Gadis Berkerudung Merah

Gadis Berkerudung Merah
Apakah Ini Yang Dinamakan Bidadari


__ADS_3

Matahari pagi mulai meninggi. Memancarkan cahaya dan masuk melalui jendela kamar. Pria tampan dengan rambut gondrong itu masih terlelap dengan posisi badan tengkurap di atas kasur empuknya. Dewa membuka kelopak matanya yang masih terasa berat, karena suara ketukan pintu yang membangunkan tidurnya.


Tok... Tok... Tok...


"Wa ... bangun udah siang." Mama terus berseru memanggilnya.


"Hmmm ... Iya Ma," sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mama berangkat yah Sayang ... kamu jangan lupa sarapan!" seru Mama.


"Iya Ma..." jawabnya malas. Lalu matanya terpejam lagi karena rasa kantuk masih menggelayuti.


Tak lama kemudian terdengar deru mesin mobil. Dewa yang masih merasa ngantuk langsung beringsut dari posisinya. Duduk sejenak untuk mengumpulkan nyawa. Lalu berjalan menuju jendela dan membuka tirai jendela. Matanya menyipit untuk menyesuaikan silau cahaya matahari. Lalu memperhatikan mobil Mama yang sudah pergi menjauh.


Dewa membuka pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi yang berada di lantai dua. Lantai yang sama dengan kamarnya. Lalu mandi dan membersihkan diri.


Usai mandi, Dewa turun ke bawah untuk sarapan. Di sana ada Bi Siti yang sedang memasak.


"Den Dewa sudah bangun. Mau sarapan apa Den?" tanya Bi Siti ketika Dewa sudah duduk di kursi.


"Adanya apa Bi?"


"Ada nasi goreng sama roti panggang. Atau mau sarapan lain nanti Bibi buatkan," tawar Bi Siti.


"Yang ada aja Bi ... nasi goreng ga apa."


"Baik Den, Bibi siapkan dulu yah."


Bi Siti menghangatkan nasi goreng yang mungkin sudah dibuatnya tadi sebelum Dewa bangun. "Ini Den, sarapannya."


"Makasih Bi Siti," ucapnya.


"Bibi tinggal beres-beres dulu yah, Den."


"Iya, Bi."


Dewa mulai melahap sepiring nasi goreng di depannya. Sambil pikirannya terbang kesana kemari. Menimbang-nimbang keputusannya untuk pergi dari sini.


"Loh ... Den ... itu ransel isinya apa? Den Dewa mau ke mana? Den Dewa mau pergi lagi ya?" Bi Siti memberondongnya dengan pertanyaan.


Sebelum menuju meja makan, tadi Dewa meletakkan tas ranselnya di sofa ruang tv. "Enggak Bi ... cuma mau keluar sebentar," kilahnya.


"Jangan-jangan Den Dewa mau kabur ya?" tuduh Bi Siti dan tuduhannya sungguh tepat sasaran. "Bibi mau telepon ibu . Mau kasih tahu ibu kalau Den Dewa mau ka...."


"Eee... Jangan Bi. Jangan bilang Mama. Please," katanya dengan raut wajah memohon.

__ADS_1


"Bibi sini geh. Duduk sini," titahnya. Bi Siti menurut dan mengambil posisi duduk di depannya sambil memperhatikan Dewa makan.


"Bibi udah sarapan?" tanyanya dengan mulut masih mengunyah nasi goreng.


"Udah Den."


"Syukurlah kalau Bibi udah sarapan. Jangan sampai Bibi bikin sarapan untuk kami, eh malah Bibi justru belum sarapan."


Bi Siti tersenyum. Sejak dulu memang Dewa adalah anak yang baik. Ia selalu bersikap ramah dan menghormatinya meski Bi Siti hanyalah seorang ART.


"Den Dewa jangan pergi yah ... kasihan Mama," bujuk Bi Siti.


"Aku minta tolong Bi Siti jagain Mama yah selama aku pergi," ujarnya masih sambil menyuapkan sesendok demi sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Jangan pergi Den ... kasihan Mama."


"Nanti aku kembali kok Bi, kalau hati ini sudah merasa lebih baik."


"Bibi ga kasihan apa sama aku. Bibi bisa bayangin ga gimana nanti kalau aku ketemu sama si ba jingan itu," sambungnya.


"Iya Den ... Bibi mengerti bagaimana perasaan Den Dewa. Tapi janji ya Den Dewa nanti akan kembali."


"Iya dong...." Ia menyuapkan sendok terkahir nasi goreng. "Kan nanti aku bakalan kangen sama nasi goreng buatan Bi Siti," ujarnya diiringi senyum hangat.


Bi Siti tersenyum memandang anak majikannya yang sudah ia rawat sejak bayi, sejak Bi Siti masih gadis kecil dulu. Ia menyayangi Dewa sudah seperti keponakannya sendiri. Hubungannya memang lebih dekat dengan Dewa putra bungsu majikannya daripada dengan Deka putra sulung majikannya.


"Hahahaha...." Ia tertawa. Lalu meneguk segelas air putih hingga tandas membuat kerongkongannya terasa segar. "Amin. Terima kasih doanya Bi," ucapnya.


"Nanti kalau ibu tanya, Bibi jawab apa Den?"


"Sebentar...." Dewa berdiri lalu merogoh sesuatu di kantong celananya. "Ini Bi ... nanti Bibi kasih surat ini ke Mama yah," katanya seraya menyerahkan sepucuk surat untuk Mama yang ditulis semalam. Bi Siti mengangguk paham.


Setelah menyelesaikan acara sarapan dan mengobrol dengan Bi Siti lumayan lama, Dewa pun pergi meninggalkan rumah. Diiringi isak tangis Bi Siti.


"Hati-hati yah Den. Jangan lupa bahagia," ujar Bi Siti mengiringi kepergiannya sambil melambaikan tangan dan berurai air mata.


"Jangan lebay ah, Bi." Dewa tersenyum dan balas melambaikan tangan.


*****


Dewa turun dari bus, setelah kurang lebih dua jam perjalanan menggunakan bus Arimbi. Ia sampai di Terminal Pakupatan, Kota Serang, Provinsi Banten.


Serang, I'm coming. Gumamnya dalam hati.


Rasa haus yang mendera membuatnya duduk sebentar di warung kecil untuk membeli minuman. Tangannya sibuk dengan ponsel, seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang. Tak lama ponselnya berdering. Ada panggilan dari Soul, sahabatnya. Ia mengangkat teleponnya.

__ADS_1


"Hei Bro gue udah nyampe terminal nih."


"Tunggu sebentar Wa ... gue mau salat dulu." Suara Soul di ujung telepon.


"Hah ... Sejak kapan lo salat." Ia malah meledek.


"Sejak jauh dari lo. Puas!!!"


"Hahahaha ... Ya udah salat dulu gih sana. Jangan lupa berdoa yang banyak. Dan doakan gue juga ya."


"Lo mau nitip doa apa ... Hah..."


"Doakan semoga gue ketemu bidadari."


"Beuh ... Itu mah gue juga mau kali. Mendingan doanya buat gue deh."


"Huh ... Dasar."


"Lo di mana Wa?"


"Terminal."


"Kalau begitu mending lo jalan lagi aja deh. Gak jauh dari terminal ada kampus namanya kampus UNTIRTA. Nah lo nunngu di sana aja biar adem dan biar gua ga susah nyari lo."


"Tapi lo jangan lama-lama ya. Langsung jemput gue."


"Iya iya. Habis salat gue langsung capcus. Ya udah yah gua mau ke masjid dulu."


"Ok ok ok."


Dewa menutup teleponnya. Setelah sekitar lima belas menit duduk di warung. Ia pun berdiri untuk melanjutkan perjalanannya, mengikuti arahan sahabatnya.


Matahari sudah berada di puncak tertinggi. Teriknya terasa sangat menyengat. Jalanan terlihat lengang, tidak banyak orang yang melakukan aktivitas di jalan. Yah, karena ini adalah hari jumat tepat jam 12 siang. Di saat kaum laki-laki berada di masjid menunaikan ibadah salat jumat, ia malah sedang di jalan.


Dewa meneguk habis kaleng minuman bersoda yang dibelinya di warung tadi. Pikirannya berkecamuk. Ia merasa seperti orang asing, tiba-tiba terdampar di kota ini. Semua ini gara-gara si ba jingan dan betina murahan itu. Batinnya meradang merasa kesal sendiri.


Saking kesalnya ia melempar kaleng bekas minuman bersoda yang digenggamnya. Melemparnya kuat-kuat dengan tenaga super power, sambil membayangkan seolah ia melempar kedua manusia bejad itu.


Pletak


"Awwwh..." pekik seorang gadis muda. Gadis itu terkena lemparan kaleng minuman bersoda.


"Waduh ... Gaswat." Dewa terkejut bukan main, ternyata lemparannya mengenai seorang gadis berkerudung merah. Ia langsung berlari menuju gadis korban lemparannya.


"Sori ... gue ga sengaja. Lo enggak ap...." Dewa tak melanjutkan kalimatnya. Kalimatnya menguap begitu saja ketika gadis berkerudung merah yang semula menunduk karena kesakitan, kini mengangkat wajahnya.

__ADS_1


Omegos apakah ini yang dinamakan bidadari. Batinnya.


__ADS_2