
“Permisi, Pak.” Sapa Mimin yang sudah berdiri di depan meja kerja Deka.
“Ya,” sahut Deka tanpa menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Ia masih fokus membaca beberapa laporan.
“Saya mau menyerahkan laporan ini Pak, titipan dari Pak Rizal,” ujar Mimin.
Deka mengangkat wajahnya menatap Mimin. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik hingga detik ke sepuluh keduanya sama-sama terdiam, membisu dengan pandangan saling bertautan sampai di detik ketiga. Karena di detik keempat, Mimin segera menundukkan pandangannya. Sementara Deka terus memandangnya.
“Maaf Pak ... ini laporannya." Akhirnya Mimin memecah kebisuan di antara mereka. Berjalan mendekat ke meja kerja Deka dan menyerahkan laporan yang dibawanya.
“Oh, ya terima kasih,” ucap Deka sesaat setelah menerima berkas laporan dari tangan Mimin.
Deka membaca sekilas berkas laporan itu. “Ini proyek Pak Rizal ya?” tanyanya.
“Betul, Pak.”
Deka membolak-balik berkas laporan, membaca poin-poin penting di dalamnya. “Nilai proyeknya kenapa kecil sekali ya?”
Mimin sudah membuka mulutnya untuk menjawab. Sedikitnya ia mengetahui tentang proyek itu.
“Ga usah kamu yang jawab. Nanti aku saja yang tanya langsung ke Pak Rizal,” sela Deka sebelum mulut Mimin sempat mengeluarkan suara.
“Baik, Pak.” Akhirnya kata itu yang diucapkan Mimin.
“Ok. Nanti saya akan pelajari dulu laporannya.” Deka mengakhiri kegiatan membolak-balik berkas laporannya. Mengalihkan pandangan dari berkas laporan ke sosok wanita cantik yang masih berdiri di hadapannya.
Mimin mengangguk. “Kalau begitu ... saya permisi, Pak.” Ia berpamitan.
“Ya,” jawab Deka singkat.
Mimin membalikkan tubuhnya. Melangkahkan kaki keluar ruangan.
“Tunggu!” seru Deka sebelum Mimin mencapai pintu.
“Iya, Pak,” sahut Mimin. Ia membalikkan tubuhnya kembali menghadap kepada pria yang menyerunya.
“Nama kamu siapa?” tanya Deka.
“Saya Mimin, Pak,” jawab Mimin.
Deka mengerutkan keningnya. “Nama lengkap kamu?” tanyanya.
“Jasmin, Pak. Jasmina Zahra.”
“Ooh.” Deka manggut-manggut.
“Apa ada yang mau ditanyakan lagi, Pak?” tanya Mimin.
Deka mengegeleng. “Tidak ada. Kamu boleh keluar.”
“Saya permisi, Pak.”
“Iya. Silakan.”
“Jasmina Zahra. Nama yang indah ... seindah orangnya,” gumam Deka setelah Mimin keluar dan menutup pintu ruangannya.
Mimin keluar dari ruangan Deka. Ia sempat mematung sejenak. Pak Deka itu wajahnya mirip seseorang. Tapi mirip siapa ya??. Gumamnya dalam hati. Mimin sejenak berpikir namun belum juga mendapat jawabannya.
“Min... Lo habis ke ruangan Pak Deka?” tanya Devi antusias ketika melihat Mimin berdiri di depan pintu ruangan Deka. Meja kerja Devi berada paling dekat dengan ruangan Deka karena ia adalah sekretarisnya.
“Iya... habis ngasih laporan proyeknya Pak Rizal. Tadi kamu ga ada, ke mana?”
“Habis bikin ini nih.... “ Mata Devi menunjuk secangkir kopi di tangannya. “Buat Bos tampan aku. Hihihihihi.... “ sambungnya diakhiri dengan cekikikan.
__ADS_1
“Aku nganterin ini dulu yah,” ujar Devi seraya melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan Kepala Divisi Keuangan.
“Iya... Good luck ya Dev. Aku juga mau balik ke meja aku.”
“Nanti maksi bareng yah, Min!” seru Devi sebelum Mimin berlalu. Mimin membalas dengan mengacungkan ibu jari kanannya seraya melangkahkan kakinya.
“Min ... gimana ganteng kan?” tanya Rudi ketika Mimin melewati meja kerjanya.
“Aku kira Pak Rudi loh yang bakalan diangkat jadi kepala divisi menggantikan Bu Mutia,” ujar Mimin.
“Berat Min.... “ Rudi menggelengkan kepalanya. “Kalau sampai aku diangkat jadi kepala divisi.”
“Ee, berat kenapa Pak?” tanya Mimin bingung.
“Takut aku jadi khilaf... punya istri dua,” jawab Rudi.
Mimin mencebikkan bibir lalu kembali melanjutkan langkah menuju meja kerjanya meninggalkan Rudi yang sedang tertawa-tawa.
*****
Matahari tengah berada di puncak cakrawala, saat Dewa membereskan segala perkakas montir. Cuaca hari ini terasa lebih panas dari biasanya. Ia menyeka keringat yang mengalir dari sela-sela rambut bagian atas lalu turun ke dahi.
Seorang wanita yang tengah duduk di belakang meja kasir di sudut ruangan tengah memperhatikannya sedari tadi. Hanya dengan menyeka keringat saja Dewa terlihat sangat mempesona.
Sekarang adalah saatnya istirahat. Dewa mendapat giliran istirahat pertama. Ia sedang mencuci bersih tangannya ketika Mida menghampirinya. Mida adalah putri Haji Hamid pemilik bengkel tempat Dewa bekerja. Mida juga bekerja di bengkel ini. Lebih tepatnya, Mida ditugaskan ayahnya untuk mengurus administrasi pembukuan bengkel dan juga sebagai kasir.
"Dewa..." sapa Mida.
"Eh, Mida."
"Kamu istirahat pertama?"
"Iya, Mida."
"Hari ini gajian," sambung Mida ketika melihat reaksi Dewa yang justru nampak kebingungan.
"Wah, benaran hari ini gajian." Dewa tersenyum sumringah.
Mida mengangguk, "Iya."
"Emmm... pulang kerja saja deh, aku ambil gajiannya," ujar Dewa.
"Oh, ya sudah kalau begitu." Mida pun berlalu kembali ke tempatnya.
Dewa membuka kotak wadah makannya. Dengan menu nasi putih, ayam goreng, sambal dan lalap timun. Untuk pertama kalinya Ia membawa bekal makan siang, hasil masakannya sendiri. Ini adalah usahanya untuk menghindari Mida yang setiap hari selalu membawakan makan untuknya.
Sebagai seorang mandiri dengan keuangan yang minim. Tentu Dewa merasa senang mendapatkan makan gratis dari Mida. Namun di sisi lain, Ia merasa tidak enak dengan rekan-rekan kerjanya. Khawatir perhatian Mida yang berlebihan kepadanya akan menimbulkan kecemburuan sosial di lingkungan kerja.
Dan Dewa juga bukannya tidak tahu bahwa perhatian yang Mida berikan adalah karena menyangkut urusan hati. Khawatir Mida akan merasa kecewa jika Ia tak dapat membalas perasaannya. Satu Opi saja sudah membuatnya pusing, ini ditambah Mida. Really dizzy.
“Dewa... tadi pagi aku masak soto. Ini aku bawakan buat kamu,” ujar Mida. Ia menyerahkan wadah mangkok plastik merek terkenal yang berisi soto.
“Ga usah repot-repot, Mida. Aku bawa bekal nih,” kata Dewa seraya menunjukkan wadah kotak makannya.
“Kamu masak sendiri, Wa?”
“Berdua sama temen aku.”
“Oh. Padahal aku bawain kamu nasi, ayam goreng, sama soto nih,” keluh Mida.
“Mida... tolong jangan bawakan makanan buatku lagi ya. Mulai hari ini, aku akan bawa bekal. Maaf, bukannya aku ga suka masakan kamu... tapi aku ga enak dengan teman-teman kerja di sini kalau kamu setiap hari membawakanku makan. Lagi pula, di sini kan kita sudah dapat uang makan dari Pak Haji,” tutur Dewa.
__ADS_1
“Ya sudah, kalau kamu ga mau aku bawakan makan. Aku ga akan bawakan makan lagi untuk kamu.” Mida mendesah kecewa.
“Makanan ini aku kasih buat yang lain saja,” sambung Mida. Lalu berlalu meninggalkan Dewa.
Dewa menghembuskan nafas pelan. Membiarkan Mida yang berlalu dengan rasa kecewa. Lalu Ia melanjutkan kegiatan makannya.
*****
Mimin membereskan pekerjaannya, sebentar lagi waktunya istirahat. Merapikan file-file, merapikan ATK, dan mematikan komputer di meja kerjanya. Ia memilih untuk salat Zuhur terlebih dahulu di musala belakang kantor. Di musala, ia bertemu dengan Susi, Irna dan Devi yang juga akan melaksanakan salat Zuhur.
Usai salat, keempat gadis itu berbincang-bincang sejenak tentang rencana makan siang.
“Kita ke lintong aja, yuk,” kata Susi. Lintong adalah tempat makan terkenal di kota ini dan menjadi favoritnya Susi.
“Ih, ini kan tanggal tua. Gua lagi bokek. Ketoprak di mamang depan kantor aja sih,” ujar Devi.
“Ah, Lo mah tiap hari juga bokek. Kapan ga bokeknya, Dev,” ledek Susi.
“Ih, kita kan hanya sekretaris. Gajinya lebih kecil dari kalian. Iya kan, Min?” Devi meminta dukungan. Mimin menanggapinya dengan sebuah senyuman.
Saat keempat gadis itu tengah berdebat tentang menu makan siang mereka. Mereka berpapasan dengan Deka yang baru saja turun dari lantai dua.
“Kalian mau ke mana?” tanya Deka.
“Mau cari makan, Pak.” Devi menjawab pertanyaan atasannya. Sementara yang lain hanya diam.
“Aku kan baru di sini. Aku gak tahu tempat makan yang enak di mana. Aku boleh ikut kalian? Aku traktir kalian makan, gimana?" ujar Deka.
Keempat gadis itu melongo. “Boleh banget, Pak. Seneng banget malah." Kali ini Susi yang menjawab.
“Yuk... Naik mobil aku aja ya,” ujar Deka lalu melangkah menuju pintu keluar.
Keempat gadis itu mengekor di belakang Deka. Berjalan saling bersikutan. Saling berbisik tanpa suara. Tentu saja membahas tentang ajakan makan siang Deka. Hanya mulut mereka saja yang terbuka bercuap-cuap melafalkan kalimat, tanpa bersuara.
Serius ini Pak Deka ngajak kita makan. Irna.
Yes, di ajak makan sama cogan. Susi.
Pak Deka baik banget yah. Udah ganteng, baik lagi. Bos gue tuh. Devi.
Ssst... Ssst... Mimin mendesis tanpa suara. Meletakkan jari telunjuk kanannya di bibir. Khawatir tiba-tiba Deka menengok ke belakang dan memergoki teman-temannya yang sedang membicarakan ajakan masak siang Deka.
“Kalian tunggu di sini saja. Nanti aku bawa mobilnya ke sini,” ujar Deka setelah sampai di halaman kantor.
“Iya, Pak.” Ketiga gadis itu kompak menjawab. Hanya Mimin yang diam tak menjawab.
Tak berselang lama, mobil Honda Jazz warna putih yang dikendarai Deka berhenti di depan keempat gadis itu. Deka membuka kaca mobilnya. “Jasmin ... kamu duduk di depan yah,” titahnya.
.
.
.
__ADS_1