Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Kedatangan Fahri part 2


__ADS_3

“Mungkin Teh, soalnya saya ga tanya namanya Teh.”


“Teman saya itu ada di mana?” tanya Mimin.


“Nunggu di lobi, Teh.”


“Tolong bilang tunggu sebentar gitu ya. Terus suruh duduk aja dulu.”


“Siap Teh.”


Mimin melirik jam dinding tepat di depan meja kerjanya. Pukul 11.30, pertanda sebentar lagi adalah waktu istirahat. Ia membereskan pekerjaannya, agar nanti bisa dilanjutkan setelah jam istirahat. Setelah semua beres ia beranjak menuju lobi menemui Fahri.


Sampai di lobi dilihatnya Fahri sedang duduk. Dan pandangannya gagal fokus pada kantong plastik keresek hitam yang ditenteng Fahri.


“Fahri...”


Fahri yang semula tertunduk kemudian mengangkat wajahnya lalu berdiri. “Assalamualaikum, Min,” sapanya.


“Waalaikum salam,” jawab Mimin.


Mimin mendaratkan bokongnya di sofa elegan lobi, disusul dengan Fahri yang turut duduk di tempatnya semula. Berseberangan dengan Mimin.


“Ada apa Fahri?” tanya Mimin.


“Maaf kalau kedatanganku mengganggu pekerjaanmu,” ujar Fahri.


“Tidak apa-apa. Tidak mengganggu kok. Sebentar lagi waktunya istirahat,” balas Mimin.


“Aku ingin bicara sebentar bisa?” tanya Fahri seraya menatap Mimin.


Mimin mengangguk. “Bisa.”


“Emmm... Memangnya mau bicara tentang apa? Pekerjaan atau jadwal pengajian?” tanya Mimin.


“Tentang hal pribadi.” Fahri menatap Mimin. “Di mana baiknya kita bicara? Tempat umum yang tidak menimbulkan fitnah,” sambungnya.


“Kita ke private lobi saja.” Mimin berdiri. “Mari...”


Fahri turut berdiri lalu berjalan mengekor di belakang Mimin. Mimin berjalan menuju private lobi yang letaknya lebih ke dalam. Tempat ini biasa digunakan untuk menerima klien, berdiskusi ringan dengan klien dan sebagainya. Sementara lobi utama tempat mereka duduk tadi berada di depan, berhadapan dengan meja resepsionis. Tempat menerima tamu umum. Jika membicarakan hal pribadi di sana tentunya tidak akan menjadi hal pribadi lagi dikarenakan hilir mudik orang-orang.


“Silakan duduk, Fahri,” ujar Mimin.


“Terima kasih,” balas Fahri. Pandangannya mengitari seluruh ruangan. Tempat ini memang cocok untuk berbicara hal pribadi seperti tujuannya. Ruangan terbuka namun cukup jauh jaraknya dengan hiruk pikuk kesibukan para karyawan kantor ini.


Fahri menatap kagum sofa yang akan didudukinya. Sofa mewah nan elegan dengan didominasi warna abu dan hitam. Dan semakin terkagum ketika ia mendaratkan bokongnya di atas sofa mewah itu. Terasa empuk dan nyaman. Berbeda dengan sofa butut warna biru yang ada di ruang tamu rumahnya. Kapan yah aku bisa beli sofa kaya begini untuk di rumah. Teh Farah dan Teh Fitri pasti senang kalau sofa butut di rumah itu diganti dengan sofa ini. Batinnya.


Dan ia tersenyum ketika membayangkan Caca, Baim dan Alif para keponakan kecilnya berloncatan di atas sofa.


“Ehem... “ Mimin berdehem karena ia tak tahu harus berbicara apa ketika melihat Fahri berdiri tertegun memandangi sofa. Sementara Mimin sedari tadi sudah duduk di atas sofa itu.

__ADS_1


Deheman Mimin mengejutkannya dari lamunan tentang sofa. Dan ia segera duduk mengikuti Mimin.


“Oya, Fahri semalam bagaimana keadaan Opi? Dia benar nginep di rumah temannya?” tanya Mimin.


“Oh iya. Aku mau cerita tentang Opi dulu. Semalam aku ga sengaja bertemu Opi,” ujar Fahri. Lalu terdiam karena berpikir apakah akan bercerita tentang peristiwa mencekam tadi malam yang dialami Opi.


“Lalu... “ kata Mimin karena Fahri terdiam belum melanjutkan kalimatnya.


“Lalu aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumah. Tapi Opi menolak karena ingin menginap di rumah temannya,” tutur Fahri. Ia memutuskan tak bercerita tentang peristiwa mencekam itu. Biar lah itu jadi rahasia abadi antara dia dan Opi. Tak perlu ada yang tahu, apalagi keluarganya sebab khawatir menimbulkan kecemasan berlebihan.


“Apa kamu yakin Opi baik-baik saja dan benar nginep di rumah temannya?” tanya Mimin.


“Haqul yakin karena aku mengantarkannya sampai ke depan pintu  rumah temannya. Dan Opi janji akan pulang ke rumah dua hari lagi katanya,”ujar Fahri.


“Terima kasih ya Fahri... karena kamu sudah mengantar Opi,” ucap Mimin.


“Sama-sama,” balas Fahri.


“Min... “


“Ya... “


“Aku boleh bertanya?”


“Boleh.”


“Dari berita yang aku dengar... katanya... kamu sudah menikah?”


“Maafkan aku. Aku ini laki-laki pengecut. Aku... Aku boleh jujur mengungkapkan perasaanku?” tanya Fahri seraya menatap Mimin.


Mimin mengangguk.


“Kamu percaya tentang cinta?”


Mimin terdiam.


“Aku meyakini jika perasaan cinta itu hakikatnya adalah dari Allah. Cinta bagai mata air yang selalu mengalirkan kesegaran kepada jiwa yang dahaga.


Kesalahanku adalah tak mampu menjaga dan merawatnya agar tumbuh berkembang secara baik.


Padahal Rosul pernah bersabda, ‘Jika seseorang mencintai saudaranya hendaklah memberitahukan kepadanya bahwa ia mencintainya.’ (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).


Dan aku tak mampu melakukannya, karena tak memiliki rasa percaya diri untuk menyatakannya. Hanya mengandalkan kekuatan doa tanpa adanya ikhtiar.


Terlalu insecure dengan kesenjangan di antara kita.”


“Maaf... kesenjangan apa Fahri?” tanya Mimin yang tak setuju dengan kalimat terakhir yang diucapkan Fahri.


“Kesenjangan sosial di antara kita. Kamu tahu kan Min bagaimana keluargaku. Dan bagaimana aku.”

__ADS_1


“Tentang materi? Tentang harta?” Mimin menatap Fahri.


Fahri mengangguk.


“Astagfirulloh... Kamu tahu bagaimana aku kan Fahri? Dan bagaimana Abah? Kami tak pernah memandang orang dari materi, harta, pekerjaan atau apa lah,” tutur Mimin.


Fahri terdiam tertunduk.


Mimin menatap tajam Fahri. “Pemikiran dan dugaan kamu tentang aku dan keluargaku salah besar!!” ucap Mimin gusar.


“Maafkan aku, Min.”


“Kamu tak harus meminta maaf kepadaku. Justru kamu minta maaf pada dirimu sendiri, pada hatimu yang sudah kau sakiti sendiri,” tegas Mimin.


Fahri terdiam menunduk.


“Dan jika aku boleh memberikan saran,” Mimin menghentikan ucapannya sejenak.


Fahri menatap Mimin. “Boleh, katakan saja.


Mimin menatap Fahri “Lain kali buang jauh perasaan insecure-mu. Kamu harus bangga dengan dirimu sendiri bahwa kamu adalah orang hebat yang telah mencapai di suatu titik yang mungkin orang-orang lain yang kamu anggap lebih beruntung dalam hal materi tak akan mampu mencapai titik itu.”


“Karena Allah tak pernah melihat rupa, kemewahan dan keindahan. Juga bukan hanya banyaknya kebaikan yang kita lakukan. Tapi Allah menilai isi hati. Atas dasar apa kita melakukannya.” Mimin menjeda ucapannya. “Itu salah satu tausiah dari Ustaz Fahri yang aku ingat,” sambungnya.


Fahri tertawa sumbang. Sungguh memalukan. Tausiah itu memang untuk dirinya sendiri 


“Aku belum tahu suami kamu. Tapi siapapun dia. Aku harap dia laki-laki baik yang akan membahagiakan kamu. Semoga rumah tangga kamu sakinah mawadah warahmah. Amin,” doa Fahri tulus. Ia memang belum mengetahui siapa suami Mimin. Karena ketika menanyakan kepada Opi semalam, Opi tak menjawab pertanyaannya, malah semakin menangis sesenggukan.


“Terima kasih doanya.”


“Oya Min, aku beli gado-gado Teh Inul kesukaan kamu.” Fahri menyodorkan bungkusan plastik kresek hitam yang sedari tadi dibawanya. “Dimakan ya,” sambungnya.


Mimin tersenyum. “Terima kasih, Fahri. Pasti aku makan. Aku suka sekali gado-gado Teh Inul,” ucapnya.


“Sebaiknya kamu minta izin suamimu dulu. Kalau suamimu mengizinkan dan ridho, baru kamu makan ya. Aku gak mau kecipratan dosa karena ketidakridhoan suamimu.”


“Iya, Ustaz. Kalau sedang tausiah aku panggil Ustaz ya,” gurau Mimin.


Fahri tergelak.


“Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya. Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


 .


.


.

__ADS_1


.


Dobel up nih, di Like dua-duanya ya. Maacih😊.


__ADS_2