
Deka sampai di kamar. Lalu menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
Dung ... Dung ... Dung ...
Ia mengetuk kepalanya tiga kali lalu mendapat piring cantik, hehehe.
Seumur hidup, kejadian ini adalah yang paling memalukan. Mau ditaruh di mana mukanya yang ganteng itu. Ini mah judulnya GGU Ganteng Ganteng Unyu. Ganteng-ganteng kok pakai boxer bergambar Doraemon. Dan kenapa harus Ririn yang memergokinya. Kenapa bukan cicak-cicak di dinding saja yang mengetahui rahasia tentang boxer bergambar Doraemon ini.
Hufht ... Deka membuang napas kesal. Lalu mengacak rambutnya dengan kedua tangan.
Sama seperti Ririn, sejak kecil, Deka juga menyukai Doraemon. Deka kecil, sifat dan karakternya mirip Nobita. Penakut, malas, tidak mandiri, sering dijahili oleh teman-temannya dan tidak mampu melawan temannya yang menjahili. Bedanya, Deka tidak sebodoh Nobita yang selalu mendapatkan nilai nol dalam ujian. Kendatipun tak bisa dikatakan pintar dan cerdas. Ia tidak secerdas Dekisugi (saingannya Nobita).
Maka dari itu, Deka sangat menyukai Doraemon. Impian absurd-nya waktu kecil adalah memiliki robot kucing Doraemon seperti Nobita. Sampai-sampai ia pernah meminta kepada papahnya agar didatangkan Doraemon.
Alih-alih mengabulkan keinginannya, Papa justru membawakan sebuah boneka Doraemon yang besar dan tingginya sama dengan tubuh kecilnya saat itu.
"Doraemon itu gak nyata, Deka. Yang nyata adalah ini, bonekanya. Kalau kamu mau Doraemon, sekolah yang pintar biar kalau besar kamu bisa menciptakan Doraemon." Begitu kalimat Papa yang menjadi penyemangatnya dalam belajar. Harus pintar biar bisa menciptakan robot Doraemon. Nyatanya setelah dewasa, ia malah pintar menciptakan de-sahan dari partner kencannya.
Deka kecil mulai mengoleksi komik Doraemon dan pernak-perniknya. Namun, ketika menginjak usia remaja, saat mulai mengenal wanita, ia melupakan kesukaannya pada Doraemon. Saat itu wanita terasa lebih menarik dari Doraemon. Dan jadilah ia seorang cassanova.
Permasalahannya dengan Clara memaksa dirinya untuk pergi dan terdampar di kota Serang. Sejak itu ia terpaksa harus meninggalkan dan menanggalkan predikat sang Cassanova, sebab kota Serang sama sekali tak mendukung aktivitas rutinnya sebagai sang Cassanova. Aktivitas oh Yes oh No, celup sana celup sini.
"Tolong jangan bahas itu, Thor. Aku udah tobat ini. Bukti pertobatannya adalah boxer-ku bergambar Doraemon. Ya kali, seorang Cassanova boxer-nya gambar Doremon. Apa kata wanita teman kencanku," bisik Deka pada telinga Teh Yeni. Membuat Teh Yeni bergidik kegelian.
Tiba-tiba Shah Rukh Khan datang dan menegur Deka. "Woy, jangan bisik-bisik di telinga istriku!"
"Btw Shah Rukh Khan ini siapa, sih?"
"Suaminya Teh Yeni."
"Astogeee." Deka menjengit kaget karenanya.
"Kirain suaminya Teh Yeni itu Jungkook."
Emak-emak solehah mah kenalnya Shah Rukh Khan, bukan oppa Korea. Begitu kata rumput yang bergoyang.
Kembali ke Deka. Setelah pertobatannya dari dunia bebas penuh keliaran, ia kembali ke jati dirinya. Salah satunya kembali mengoleksi hal berbau Doraemon.
Dua minggu yang lalu ia menemukan boxer dewasa lucu bergambar Doraemon di aplikasi belanja online. Tanpa pertimbangan dan berpikir panjang, ia langsung membeli boxer bergambar Doraemon tersebut secara online. Tak tanggung-tanggung, bahkan ia membeli selusin boxer bergambar Doraemon dengan berbagai macam warna dan berbagai macam pose Doraemon.
__ADS_1
Lagian boxer 'kan sifatnya privasi, dipakai di dalam. Jadi, tak mungkin orang-orang mengetahui jika ia yang ganteng dan bertubuh atletis itu memakai da-laman boxer bergambar Doraemon. Begitu pikirnya.
Deka memejamkan mata berusaha untuk melanjutkan tidurnya. Meskipun tak yakin dapat tidur nyenyak seperti sebelumnya.
*****
Sementara di kamar sebelah, Ririn pun sama resahnya. Dalam keadaan mata yang terbuka, ia tak dapat menghilangkan bayangan roti sobek. Dalam keadaan mata terpejam, ia tak dapat menghilangkan bayangan boxer bergambar Doraemon. Terpejam salah, membuka mata pun salah. Serba salah jadinya.
Dung ... Dung ... Dung ...
Ia mengetuk kepalanya tiga kali lalu mendapat payung cantik, hehehe.
Oh, roti sobek. Oh, boxer Doraemon. Enyahlah dalam pikiranku. Harap Ririn dalam hatinya.
Tentang boxer Doraemon, sejujurnya Ririn merasa takjub. Deka terlihat so sweet dengan boxer Doraemon itu. Pesona Deka jadi naik seperempat ditambah setengah level di matanya. (Bilang aja tiga perempat, Teh. Ga usah muter-muter seperempat ditambah setengah. Dasar nih, Teh Yeni. Biar dapat seribu kata ya?! Hayo ngaku!).
Deka dengan penampakkan roti sobek dan boxer Doraemon-nya terus berlarian di dalam pikiran Ririn. Sampai akhirnya lelah sendiri dan Ririn pun tertidur kembali. Ririn tertidur dengan memeluk boneka Doraemon-nya.
Dua jam kemudian aroma roti sobek menguar di indra penciuman Ririn. Aroma roti sobek itu sungguh menggetarkan lambungnya, eh hatinya. Ia yang masih dalam keadaan tertidur semakin membenamkan wajahnya pada dada bidang itu. Sebuah sentuhan lembut dari tangan kokoh terasa di pipinya, memaksa Ririn untuk membuka mata.
Ririn berjingkat kaget ketika mendapati Deka tengah memeluknya. Doraemon yang biasa dipeluknya ketika tidur itu tiba-tiba berubah menjadi Deka.
"Kamu ngapain di sini?!" tanya Ririn seraya menjauhkan tubuhnya dari Deka.
Baru saja Ririn akan membalas ucapan Deka, tiba-tiba terdengar tangisan Syad. Diikuti suara Mimin yang berusaha menenangkan Syad.
"Astagfirullah. Aku mimpi apaan sih," ucapnya setelah membuka mata.
Ririn mengembuskan napas lega, lalu memeluk boneka Doraemon-nya. Hatinya bersyukur karena tadi hanyalah sebuah mimpi. Terbesit sebuah tanya dalam hati. Pertanda apakah jika Deka sudah berani masuk ke dalam mimpinya??
Ririn beringsut bangun, lalu duduk di tepi ranjang sekedar mengumpulkan nyawa. Terdengar suara penghuni rumah yang sudah terbangun. Suara deheman Abah karena gatal tenggorokan. Suara Mami dan Opi yang berebut kamar mandi. Suara Dewa dan Mimin yang tengah berdebat ringan tepat di depan pintu kamarnya.
"Mandi bareng aja yuk, Neng," ajak Dewa.
"Ga usah ngadi-ngadi A. Ini rumah orangtua, ga ada agenda mandi bareng segala. Aa duluan aja mandi sana. Nanti gantian. Neng gendong Syad dulu. Mandinya cepetan, jangan lama-lama. Sebentar lagi azan subuh," rewek Mimin yang panjang kayak KRL commuter line.
Dewa mengusap tengkuknya. Benar yang dikatakan Diev dulu. Ketika sudah mempunyai anak, suami akan menjadi urutan kelima dalam daftar prioritas perhatian istri. Anak lah yang menjadi prioritas utama.
Ririn bangun, melangkah menuju pintu, lalu membukanya. "Sini, Syad biar sama saya. Kalian bisa mandi bareng jadinya," ujarnya pada Mimin dan Dewa yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
"Eh, enggak enggak," sahut Mimin tersipu.
Refleks Mimin mencubit perut Dewa. "Aa sih!"
"Maaf ya, Rin. Kita jadi gangguin kamu tidur," ujar Dewa.
"Enggak papa, memang udah waktunya bangun kok."
"Udah sana, Aa mandi," suruh Mimin pada Dewa.
"Iya. Ini mau mandi." Dewa beranjak menuju kamar mandi.
"Aku ke kamar dulu ya, Rin. Syad pengen ne-nen kayaknya." Mimin beranjak menuju kamarnya setelah mendapat sebuah anggukan dan senyuman dari Ririn.
Ririn melangkah ke meja makan dekat dapur untuk mengambil minum. Mimpi dipeluk Deka membuatnya sangat kehausan. Tidak terbayang jika dipeluk betulan, mungkin akan mengalami dehidrasi kronis.
"Teh Ririn, kata Abah suruh bangunin Bang Deka, suruh salat subuh berjamaah," ujar Opi ketika melewati Ririn yang baru selesai meneguk segelas air putih.
"Kenapa teteh yang suruh bangunin? Opi aja sih yang bangunin Bang Deka," tolak Ririn.
"Duh, Opi sakit perut nih." Opi meringis sambil memegangi perutnya. "Teteh aja ya, yang bangunin Bang Deka," mohonnya.
"Iya deh," sahut Ririn pasrah.
Ririn mengayun langkah ragu menuju pintu kamar tamu yang ditempati Deka. Jujur saja, pelukan Deka dalam mimpi tadi belum hilang dan masih terasa saat ini. Wajahnya sampai merona mengingat mimpi tadi.
Ririn telah berdiri di depan pintu kamar Deka. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, ia mengangkat tangan hendak mengetuk pintu. Namun, tubuhnya tiba-tiba tersenggol Opi yang berlari-lari dari kamar mandi hendak mengambil pembalut di kamarnya. Senggolan Opi membuat tubuh Ririn terhuyung ke depan. Bertepatan dengan terbukanya pintu kamar Deka.
Bruuuuk ...
Ririn jatuh di pelukan Deka. Ia yang mengira akan kejedot pintu, tapi malah kejedot dada bidang Deka seketika tergugu, terdiam, terpaku dan membisu.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih dukungannya ❤️❤️❤️❤️
.