketika mengetahui Dewa menghentikan motornya di depan kontakan di samping rumah Mimin. Jadi Dewa tinggal di kontrakan ayahnya Mimin. Gumamnya dalam hati.


Ia terus memperhatikan dari jauh, untuk mengetahui siapa istri adiknya itu. Namun yang terjadi malah ia melihat Jejed yang membukakan pintu untuk Dewa. Setelah menunggu cukup lama dan tak ada tanda-tanda, seorang wanita ada di sana. Ia pun memutuskan untuk pulang. Barangkali nanti ia bisa mengorek informasi tentang Dewa kepada Mimin. Tentu Mimin mengenal Dewa 'kan sebab tempat tinggal mereka bersebelahan. Begitu pikirnya.


Di dalam kontrakan.


"Wa, lo mah beli martabak ga ada kopinya," keluh Jejed.


"Lah, memang kopi habis gitu?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Iya, habis tak tersisa."


"Oh, ya udah deh. Kalau begitu aku ke warung dulu, beli kopi," ujar Dewa.


Dewa pun pergi ke warung untuk membeli kopi. Sempat berpikir untuk naik motor, kemudian ia urungkan dan memilih untuk berjalan kaki sebab jarak warung juga tak jauh dari kontrakan.


Sayangnya, warung yang ia tuju untuk membeli kopi malah sudah tutup. Hingga ia melanjutkan langkahnya menuju warung Madura yang pasti masih buka. Warung itu jaraknya lumayan jauh dari kontarakan. Ia harus melewati beberapa rumah, kemudian melewati lapangan bola dan kebun pisang. Dan ia menempuh dengan berjalan kaki.


"Bu, beli kopi," ujar Dewa kepada ibu pemilik warung.


"Kopi apa Ka?" tanya pemilik warung.


"Kopi hitam aja sama gulanya sekalian," jawab Dewa.


"Kopinya yang besar apa yang kecil?"


"Yang besar aja. Sekalian sama obat nyamuk Bu," sambungnya. Kehidupannya kini menumbuhkan pengalaman baru baginya, kini ia jadi kenal dengan obat nyamuk. Tanpa obat nyamuk, tidurnya tak akan nyenyak, sebab sibuk memukul nyamuk.


Pemilik warung mengambil semua barang yang disebutkan Dewa, lalu memasukannya ke dalam kantong keresek warna hitam. "Ini, Ka."


"Jadi berapa Bu semuanya?"


"Semuanya tiga puluh ribu."


Dewa menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan kepada pemilik warung. "Ini Bu, uangnya."


"Rokoknya ga sekalian?" tawar pemilik warung.


"Enggak Bu, saya ga merokok."


Kemudian Pemilik warung menyerahkan uang kembalian kepada Dewa. "Ini, Ka kembaliannya."


"Makasih Bu," ucap Dewa seraya menerima uang kembalian.


Setelah dari warung, Dewa segera pulang ke rumah. Namun di tengah perjalanan, antara lapangan bola dan kebun pisang, ia dicegat oleh seorang pria yang tak dikenalnya.


"Lo yang namanya Dewa??!" tanya pria itu. Dari intonasinya, terdengar seperti bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah ancaman.


"Iya, gue Dewa. Kenapa memangnya?!" salak Dewa yang tak mau kalah.


Bug...

__ADS_1


Tanpa aba-aba, pria itu memberikan sebuah pukulan di perut Dewa. Membuat ia jatuh tersungkur ke tanah, sebab tak menyangka pria itu akan memberikan pukulan telak kepadanya.


__ADS_2