Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Mimin Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

"Teh... Teteh... Bangun Teh!" Abah, Mami dan Opi berusaha membangunkan Mimin yang jatuh pingsan.


Perlahan Mimin membuka matanya namun ia merasa sekujur tubuhnya lemas seakan tak bertulang, terutama di bagian kakinya.


"Ayo Teh, berdiri," ujar Mami.


Mimin berusaha berdiri, namun ia merasakan kakinya benar-benar lemah seperti orang lumpuh, kakinya tak mampu berpijak. "Te-teteh ga bisa berdiri," ujarnya lemah dan terbata.


*****


Usai singgah di masjid kampung Cibening untuk menunaikan salat Isya, Dewa pergi ke rumah Sol. Sempat mampir ke kontrakannya, namun karena menyadari kunci kontrakan dipegang Sol, ia pun bergegas pergi ke rumah Sol.


Kepada Sol, ia menceritakan seluruh masalahnya.


"Jadi lo mau nyari abang lo ke mana Wa?" tanya Sol.


"Rencananya gue mau ke Bali, Sol. Gue cuma punya waktu dua hari lagi, besok dan lusa untuk mencari Bang Deka."


"Wa, gue kan pernah bilang sama lo kalau gue pernah ketemu abang lo di indoapril di sini. Jadi, kalau menurut gue sih, abang lo ada di kota ini," ujar Sol.


"Cowok model abang gue itu rasanya ga mungkin kalau lari ke kota ini, ga akan betah dia. Lagipula sepengetahuan gue, dia gak punya teman di kota ini," tutur Dewa.


"Terus kapan lo mau berangkat ke Bali?"


"Rencananya besok. Gue mau bicara dulu sama Mina, mau menceritakan masalah gue. Tapi malah situasinya jadi semakin ruwet gara-gara bokap gue," keluh Dewa.


"Bokap lo kok gitu sih, heran gue. Kalau masalah Mina, menurut gue lo temuin Abah Haji dan bicara dulu sama beliau. Gue rasa beliau orang yang bijak dan pasti akan mau dengerin lo. Malah mungkin, Abah justru ga percaya sama omongan bokap lo."


"Iya Sol. Besok gue mau temuin Mina lagi. Masalah ini harus jelas sebelum gue berangkat ke Bali buat nyari abang gue."


"Salahnya waktu lo pulang lo ga ada komunikasi sama Mina."


"Hape gue hilang, hape Jejed juga, begitu sampai Jakarta kita kena jambret Sol," terang Dewa.


"Waktu lo pulang ke Jakarta, Mina udah gelisah aja nunggu kabar dari lo, Wa. Terus ditambah omongan bokap lo bisa jadi Mina mikir yang macam-macam tentang lo."


"Ya Allah, semoga Mina percaya sama gue dan ga mikir yang macam-macam tentang gue," harap Dewa.


"Semoga saja. Kalau Mina cinta sama lo, harusnya dia percaya sama lo."


"Amin. Semoga saja."


"Sabar yah Wa." Sol menepuk bahu sahabatnya itu.


"Kalau di Bali, lo ga bisa nemuin abang lo juga, gimana Wa?" tanya Sol.


"Gue gak tahu Sol," lirih Dewa.


"Apa lo mau begitu aja menuruti keinginan bokap lo dan menerima ancaman bokapnya Clara?"

__ADS_1


Dewa menghela nafas panjang. "Gue gak tahu Sol," lirihnya sambil memegangi kepalanya yang serasa mau meledak.


*****


Sementara di ruang instalasi gawat darurat sebuah rumah sakit, Abah dan Mami sedang menatap cemas putrinya yang terkulai lemas tak berdaya di atas brankar dengan jarum infus menancap di tangannya. Mimin menatap nanar botol infus berisi cairan yang menetes berirama melalui selang dan masuk ke dalam pembuluh darahnya.


Seorang dokter wanita sedang memeriksa intens Mimin. Saat baru sampai tadi, dokter juga telah melakukan cek darah sebagai langkah awal untuk mendeteksi penyakit pasien dan memeriksa kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.


"Jadi bagaimana Dok keadaan putri saya?" tanya Abah cemas.


"Apakah tadi pasien mengalami muntah-muntah atau diare?" Dokter balik bertanya kepada Abah dan Mami.


"Enggak, Dok. Enggak ada muntah atau diare. Memang beberapa hari ini putri saya terlihat lemah dan lemas, saya pikir karena kangen sama suaminya," terang Mami.


"Apakah pasien memiliki riwayat penyakit, Pak, Bu?" Dokter kembali bertanya.


"Emmm, enggak Dok. Paling sering sakit maag saja. Memang sering ga teratur makannya," terang Mami.


"Jadi memang pola makan pasien sering tidak teratur yah Bu?"


"Iya betul, Dok."


"Tadi setelah cek darah, ini hasil laboratoriumnya sudah keluar. Kalau menurut analisa kami, pasien mengalami hipokalemia," ujar Dokter.


"Apa itu Dok? Apakah berbahaya?" tanya Abah dan Mami cemas.


Abah dan Mami saling berpandangan dengan raut wajah cemas mendengar penjelasan dokter.


"Apakah berbahaya Dok? Apakah termasuk penyakit parah?" tanya Mami khawatir.


"Hipokalemia atau kekurangan kalium ini bisa dialami siapa saja. Biasanya sering terjadi pada pasien yang mengalami diare atau muntah-muntah. Penanganan hipokalemia perlu segera dilakukan guna mencegah komplikasi serius. Pada kasus hipokalemia berat dapat membuat jantung berdebar, tubuh lemah bahkan kelumpuhan." Dokter menjelaskan panjang lebar tentang diagnosa pasien.


"Kelumpuhan? Apakah berarti putri kami lumpuh, Dok? Karena putri kami tadi sempat merasa lemah bahkan tak bisa berdiri."


"Bapak ibu tenang saja, itu hanya kelumpuhan sementara. Tapi, jika kalium dalam tubuh terus menurun hingga menyentuh angka nol sangat berbahaya bahkan bisa menyebabkan kematian."


"Ya Allah, Abah," ujar Mami histeris seraya memeluk suaminya.


"Tidak apa-apa kok Bu. Memang hasil pemeriksaan lab pasien termasuk kategori hipokalemia berat karena kadar kalium dalam darah sangat rendah, yaitu kurang dari 2,5 mmol/L sehingga tadi pasien merasa lemas seperti orang lumpuh. Namun Bapak dan Ibu tidak usah khawatir, pasien hanya perlu rawat inap dan memperbanyak asupan kalium agar kadar kalium bisa meningkat dan menyentuh batas normal. Harus banyak makan pisang, alpukat, jeruk, ikan dan masih banyak lagi jenis makanan yang mengandung kalium."


"Jadi putri saya harus dirawat ya, Dok?"


"Iya Bu. Harus dirawat nanti kami juga akan memberikan asupan kalium lewat cairan infus kalium klorida untuk membantu meningkatkan kadar kalium dalam darah."


"Baik, Dok kalau itu yang terbaik untuk putri saya."


"Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai kamar rawat, Bapak Ibu bisa menanyakan ke Perawat atau ke bagian administrasi."


"Baik, Dok. Terima kasih atas penjelasannya."

__ADS_1


*****


Matahari pagi telah menyapa dengan kehangatannya. Sol bersiap untuk memulai aktivitasnya, berangkat ke toko jilbab milik ayahnya. Sementara Dewa bersiap untuk pergi ke rumah Mimin, hendak meluruskan kekacauan yang terjadi akibat ulah papanya.


"Habis dari rumah Mina lo mau langsung ke Bali, Wa?" tanya Sol sembari mempersiapkan motor dengan memanaskannya.


"Iya Sol. Gua harus cepet menemukan abang gue," jawab Dewa yang sudah duduk di atas motor, bersiap untuk berangkat.


"Gue doakan semoga dipermudah urusan lo Wa," ujar Sol.


"Iya Sol, doakan gue ya. Biasanya doa lo makbul, Sol." Dewa tersenyum mengingat saat dua bulan lalu menginjakkan kaki di kota ini lalu minta didoakan oleh Sol agar bertemu bidadari dan saat itu pula ia bertemu dengan gadis berkerudung merah yang secantik bidadari dan kini telah menjadi istrinya.


"Iya gue doakan nih. Ya Allah semoga hari ini sahabatku ini bisa bertemu dengan abangnya. Dan semoga sahabatku ini diberi kemudahan untuk menjelaskan masalahnya kepada sang istri. Dan semoga mertuanya bisa kembali  menerima sahabatku ini dengan sepenuh jiwa. Amin."


Dewa tersenyum sambil menepuk bahu Sol yang berdiri tepat di samping motornya. "Terima kasih Soleh Munawar. Gue berangkat dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," balas Sol mengiringi suara deru motor Dewa yang mulai melaju.


Beberapa menit kemudian Dewa sampai di halaman rumah Mimin.


Opi baru saja mengunci pintu rumah ketika Dewa datang lalu menyapanya.


"Assalamualaikum, Opi," sapa Dewa.


Opi melirik kakak iparnya itu sejenak. "Waalaikum salam," jawab Opi malas dengan nada agak ketus. Ia lalu kembali melanjutkan aktivitasnya memastikan pintu rumah terkunci rapat karena tak ada seorang pun berada di rumah.


Dewa melirik tas besar yang ditenteng Opi. "Tasnya gede banget Pi, memang mau ke mana Pi?" tanya Dewa.


Opi tak menggubris pertanyaan yang dilempar oleh Dewa, ia mengayun langkah cuek menuju motornya lalu meletakkan tas besar itu di motor.


"Lo mau kabur ya, Pi?" tanya Dewa lagi.


Opi kemudian mengalihkan pandangannya kepada Dewa lalu menatapnya tajam. "Gue ga nyangka lo se-brengsek itu!" tukas Opi.


Dewa menghela nafas berat. "Opi, apa lo percaya kalau gue se-brengsek itu, hah?!"


Opi bergeming, dalam hatinya pun ia merasa ragu. Jika dipersentase mungkin nilainya fifty fifty antara percaya dan tidak dengan ucapan papanya Dewa.


“Lo harus percaya kalau gue gak se-brengsek itu!” tegas Dewa.


“Makanya sekarang gue datang ke sini untuk menjelaskan semuanya ke Mina, Abah dan Mami,” lanjutnya.


“Di rumah ga ada siapa-siapa,” jelas Opi.


“Loh, Mina ke mana Pi?”


Opi diam karena ragu antara memberitahukan keadaan kakak perempuannya itu kepada Dewa atau tidak. Sebab ia teringat pesan Mami.


“Jangan kasih tahu keadaan Teteh sama pria brengsek itu!!”

__ADS_1


__ADS_2