Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
121. GBM S3


__ADS_3

Dewa membuka matanya perlahan. Mengerjapkannya beberapa kali. Ia menatap lurus pada langit-langit kamar berbahan anyaman bambu.


Di mana aku?


Pandangannya menyapu pelan ruangan redup tempatnya terbaring lemah. Hingga ia menyadari ruangan tersebut adalah sebuah kamar. Sebuah jarum infus juga menancap di tangan kanannya. Sementara botol infusan digantungkan pada sebuah tali yang melintang di atas tempat tidurnya.


Apakah ini rumah sakit? Tanya batinnya.


"Awwww." Ia memekik kesakitan saat akan menggerakkan lengan sebelah kiri. Rasanya sangat sakit dan nyeri.


"Akang geus sadar?" Seorang wanita muda masuk ke kamar tersebut. Mungkin karena mendengar pekikan Dewa.


(Akang sudah sadar?)


Dewa menatap wanita yang kini telah berdiri di samping ranjang yang ia tempati. Ia menatap lebih dalam wajah wanita di hadapannya. Wajahnya seperti tak asing baginya.


"Geus tujuh poe anjeuna teu sadar," jelas wanita itu seolah memahami apa yang Dewa pikirkan. Pasti pria itu bertanya mengapa dia bisa berada di tempat ini. Begitu pikir si wanita.


(Kamu sudah tujuh hari tidak sadarkan diri)


Tak berselang lama sepasang suami istri berusia lanjut ikut masuk ke kamar itu. "Geus sadar, Pit?" tanya mereka pada wanita muda.


(Sudah sadar, Pit?")


"Enggeus Ki, Ni." (Sudah Aki, Nini)


"Saha nami anjeun?" tanya pria tua yang dipanggil Aki.


(Nama kamu siapa?)


Dewa bergeming. Tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandangi ketiga orang tersebut satu per satu, bergantian.


"Sigana teu ngarti basa Sunda, Ki," ujar wanita muda yang dipanggil Pit.


(Sepertinya tidak mengerti bahasa Sunda, Ki)


"Kamu ga mengerti bahasa Sunda?" tanya wanita muda.


Dewa menggelengkan kepalanya.


Wanita muda itu menarik napas sejenak.


"Kalau begitu, saya pakai bahasa Indonesia aja," ujarnya.


"Nama saya Pipit. Ini Aki dan Nini, kakek nenek saya." Wanita bernama Pipit itu memperkenalkan dirinya dan kakek neneknya.


"Aki saya yang menemukan kamu pingsan tak sadarkan diri di semak belukar. Lalu membawamu ke rumah ini. Kamu sudah tujuh hari pingsan," terang Pipit.


Dewa mendengarkan dengan saksama penjelasan wanita berparas cantik itu.


"Nama kamu siapa? Kamu orang mana?" tanya Pipit.


"Sa-saya. Aduh ...!" Dewa memegang kepalanya yang terasa sakit dan nyeri.


"Kamu jangan banyak gerak dulu! Tulang selangka kamu juga patah," ungkap Pipit.


Dewa ditemukan oleh Aki Rusli yang hendak mengambil  rumput untuk ternaknya. Ketika itu Aki Rusli baru pulang dari pasar sehabis menjual hasil panen kebun miliknya.


Dewa dibawa ke rumahnya dengan menggunakan mobil pick up rental yang Aki sewa untuk membawa hasil panen ke pasar. Aki meminta bantuan mantri setempat untuk memberikan pertolongan kepada Dewa yang kondisinya lemah dan tak sadarkan diri. Mantri tersebut memberikan terapi infus untuk mencegah kekurangan cairan tubuh dan elektrolit (dehidrasi).


"Jadi, nama kamu siapa?" ulang Pipit sebab Dewa tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Sa-saya gak tahu."


"Kamu gak ingat nama kamu?"


Dewa menggeleng.


"Astaga, Ki, Ni ... dia amnesia."


"Amnesia eta naon? Kakurangan getih, sanes?" lontar Nini.


(Amnesia itu apa? Kekurangan darah, bukan?)


"Sanes atuh, eta mah anemia. Amnesia mah leungit ingatan."


(Bukan atuh, itu mah anemia. Amnesia mah hilang ingatan)


"Lamun budak ieu teu apal saha ngaranna, urang masihan nama Asep wae," usul Aki.


(Kalau anak ini gak ingat siapa namanya, kita kasih nama Asep aja)


"Karena kamu ga ingat siapa nama kamu. Kami panggil kamu Asep aja, ya," ujar Pipit.


Dewa menatap sejenak ketiga orang di hadapannya. Lalu mengangguk pasrah.


 


*****


Dua bulan kemudian.


Mimin merasakan perutnya sakit seperti diremas-remas. Rasanya seperti mulas ketika datang bulan hari pertama, namun berkali-kali lipat lebih sakit. Sejak pagi perutnya sudah mulai mulas, tapi kemudian hilang timbul. Namun sore ini rasa mulasnya semakin menjadi. Rasa nyeri yang dirasakan semakin kuat. Frekuensi kontraksi semakin kuat dan teratur, lima sampai sepuluh menit sekali.


Sore ini Deka pulang lebih cepat. Tepat pukul tiga sore, ia sudah sampai di rumah. Baru saja ia menghempaskan tubuhnya di tempat tidur dan belum sempat mengganti pakaian kerjanya, terdengar pintu kamarnya digedor.


"Den Deka ...!" seru Bi Siti menggedor pintu kamarnya. "Tolongin Neng Mina, Den! Kayaknya udah mau melahirkan," lapor Bi Siti.


Deka tersentak bangun lalu segera turun ke bawah. Sejak kepergian Dewa, Mimin tak lagi menempati kamar di lantai dua dikarenakan khawatir akan keselamatan dirinya dan bayi dalam kandungannya.


"Gimana gimana? Apa Jasmin mau melahirkan sekarang, Bi? Mama mana? Mama belum pulang? Terus aku harus bagaimana?" Deka tampak panik.


"Den Deka bawa Neng Mina ke rumah sakit aja. Biar Bibi yang telepon Ibu," ujar Bi Siti.


"Di bawa ke rumah sakit mana, Bi?" Deka bertanya polos. Maklum, bertahun-tahun ia memilih untuk menjomblo.


"Rumah sakit bersalin, Den. Jangan rumah sakit jantung. Apalagi, rumah sakit jomblo. Hihihihihi ...." kelakar Bi Siti.


"Iya, iya, saya paham."


"Sebentar Den, saya ambilkan bawaan yang harus dibawa." Bi Siti beranjak ke kamar untuk mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan Mama dua minggu yang lalu.

__ADS_1


"Kamu masih bisa tahan 'kan?" Deka meringis menatap Mimin yang meringis menahan sakit.


Mimin mengangguk. Sesekali ia menarik napas untuk mengurai rasa sakit.


"Bang Deka, tolong hubungi Opi juga Mami atau Abah ya," pinta Mimin.


"Iya, iya. Aku telepon Opi sekarang." Deka berlari ke kamar untuk mengambil ponsel.


"Aku udah menghubungi Opi, kita ketemu di rumah sakit aja," lapor Deka.


"Makasih, Bang."


"Kita berangkat sekarang?"


"Iya," jawab Mimin meringis.


"Ini tasnya, Den." Bi Siti menyerahkan tas perlengkapan bayi.


Deka meraih tas itu lalu gegas melangkah menuju garasi, mempersiapkan keberangkatan ke rumah sakit. Mimin berjalan dengan dituntun Bi Siti sampai masuk ke mobil. Tak berlama-lama, mobil pun segera melaju.


"Tolong, ada yang mau melahirkan!" seru Deka ketika sampai IGD. Tingkah lakunya seperti orang panik.


"Tenang, Pak ... tenang. Tidak usah panik." Petugas IGD mengingatkannya.


Dengan tanggap, perawat yang berjaga membawa Mimin menggunakan kursi roda menuju IGD. Setelah melakukan serangkaian prosedur penanganan sebelum proses persalinan, Mimin dibawa ke ruang bersalin.


"Bapak suaminya?" tanya dokter yang akan membantu persalinan Mimin.


"Sa-saya ...." Deka tergagap.


"Masuk saja, Pak. Dampingi istrinya agar semangat dalam berjuang melewati proses persalinan," kata dokter wanita itu.


"Ayo masuk, Pak!" seru dokter karena melihat Deka tidak beranjak dari tempatnya berdiri.


"I-iya." Gelagapan Deka menjawabnya. Bingung antara masuk atau tidak.


"Bang Deka ...!" Dengan langkah berlari, Opi menghampiri Deka.


"Gimana Teh Mimin?"


"Sudah di dalam ruangan. Kamu masuk gih, temani Jasmin!" titah Deka.


Opi mengangguk lalu masuk ke ruang persalinan. Beruntung saat Mimin mengalami kontraksi, ia sudah pulang dari kampus sehingga bisa langsung datang ke rumah sakit untuk mendampingi.


"Teteh ...." Opi memeluk Mimin. "Yang kuat ya, Teh."


"A Dewa belum pulang. Dia harusnya ada di sini. Huuu ... Huuu ...." Mimin menangis tersedu dalam pelukan Opi.


"Teteh jangan mikirin itu dulu. Si Oton udah mau lahir, Teteh harus kuat dan semangat." Opi mengusap butir bening yang lolos dari mata Mimin.


"Teteh mau A Dewa di sini ... mendampingi teteh. Huuu ... Huuu ...." Mimin terus menangis.


"Istighfar, Teh. A Dewa juga pasti akan sedih kalau lihat Teteh kayak begini. A Dewa pasti mau lihat Teteh kuat. Sebentar lagi ada si Oton yang akan menemani Teteh."


"Astagfirullahaladzim. Astagfirullahaladzim. Ampuni hamba-Mu ini ya Allah." Mimin menghirup napas panjang, berharap atmosfer damai dapat  mengisi rongga hatinya, mengurai pilu yang membuatnya haru.


"Sudah siap, Bu?" Pertanyaan dokter sontak membuat Mimin segera menyusut air mata.


"Mari kita lihat sudah pembukaan berapa." Dokter menginstruksikan Mimin untuk membuka kedua paha.


Mimin mengangguk. "Bismillahirohmanirohim," ucapnya sebelum berjuang dalam proses persalinan.


"Tarik napaaaaas. Hembuskan dan ayo neden,Bu."


"Eeeee ...."


"Terus Bu, ayo lagi. Semangat, Bu."


"Eeee ... Hufht ... Hufht ...." Napas Mimin mulai tersengal.


"Lagi, Bu. Udah keliatan rambutnya, tuh."


"Bismillahirohmanirohim. Allahu akbar. Eeee ... Eeee...."


"Ayo, Teh semangat...!" Opi menyemangati dengan raut tegang.


"Lagi, Bu. Sedikit lagi."


"Allahu akbar. Eeee ... Eeee ...."


"Oek ... Oek ... Oek ... Oek ..." Tangisan bayi memecah ruang persalinan.


"Alhamdulillah," ucap Mimin dan Opi berbarengan.


Dokter segera menelungkupkan bayi di dada Mimin untuk inisiasi menyusu dini.


"Satu lagi, Bu. Plasentanya belum keluar. Tapi ga sulit kok, karena sentuhan dan hisapan bayi terhadap put*ing susu ibu bisa mempermudah pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan,” terang sang dokter.


Mimin tersenyum haru tatkala tangan kecil bayi itu menyentuh dadanya. Dan mulut mungilnya mulai menghisap sumber kehidupan miliknya.


“Ngeden sekali lagi, ga perlu kuat-kuat. Ya, bagus. Alhamdulillah selesai," ujar Dokter seraya melemparkan senyum kepada Mimin.


"Selamat, bayinya laki-laki, Bu. Berat 3,2 kg panjang 49 cm. Ganteng banget bayinya," puji sang dokter.


Mimin menangis haru dan takjub menatap jagoan kecilnya. "Alhamdulillah ya Allah," ucapnya seraya mengusap sudut matanya yang basah.


"Anaknya tampan sekali, Bu. Pasti ayahnya sangat tampan," ujar seorang perawat yang mendampingi dokter menangani proses persalinan Mimin.


"Iya. Ayahnya memang sangat tampan," lirih Mimin seraya mengusap kepala jagoan kecilnya.


****


"Kang Asep, tong ngahuleng. Engke kaasupan jin," seloroh Pipit.


(Kang Asep, jangan melamun. Nanti kemasukan jin)


Dewa hanya tersenyum menanggapi selorohan Pipit. Meskipun ia tak mengerti artinya. Jika Pipit berbicara bahasa Sunda berarti kalimat yang disampaikan tidak penting alias gurauan semata.


"Mimipi si gadis berkerudung merah lagi?" terka Pipit. Sudah beberapa kali Dewa bercerita tentang si gadis berkerudung merah yang sering hadir dalam mimpinya.


Dewa mengangguk.

__ADS_1


"Kang Asep sudah ingat Gadis berkerudung merah itu siapa?"


Dewa menggeleng. "Gadis itu sangat mirip sama kamu, Pit," ungkapnya.


Mata Pipit bulat membola. "Oh, ya??"


"Iya." Dewa menatap Pipit sejenak. "Bedanya gadis itu berkerudung sedangkan kamu enggak."


"Atau jangan-jangan yang dimimpikan Kang Asep itu memang saya, tapi pake kerudung," tukas Pipit.


"Enggak. Saya yakin itu bukan kamu, meskipun ... sangat mirip."


"Jangan-jangan gadis berkerudung merah itu keluarga kamu. Bisa teteh kamu, adik kamu. Atau malah dia itu kekasih kamu, pacar kamu, atau jangan-jangan ... dia istri Kang Asep."


"Enggak tahu. Saya ga bisa mengingatnya."


"Takol we sirahna kawas dina pilem, jadina **** deui," seloroh Nini.


(Pukul aja kepalanya seperti di film supaya ingat lagi)


"Aya-aya wae, Ni."


(Ada-ada aja, Ni)


"Ni, nyarios basa Indonesia wae. Engke panginten ngomongkeun anjeuna."


(Ni, ngomong bahasa Indonesia aja. Nanti dikira sedang ngomongin dia)


"Iya, iya," sahut Nini agak berteriak karena sudah berjalan ke dapur.


"Lain kali, kalau Kang Asep mimpi si gadis berkerudung merah lagi, tanyakan alamat dia di mana. Biar nanti saya bisa antar Kang Asep ke sana," seloroh Pipit.


Lagi-lagi Dewa tersenyum menanggapi selorohan gadis berparas cantik itu.


"Tapi, kenapa gadis berkerudung merah itu mirip saya. Apa jangan-jangan dia kembaran saya?!" Pipit mengerutkan keningnya.


"Kamu punya kembaran, Pit?"


Pipit tertawa. "Hihihihihi ... enggak tahu, Kang."


Kenapa Pipit jawab enggak tahu. Enggak tahu beda artinya dengan enggak punya 'kan. Gumam Dewa dalam hati.


*****


"Ibu Jasmin, ini bayinya. Sudah dibersihkan dan dibedong." Perawat menyerahkan bayi menggemaskan itu ke gendongan Mimin.


Binar ceria dan senyum bahagia tampak di raut wajah Mimin kala menggendong bayi itu. Kesedihan dan kepiluan sirna seketika kala menatap wajah mungil, tampan nan menggemaskan.


"Boleh, kalau mau diazani dulu," ujar Perawat. "Ayahnya dipanggil aja, biar mengazani dulu bayinya," lanjut Perawat itu.


"Saya yang akan mengazani bayi ini," sahut Mimin.


Dengan suara bergetar, Mimin melanyunkan azan di telinga kanan.


"Laa ilaha illallah ...." Ujung suara Mimin terdengar serak menahan tangis saat melafalkan kalimat terkahir azan. Butir bening pun kembali lolos dari matanya. Semua orang yang berada di ruangan itu menatap haru dan takjub saat-saat Mimin menjadi muadzinah untuk bayi kecilnya.


Setelahnya, Mimin membaca iqamah di telinga kiri bayi.


"Masya Allah, ganteng banget loh, Teh," puji Opi menatap gemas keponakannya.


"Mirip banget sama Dewa," timpal Deka.


Mimin tersenyum. "Biar nanti kalau A Dewa pulang, dia bakal seneng lihat anaknya mirip banget sama dia," sahutnya.


Selang dua jam giliran Mama, Papa, Abah dan Mami yang datang menjenguk Mimin.


"Sayang, maafkan mama karena ga bisa mendampingi kamu saat melahirkan," sesal Mama. "Tuh, Papa sih, pake ada urusan kantor  segala, yang mengharuskan mama hadir," sambungnya.


"Iya, ga apa, Mah. Yang penting selamat. Alhamdulillah," sahut Mimin.


"Terima kasih ya, Jasmin. Sudah menghadirkan cucu pertama di tengah keluarga kami," ujar Papa.


"Ini kok mirip Dewa semua ya, Teh. Ga ada mirip tetehnya," seloroh Mami.


"Hehehehe ... Iya, Mih. Karena teteh terlalu rindu sama A Dewa, mungkin." Mimin tersenyum getir.


"Udah diazani belum, Teh?" tanya Abah.


"Udah, Bah."


"Siapa yang mengazani?"


"Teteh sendiri."


Abah mengusap puncak rambut Mimin. "Sabar ya, Teh. Semangat, sudah ada yang menemani Teteh sekarang."


"Iya, Bah." Mimin tersenyum riang kala membayangkan hari-harinya nanti bersama si kecil. Hari ini menjadi momen dimana senang dan sedih datang bersamaan, berganti dengan cepat.


"Bu Jasmin, sudah ada nama untuk bayinya?" Seorang perawat mendatanginya. "Kalau sudah ada nama, biar saya catat untuk data administrasi di sini." Perawat itu berkata lagi.


Mimin teringat pesan terakhir yang disampaikan Dewa melalui aplikasi pesan.


Syahadat, nama untuk si Oton kalau cowok. Bagus ga, Neng?


"Nama bayinya ... Syahadat," ujar Mimin.


"Nama lengkapnya, Bu?"


Mimin terdiam sejenak. Dewa belum sempat  memberikan nama lengkap untuk bayinya.


"Nama lengkapnya ... Muhammad Syahadat Argian," sahut Mimin mantap.


.


.


.


.


Sengaja beberapa bab terakhir saya tulis panjang, ini aja 2k kata loh. Biar Mimin sama Dewa cepat ketemu ya. Insyaallah tiga atau empat bab lagi Dewa akan ditemukan.

__ADS_1


Terima kasih dukungannya.


❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2