
Dari: Seseorang yang selalu mencintaimu.
"Sini, coba lihat!" seru Dewa. Lalu merebut kartu nama itu dari tangan Mimin.
Hatinya semakin dongkol ketika membaca kartu nama dengan kalimat yang sukses membuat tekanan darahnya melonjak tinggi dan hatinya panas terbakar. Sia*lan, berani-beraninya mengirim bunga kepada istriku. Awas aja kalau ketemu orangnya aku bejek-bejek. Batinnya
"Siapa ini, Mina?" tanya Dewa penuh kekesalan. Bagaimana mungkin dia tidak kesal, saat mengetahui istri tercintanya mendapatkan perhatian dari pria lain. Bahkan sampai mengirimkannya buket bunga.
Mimin menggelengkan kepalanya. "Aku gak tahu."
Dewa merobek kasar kartu nama itu, lalu me*re*masnya dan membuangnya ke sembarang.
"Sini, bunganya!" seru Dewa.
"Mau diapakan bunganya?" tanya Mimin.
"Dibuang lah! Dilarang menerima pemberian apa pun dari orang lain selain dari orang tua, keluarga dan aku!" tegas Dewa.
Dengan ragu Mimin memberikan buket bunga itu kepada Dewa. Dewa meraih buket bunga itu dan sudah melangkahkan kakinya menuju tempat sampah, hendak membuang buket bunga itu.
"Tunggu A... Jangan dibuang!" sahut Mimin. Ia melangkah menghampiri Dewa.
"Kenapa? Kamu mau menyimpan pemberian dari pria lain? Kamu suka bunga ini? Aku bisa belikan bunga kayak gini le ...."
Mimin menyentuhkan jari telunjuknya di bibir Dewa yang terus saja mengomel. "Ssst... Aa jangan mengomel seperti itu, bisa berkurang kadar ke-kerenan-nya," ucapnya.
Mimin meraih kembali buket bunga dari genggaman Dewa lalu menengok ke kanan dan ke kiri. Pandangannya tertuju pada sekumpulan ibu-ibu yang sedang mengerubuti Mamang tukang sayur di luar pagar depan kontrakan. Lalu ia berjalan menghampiri kumpulan ibu-ibu itu.
"Assalamualaikum... Buibu," sapa Mimin.
"Waalaikum salam," sahut ibu-ibu itu serempak.
"Buibu, suka bunga ga?"
"Suka...!!!"
"Nih, ada buket bunga. Dibagi-bagi aja bunganya Buibu."
"Mau. Mau."
"Saya mau."
"Saya mau."
Ibu-ibu itu pun langsung menghambur berebut bunga dari Mimin.
Setelah memberikan bunga kepada sekumpulan ibu-ibu itu, Mimin kembali menghampiri Dewa yang kini tengah duduk di kursi teras rumah Mimin.
"Daripada dibuang, lebih baik di bagikan untuk orang lain kan," ujarnya.
Dewa berdiri dari duduknya. Ia mendekati Mimin. Menatapnya sejenak dengan tatapan penuh cinta. Lalu ia mengelus pipi sehalus kulit bayi itu seraya menyunggingkan senyum. "Makasih ya, Kekasih halalku," ucapnya.
Mimin balas tersenyum, "Iya, Aa ku."
"Mina, boleh ya?" Dewa berbicara dengan berbisik-bisik.
"Boleh apa A?" balas Mimin dengan berbisik pula.
Lalu Dewa menoleh ke kanan dan kiri seperti seorang maling yang tengah mengamati situasi sekitarnya. "Boleh sun ya?" bisiknya.
__ADS_1
Mimin menoleh ke kanan dan kiri persis seperti yang dilakukan Dewa tadi. "Boleh," bisiknya setelah merasa yakin situasinya aman terkendali.
Kemudian Dewa meraih kepala istrinya dan memberikan sebuah kecupan lembut di kening sehalus pualam itu. Dewa sedang meresapi kecupan lembutnya kepada sang istri ketika sesaat kemudian dikejutkan dengan suara dua orang pria yang sangat dihapalnya.
"Dooor!!"
"Woy!!"
Pekikan Sol dan Jejed sontak membuat Dewa dan Mimin terlonjak hingga memutuskan aksi yang sedang mereka lakukan.
"Dilarang bermesraan di depan umum. Apalagi di depan jomblo kayak kita berdua," sahut Sol.
"Iya kemesraan kalian telah membuat kami semakin terpuruk dalam kejombloan yang hakiki," sahut Jejed menimpali.
"Ngeganggu aja nih para jomblo," sewot Dewa kepada kedua sahabatnya itu. Lalu kembali memandang Mimin yang berdiri di depannya.
"Aa berangkat kerja dulu ya, Sayang. Assalamualaikum," pamit Dewa.
"Waalaikum salam. Hati-hati yah Aa, semangat!!" seru Mimin seraya mengepalkan tangan layaknya ketika menyemangati seseorang. Kemudian mencium takzim punggung tangan suaminya itu.
Setelah berpamitan dengan istri cantiknya, Dewa beranjak menuju motornya. Begitu pun dengan duet gokil Sol dan Jejed yang juga beranjak menuju motor. Ketiga sahabat itu berkocak-kocak sejenak sebelum akhirnya sama-sama melajukan motornya. Dewa berangkat ke bengkel untuk bekerja. Sementara Sol dan Jejed berangkat ke pasar untuk berniaga.
*****
Di bengkel.
Seperti biasanya, Dewa sampai bengkel di awal waktu, saat karyawan lainnya belum datang, bahkan saat bengkel belum buka. Ia adalah karyawan yang terhitung disiplin dibanding karyawan lainnya.
"Assalamualaikum, Pak Haji," sapa Dewa kepada Pak Haji Hamid yang baru tiba.
"Waalaikum salam," balas Haji Hamid. Lalu memberikan kunci ruko kepada Dewa. Dewa menerima kunci itu lalu dengan cekatan membuka rolling door bangunan ruko berlantai dua itu.
"Maaf Pak Haji, saya boleh bicara sebentar," ujar Dewa ketika mereka telah masuk ke dalam ruko.
Dewa berjalan mengekor di belakang Haji Hamid, menuju sebuah ruangan berukuran 4x4 meter, ruangan administrasi pembukuan bengkel. Di ruangan itu terdapat sebuah meja kerja beserta kursinya juga lemari buku untuk menyimpan arsip-arsip pembukuan, satu set sofa, juga lemari es. Ruangan ini selain dipergunakan untuk melakukan kegiatan administrasi bengkel, dan menerima tamu khusus juga berfungsi untuk tempat istirahat Haji Hamid atau pun Mida.
"Silahkan duduk, Wa," titah Haji Hamid seraya mendaratkan bokongnya di atas sofa.
Dewa mengikuti Haji Hamid, mengambil posisi duduk di sofa persis berhadapan dengan Haji Hamid. "Makasih, Pak Haji," ucapnya.
"Bagaimana Wa, betah kamu kerja di sini?" Haji Hamid membuka obrolan.
"Alhamdulillah, sangat betah. Malah saya senang sekali, Pak Haji," jawab Dewa jujur. Sebab ia memang menggemari otomotif. Dan kini hobinya itu malah menjadi pekerjaannya.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau betah. Saya pun mau berterima kasih nih karena sejauh ini pekerjaan kamu sangat baik, jujur dan disiplin," tutur Haji Hamid.
"Dan satu lagi, semenjak kamu bekerja di sini bengkel saya makin diramaikan dengan pelanggan wanita. Dengar-dengar mereka jadi sering ganti oli di sini, dan maunya dilayani kamu yah Wa."
Dewa tertawa pelan. "Hehehehe"
"Ah, itu mah kebetulan aja Pak Haji. Saya juga sangat berterima kasih sama Pak Haji karena sudah mau menerima saya bekerja di sini," lanjutnya.
"Bukan kebetulan Wa, tapi karena kamu memang mempesona. Sampai-sampai diambil mantu sama Haji Zaenudin."
Dewa tersenyum. "Alhamdulillah, Pak Haji. Mungkin memang sudah jodohnya."
"Terus kapan rencana mau resepsi?" tanya Haji Hamid.
"Nah itu tujuan saya bicara sama Pak Haji. Saya mau minta izin cuti. Mau pulang dulu lalu membawa kedua orang tua saya kemari untuk melamar Mina," tutur Dewa.
__ADS_1
"Oh, begitu ya. Tapi maaf nih Wa, sepertinya saya tidak bisa memberikan izin lama-lama. Tiga hari cukup?"
"Tidak apa-apa Pak Haji, insyaallah cukup."
"Karena saya membutuhkan kamu Wa. Kalau kamu terlalu lama cuti, bisa-bisa pelanggan setia wanita di bengkel ini pada kabur. Hehehehe..."
Dewa pun ikut tertawa. "Hehehehe... Bisa aja Pak Haji nih."
"Saya hanya mendoakan semoga rencana resepsinya lancar. Dan semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah."
"Amin. Terima kasih doanya Pak Haji."
"Kalian memang pasangan yang serasi, kamu ganteng, Mimin cantik. Benar-benar serasi pokoknya."
"Terima kasih atas pujiannya, Pak Haji."
"Oya, sebentar Wa," ujar Haji Hamid seraya bangun dari duduknya. Kemudian ia berjalan menuju meja kerjanya, dan mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya.
"Ini Wa, uang gajian kamu," ujar Haji Hamid setelah kembali duduk di tempat sebelumnya.
"Loh, bukannya belum waktunya gajian Pak Haji."
"Iya gak apa-apa. Takut kamu membutuhkannya. Sudah saya lebihkan uangnya untuk tambah ongkos kamu pulang."
"Wah, terima kasih banyak Pak Haji."
"Iya, sama-sama."
"Kalau begitu saya permisi mau mulai bekerja."
"Ya, silakan."
Setelah berpamitan, Dewa pun meninggalkan ruangan Pak Haji Hamid untuk memulai pekerjaannya.
Saat Dewa hendak memulai pekerjaannya, tiba-tiba Mida yang baru saja tiba di bengkel langsung menghampirinya.
"Dewa."
"Iya, Mida."
"Ini buat kamu," ucap Mida seraya mengulurkan tangannya yang menenteng sebuah paper bag.
"Apa ini Mida?" tanya Dewa.
"Kemarin aku beli kemeja buat kamu," jawab Mida.
"Mida, maaf aku gak bisa mene...."
"Aku gak suka kamu menolak pemberian aku!" sahut Mida cepat, memutuskan kalimat Dewa yang belum tuntas.
"Ta-tapi aku...."
"Ini aku taro di loker kamu ya!" putus Mida cepat tanpa ingin dibantah. Kemudian segera berlalu meninggalkan Dewa.
Astagfirullah... tadi pagi Mina dapat bunga, sekarang aku dapat kemeja. Begini nih nasib orang ganteng dan cantik, selalu saja ada godaan yang menyapa. Gumamnya dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Maaf yah up nya dikit. Ibu negara sedang ada wajib tempur. Bertempur dengan cucian segunung, setrikaan sebukit, piring kotor se bak. Nikmat sekali pokoknya. Alhamdulillah. 😁😁