
"Hey... Kamu habis berbuat mesum ya!!” tuduh salah seseorang dari kerumunan warga yang berkumpul.
Dewa terkesiap atas tuduhan itu. Ia ingin menyangkal tuduhan itu sebelum akhirnya tersadar akan penampilannya. Bertelanjang dada dan hanya memakai celana kolor, berada di suatu tempat bersama seorang gadis, hanya berdua, tanpa ada orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya. Oh, ini sungguh buruk. Batinnya.
Dewa sedang berpikir tentang bagaimana cara meredam kesalahpahaman yang mungkin saja terjadi akibat penampilannya. Namun suara riuh warga serta tuduhan berantai dari para warga membungkam mulutnya, menghilangkan konsentrasi, membuatnya tergugu.
"Iya nih habis mesum pasti... ga pake baju gitu!!" tuduh seorang warga lainnya.
"Iya..." kata seorang warga dan diamini oleh seluruh warga.
"Hajar!!"
"Kita arak aja keliling kampung!!
"Kalau mau *** *** jangan di kampung kita!!"
"Mau bikin kampung kita dilaknat Allah ya!!"
"Mesum sama siapa lo?! Mimin apa Opi??"
"Sama si Opi nih kayaknya. Soalnya sering lihat berduaan sama Opi!"
Dan berbagai hujatan lainnya dari para warga.
Mimin yang sedang tertidur namun belum pulas, membuka matanya. Riuh suara keributan di luar memaksa dirinya untuk terjaga. Ia mengusap butiran keringat di keningnya, serta mengusap keringat yang membasahi lehernya, reaksi dari paracetamol yang diminum setengah jam yang lalu. Suhu tubuhnya sudah turun. Ia beringsut bangun lalu duduk sebentar.
Suara keributan terdengar semakin jelas, menimbulkan rasa penasaran, ingin tahu apa yang terjadi di luar sana. Mimin bangkit dari duduknya lalu mengambil kerudungnya. Ia membuka pintu kamarnya hendak keluar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Dasar bejat!!"
"Dasar mesum!!"
"Anak muda laknat!!"
"Udah hajar aja! Kampung kita bisa kena azab gara-gara kamu!!"
Makian dan hujatan masih terus bergulir panas.
"Ini salah paham. Saya tidak melakukan apa-apa. Ini tidak seperti yang kalian tuduhkan. Saya bisa jelaskan semuanya," ujar Dewa mencoba membela diri.
"Alah... Banyak bacot lo!!".
Bug...
Salah seorang dari warga menyerang maju dan meninju wajah Dewa. Bertepatan dengan Mimin yang datang menghampiri.
"Ada apa ini??" tanya Mimin. Sekilas matanya menatap Dewa yang jatuh tersungkur akibat pukulan salah seorang warga tadi. Lalu pandangannya beralih pada kerumunan warga di depannya.
"Kamu tuh Min... Pakai jilbab kok kelakuannya begitu," tukas salah seorang warga.
"Begitu bagaimana??" tanya Mimin yang belum paham akan situasi yang sedang terjadi.
"Kamu habis mesum sama laki-laki itu!!" kata salah seorang warga sambil menunjuk ke arah Dewa.
"Astagfirullah... Kenapa kalian menuduh kami seperti itu."
"Tuh lihat pria itu aja ga pake baju kaya gitu."
Mimin menatap Dewa yang kini sudah berdiri. Astagfirullah... kenapa kamu ga pake baju seperti itu. Batinnya.
"Sumpah demi Allah kami gak melakukan apa-apa. Bapak Ibu jangan asal menuduh kami, karena jatuhnya adalah fitnah. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan."
"Huuuuu... Malah ceramah."
"Huuuu..."
"Huuuu..." sorak para warga.
"Kalau ga melakukan apa-apa... terus kenapa laki-laki itu ga pakai baju??"
__ADS_1
Belum sempat Mimin menjawab untuk membela diri. Warga lainnya sudah riuh menyahut.
"Iya Huuu... ngapain laki-laki itu ga pake baju kalau bukan habis mesum.
"Ga usah ceramah kalau kenyataannya kalian sedang berdua-duaan di dalam rumah."
"Kamu kan tahu Min kalau wanita dan laki-laki berduaan itu, yang ketiga adalah syaiton."
"Justru karena saya tahu. Maka saya berani sumpah ga melakukan perbuatan nista yang kalian tuduhkan." Mimin berupaya membela diri.
Namun sungguh tuduhan para warga telah membuat hatinya terguncang. Wanita mana yang tak merasa sakit jika dituduh seperti itu apalagi dalam situasi seperti yang dialami Mimin. Tuduhan para warga itu bagai pisau belati yang ditusukkan di kedua bola matanya terus menerus.
"Alah, udah kita arak aja!"
"Iya... Kita kawinin aja!"
"Kita videokan terus viral kan!"
"Iya...!!!"
"Setuju...!!"
Mimin merunduk lalu jatuh tersimpuh sambil menutup kedua telinganya. "Hiks... Hiks... Hiks..." Ia terisak, tak sanggup lagi mendengar tuduhan dan hujatan kejam dari para warga.
"Kalian keterlaluan...!!!!" Dewa berteriak histeris.
"Kalian tega menuduh wanita seperti Mimin dengan tuduhan keji... sangat keji!!"
"Pukul saya!! Silakan kalian pukul saya!!" seru Dewa dengan berteriak.
"Pukul saya!! Tendang saya!! Hajar saja saya!! Biar kalian puas!!"
"Asal kalian cabut semua tuduhan keji kalian kepada Mimin!!" berang Dewa.
Dewa sangat murka dengan tuduhan dan hujatan warga terhadap Mimin. Kalau dirinya yang dihujat, difitnah, ia akan pasrah menerimanya. Karena ia turut andil dalam kesalahpahaman ini. Semua ini pasti karena penampilannya yang tak memakai pakaian layak. Namun, ia tak terima jika warga juga menghujat, menuduh, memfitnah dengan kata-kata yang keji kepada Mimin. Abusive.
Sejenak seluruh warga yang hadir di tempat itu terdiam. Namun sesaat kemudian suasana semakin ricuh.
"Wah nantangin dia... Ayo kita hajar!!" seru salah seorang warga.
"Hajar aja!! teriak warga lainnya.
Bug...
Bug...
Dua orang warga memberikan bogem mentah di wajah Dewa. Beberapa warga yang lain ikut menyerang maju, ingin memukul juga. Mereka sudah mengepalkan tangan hendak memukul, beruntung hal itu urung terjadi karena kehadiran Haji Zaenudin.
"Hentikan!! Apa-apaan ini??" pekik Haji Zaenudin yang tiba-tiba sudah berada di pusat kerumunan. Disusul dengan Sol yang juga baru datang. Juga Mami dan Opi yang mengekor di belakang Haji Zaenudin.
"Lepaskan tangan kalian!" tunjuk Haji Zaenudin kepada beberapa warga yang masih memegangi Dewa. Mereka pun melepaskan Dewa dengan raut segan menatap sang ketua RW kampung Cibening.
"Tindakan kekerasan sekecil apapun ada pasalnya." Haji Zaenudin menatap tajam kepada warga yang tadi sempat memberikan bogem mentah kepada Dewa. "Kenapa kalian memukuli anak ini?" tanyanya.
"Anak muda ini habis berbuat mesum Pak Haji," tukas salah seorang warga.
"Itu fitnah Abah Haji. Ini hanya salah paham," bantah Dewa.
"Apa kalian melihat dengan mata kepala sendiri kalau anak muda ini sedang berbuat mesum?" tanya Haji Zaenudin seraya menatap tajam para warganya.
“Enggak Pak Haji. Tapi anak ini malam-malam berduaan di rumah dengan Mimin,” celetuk salah seorang warga.
“Jadi kalian menuduh putri saya Mimin berbuat mesum dengan pemuda ini??” geram Haji Zaenudin.
“Apakah selama ini kalian pernah melihat Mimin melakukan perbuatan tak pantas, tak sesuai etika, tak senonoh??” Intonasi Haji Zaenudin semakin meninggi.
Semua warga terdiam.
"Pak Haji lihat sendiri anak muda itu ga pakai baju... cuma pakai celana pendek kolor doang. Kalau bukan habis berbuat mesum, habis ngapain coba," ujar seorang warga.
__ADS_1
"Saya bisa jelaskan semuanya," jawab Dewa.
Dewa menatap Haji Zaenudin. "Izinkan saya untuk menjelaskan semuanya Abah Haji. Untuk memulihkan nama baik Mimin dan untuk kebaikan saya juga."
Haji Zaenudin mengangguk. "Silakan... jelaskan kepada seluruh warga."
Dewa menjelaskan semuanya. Mulai dari maksud kedatangannya ke rumah Haji Zaenudin untuk meminjam kunci. Lalu tentang Mimin yang sakit dan muntah-muntah mengenai pakaiannya. Hingga baju dan celana yang sedang berusaha dikeringkan dengan kipas angin.
“Bagaimana, apakah sudah jelas? Atau kalian semua masih tidak mempercayai penjelasan anak muda ini??”
Hening.
“Saya tidak akan memaksa kalian untuk mempercayainya. Namun, karena ini menyangkut nama baik putri saya. Dan saya sebagai ayah wajib untuk melindungi putri saya. Maka saya memutuskan akan melaporkan kalian yang menuduh putri saya. Biar pihak berwajib yang akan membuktikan kebenarannya.
Dan anak muda ini yang tadi kalian pukuli juga bisa melaporkan perbuatan kalian. Rumah ini dilengkapi cctv. Segala sesuatu ada buktinya. Dan saya ulangi sekali lagi... bahwa semua ada pasalnya.”
Hening. Semua warga tertunduk menyesal.
“Maafkan saya Pak Haji,” ucap salah seorang yang tadi sempat meninju Dewa.
“Iya... maafkan kami Pak Haji. Jangan laporkan kami,” ucap warga yang lainnya.
“Kalian tidak seharusnya meminta maaf kepada saya. Karena di sini yang menjadi korban adalah Dewa dan Mimin,” terang Haji Zaenudin.
Salah seorang warga yang tadi begitu bersemangat memberi bogem mentah kepada Dewa bergerak maju ke depan. Dan meriah punggung tangan Dewa lalu menciumnya. “Maafkan saya, Ding*. Tolong jangan laporkan saya,” pintanya.
“Iya... maafkan saya juga, Ding.”
“Saya juga minta maaf, Ding.”
“Mohon maafkan kami, Ding.”
Satu persatu para warga mengucap permohonan maaf kepada Dewa dan Pak Haji.
“Bagaimana, apa Kisanak mau memaafkan mereka semua?”tanya Haji Zaenudin.
Dewa mengangguk lalu tersenyum. “Ya, saya maafkan bapak-bapak semuanya. Semoga tidak akan pernah terjadi lagi kesalahpahaman seperti ini,” ucapnya.
“Alhamdulillah... Jadi masalah ini sudah clear ya. Tidak ada perbuatan yang seperti dituduhkan kalian sebelumnya,” tegas Haji Zaenudin.
“Iya.... “ sahut para warga.
“Masalah ini kita tutup buku ya??”
“Iya.... “ sahut warga dengan serempak.
“Alhamdulillah... masalah ini sudah selesai. Tapi... malam ini Insyaallah saya mau menikahkan putri saya Mimin dengan... anak muda ini," tutur Haji Zaenudin.
Penuturan Haji Zaenudin membuat semua orang yang hadir terperangah. Tak terkecuali Dewa.
“Kisanak... Apakah kamu bersedia menikahi Mimin malam ini??
.
.
.
*Ding \= sebutan untuk laki-laki yang lebih muda.
.
.
.
.
__ADS_1