Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
GBM S3


__ADS_3

Mimin dan Dewa baru saja menunaikan salat sunnah dua rakaat. Beberapa bulan terakhir ini, mereka berusaha untuk menunaikan salat sunnah sebelum melakukan ibadah paling menyenangkan dengan penuh cinta. Meskipun tak istiqomah, hanya ketika hasratnya dapat dikendalikan dalam mode kewarasannya.


"Bismillah, semoga kali ini jadi ya," ujar Dewa dengan tangan yang masih menyentuh puncak kepala Mimin usai berdoa memohon kebaikan untuk istri dan rumah tangganya.


"Amin ya Allah." Mimin menengadahkan kedua tangan lalu mengusap wajahnya, mengamini doa suaminya.


Dua tahun pernikahan tentu tak terhitung berapa kali mereka sudah melakukan kegiatan ibadah yang menyenangkan ini. Segala macam gaya pernah mereka coba. Mulai dari gaya kodok hingga gaya jongkok, gaya batu hingga gaya kupu-kupu. Hanya satu gaya yang belum pernah mereka coba yaitu gaya naik kuda.


Entah kenapa Mimin selalu menolak jika Dewa merekomendasikan gaya kuda-kudaan. Kendatipun Dewa memahami penolakan itu dikarenakan Mimin yang terlalu pemalu.


Bahkan, sampai detik ini istrinya itu belum pernah "meminta duluan". Selalu saja Dewa yang memulai kegiatan berfaedah ini (berfaedah bagi yang sudah menikah. Yang belum menikah jangan coba-coba karena ini sangat berbahaya).


Namun begitu, waktu dua tahun cukup untuk membuat Dewa memahami sifat, karakter bahkan gestur tubuh Mimin. Jika istrinya itu kedapatan sering mencuri-curi pandang kepadanya, itu pertanda Mimin lagi "ingin".


Ngomong-ngomong tentang kuda, Dewa jadi berpikir untuk mengutarakan kembali keinginannya tentang kuda. Kuda bukan sembarang kuda. Kuda tapi tidak terbang. Kuda tapi tidak liar.


"Neng."


"Hemmm."


"Malam ini, Neng di atas ya," ujar Dewa pelan seperti sedang berbisik. Ia menatap Mimin dan melemparkan senyum nakal, juga mengedip-ngedipkan matanya.


"Ga mau ah," tolak Mimin cepat. Ia bahkan menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa malu dengan permintaan suaminya.


"Kenapa atuh Neng, boleh loh," ujar Dewa.


Mimin menggelengkan kepalanya. "Gak mau!"


"Kenapa? Malu?"


Mimin mengangguk dengan malu-malu.


"Sekali-sekali atuh, Neng. Mau ya, ya, ya," bujuk Dewa.


Mimin kembali menggelengkan kepalanya.


"Menyenangkan suami itu hadiahnya pahala loh." Dewa masih berusaha membujuk istrinya.


"Iya iya. Tapi jangan sekarang ya, Neng belum siap." Mimin tertunduk sembari menjalin jari jemarinya. Ia merasa malu untuk menatap Dewa.


"Kapan dong?"


"Kapan-kapan." Mimin menatap Dewa sekejap lalu kembali menundukkan pandangannya. Dewa sampai tersenyum dibuatnya. Mimin benar-benar sangat menggemaskan jika sedang seperti ini.


"Iya deh. Terus kalau sekarang pake gaya apa nih?" Dewa mencubit gemas pipi Mimin.


"Gaya konvensional aja," jawab Mimin malu-malu.


Dewa melemparkan senyum nakalnya. Ia memahami kesukaan Mimin. Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA: "Istri itu laksana kendaraan suami, kapan saja suami boleh menaikinya. Akan tetapi sifat yang paling disukai adalah naik ke atas istri dengan perlahan dan lemah lembut."


"Baiklah, markimul!" seloroh Dewa.


"Markimul apaan A?"

__ADS_1


"Mari kita mulai. Hihihihihi...."


Dan permainan pun dimulai. Hubungan suami istri yang menyenangkan dan penuh cinta yang bernilai ibadah, bahkan lebih tinggi nilainya ketimbang puasa sunnah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, "seorang istri tidak boleh berpuasa (sunnah) sementara suaminya berada di rumah, kecuali jika suaminya mengizinkan dirinya untuk berpuasa."


Dewa memulai dengan menyentuh tangan Mimin lalu mengecupnya. Tak lupa untuk memanjatkan doa di setiap sentuhan dan aksinya. Lalu kecupannya berganti pada kening, pipi dan bibir ranum yang sangat menggoda.


Meskipun sudah berjalan dua tahun keintiman yang mereka lakukan, tetap saja kelihaian Dewa dalam menggigit, mengecap dan menyesap selalu mampu membuai Mimin dalam gelora yang membara.


Mimin merasa sekujur tubuhnya meremang. Dan senyar-senyar itu semakin menyala-nyala tatkala ujung hidung Dewa menyentuh cuping telinganya. Sementara tangannya menelusup masuk ke dalam dress tidur yang dikenakan Mimin. Seperti biasa Dewa melabuhkan tangan di tempat favoritnya. Dan mulai memainkannya sesuka hati.


Menit berikutnya, pasangan yang tengah digempur badai ga*irah yang menggebu itu telah mencampakkan pakaiannya. Saling beradu kasih dan cinta di bawah selimut.


Dewa memainkan perannya, mengombang-ambingkan Mimin dalam pusaran arus yang membuatnya terlena. Menenggelamkannya dalam lautan sukacita yang paling dalam. Desah dan desau mengiringi permainan mereka. Semakin membangkitkan naf*su, mengobarkan api ga*irah yang menggelora.


Hingga sampai pada saatnya. Dalam sorot temaram lampu kamar, tampak wajah sayu Mimin dengan tatapan sendu penuh pengharapan. Menandakan bahwa dirinya telah siap mengarungi gelombang hasrat teramat dahsyat.


Dengan perlahan dan lembut, Dewa menyatukan dirinya bersama istri tercinta. Tidak lupa untuk mengucap basmalah dan melafalkan doa sebelum berjima.


Gerakan lembut itu berubah menjadi energik dan garang seiring dengan ombak dahsyat yang semakin menggulung mereka dalam lautan melenakan.


Sesaat sebelum sampai menuju puncak kemenangan, Dewa membaca doa dalam hatinya. "ALHAMDULILLAHILLADZI KHOLAQO MINAL MAAI BASYARON FAJAALAHU NASABAN WA SIHRON WAKAANA ROBBUKA QODIIRON". (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dari air mani manusia, maka ia menjadikan manusia itu beranak pinak, dan adalah Tuhanmu itu Maha Kuasa).


Hingga keduanya sama-sama merasakan tubuh mereka bergetar hebat dan aliran darah yang mengalir lebih cepat. Deru napas Dewa terdengar semakin memburu. Mimin makin mengeratkan pelukannya. Pertanda telah sampai pada titik puncak yang dituju. Alhamdulillah.


"Makasih ya, Neng," ucap Dewa seraya memeluk Mimin dan mengecup keningnya. Ini adalah kebiasaannya, selalu berterima kasih usai menyatukan diri dengan penuh rasa cinta.


Mimin balas mengecup pipi Dewa. "Sama-sama, Aa."


"Neng."


"Hemm."


"Neng, kapan terakhir datang bulan?"


"Emm, bulan kemarin A."


"Tanggal berapa?"


"Tanggal enam kalau ga salah."


"Bulan ini belum ya, Neng?"


"Emm, belum."


"Sekarang udah tanggal dua tujuh, Neng."


"Iya, A."


"Udah coba testpack?"


"Belum."


"Coba testpack, Neng. Semoga hasilnya positif."

__ADS_1


"Enggak lah A. Gak mau testpack, takut kecewa. Dulu aja, pernah telat mens sampai sebulan, pas testpack hasilnya tetap negatif. Neng ga mau terlalu tinggi berharap, khawatir ga sesuai harapan malah jadi kecewa, jadi sedih," tutur Mimin.


Mimin memang sudah berkali-kali melakukan testpack. Malah saat awal-awal pernikahan, karena rasa semangat yang tinggi, telat menstruasi dua hari saja, ia langsung melakukan testpack . Jika dihitung dan dikumpulkan, mungkin alat uji kehamilan itu bisa mencapai satu kantong penuh.


"Besok pagi coba testpack lagi ya," ujar Dewa.


"Nanti aja lah, kalau udah telat dua bulan," sahut Mimin.


"Besok aja."


"Nanti aja. Neng ga mau kecewa."


"Insyaallah, semoga hasilnya ga mengecewakan."


Mimin mengerutkan keningnya, ia menatap Dewa. "Kenapa Aa seyakin itu?"


"Soalnya beberapa kali belakangan ini, rasanya beda, Neng."


"Rasanya beda, gimana maksudnya?"


"Neng rasanya beda. Kan, Aa yang merasakan."


Mimin masih berusaha memahami maksud perkataan Dewa. Namun kemudian, Dewa memaparkan semuanya.


"Yang ini beda." Dewa meremas dada Mimin.


"Yang ini juga beda." Kali ini Dewa meremas bokong Mimin.


"Dan yang ini juga beda." Terakhir Dewa menyentuh bagian bawah tubuh Mimin. Yang dihadiahi sebuah pukulan.


Mimin memukul lengan Dewa sembari melototkan matanya. "Dusun ih!"


"Balas dong, nih pegang punya Aa." Dewa menggoda Mimin.


"Sumeh."


"Hahahahaha." Dewa terkekeh geli melihat reaksi Mimin. Ia selalu tertawa jika Mimin mengatakan "sumeh", kata khas Wong Serang. Kemudian keduanya saling bercanda dan tertawa-tawa.


Dan malam indah itu diakhiri dengan berwudu. Sebelum akhirnya keduanya sama-sama beranjak menuju alam mimpi.


.


.


.


.


.


Berhubung semalam adalah malam Jumat. Hihihihihi...


Terima kasih sudah membaca. Terima kasih dukungannya. Love U. ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2