Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
117. GBM S3


__ADS_3

Esok harinya, Mimin dan Dewa berangkat ke Jakarta. Mama menyambut gembira kedatangan mereka. Begitu datang, Mama langsung menunjukkan barang-barang yang sudah dibeli untuk calon cucunya.


"Mama memang udah tau, anak kami nanti laki-laki atau perempuan?" lontar Dewa.


"Enggak. Kamu sih ga mau ngasih tau, calon cucu Mama laki-laki atau perempuan,” protes Mama.


"Memang sengaja, Mah. Dewa sama Mina ga mau tau soal jenis kelaminnya. Biar surpise, gitu."


"Mama jadi beli dua-duanya deh. Untuk bayi laki-laki dan untuk bayi perempuan. Lucu-lucu ya, Hihihihihi....”


"Kalau nanti bayi Dewa laki-laki, barang-barang yang untuk bayi perempuan ga terpakai dong. Begitu juga sebaliknya. Jadi, mubazir loh, Mah."


"Enggak papa. Disimpan saja untuk anak kedua, ketiga dan seterusnya. Pokoknya kalian harus punya anak yang banyak. Biar Mama banyak cucunya,” sahut Mama riang.


"Tuh, Mama mau punya banyak cucu katanya. Setelah si Oton lahir, kita harus segera bikin Oton yang kedua, ketiga dan seterusnya ya, Neng.” Dewa mengerlingkan matanya.


"Ih, Aa." Mimin merona malu. Bisa-bisanya Dewa menggodanya di depan ibu mertua.


Acara syukuran tujuh bulan kehamilan Mimin dilaksanakan di rumah Pak Satya. Seperti keinginan Dewa, acara digelar dengan sangat sederhana. Hanya mengundang anak yatim dari beberapa panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka. Teriring sebuah doa semoga Allah memberikan keselamatan pada kehamilan Mimin dan kelancaran pada saat proses persalinan nanti.


"Alhamdulillah," ucap Dewa setelah sore tadi acara selamatan syukuran tujuh bulanan berjalan dengan lancar.


"Hai, Oton," sapa Dewa sembari menciumi perut Mimin.


"Hai, Ayah," balas Mimin dengan bunyi suara menirukan anak kecil.


"Dua bulan lagi kita ketemu ya. Ayah gak sabar ingin gendong kamu." Dewa berkomunikasi dengan mengelus perut Mimin yang sudah membesar.


"Oton juga ingin cepat lihat Ayah yang tampan," sahut Mimin masih dengan meniru suara khas anak kecil.


"Oton, kamu laki-laki atau perempuan sih? Kalau kamu perempuan, pasti kamu cantik kayak Bunda ya."


"Iya, Ayah."


"Kalau kamu laki-laki, jangan lebih ganteng dari Ayah, ya," seloroh Dewa.


Mimin mengerutkan keningnya. "Kenapa??"


"Kalau nanti si Oton lebih ganteng dari Aa. Takut Neng ga cinta lagi sama Aa," dalih Dewa.


"Enggak dong, Ayah. Bagi Bunda, Ayah itu pria paling ganteng, tampan, menawan, rupawan, cetar membahana," sahut Mimin.


"Ciye, udah jago gombal nih si Neng." Dewa mencubit mesra hidung mancung Mimin.


"A, terus kapan kita belanja perlengkapan bayi. Neng, ga sabar tau ... pasti menyenangkan ya."


"Besok yuk, kita belanja di sini aja," usul Dewa.


"Nanti ribet ga bawanya?"


"Sebagian belanja di Jakarta, sebagian belanja di Serang. Di sini belanja untuk yang kecil-kecil aja dulu, yang mudah dibawa. Untuk barang-barang yang besar, kita belanja di Serang aja."


"Sip sip, setuju. Ga sabar pengen cepet besok, biar bisa belanja."


Berbelanja perlengkapan kebutuhan bayi adalah hal yang paling dinanti-nanti oleh mereka. Seandainya saja Mami tak melarangnya, mungkin sejak Mimin dinyatakan hamil, mereka sudah mulai berbelanja perlengkapan bayi.


"Oya, Neng. Aa juga udah siapkan nama untuk si Oton," ujar Dewa.


"Sssst..." Mimin menyentuhkan telunjuknya di bibir Dewa. "Kata Mami, jangan dibilangin dulu namanya. Pamali!"


"Mami tuh terlalu banyak mengikuti pamali," keluh Dewa.


"Yang penting Aa siapkan dulu calon nama untuk anak kita sebanyak-banyaknya. Biar nanti pas waktunya, kita sudah siap untuk menentukan nama buat si Oton."


"Neng, si Oton nendang-nendang loh!" Tangan Dewa yang menyentuh perut Mimin merasakan gerakan halus janin.


"Hai, Oton! Ada apa Oton? Kangen sama Ayah ya? Ayah juga kangen sama Oton." Dewa mendekatkan wajahnya pada perut buncit Mimin.


"Neng, si Oton lagi kangen sama ayahnya. Dia minta ditengok sama Aa katanya," ujar Dewa sambil melemparkan senyum jahilnya.


"Halah, bisa aja." Mimin mencebikkan bibirnya.


"Assalamualaikum, Oton. Ayah akan mengunjungimu saat ini juga," ujar Dewa sebelum akhirnya menenggelamkan diri dalam lautan sukacita bersama istri tercinta.


Mereka tak pernah tahu jika malam ini adalah malam terakhir Dewa mengunjungi si Oton yang masih berada dalam kandungan sang bunda.


Dewa baru saja pulang menunaikan salat Subuh berjamaah di masjid ketika ponselnya berdering beberapa kali. Sebenarnya ia malas untuk menjawab panggilan telepon itu, namun karena  membaca pesan masuk dari nomor yang sama dengan si penelepon, ia jadi bersemangat menjawab panggilan telepon itu.


"Halo. Assalamualaikum."

__ADS_1


"....."


"Hari ini?"


"....."


"Ada berapa mobil yang mau dijual?"


"....."


"Ciamis?"


"....."


"Ok, deh. Siap. Saya ke sana hari ini. Saya lihat mobilnya dulu."


"....."


"Makasih ya, Mang." Dewa mengakhiri panggilan teleponnya.


"Shodaqollohul adzim." Mimin menutup mushaf Qur'an yang baru selesai dibacanya. Seperti biasa, sehabis salat Subuh, ia selalu menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran.


"Siapa yang nelepon A?" tanya Mimin. Bahkan, ia belum melepas mukenanya.


"Mang Juned, pengusaha odong-odong kereta itu."


"Ada apa dia nelepon Aa?" tanya Mimin.


Dewa mengambil posisi duduk di sebelah Mimin. “Neng, ga papa ya kalau Aa tinggal sebentar.”


"Aa mau ke mana?"


"Mau ke Ciamis, sebentar aja. Kalau urusannya udah selesai, Aa langsung pulang."


"Memangnya mau apa A, ke Ciamis?"


"Kata Mang Juned, ada mobil rongsok yang mau dijual. Aa mau ke sana, mau lihat dulu mobilnya."


Mimin terdiam sejenak. Dalam hatinya sedikit ada rasa kecewa. Ia tak ingin Dewa meninggalkannya walau sebentar. “Terus belanja perlengkapan bayinya bagaimana?”


"Besok  'kan kita masih di sini. Besok aja ya beli pelengkapan bayinya. Besok atau nanti malam insyaallah Aa udah pulang ke sini.”


“Jangan, Neng di sini aja sama Mama. Perut Neng udah gede begini, Aa ga tega ngajak Neng ... kasian si Oton,” sergah Dewa.


"Memangnya penting banget ya mobil rongsok itu?”


Dewa meraih bahu Mimin dan melingkarkan tangannya memeluk Mimin. "Aa rasa, Neng pasti tau. Neng pasti sangat mengerti. Aa ingin menekuni usaha itu. Aa ingin sukses di situ, Neng."


Mimin sering mendengar pendapat Dewa tentang kesuksesan. Standar kesuksesan Dewa adalah ketika hobi bisa menghasilkan money. Itulah sebabnya, ia memilih untuk tidak bekerja di kantor papahnya. Baginya bekerja di balik meja dengan berpakaian berdasi itu teramat membosankan.


Ia pernah bekerja di kantor papahnya selama tiga hari saat awal pernikahan dulu. Lalu, ia menyerah mundur. Beruntung, ia memiliki istri yang sangat mengerti dirinya. Tidak terlalu banyak menuntut. Menerima apa adanya pekerjaannya.


"Ya udah, Neng siapin dulu keperluannya. Aa mau bawa apa aja untuk berangkat ke sana,”  ujar Mimin. Akhirnya ia menyetujui kepergian Dewa.


"Enggak usah bawa apa-apa, nanti malam juga udah pulang. Paling telat, besoknya baru pulang."


"Bener ya, jangan lama-lama. Kalau sudah beres, langsung pulang."


"Siap."


Pukul setengah delapan, mereka bergabung bersama Mama, Papa dan Bang Deka untuk sarapan.


"Gimana kehamilan kamu, sehat?" lontar Pak Satya kepada Mimin.


"Alhamdulillah sehat, Pah," sahut Mimin.


"Si Dewa rutin nganter kamu periksa kandungan ga?" tanya Pak Satya kembali.


"Alhamdulillah rutin, Pah."


"Kalau dia gak mau nganterin kamu periksa kandungan, getok aja kepalanya!"


"Hahahahaha...." Semua yang duduk di meja makan tertawa. Deka yang tertawanya paling keras.


"Jasmin orangnya terlalu lembut, Pah. Mana bisa dia getok kepala Dewa. Kalau kamu gak bisa, biar aku yang mewakili getok kepalanya Dewa. Hahahaha.... ” timpal Deka.


"Bang Deka malah ngomporin!" Dewa mencebikkan bibirnya.


"Aku mah suami siaga. Ya 'kan, Sayang?" Dewa menatap Mimin untuk meminta dukungan.

__ADS_1


"Iya. Aa mah suami siaga." Mimin balas menatap Dewa dan menyunggingkan sebuah senyuman.


"Takutnya, kamu cuma mau enak bikinnya doang. Giliran ngurusin kehamilannya malah ga maksimal,” tukas Pak Satya.


"Iya, benar. Contoh papahmu dulu. Waktu Mama hamil, beuh ... perhatiannya bertambah berkali-kali lipat,” timbrung Mama.


"Iya lah. Papa 'kan pria bertanggung jawab,”  kata Pak Satya bangga.


"Ciye, Papa co cweet," goda Dewa.


Acara sarapan pagi itu terasa begitu hangat hingga suapan terakhir. Usai sarapan, Pak Satya dan Deka berangkat ke kantor.


"Mah, nitip Mina ya," kata Dewa. Ia sudah bersiap untuk berangkat.


"Memangnya kamu mau ke mana?"


"Ada urusan sebentar, Mah."


"Oh, ya udah kalau begitu. Kebetulan, Mama mau shoping. Biar Mina nanti Mama ajak shoping."


"Tuh, dengerin, Sayang. Mau diajak shoping katanya sama Mama. Tapi, jangan ikuti gaya Mama ya, Sayang. Tetaplah hidup sederhana," pesan Dewa. Yang dibalas sebuah anggukan dan senyuman dari Mimin.


"Ya udah, Mah. Dewa berangkat sekarang, biar cepet selesai urusannya dan bisa cepet pulang." Dewa meraih tangan Mama dan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati ya, Sayang."


"Iya, Mah."


"Neng sayang, Aa berangkat ya." Dewa memeluk Mimin.


"Jangan lama-lama yah, A. Cepetan pulang." Dewa merapatkan pelukannya.


"Iya, Sayang. Aa janji akan secepatnya pulang." Dewa mengecup lembut kening Mimin.


Sesungguhnya Dewa enggan melepaskan pelukannya. Namun, ia harus segera berangkat. Semakin bergegas, semakin baik dan semakin cepat ia akan pulang. Begitu pikirnya.


Dewa melepaskan pelukannya. Mimin meraih tangan Dewa dan mengecup punggung tangannya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikum salam.”


Mimin mengantar Dewa sampai masuk ke dalam mobil.


“Aa berangkat ya, Neng,” pamit Dewa yang sudah duduk di dalam mobil dan menyalakan mesinnya.


“Iya, A. Hati-hati ya.”


“Neng tunggu Aa di sini ya. Aa akan secepatnya pulang,” ujar Dewa.


“Janji yah A, bakalan cepat pulang.”


“Iya, janji.”


Mimin tak akan pernah menyangka, untuk kali ini Dewa tak dapat menepati janjinya.


Dewa melambaikan tangan sebelum melajukan mobilnya. Mimin mengiringi kepergian Dewa dengan tatapannya, sampai mobil yang dikendarai Dewa benar-benar hilang dari pandangannya.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah membaca.


Terima kasih dukungannya.


Love U ❤️❤️❤️❤️❤️


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2