Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
S2. Calon Jodoh Hana??


__ADS_3

Langkah Hana berhenti ketika melewati meja resepsionis. Ia hendak menanyakan letak posisi ruangan tempat Mimin dirawat.


"Bu, saya mau tanya...."


"Bu, saya mau tanya...."


Hana dan seorang pria di sampingnya mengucapkan kalimat itu bersamaan. Hana menolehkan kepalanya ke seseorang yang berdiri di sampingnya itu. Ia terkejut karena seseorang itu adalah pria yang tadi menolongnya ketika dirinya hampir terserempet motor.


"Satu-satu ya nanyanya," sahut Resepsionis.


Pria Itu tersenyum kepada Hana. "Silakan, Ukhti duluan," ucapnya.


Hana mengangguk menanggapi ucapan pria itu.


"Iya Bu, saya mau tanya kalau ruang VIP di sebelah mana ya?" tanya Hana kepada Resepsionis.


"Kalau Bapak mau menanyakan apa?" tanya Resepsionis kepada pria di sebelah Hana.


"Saya mau tanya kalau ruang fisioterapi di mana ya?" Pria itu mengucapkan pertanyaan yang tadi akan ditanyakannya.


"Ok, saya jawab pertanyaan ibu ini dulu ya. Ruang VIP itu ibu jalan lurus saja terus. Nanti pas persimpangan belok kanan terus jalan sedikit lagi. Patokannya ada taman bunga, di belakang taman bunga itu letak ruang VIP," terang Resepsionis.


"Oh, baik. Terima kasih informasinya, Bu" Hana membalikkan tubuhnya setelah mendengar penjelasan Resepsionis. Sementara Resepsionis itu berganti menjawab pertanyaan dari pria yang berdiri di samping Hana.


Baru saja Hana membalikkan tubuhnya, ia dikejutkan dengan kehadiran seorang ibu.


"Subhanallah Haqi, ini calon istrimu 'kah? Cantik sekali." Ibu itu tiba-tiba saja menggenggam tangan dan menyentuh pipi Hana.


Sentuhan akrab si ibu itu membuat Hana terperanjat dan penuh kebingungan. Namun, ia tetap memberikan senyum kepada ibu itu. Senyum dalam kebingungan.


"Ummi...!" seru pria yang berdiri di samping Hana.


Pria itu lalu mencium takjub punggung tangan si ibu. "Ummi kok di sini? Sudah selesai terapinya?" tanya pria itu kemudian.


"Haqi ... kenapa kamu tidak pernah membawa calon istrimu ke rumah?" Ibu itu berbicara dengan tangan yang masih menggenggam tangan Hana.


Pria yang ternyata bernama Haqi itu melirik ke arah Hana yang berdiri di sampingnya. Lalu berbisik di telinga si ibu. "Ummi, Haqi gak kenal dengan gadis itu," bisiknya kepada wanita yang adalah ibunya.


Setelah berbisik kepada wanita yang dipanggilnya Ummi itu, Haqi kembali melirik Hana. Ia melemparkan senyum ragu dan malu sebab reaksi sang ibu.


"Apa? Jadi ini bukan calon istrimu?" sahut ibunya Haqi.


Haqi menggelengkan kepalanya. "Bukan, Ummi."


"Bukan temanmu juga?" Ibu Haqi bertanya lagi.


Haqi menggeleng lagi. "Bukan, Ummi."


Tangan kiri ibunya Haqi mengusap lembut tangan Hana yang sedari tadi berada dalam genggaman tangan kanannya. "Maaf ya, Neng. Tak kira Neng calon istri anak Ummi. Maklum anak Ummi ini sudah tua begitu belum juga mengenalkan calon jodohnya sama Ummi," ucap si ibu.


Haqi menepuk jidat lalu mengusap wajahnya karena mendengar ibunya menyebut dirinya "tua".


Sementara Hana tersenyum. Senyum ramah kepada si ibu dan senyum tertahan karena melihat reaksi pria yang bernama Haqi ketika sang ibu mengatainya "tua."


Hana balas mengusap tangan si ibu yang masih bertautan dalam genggaman. "Gak papa, Ummi." ucapnya. Hana turut memanggil ibu itu dengan sebutan "Ummi" mengikuti panggilan Haqi.


"Saya juga minta maaf ya, Ukhti." Haqi ikut meminta maaf kepada Hana. Haqi memanggil Hana dengan sebutan Ukhti karena melihat penampilan Hana yang berpakaian syar'i. Biasanya dengan wanita yang tidak berpakaian syar'i ia akan memanggilnya dengan sebutan Neng, Nong atau Teteh.

__ADS_1


Hana mengangguk. "Iya, gak apa-apa."


"Maaf, saya permisi dulu. Mau menjenguk teman," pamit Hana menatap Haqi dan ibunya bergantian.


"Oh, iya silakan, Neng" sahut ibunya Haqi.


"Silakan, Ukhti." Haqi mengangguk ramah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Haqi dan ibunya kompak.


Usai berpamitan dan tersenyum ramah kepada ibunya Haqi, Hana melanjutkan langkahnya untuk menjenguk Mimin.


"Cantik itu Haqi, cocok sama kamu," ujar ibunya Haqi setelah Hana telah menjauh.


"Apaan sih Ummi, Haqi gak kenal sama gadis itu," sahut Haqi.


"Kenapa tadi gak kenalan?" cecar ibunya Haqi.


"Aish... Ummi. Memangnya semudah itu kenalan dengan wanita."


"Jodoh itu juga harus dijemput dan dikejar bukan cuma ditunggu Haqi!" timpal ibunya Haqi.


"Iya, Ummi."


"Inget Haqi kamu udah kepala tiga loh!"


"Baru juga seminggu menyandang kepala tiga, Ummi ngatain Haqi tua," keluh Haqi dengan raut manja.


"Emang udah tua 'kan. Dulu abimu menikahi Ummi umur 23 loh."


"Pertanyaan kamu banyak sekali kayak wartawan aja!"


"Ummi juga kayak Hakim, menghakimi kalau Haqi udah tua. Hehehehe...." balas Haqi.


"Sini, Ummi duduk dulu." Haqi membimbing ibunya duduk di sebuah kursi tunggu.


"Itu Bilqis lagi di apotek nebus obat." Tunjuk ibunya Haqi ke sebuah apotek yang tak jauh dari tempat duduknya.


"Tadi Ummi duduk di situ sama Bilqis, terus lihat kamu sama gadis itu berdiri bersebelahan tak kira itu calon istrimu. Kirain kamu datang ke sini sama calon istrimu. Makanya Ummi samperin kamu," jelas ibunya Haqi.


"Aish, enggak lah Ummi. Masa iya ngenalin calon istri di Rumah Sakit. Ada-ada aja Ummi nih."


"Tuh, Bilqis udah ke sini," tunjuk Haqi kepada seorang gadis muda berjilbab yang adalah adiknya Haqi.


"Loh, kok cuma berdua. Calon istrinya Aa mana?" sahut gadis muda yang dipanggil Bilqis.


"Calon istri yang mana? Ga ada," jawab Haqi sembari menggelengkan kepalanya.


"Hahahaha... Pasti Ummi salah ya?"


"Iya Ummi nih. Haqi kan malu sama gadis tadi," sungut Haqi.


"Udah gak apa-apa. Siapa tahu itu beneran jodoh kamu."


Tanpa sadar Haqi mengucapkan kata "Amin" dalam hatinya. . Loh kok aku bilang Amin sih. Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


*****


Dewa sedang mengemasi pakaiannya, sore nanti ia berencana kembali ke kota Serang.


"Kamu besok berangkat lagi, Wa?" tanya Bu Dewi yang duduk di kasur kamar Dewa sembari memperhatikan kesibukan Dewa mengemasi pakaian.


"Sore ini Dewa berangkat ke Serang lagi, Mah" sahut Dewa tanpa menghentikan kegiatannya berkemas.


"Besok aja Wa. Baru juga semalam sampai sini, hari ini udah mau berangkat lagi. Mama 'kan masih kangen sama kamu Wa," bujuk Bu Dewi.


Dewa menghentikan kegiatannya lalu menghempaskan bokongnya di atas kasur, duduk di sebelah mamahnya.


"Mina sakit, Mah. Sedang dirawat di Rumah Sakit," terang Dewa.


"Ya ampun. Sakit apa Mina? Sakit parah 'kah?" cecar Bu Dewi yang terkejut mendengar penuturan Dewa.


"Enggak parah kok, sudah lebih baik sekarang. Cuma perlu makan yang banyak dan istirahat aja."


"Kalau begitu Mama nanti ikut kamu ya. Mama mau nengok Mina."


Dewa tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Sip."


"Mah, terus gimana dengan rencana resepsi pernikahan Dewa? Dewa ga punya uang untuk biaya resepsinya."


"Papahmu serius menutup akses keuangan butik Mama loh Wa. Keterlaluan papahmu itu, sekarang aja Mama ga suka ikut kumpul sama geng sosialita Mama," keluh Bu Dewi.


"Sabar ya, Mah. Punya suami kayak Papa memang harus banyak sabar."


Bu Dewi mengelus kepala Dewa. "Tapi ... kalau untuk resepsi sederhana aja, Mama masih punya tabungan. Kayaknya cukup untuk biaya resepsi pernikahan yang sederhana," tuturnya.


"Resepsi sederhana aja lah, Mah."


"Kalau mertua dan istrimu ingin resepsi mewah. Resepsi di hotel bintang lima, bagaimana Wa?"


"Mina dan keluarganya ga seperti itu, Mah. Mereka orang yang sederhana kok."


"Kalau kamu gak punya uang untuk biaya resepsi pernikahan kamu ... pake uangku aja Wa. Aku ada tabungan, kayaknya cukup buat biaya resepsi," sahut Deka yang tiba-tiba ikut masuk ke kamar Dewa dan telah menguping obrolan adiknya bersama Mama sejak tadi.


"Abang....."


"Deka ... sini duduk!" titah Bu Dewi.


Deka pun menghampiri keduanya lalu duduk di sebelah mamahnya.


"Seriusan Bang, tawaran lo tadi?" tanya Dewa.


"Iya, pake aja tabunganku," sahut Deka yakin.


"Mama senang deh, bisa berkumpul sama anak-anak mama." Bu Dewi yang duduk di tengah merangkul kedua putranya.


"Bahagia melihat kedua anak mama akur begini," ucapnya seraya tersenyum. Senyum bahagia.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Terima kasih juga dukungannya. ❤️❤️❤️


__ADS_2