
Di depan halaman rumah Haji Zaenudin telah terpasang tenda dan segala hiasan khas acara pernikahan. Bangku-bangku untuk para tamu pun sudah berbaris rapi. Dan yang paling menjadi pusat perhatian adalah pelaminan sederhana nan cantik dengan nuansa pink. Karena Mimin menyukai warna pink.
Resepsi acara pernikahan ini tidak menggunakan jasa wedding organizer. Untuk menu hidangan prasmanan juga tidak menggunakan jasa katering. Hanya menyewa jasa tukang masak warga kampung Cibening. Mami yang mengurusi semuanya dengan dibantu oleh keluarga lainnya dan para tetangga.
Pengantin telah duduk di atas kursi pelaminan. Serangkaian prosesi adat pernikahan telah dilaksanakan. Acara foto-foto bersama keluarga, kerabat dan para sahabat telah dilakukan. Sebagian tamu yang hadir tengah menyantap hidangan dan sebagian lagi tengah mengantre di meja prasmanan.
Di salah satu sudut tempat resepsi ada Sol yang tengah mengomeli Jejed.
"Jed, lo tuh gimana sih! Harusnya lo tuh datang dari kemarin, nginep di sini bantuin si Dewa ngurusin acara ini," omel Sol.
Jejed memang baru datang hari ini jam delapan pagi tadi saat persiapan akad nikah akan dimulai.
"Sori Sol, gue juga udah bilang sama Dewa kok. Soalnya gue bawa nih.... " Jejed menunjuk gadis manis yang duduk di sampingnya dengan ekor matanya.
"Gue bawa anak perawan orang, masa iya dibawa nginep. Nanti gue diomelin bokap nyokapnya," kilahnya.
"Siapa?" bisik Sol di telinga Jejed.
"Pacar gue dong. Maklum lah Sol gue 'kan udah laku. Memangnya lo yang konsisten menjomblo," ledek Jejed.
"Sembarangan! Gue juga udah laku kaleee." Sol melemparkan pandangannya mencari sosok yang dicarinya yaitu Mida.
"Noh, yang pake gamis pink yang lagi ngobrol sama Abah, itu calonnya gue," ujarnya.
Sol berdiri dan berjalan menghampiri Mida lalu mengajak Mida ke tempat di mana Jejed dan Mila duduk. Kemudian kedua pasangan itu saling bersalaman.
"Kenalin nih calon gue namanya Mida," ujar Sol.
"Ini juga sama nih calon gue namanya Mila,"
sahut Jejed tak mau kalah.
"Ngomong-ngomong kok namanya mirip ya Mida, Mila, Mina," kata Sol.
"Ya ampun sampai sebegitu kompaknya kita ya," seloroh Jejed.
Sementara di sudut yang lain ada Opi serta teman-teman masa kecil Mimin yaitu Rahma, Hana dan Fahri.
"Semoga setelah ini giliran Hana ya," lontar Rahma sembari menatap Hana.
"Amin. Doakan saja semoga dekat dengan jodohnya," sahut Hana seraya tersenyum.
"Amin." Rahma, Fahri dan Opi serempak ikut mengamini.
"Tapi kenapa Hana ga sama Fahri aja ya," seloroh Rahma yang sukses membuat mata Opi melotot.
"Ih, Teh Rahma mah," ringis Opi.
"Emang kenapa? Hana dan Fahri 'kan sama-sama jomblo." Rahma yang mengetahui jika Opi menyukai Fahri malah semakin meledek Opi.
"Teh Rahma ih!" sungut Opi seraya mengerucutkan bibirnya. Membuat Rahma dan Hana tak kuasa menahan senyum.
"Ciye ciye ... cemburu," goda Hana.
"Ih, enggak kok," sanggah Opi. Wajahnya sudah merona merah karena malu.
"Hana kalau misalnya ada ikhwan yang ingin mengirim CV kepadamu apakah diterima?" tanya Fahri.
"Fahri, siapa yang mau kirim CV ke Hana?" tanya Rahma yang kepo.
"Yang pasti bukan Ka Fahri," sahut Opi.
"Eh, siapa tahu ternyata Fahri yang mau kirim CV," seloroh Rahma.
"Bukan, ada teman aku," sahut Fahri.
"Wah kalau teman Fahri sih udah pasti berkualitas. Lanjutkan Ri, kawal sampai halal," seloroh Rahma.
Di tempat lain yakni di atas panggung pelaminan Mimin dan Dewa tengah dikerubuti oleh trio gadis teman kantor Mimin.
"Mimin selamat ya." Ketiga gadis itu kompak memeluk Mimin dan bercipika-cipiki.
"Min ... pengen tahu deh wirid-nya apa sih sampai berjodoh sama cowok sekeren ini," seloroh Devi.
"Iya Min, kasih tau kita-kita dong," timpal Irna.
"Biar kita juga dapat cowok keren kek begini," timbrung Susi.
"Wirid apa? Aku gak wirid apa-apa," sahut Mimin.
"Hey Ciwi-Ciwi. Justru gue yang alhamdulillah dapat dia. Dan dia astagfirullah dapat gue," lontar Dewa.
"Enggak begitu A. Kita berdua ini masya Allah pokoknya," sahut Mimin.
"Ah, co cweet. Sini Aa peluk." Dewa memeluk mesra Mimin sehingga membuat ketiga teman Mimin itu semakin histeris.
"Gue sih enggak papa lah. Min semoga nanti kita bisa iparan ya," kelakar Devi.
"Maksudnya lo sama Bang Deka gitu?!" cetus Susi.
"Iya, hihihihi...." Devi terkekeh sendiri.
"Huuuuuu...." Kedua teman yang lain malah menyorakinya.
"Eh, turun yuk ada yang mau salaman sama pengantin tuh," kata Irna.
__ADS_1
"Foto dulu dong foto," ujar Devi.
Dan mereka pun berfoto mulai dari pose yang mainstream hingga antimainstrem. Setelah berfoto, ketiga gadis dan teman-teman kantor lainnya yang baru selesai menyalami pengantin turun dari panggung pelaminan.
Mimin masih melambaikan tangannya berdadah-dadah ria dengan teman-teman kantornya yang centil itu ketika kemudian suara seorang pria mengejutkannya.
"Selamat ya untuk kalian," ucap pria itu yang sontak mengalihkan perhatian Mimin dan Dewa kepada si pemilik suara.
"Yusril...?!" seru Mimin dan Dewa kompak.
Mimin memang mengundang Yusril karena biar bagaimanapun Yusril adalah sahabatnya saat bersekolah dulu. Meskipun ia tidak yakin Yusril akan datang karena saat ini bukan jadwal kepulangan dari pekerjaannya di Qatar.
"Selamat ya kamu." Yusril menyalami Dewa dan menepuk pundaknya.
"Terima kasih, Pak Lurah," gurau Dewa.
"Jaga Yasmin. Sayangi dan cintai dia. Awas aja kalau kamu sampai nyakitin dia!" pesan Yusril.
"Gue gak akan pernah nyakitin dia," sahut Dewa.
Kemudian Yusril berpindah kepada Mimin.
"Semoga kamu bahagia ya Yas," ucapnya tulus.
"Terima kasih, Yus," balas Mimin.
Setelah menyalami dan mengucapkan selamat kepada pengantin, Yusril turun dengan wajah sendu. Namun sejurus kemudian wajah sendunya berubah menjadi cerah ketika pandangannya jatuh pada Hana yang tengah duduk sendiri.
"Assalamualaikum, Hana," sapa Yusril. Lalu mengambil posisi duduk di hadapan Hana.
"Waalaikum salam," balas Hana.
"Hana, masih ingat saya 'kan?" tanya Yusril.
"Emmm...." Hana mencoba mengingat pria berpakaian batik itu.
"Saya Yusril," lontar Yusril tak sabar menunggu Hana yang sedang berusaha mengingatnya.
"Oh, Yusril temannya Mimin itu 'kan?" lontar Hana.
"Ya betul. Udah lama ya kita ga ketemu," ujar Yusril. Hana menanggapinya dengan tersenyum simpul.
"Hana sudah menikah?" tanya Yusril.
"Belum," jawab Hana singkat.
"Hana, kamu mau ga menikah dengan saya?"
tanya Yusril tanpa basa-basi.
Pertanyaan Yusril tersebut tak sengaja terdengar oleh Haqi yang ternyata sejak tadi memperhatikan Hana. Haqi sedang menemani umminya menghadiri undangan pernikahan Mimin. Umminya Haqi adalah ustadzah dalam pengajian yang rutin diikuti Mami.
Mendengar ucapan Yusril, Haqi segera menghampiri Fahri yang tengah menyantap hidangan.
"Kang Ustaz, mari makan," ajak Fahri.
"Terima kasih Fahri, aku nanti saja," sahut Haqi.
"Rabegnya enak loh Kang Ustaz."
"Fahri, besok aku mau titip CV untuk ... Hana." Haqi melemparkan pandangannya kepada Hana yang tengah mengobrol dengan Yusril. "Boleh?" tanyanya.
"Boleh, Kang Ustaz." Fahri ikut melemparkan pandangannya kepada Hana dan Yusril.
"Gercep Kang, jangan sampai keduluan," sahutnya.
Di salah satu sudut yang lain ada Mami yang sedang bercengkerama dengan Ummi Habibah, ibunda Haqi.
"Saya baru tahu kalau Bu Ratna punya anak perempuan cantik seperti itu," ujar Ummi Habibah.
"Makasih Ummi," sahut Mami dengan tersenyum.
"Kalau misalnya tahu dari dulu, bakal Ummi minta jadi mantu buat putra Ummi," tutur Ummi lagi.
"Buat putra Ummi yang mana?"
"Haqi."
"Haqi belum menikah?"
"Belum. Makanya ummi tuh pengennya dia segera menikah. Tapi masih betah melajang aja anak itu."
"Coba kalau putri saya si Opi udah lulus kuliah, saya bakal jodohin Haqi sama Opi. Tapi sayang si Opi masih pintil masih kelas tiga SMA."
"Saya tuh bingung Bu Ratna, Haqi tuh kayaknya ga bisa cari sendiri. Apa harus saya jodohin ya?"
"Oh iya, kenapa ga sama Hana aja ya. Haqi kayaknya cocok sama Hana."
"Hana siapa?" tanya Ummi.
"Sahabatnya putri saya," sahut Mami bertepatan dengan pandangannya jatuh pada gadis berjilbab itu.
Lalu Mami berdiri dan memanggil Hana. "Hana... sini!" panggilnya.
Hana yang sedari tadi ingin pergi karena ingin menghindari Yusril merasa mendapat angin segar karena panggilan Mami.
"Yusril, maaf saya tinggal dulu. Permisi," pamit Hana. Lalu berdiri dan berjalan menghampiri Mami.
__ADS_1
"Hana, kenalkan ini Ummi Habibah. Ummi kenalkan ini Hana," kata Mami memperkenalkan keduanya.
"Loh, ini 'kan Neng yang waktu itu ketemu di Rumah Sakit," ujar Ummi.
"Iya betul Ummi," sahut Hana seraya tersenyum ramah lalu mencium tangan Ummi.
"Loh, Hana sudah pernah ketemu dengan Ummi?" tanya Mami.
"Sudah pernah, Mih."
"Ayo, Han duduk sini ngobrol sama Mami dan Ummi!" titah Mami.
Dan terciptalah obrolan hangat di antara mereka
******
Langit telah berubah gelap. Waktu menunjukkan pukul 21.30. Seluruh undangan yang datang telah pulang semuanya. Kedua pengantin juga telah masuk ke dalam rumah.
Dewa baru saja selesai salat Isya. Banyaknya tamu yang menghadiri undangan di malam hari membuatnya tak sempat melaksanakan salat Isya tepat waktu. Ia memilih salat Isya di kontrakan.
"Ciye ciye yang mau melepas keperjakaan," goda Sol.
"Alhamdulilahi Sol. Akhirnya sebentar lagi gue mau merasakan surga dunia. Hahahaha...." seloroh Dewa.
"Udah sono pasti si Mina nungguin lo," sahut Sol.
"Eh, ngomong-ngomong lo mau ke mana Sol?" tanya Dewa.
"Pulang lah Wa. Masa iya lo lagi enak-enakan di sana, gue di sini sendirian. Nanti otak gue traveling jadinya."
"Hehehehe... Gue doakan semoga lo cepetan nyusul ya Sol." Dewa menepuk bahu Sol.
Sol mengangkat kedua tangannya. "Amin ya Allah."
"Udah ah. Gue tinggal dulu ya Sol. Mau ehem ehem sama Mina. Aseeeek. Hihihihihi." Dewa meninggalkan Sol sambil terkikih-kikih.
Dengan hari riang dan bergelora Dewa mengayun langkahnya menuju rumah Mimin, lebih tepatnya kamar Mimin.
"Aduh Opi, pelan-pelan dong!" protes Mimin.
"Iya Opi pelan-pelan atuh! Itu kasian kepala Teteh takut ketusuk," timpal Mami.
"Ini juga udah pelan-pelan, Teh. Jarumnya banyak banget sih," sahut Opi.
Saat Dewa masuk ke kamar Mimin ternyata ada Opi dan Mami yang tengah sibuk membantu mencabut jarum di kerudung pengantin yang masih dikenakan Mimin.
"Masuk sini , Nak Dewa. Duduk dulu aja ya. Sebentar lagi beres nih," seloroh Mami.
"Uhuy...." seloroh Opi.
Selorohan Mami dan Opi sukses membuat Dewa meringis malu.
Kenapa yang membuka kerudung Mami sama Opi. Kenapa Mina ga nungguin aku aja sih. Biar aku yang bukain. Biar romantis kayak di novel-novel itu. Gumam Dewa dalam hati.
"Alhamdulilah udah tuh," cetus Opi.
"Alhamdulilah," ucap Mimin lega.
"Udah yuk, Opi keluar!" titah Mami.
"Nanti sih Mih, pengen ngobrol sama Teteh dulu," tawar Opi.
Mami menarik tangan Opi. "Besok lagi ngobrolnya."
"Kakak ipar jangan lupa ditutup pintunya ya," goda Opi sambil menahan senyum.
"Opi...!" seru Mimin dan Dewa kompak.
Dewa menatap Mimin yang telah melepaskan kerudungnya.. Mimin telah mengganti baju pengantinnya dengan piyama tidur ketika Dewa salat tadi. Sedangkan kerudungnya baru dibuka tadi dengan bantuan Opi dan Mami.
Dengan malu-malu Mimin balas menatap Dewa. Dan sorot mata mereka bertemu, saling menatap dan saling tersenyum tanpa terucap sepatah kata pun. Entah mengapa seketika bibir keduanya terasa kelu, tak tahu harus bicara apa. Keduanya hanya saling pandang dan saling senyum seolah baru pertama kali bertemu.
"Woy, tutup pintunya!" seru Opi sambil melongokkan kepalanya di pintu kamar yang masih terbuka. Seruan Opi sontak memutus tatapan keduanya.
Dewa menggaruk kepalanya sambil meringis. "Aku tutup pintunya dulu ya," ujarnya.
Mimin menganggukkan kepala menjawab ucapan Dewa.
Dewa berdiri seraya melemparkan senyum lalu melangkah untuk menutup pintu. Ia sudah memegang gagang pintu dan mendorongnya. Belum sempat pintu itu tertutup sempurna Abah memanggilnya. "Ding gagah ke sini sebentar!"
"Iya, Bah," sahut Dewa sembari meringis.
.
.
.
.
.
Yaaaa... Pembaca kecewa. 🙈
Mungkin selanjutnya adalah bab horor nih. Bab yang paling aku takutkan karena bingung nulisnya.
Terima kasih sudah membaca karya ini. Terima kasih banyak dukungannya. Spesial teruntuk yang sering ngasih koin. Makasih ya. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1